Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

TINGKAT ADAPTASI MASYARAKAT TERHADAP BENCANA GUNUNG API LOKON DI KOTA TOMOHON Sanger, Arwinsky S; Waani, Judy O.; Franklin, Papia J. C.
MEDIA MATRASAIN Vol. 18 No. 2 (2021)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v18i2.37072

Abstract

Facts prove that the magnitude of the potential for volcanic vulnerability in Indonesia can be identified from the location of the area and geographical position, where its existence is in the path of the meeting of tectonic plates with active volcanic lines or known as the ring of fire. North Sulawesi itself has ± 7 active volcanoes, one of them is Mount Lokon in Tomohon City. One of the most devastating eruptions that brought huge losses due to the eruption of Mount Lokon occurred decades ago, precisely in 1991, Mount Lokon erupted on a large scale. Therefore, this research is needed to determine the adaptation capacity and level of adaptation of the community to face the threat of danger from the Lokon volcano. The purpose of this study was to identify existing conditions, analyze the adaptation capacities, and analyze the level of adaptation of the community in North Tomohon District. This research uses descriptive quantitative research methods with Geographic Information Systems (GIS) analysis methods and uses the scoring method. The results showed that the adaptation capacity for physical, social, and economic aspects got a high score, this indicated that the community was able to adapt, while for the adaptation level, based on the classification score the score was 2 in the adaptation level theory, which showed that the intermediate level of excitability was the right level that could maximized behavior.
KANTOR GUBERNUR PAPUA BARAT DAYA DI KOTA SORONG. Arsitektur Neo Vernacular Basna, Cach V. V.; Surjono, E.; Franklin, Papia J. C.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i1.16701

Abstract

Secara geografis, Kota Sorong berada pada koordinat 131°51' Bujur Timur dan 0° 54' Lintang Selatan. Kota Sorong adalah daerah Yang Berkembang pesat dan merupakan jalur pintu masuk utama ke Papua dan juga sebagai jalur kota penghubung ke palosok-pelosok daerah sekitarnya. Namun sangat disayangkan  dengan kemajuan daerah dari segala bidang industry, wisata, dan sebagainya, Sorong masih berstatus Kota Administratif dan berada dibawa naungan pemerintahan tertinggi yaitu Provinsi Papua Barat yang terletak di Kota Manokwari beserta Bangunan Negara (kantor Gubernur) yang tertampak megah dari segi arsitektural yang mengadopsi nilai kebudayaan serta kepercyaan daerah setempat dan di integrasikan bersama tema neo vernakula – nya yang modern. Desain besar penataan daerah di Indonesia 2010-2025 menunjukkan bahwa Provinsi Papua Barat bisa dikembangkan lagi menjadi Provinsi Papua Barat Daya (Provinsi Sorong Raya). Dua provinsi baru lagi adalah pemekaran dari Provinsi Papua yaitu Provinsi Papua Tengah dan Provinsi Papua Selatan. Penataan daerah yang dimaksudkan dalam studi ini bertujuan untuk; peningkatan pelayanan publik, percepatan demokratisasi, percepatan pembangunan perekonomian daerah, pengembangan potensi daerah, peningkatan keamanan, keterbiban, dan memperpendek rentang kendali pemerintahan (Kementerian Dalam Negeri dan Kemitraan, 2011: vi).Kata kunci: Kantor Gubernur, Arsitektur Neo-Vernakular,Provinsi Papua Barat Daya.
PERPUSTAKAAN DI MANADO. MIMESIS DALAM ARSITEKTUR Turyanto, Ceryn V.; Franklin, Papia J. C.; Mastutie, Faizah
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17087

Abstract

Perpustakaan merupakan suatu wadah yang berfungsi sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan. Gedung perpustakaan saat ini tersingkir akibat hadirnya teknologi semakin canggih yang berdampak pada menurunnya animo masyarakat keperpustakaan. Oleh sebab itu, di Indonesia, khususnya di Kota Manado, perancangan diperlukan inovasi suatu sarana baca yang tidak hanya bersifat edukatif dan informatif, tetapi juga bersifat rekreatif. Perancangan Perpustakaan dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif, dokumentatif, dan komparatif. Dari data yang telah terkumpul, dilakukan identifikasi dan analisa untuk memperoleh gambaran yang cukup lengkap mengenai kondisi yang ada, sehingga dapat tersusun suatu landasan program perencanaan dan perancangan arsitektur bangunan perpustakaan. Perancangan perpustakaan ini terletak di Kota Manado, ibukota dari provinsi Sulawesi Utara, dimana masyarakatnya mudah tertarik terhadap suatu hal yang baru dan menarik. Untuk memaksimalkan, maka diterapkan ruang akan keperpustakaan dalam tema mimesis dalam arsitektur. Mimesis merupakan salah satu wacana yang ditinggalkan plato dan Aristoteles sejak masa keemasan filsafat Yunani Kuno, hingga pada akhirnya Abrams memasukannya menjadi salah satu pendekatan utama menganalisa seni selain pendekatan ekspresif, pragmatic, dan objektif. Penerapan Arsitektur Mimesis dituntut bukan hanya sekedar meniru saja melainkan merupakan suatu proses pemikiran peniruan yang membutuhkan imajinasi dan fantasi seseorang, namun juga memerhatikan perancangan arsitektur yang dapat beradaptasi dan menyesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar. Kata Kunci : Arsitektur, