Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

PSYCHIATRIC HOSPITAL. Spiritual Architecture Christopher S. Majore; Papia J. C. Franklin; Judy O. Waani
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i2.21253

Abstract

Arti kata “spritual” telah berkembang dari waktu ke waktu dan saat ini memiliki banyak arti dan konotasi. Dulu ia dikaitkan dengan agama, perasaan religius dan Roh Kudus. Namun di era yang modern ini, kata tersebut kini memiliki makna yang bersifat duniawi dan lebih luas serta tertuju pada rasa yang tidak ada pada/tidak berasal dari dunia ini. Ia telah menjadi kata yang biasa digunakan sebagai cara untuk mendefinisikan hal-hal yang tidak memiliki wujud dan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.Pada saat ini banyak arsitektur yang telah kehilangan maknanya, hanya sekedar seni retina mata. Alih-alih membuat kita merasakan keberadaan kita sebagai manusia yang ada di dunia, kita seperti ditempatkan untuk melihat dunia dari luar, layaknya bayangan penonton yang diproyeksikan di depan permukaan retina .Spiritual Architecture adalah sesuatu yang dengan sederhananya menggugah diri kita dengan mempengaruhi indra-indra kita dalam cara tertentu untuk membangkitkan perasaan batin kita pada tingkat yang lebih dalam.Manusia adalah suatu kesatuan dari jasmani dan rohani sehingga begitulah juga kita dalam ber-arsitektur yakni bukan hanya sekedar wadah jasmani manusia saja tetapi juga (terlebih lagi) aspek rohaninya (spiritual; jiwa). Kesehatan jiwa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan manusia dan merupakan bagian integral dalam menunjang kualitas hidup manusia yang utuh. Terganggunya kesehatan jiwa seseorang menandakan adanya ketidakseimbangan dalam dirinya. Spiritual Architecture yang dimaksud di sini adalah pendekatan perancangan yang mengangkat kembali unsur arsitektur yang mampu menyentuh ke dalam perasaan, menimbulkan reaksi dan sikap kejiwaan, arsitektur yang mendidik untuk menghayati ruang serta suasana secara manusia yang mulia dan utuh dalam arti menyeimbangkan, mengawinkan dimensi guna dan citra, yang telah lama timpang dalam dunia arsitektur modern.Kata Kunci : Psychiatric, Hospital, Spiritual, Architecture
REDESAIN PACUAN KUDA DI TOMPASO. Arsitektur Tropis Modern Christ H. Gijoh; Papia J. C. Franklin; Octavianus H. A. Rogi
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.23670

Abstract

Redesain adalah suatu proses merancang kembali apa yang telah ada, dalam hal ini Pacuan Kuda akan di rancang kembali untuk orang berolahraga berkuda dan untuk orang menyaksikan perlombaan sambil menikmati fasilitas-fasilitas lain di dalamnya. Sulawesi Utara sudah dari dulu terkenal karena sering mengikuti perlombaan-perlombaan tingkat nasional, bahkan sebelum adanya Pacuan Kuda di Tompaso, Sulawesi Utara sudah mempunyai Pacuan Kuda di Perkamil terlebih dahulu. Tompaso merupakan daerah yang terkenal akan kualitas kuda-kudanya karena faktor tempatnya, latihan dan pakan yang diberikan. Maka dari hal-hal demikian menjadi alasan untuk merancang kembali fasilitas yang sudah ada juga menghadirkan fasilitas yang belum ada, dan hal-hal tersebut dapat mewadahi kegiatan-kegiatan yang berfokus pada pacuan kuda, seperti stadion dan lintasan pacuan kuda, serta fungsi-fungsi penunjang lainnya, yakni arena ketangkasan berkuda, peternakan kuda, sekolah berkuda, klinik kuda, pengelolaan pakan, pengelolaan limbah, farrier, retail, pelelangan, tempat rekreasi dan resort.Tema “Arsitektur Tropis Modern” digunakan untuk dapat menghasilkan suatu desain objek yang dapat mengurangi dampak klimatik dan dapat memanfaatkan faktor klimatik yang ada tanpa merusak lingkungan (ramah lingkungan) juga membuat nyaman penggunanya dengan suatu permodelan desain, material dan perangkat yang tepat. Selain itu, bentukan geometri juga menjadi suatu hal yang dibutuhkan untuk kenyamanan fisik yang ditawarkan (penglihatan, pendengaran, peraba) sampai memengaruhi persepsi bawah sadar pengamat. Maka dengan penggunaan tema tersebut, data lapangan, studi kasus dan studi pendukung; diharapkan produk desain yang tercipta dapat mewadahi aktifitas-aktifitas pacuan kuda. Kata Kunci : Pacuan Kuda, Arsitektur Tropis Modern
PERANCANGAN FLOATING HOTEL RESORT DI SELAT LEMBEH. Floating Architecture Sola G. P. Mosesa; Papia J. C. Franklin; Octavianus H. A. Rogi
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.23700

Abstract

 Keindahan alam bawah laut di Selat Lembeh menjadi primadona pariwisata di Bitung sehingga mengundang wisatawan untuk berkunjung. Jumlah wisatawan dari tahun ke tahun baik dari nusantara maupun mancanegara terus bertambah secara signifikan. Melihat fenomena tersebut, maka perlu wadah dalam hal ini akomodasi yang dapat menampung aktivitas wisatawan yang datang berwisata, berekreasi, dan menikmati keindahan alam, terutama alam bawah lautnya. Tujuan perancangan ini adalah merancang Floating Hotel Resort di Selat Lembeh yang dapat menampung aktivitas wisatawan serta mengintegrasi aktivitas manusia dengan keindahan alam di Selat Lembeh dengan standar kebutuhan dan kenyamanan yang ada.Hotel resort ini dirancang dengan pendekatan tipologi objek, pendekatan tematik dan pendekatan lokasional dan menggunakan metode glass box. Dalam perancangan konsep menggunakan proses desain dari Horst Rittel yaitu mekanisme pengembangan varietas-reduksi varietas. Proses desain ini berupa gagasan awal yang diolah berdasarkan data dan pertimbangan yang ada, kemudian disajikan menjadi beberapa alternative terbaik yang selanjutnya akan diseleksi atau menggabungkan beberapa alternative untuk mendapatkan satu alternative konsep terbaik.  Tema Floating Architecture diterapkan pada struktur bangunan. Bangunan menjadi setengah tenggelam di permukaan air dan dapat mengeskplor keindahan alam bawah laut di Selat Lembeh tanpa merusak biota lautnya, sehingga dapat dinikmati oleh wisatawan selagi beraktivitas atau beristirahat. Sistem ballast kapal dan sistem tambat diterapkan pada bangunan ini untuk menjaga bangunan tetap stabil dari beban dinamik bangunan maupun arus laut dan angin.   Kata kunci: Hotel Resort, Selat Lembeh, Floating Architecture, Mekanisme Pengembangan Varietas-Reduksi Varietas
PUSAT KEGIATAN GEREJA TORAJA MAMASA DI MAKASSAR. Arsitektur Neo Vernakular Clavelin N. Panggalo; Papia J. C. Franklin; . Suryono
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.24622

Abstract

Gereja Toraja Mamasa dengan 10 jemaat yang termasuk dalam Klasis Makassar, membutuhkan wadah yang dapat menampung kegiatan-kegiatan kerohanian, seperti beribadah, pelayanan informasi, dan edukasi bagi jemaatnya dan juga umat kristiani yang ada di Makassar. Tujuan perancangan ini tentunya untuk menghadirkan ruang perwadahan yang dapat mengakomodir peribadatan, pusat informatif dan pusat edukatif dalam suatu wilayah sehingga memberi kemudahan bagi jemaat Gereja Toraja Mamasa.Perancangan Pusat Kegiatan Gereja Toraja Mamasa ini menggunakan metode glassbox yaitu berupa penjelasan atau deskripsi yang di dukung adanya literatur-literatur yang berhubungan dengan objek rancangan dan dilakukan secara rasional dan logis oleh perancang dimana konsep tidak datang secara spontan namun melalui tahapan, diantaranya pengumpulan data, analisis data, dan tranformasi konsep.Penerapan tema Arsitektur Neo-Vernakular pada objek perancangan dibuat terlihat pada atap, dinding, lantai, kolom, serta ornament yang digunakan, yang akan kembali membangkitkan arsitektur yang mengandung nilai lokal mamasa yang diharapkan dapat menciptakan suasana peribadatan yang religius dan memperlihatkan image budaya Mamasa yang tidak terlalu mecolok di kota Makassar Kata kunci : Perancangan, Pusat, Gereja, Mamasa, Neo-Vernakular.
RUSUNAWA UNTUK NELAYAN DI KABUPATEN TALAUD. Arsitektur Lanskap Yogli Nangaro; Papia J. C. Franklin; Julianus A. R. Sondakh
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i2.27805

Abstract

Pembangunan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) diperuntukan dalam penyediaan hunian atau tempat tinggal layak huni dengan tariff sewa yang murah bagi para nelayan Dari sebagaian masyarakat nelayan yang ada di Kabupaten Talaud masih ada yang belum memiliki tempat tinggal atau hanya tinggal di tempat kumuh yang berada di pinggiran pantai dengan rumah seadannya dengan hadirnya Rusunawa Nelayan di Talaud bisa memberikan fasilitas hunian yang layak bagi masyarakat nelayan yang berpenghasilan rendah, dan bisa mewadahi, meningkatkan perekonomian social dan budaya masyarakat nelayan yan ada di Kabupaten Talaud. Dalam perancangan Rusunawa Nelayan dengan penerapan tema Arsitektur Lanskap merupakan suatu seni yang berfungsi untuk menciptakan suatu ruang dan melestarikan keindahan lingkungan di sekitar bangunan, manusia, guna mencapai kenyamanan dan kesehatan yang sangat penting bagi masyarakat nelayan yang tinggal di Rusunawa tersebut.Kata Kunci :    Rusunawa Untuk Nelayan,  Talaud,  Arsitektur  Lanskap
KANTOR SEWA DI KOTA MANADO. Arsitektur Tropis Rommy E. Korompu; . Suryono; Papia J. C. Franklin
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.30151

Abstract

Kantor sewa dengan konsep open plan atau zaman sekarang lebih dikenal dengan co-working space hadir sebagai salah satu pemecahan masalah dari peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui industry kreatif 4.0 yang dimana perusahaan kecil yang baru berdiri namun tidak mempunyai biaya untuk mendirikan bangunan kantor sendiri ditambah lagi mahalnya biaya tanah pada pusat perkotaan dimana hal ini bisa menjadi salah satu solusi pengurangan angka pengangguran di kota Manado. Dengan penerapan konsep arsitektur diharapkan mampu mengatasi permasalahan yang diakibatkan kondisi iklim dalam tapak. Dalam perancangan Kantor Sewa di Kota Manado ini, metode yang digunakan adalah pendekatan tipologi, pendekatan tematik, pendekatan lokasional, analisa, konsep dan desain final.Hasil rancangan Kantor Sewa ini diharapkan mampu memberikan pandangan baru dalam perancangan bangunan dengan konsep arsitektur tropis kedepan serta memperkenalkan system berkantor yang lebih kekinian untuk para pelaku industry kreatif yang ada di kota Manado guna menunjang kolaborasi antar sesama pengusaha.Kata kunci:Ekonomi Sulawesi Utara, Kantor Sewa, Co-working Space,Arsitektur Tropis
PERANCANGAN KLABAT RESORT DENGAN PENDEKATAN EKO ARSITEKTUR DI MINAHASA UTARA Jimmy Kawilarang; Reny Syafriny; Papia J. C. Franklin
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 10 No. 1 (2021): DASENG Volume 10, Nomor 1, Mei 2021
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v10i1.35833

