Traditional speech in the oral traditions of the Lamaholot community in Lewokluok Village faces extinction due to minimal intergenerational transmission and sociocultural modernization. Systematic documentation and semantic decoding of this sacred speech are imperative to preserve indigenous cosmological values, moral philosophy, and local cultural identity. This study aims to describe and reveal the contextual meaning contained in the traditional ritual speech of belo howek in Lewokluok Village, Demon Pagong District, East Flores Regency. This research employed a qualitative approach with a descriptive method. Data were gathered from tribal elders through participant observation, non-participant observation, audiovisual recording, and field note-taking using observation sheets and interview guides. Data analysis was carried out through transcription, interlinear gloss translation, data identification, and contextual semantic interpretation using Pateda’s framework. The results indicate that five types of context construct meaning in the belo howek ritual speech across the bau baku and eten bine (mula madu) stages: the person context referring to God (Lera Wulan Tanah Ekan) and the ancestors, the purpose context embodying supplication for ancestral blessing and ritual offerings, the situation context reflecting solemn communal solidarity, the mood context radiating inner joy and reverence, and the place context centered at the Kabelen clan house and the sacred spring Wai Maki. In conclusion, the belo howek ritual speech serves as a living cultural representation of the agrarian Lewokluok community that binds harmonious relationships among humanity, the cosmos, and the transcendent creator. ABSTRAK Tuturan adat dalam ritual tradisi lisan masyarakat Lamaholot di Desa Lewokluok menghadapi ancaman kepunahan akibat minimnya pewarisan generasi muda dan pergeseran zaman. Dokumentasi serta pembongkaran makna tuturan sakral ini sangat mendesak agar sistem nilai budaya, kosmologi, dan identitas kultural lokal tetap lestari dan terwariskan secara utuh. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengungkap makna kontekstual yang terkandung dalam tuturan ritual adat belo howek di Desa Lewokluok, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan dari tua-tua adat melalui teknik simak libat cakap, simak bebas libat cakap, rekam, dan catat dengan instrumen pedoman observasi serta panduan wawancara. Analisis data dilakukan secara bertahap melalui transkripsi, penerjemahan gloss, identifikasi data, dan interpretasi semantik kontekstual menurut kerangka teori Pateda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima jenis konteks yang membentuk pemaknaan dalam tuturan ritual belo howek pada tahapan bau baku dan eten bine (mula madu), yaitu konteks orangan yang merujuk pada Tuhan (Lera Wulan Tanah Ekan) dan para leluhur, konteks tujuan berupa permohonan restu dan penyerahan persembahan, konteks situasi yang mencerminkan kekhidmatan prosesi komunal, konteks suasana hati yang sarat dengan kegembiraan dan penghormatan batin, serta konteks tempat yang berpusat pada rumah adat suku Kabelen dan mata air sakral Wai Maki. Dengan demikian, tuturan ritual belo howek bukan sekadar untaian kata estetis, melainkan representasi keutuhan filosofi hidup masyarakat agraris Lewokluok yang mengikat relasi harmonis antara manusia, alam semesta, dan sang pencipta.