Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

PENGARUH KONSENTRASI LARUTAN SODIUM HIPOKLORIT SEBAGAI DESINFEKTAN TERHADAP KEKUATAN IMPAK BASIS GIGI TIRUAN RESIN AKRILIK: EFFECT OF CONCENTRATION SODIUM HYPOCHLORITE SOLUTION AS DESINFECTAN TO THE IMPACT STRENGTH OF DENTURE BASE ACRYLIC RESIN Liana Rahmayani; Sri Fitriyani; Poppy Andriany; Rizki Dumna
Dentika: Dental Journal Vol. 18 No. 1 (2014): Dentika Dental Journal
Publisher : TALENTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.847 KB) | DOI: 10.32734/dentika.v18i1.1931

Abstract

Sodium Hipoklorit (NaOCl) merupakan desinfektan yang sangat efektif untuk membersihkan basis gigi tiruan.Namun, penggunaan dari bahan kimia ini dapat menurunkan kekuatan impak dari basis resin akrilik. Penelitianini dilakukan untuk mengetahui pengaruh larutan sodium hipoklorit dengan konsentrasi 2% dan 5% terhadapkekuatan impak basis gigi tiruan resin akrilik. Penelitian ini menggunakan 30 spesimen resin akrilik QC-20berukuran 50 x 6 x 4 mm. Spesimen dibagi ke dalam 3 kelompok perendaman; konsentrasi 2% NaOCl, 5%NaOCl dan kelompok kontrol. Perendaman dilakukan selama 5 hari 1 jam 40 menit yang mensimulasipemakaian larutan desinfektan selama 1 tahun. Masing-masing kelompok perendaman diuji dengan charpyimpact tester dengan kecepatan impak sebesar 2,9 m/detik dan energi pendulum sebesar 1 joule. Dataselanjutnya dianalisis dengan Analisis Varian (ANOVA). Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaanyang signifikan (p< 0,05) antara larutan perendaman terhadap kekuatan impak. Sebagai kesimpulan, larutansodium hipoklorit dapat menyebabkan perubahan kekuatan impak basis gigi tiruan akrilik.
Pengaruh Durasi Perendaman Resin Akrilik Heat Cured Dalam Minuman Teh Rosella (Hibiscus Sabdariffa) Terhadap Perubahan Dimensi Viona Diansari; Sri Fitriyani; Aldita Dwy Gustya
Cakradonya Dental Journal Vol 7, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : FKG Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.207 KB)

Abstract

Resin akrilik heat cured dapat mengalami perubahan dimensi ketika direndam dalam cairan. Resin akrilik yang bersifat menyerap air dapat dipengaruhi oleh komposisi, durasi perendaman dan jenis larutan yang digunakan. Jenis larutan yang bersifat asam seperti teh rosella diduga dapat menyebabkan erosi dan menurunkan tegangan permukaan material resin akrilik sehingga memudahkan penetrasi molekul cairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh durasi perendaman resin akrilik heat cured dalam minuman teh rosella selama 1, 3, 5 dan 7 hari terhadap perubahan dimensi. Spesimen pada penelitian ini berbentuk silinder dengan diameter 50 ± 1 mm dan ketebalan 0.5 ± 0.1 mm. Dua puluh spesimen awalnya direndam dalam aquades selama 24 jam untuk mengurangi monomer sisa kemudian dikeringkan dengan desikator dan diukur berat awalnya sebelum perlakuan (W1). Seluruh spesimen dibagi ke dalam dua kelompok yaitu 10 spesimen direndam dalam larutan teh rosella dan 10 spesimen direndam dalam aquades (kontrol) selama 1, 3, 5 dan 7 hari. Kemudian diukur berat akhir pada setiap perendaman (W2) dengan menggunakan neraca analitik. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan repeated ANOVA dan diuji lanjut pairwise comparison. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan bermakna perubahan dimensi setelah direndam dalam minuman teh rosella selama 1, 3, 5 dan 7 hari (p0.05), namun hasil uji lanjut menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna (p0.05) antara perubahan dimensi 1 dan 7 hari. Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya pengaruh durasi perendaman resin akrilik heat cured dalam minuman teh rosella terhadap perubahan dimensi.
Studi Pelepasan Monomer Sisa Dari Resin Akrilik Heat Cured Setelah Perendaman Dalam Akuades Viona Diansari; Sri Fitriyani; Fazliyanda Maria Haridhi
Cakradonya Dental Journal Vol 8, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : FKG Unsyiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.228 KB)