Abstract

Pada tahun 2015 sampai dengan sekarang, Minahasa Utara merupakan kabupaten di provinsi Sulawesi Utara yang dikenal memiliki pariwisata yang indah oleh dunia. Data menunjukkan 90% sarana penunjang pariwisata di Minahasa Utara berjenis resort di tepi pantai  yang artinya sarana penunjang pariwisata di Minahasa Utara masih sangat membutuhkan sarana penunjang resort di area pegunungan. Hal tersebut mendasari perancangan resort yang bertujuan untuk mengangkat potensi alam pegunungan yang memanfaatkan program wisata hiking. Metode perancangan menggunakan metode Glass Box yang memiliki prinsip umum, yaitu objektif, analisis yang lengkap, evaluasi bersifat deskriptif dan dapat dijelaskan secara logis, sasaran dan strategi perancangan ditetapkan terlebih dahulu secara pasti dan jelas sebelum proses analisis. Pengembangan tema Eko – Arsitektur yang berdasarkan potensi alam dan budaya. Konsep ekologis yang diterapkan pada perancangan ini yaitu pencahayaan alami, penghawaan alami, bentuk tradisional, material bangunan, pengelolahan air limbah bekas, serta pemberdayaan energi alternatif. Kata Kunci : Akomodasi, Resort, Pegunungan, Ekologi Arsitektur, Minahasa Utara
ANALISIS KEMAMPUAN LAHAN TERHADAP RTRW KABUPATEN SIAU TAGULANDANG BIARO 2014-2034 (STUDI KASUS : PULAU TAGULANDANG) Cheintya Gunena; Papia J. C. Franklin; Sonny Tilaar
MEDIA MATRASAIN Vol. 17 No. 2 (2020)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v17i2.37037

Abstract

Kemampuan lahan adalah penilaian tanah secara sistematik dan pengelompokannya kedalam beberapa kategori berdasarkan sifat-sifat yang merupakan potensi dan penghambat dalam penggunaan secara lestari. Oleh karena itu dianggap penting untuk setiap perencanaan Tata Ruang Wilayah melakukan kajian kemampuan lahan. Terkait dengan hal tersebut, maka peneliti melakukan tinjauan terhadap RTRW Kabupaten SITARO 2014 – 2034 apakah arahan Tata Ruang yang telah dibuat memenuhi kriteria kemampuan lahan.  Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah mengidentifikasi penggunaan lahan di Pulau Tagulandang serta menganalisis dan memetakan kelas kemampuan lahan di Pulau Tagulandang menurut rencana pola ruang RTRW 2014-2034 Kabupaten Siau Tagulandang Biaro. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis kemampuan lahan berdasarkan arahan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20 /PRT/m/2007 yang dilakukan menggunakan overlay pada aplikasi sisstem informasi geografis (GIS). Dari hasil analisis didapatkan bahwa sebagian besar wilayah di Pulau Tagulandang adalah perkebunan dengan luas 4.731 Ha dan persentase 90,42% sedangkan yang paling kecil adalah 51 Ha yang merupakan hutan bakau dengan persentase hanya 0,98%. Untuk permukiman sendiri memiliki luas 336 Ha dengan persentase 6,42%. Selanjutnya kemampuan lahan Pulau Tagulandang menurut rencana pola ruang RTRW 2014-2034 Kabupaten Siau Tagulandang Biaro, kawasan permukiman berada pada lahan dengan kemampuan sangat tinggi, agak tinggi dan sedang. Kawasan pariwisata terdapat pada lahan dengan kemampuan agak tinggi dan rendah. Lahan pada Pulau Tagulandang lebih khusus Kecamatan Tagulandang Selatan dan Tagulandang Utara didominasi  tingkat pengembangan rendah.
TINGKAT ADAPTASI MASYARAKAT TERHADAP BENCANA GUNUNG API LOKON DI KOTA TOMOHON Sanger, Arwinsky S; Waani, Judy O.; Franklin, Papia J. C.
MEDIA MATRASAIN Vol. 18 No. 2 (2021)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v18i2.37072

Abstract

Facts prove that the magnitude of the potential for volcanic vulnerability in Indonesia can be identified from the location of the area and geographical position, where its existence is in the path of the meeting of tectonic plates with active volcanic lines or known as the ring of fire. North Sulawesi itself has ± 7 active volcanoes, one of them is Mount Lokon in Tomohon City. One of the most devastating eruptions that brought huge losses due to the eruption of Mount Lokon occurred decades ago, precisely in 1991, Mount Lokon erupted on a large scale. Therefore, this research is needed to determine the adaptation capacity and level of adaptation of the community to face the threat of danger from the Lokon volcano. The purpose of this study was to identify existing conditions, analyze the adaptation capacities, and analyze the level of adaptation of the community in North Tomohon District. This research uses descriptive quantitative research methods with Geographic Information Systems (GIS) analysis methods and uses the scoring method. The results showed that the adaptation capacity for physical, social, and economic aspects got a high score, this indicated that the community was able to adapt, while for the adaptation level, based on the classification score the score was 2 in the adaptation level theory, which showed that the intermediate level of excitability was the right level that could maximized behavior.