Abstract

Resin akrilik heat cured merupakan campuran monomer metil metakrilat dan polimer polimetil metakrilat yang dipolimerisasi dengan cara pemanasan. Proses polimerisasi tidak sempurna dan menghasilkan monomer sisa. Kandungan monomer sisa yang tinggi dapat menyebabkan iritasi atau alergi terhadap jaringan rongga mulut. Pengurangan jumlah monomer sisa dapat dilakukan dengan perendaman resin akrilik heat cured dalam akuades. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh durasi perendaman resin akrilik heat cured dalam akuades terhadap pelepasan monomer sisa. Penelitian ini menggunakan resin akrilik QC-20 berbentuk disk (ukuran d = 50 mm, t = 3 mm) sebanyak 10 spesimen direndam dalam akuades dengan durasi 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan 8 hari pada suhu 37°C. Perendaman setiap 24 jam dilakukan pergantian akuades (tiap perlakuan menggunakanspesimen yang sama). Pengukuran jumlah monomer sisa dilakukan setiap 24 jam menggunakan alat Spektrofotometer UV-VIS. Perhitungan jumlah monomer sisa dalam bentuk konsentrasi menggunakan persamaan garis lurus y = 9.2543x - 0.0027. Persamaan garis lurus didapat dari kurva absorban dan konsentrasi larutan standar metil metakrilat 0.1%, 0.075%, 0.050%, 0.025%, dan 0.010%. Analisis statistik data hasil penelitian dilakukan dengan uji Friedman dan uji lanjut Wilcoxon (p0.05). Hasil uji Friedman menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna (p=0.000) antara durasi perendaman terhadap jumlah monomer sisa. Hasil uji lanjut Wilcoxon menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna pada perendaman resin akrilik selama 24 jam (hari ke-1) dibandingkan dengan hari berikutnya (perendaman hari ke-1 melepaskan monomer sisa dengan jumlah tertinggi). Perendaman antara hari ke-6, 7, dan 8 terdapat perbedaan yang tidak bermakna (uji Wilcoxon p0.05). Dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh durasi perendaman resin akrilik heat cured dalam akuades terhadap pelepasan jumlah monomer sisa.
Studi Pelepasan Monomer Sisa Dari Resin Akrilik Heat Cured Setelah Perendaman Dalam Akuades Viona Diansari; Sri Fitriyani; Fazliyanda Maria Haridhi
Cakradonya Dental Journal Vol 8, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Resin akrilik heat cured merupakan campuran monomer metil metakrilat dan polimer polimetil metakrilat yang dipolimerisasi dengan cara pemanasan. Proses polimerisasi tidak sempurna dan menghasilkan monomer sisa. Kandungan monomer sisa yang tinggi dapat menyebabkan iritasi atau alergi terhadap jaringan rongga mulut. Pengurangan jumlah monomer sisa dapat dilakukan dengan perendaman resin akrilik heat cured dalam akuades. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh durasi perendaman resin akrilik heat cured dalam akuades terhadap pelepasan monomer sisa. Penelitian ini menggunakan resin akrilik QC-20 berbentuk disk (ukuran d = 50 mm, t = 3 mm) sebanyak 10 spesimen direndam dalam akuades dengan durasi 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan 8 hari pada suhu 37C. Perendaman setiap 24 jam dilakukan pergantian akuades (tiap perlakuan menggunakanspesimen yang sama). Pengukuran jumlah monomer sisa dilakukan setiap 24 jam menggunakan alat Spektrofotometer UV-VIS. Perhitungan jumlah monomer sisa dalam bentuk konsentrasi menggunakan persamaan garis lurus y = 9.2543x - 0.0027. Persamaan garis lurus didapat dari kurva absorban dan konsentrasi larutan standar metil metakrilat 0.1%, 0.075%, 0.050%, 0.025%, dan 0.010%. Analisis statistik data hasil penelitian dilakukan dengan uji Friedman dan uji lanjut Wilcoxon (p0.05). Hasil uji Friedman menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna (p=0.000) antara durasi perendaman terhadap jumlah monomer sisa. Hasil uji lanjut Wilcoxon menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna pada perendaman resin akrilik selama 24 jam (hari ke-1) dibandingkan dengan hari berikutnya (perendaman hari ke-1 melepaskan monomer sisa dengan jumlah tertinggi). Perendaman antara hari ke-6, 7, dan 8 terdapat perbedaan yang tidak bermakna (uji Wilcoxon p0.05). Dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh durasi perendaman resin akrilik heat cured dalam akuades terhadap pelepasan jumlah monomer sisa.
Pengaruh Durasi Perendaman Resin Akrilik Heat Cured Dalam Minuman Teh Rosella (Hibiscus Sabdariffa) Terhadap Perubahan Dimensi Viona Diansari; Sri Fitriyani; Aldita Dwy Gustya
Cakradonya Dental Journal Vol 7, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Resin akrilik heat cured dapat mengalami perubahan dimensi ketika direndam dalam cairan. Resin akrilik yang bersifat menyerap air dapat dipengaruhi oleh komposisi, durasi perendaman dan jenis larutan yang digunakan. Jenis larutan yang bersifat asam seperti teh rosella diduga dapat menyebabkan erosi dan menurunkan tegangan permukaan material resin akrilik sehingga memudahkan penetrasi molekul cairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh durasi perendaman resin akrilik heat cured dalam minuman teh rosella selama 1, 3, 5 dan 7 hari terhadap perubahan dimensi. Spesimen pada penelitian ini berbentuk silinder dengan diameter 50 1 mm dan ketebalan 0.5 0.1 mm. Dua puluh spesimen awalnya direndam dalam aquades selama 24 jam untuk mengurangi monomer sisa kemudian dikeringkan dengan desikator dan diukur berat awalnya sebelum perlakuan (W1). Seluruh spesimen dibagi ke dalam dua kelompok yaitu 10 spesimen direndam dalam larutan teh rosella dan 10 spesimen direndam dalam aquades (kontrol) selama 1, 3, 5 dan 7 hari. Kemudian diukur berat akhir pada setiap perendaman (W2) dengan menggunakan neraca analitik. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan repeated ANOVA dan diuji lanjut pairwise comparison. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan bermakna perubahan dimensi setelah direndam dalam minuman teh rosella selama 1, 3, 5 dan 7 hari (p0.05), namun hasil uji lanjut menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna (p0.05) antara perubahan dimensi 1 dan 7 hari. Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya pengaruh durasi perendaman resin akrilik heat cured dalam minuman teh rosella terhadap perubahan dimensi.
Comparative Study of Micro-Leakage Between Glass Ionomer Cement Restoration Materials and Alkasites on Cavitas Class I (GV. Black) Viona DIANSARI; Diana Setya NINGSIH; Sri FITRIYANI; Iin SUNDARI; Subhaini SUBHAINI; Muhammad Kahlil GIBRAN
Journal of Syiah Kuala Dentistry Society Vol 7, No 2 (2022): December 2022
Publisher : Dentistry Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jds.v7i2.30238

Abstract

Microleakage is a gap that allow clinically undetectable passage of bacteria, fluids, chemical substances between the tooth and its restoration. Microleakage can occurs whether in a cavity restored with Glass Ionomer Cement or Alkasite. The objective of this study is to compare the microleakage between GIC and Alkasite after 1 day, 7 days and 30 days polymerization. This study used 30 specimens divided into six groups. Group A is restored with GIC and Group B restored with Alkasite. Group A1 and B1 restored and conditioned in incubator for 1 day, group A2 and B2 for 7 days, group A3 and B3 for 30 days. The specimens isolated using varnish nail except the restored area and immersed in methylene blue 1% for 1 day, then all specimens were washed and cut longitudinally. The results were observed using a stereomicroscope. The observation results analyzed using nonparametric test Kruskal-Walis test, showed theres no significant difference in each material with differentconditioning times (p 0.05). Post hoc test using Mann-Whitney likewise, showed no significant difference between GIC and Alkasite with similar conditioning time. Descriptive statistics showed that all the mean of microleakage in GIC is bigger than Alkasite and microleakage mean score in both materials conditioned for 30 days in incubator is smaller than conditioned for 1 day and 7 days. This study concluded that microleakage in Alkasite is smaller than Glass Ionomer CementKEYWORDS: Microleakage, Glass Ionomer Cement, Alkasite, Class I
KEKERASAN PERMUKAAN EMAIL GIGI TETAP SETELAH PAPARAN MINUMAN RINGAN ASAM JAWA Suzanna Sungkar; Sri Fitriyani; Intan Yumanita
Journal of Syiah Kuala Dentistry Society Vol 1, No 2 (2016): JULY
Publisher : Dentistry Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this study is to know about differences enamel surface hardness of permanent teeth after exposure of tamarind softdrink.This study is experimental laboratories study that use by 15maxillary premolars teeth. Specimen planted in acrylic mould and ground wet to achieve a flat enamel surface using silicon carbide paper, followed by polishing with microns alumina slurry. The surface hardness measurement was done before and after immersion using Knoop hardness tester(Shimadzu HMV 2).Measurement of hardness is done counted three times, that is before soaking with tamarind soft drink, after the first 100 seconds and after seconds soaking for 100 second (total 200 seconds).The achieved data were analyzed using paired t-test (p=0,05). The study showed decrease of hardness after exposure of tamarind soft drink at 100 and 200 seconds statistically shows having meaning deference.Keywords: Erosion, Surface Hardness, Tamarind Soft Drink
Studi Pelepasan Monomer Sisa Dari Resin Akrilik Heat Cured Setelah Perendaman Dalam Akuades Diansari, Viona; Fitriyani, Sri; Haridhi, Fazliyanda Maria
Cakradonya Dental Journal Vol 10, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/cdj.v10i1.10466

Abstract

Resin akrilik heat cured merupakan campuran monomer metil metakrilat dan polimer polimetil metakrilat yang dipolimerisasi dengan cara pemanasan. Proses polimerisasi tidak sempurna dan menghasilkan monomer sisa. Kandungan monomer sisa yang tinggi dapat menyebabkan iritasi atau alergi terhadap jaringan rongga mulut. Pengurangan jumlah monomer sisa dapat dilakukan dengan perendaman resin akrilik heat cured dalam akuades. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh durasi perendaman resin akrilik heat cured dalam akuades terhadap pelepasan monomer sisa. Penelitian ini menggunakan resin akrilik QC-20 berbentuk disk (ukuran d = 50 mm, t = 3 mm) sebanyak 10 spesimen direndam dalam akuades dengan durasi 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan 8 hari pada suhu 37C. Perendaman setiap 24 jam dilakukan pergantian akuades (tiap perlakuan menggunakanspesimen yang sama). Pengukuran jumlah monomer sisa dilakukan setiap 24 jam menggunakan alat Spektrofotometer UV-VIS. Perhitungan jumlah monomer sisa dalam bentuk konsentrasi menggunakan persamaan garis lurus y = 9.2543x - 0.0027. Persamaan garis lurus didapat dari kurva absorban dan konsentrasi larutan standar metil metakrilat 0.1%, 0.075%, 0.050%, 0.025%, dan 0.010%. Analisis statistik data hasil penelitian dilakukan dengan uji Friedman dan uji lanjut Wilcoxon (p0.05). Hasil uji Friedman menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna (p=0.000) antara durasi perendaman terhadap jumlah monomer sisa. Hasil uji lanjut Wilcoxon menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna pada perendaman resin akrilik selama 24 jam (hari ke-1) dibandingkan dengan hari berikutnya (perendaman hari ke-1 melepaskan monomer sisa dengan jumlah tertinggi). Perendaman antara hari ke-6, 7, dan 8 terdapat perbedaan yang tidak bermakna (uji Wilcoxon p0.05). Dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh durasi perendaman resin akrilik heat cured dalam akuades terhadap pelepasan jumlah monomer sisa.
Effect on color stability and surface roughness of nanofiller dental composite after soaking in Bidara leaf (Ziziphus mauritiana Lam) ethanol extract: an experimental study fitriyani, Sri; Nazilla, Cut Syahla; sundari, Iin; Diansari, Viona; Subhaini, Subhaini; Ningsih, Diana Setya; Rahmayani, Liana; Qamaruzzaman, Jasmina Binti
Padjadjaran Journal of Dentistry Vol 37, No 3 (2025): November 2025
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjd.vol37no3.61351

Abstract

Introduction: Dental composite resins offer aesthetic appeal and high wear resistance; however, their physical properties may diminish after exposure to colored foods or mouthwashes. We explore Bidara leaf (Ziziphus mauritiana Lam) extract as an alternative mouthwash due to its rich content of bioactive compounds. The study aims to analyze the color change and surface roughness of nanofiller composite resins after immersion in Bidara leaf ethanol extract. Methods: This research was an experimental study. The resin composite samples were divided into four groups; each group consisted of 3 specimens (n=3): Group 1 (negative control) immersed in distilled water; Group 2 (positive control) immersed in 0.2% chlorhexidine; and Groups 3 and 4 soaked in 4.5% and 20% ethanol extracts of Bidara leaf, respectively. The specimens were cylindrical with a diameter of 10 mm and a thickness of 2 mm. All specimens were the same size, shape, and color, with flat surfaces and no cracks or stains. Samples were immersed for two minutes daily over one month. Color changes were analyzed using a stereomicroscope and the CIELab color system with Adobe Photoshop, while surface roughness was assessed using atomic force microscopy (AFM). Results: Color changes show ΔE>3.3 indicating a visible difference. The most significant color change occurrs in Group 4, followed by Groups 3, 2, and 1. One-way ANOVA shows a statistically significant color change (p<0.05). Surface roughness also increases, with Group 4 (0.138±0.066 μm) displaying the greatest roughness compared to Group 3 (0.122±0.061 μm), Group 2 (0.122±0.076 μm), and Group 1 (0.054±0.012 μm).  Based on the one-way ANOVA test, the results show no significant differences (p>0.05) between the pre- and post-immersion. Conclusion: Although changes in surface roughness were not statistically significant, the ethanol extract of Bidara leaf influences the color and surface roughness of the nanofiller dental composite.
A Systematic Review on the Transformation of Bone Waste into Valuable Dental Biomaterials Diansari, Viona; Idroes, Rinaldi; Sunarso, Sunarso; Fitriyani, Sri
Malacca Pharmaceutics Vol. 4 No. 1 (2026): March 2026
Publisher : Heca Sentra Analitika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60084/mp.v4i1.385

Abstract

Bone waste is a sustainable, calcium-rich resource for the production of hydroxyapatite (HA), a biomaterial widely used in dental and bone tissue engineering. This systematic review evaluates recent advances in the extraction, transformation, and biological performance of HA derived from bone waste. A total of 20 records were initially identified, of which 11 full-text articles met the eligibility criteria and were included in the qualitative synthesis. The reviewed studies demonstrate that bone waste can be effectively converted into HA through several routes, including thermal-based extraction (calcination, annealing, and sintering at 600–1000°C), alkaline hydrolysis, and hydrothermal or microwave-assisted methods, enabling the production of micro- and nano-sized HA with high purity. Post-extraction functionalization, such as ion doping (Mg²⁺, Na⁺, Co²⁺), drug loading, and composite formation, further enhances osteogenic, antimicrobial, and mechanical properties. Physicochemical characterization using XRD and FTIR consistently confirmed the formation of non-stoichiometric, ion-substituted HA with Ca/P ratios ranging from 1.6 to 1.9, closely resembling biogenic apatite. The presence of multiscale porosity (25–65%) and nano-scale features promotes protein adsorption, ion exchange, and cellular interactions. In vitro studies confirmed cytocompatibility, while ALP activity and mineralization assays demonstrated strong osteogenic potential. Overall, bone waste–derived HA offers biomimetic, functional, and environmentally sustainable alternatives for dental and maxillofacial applications.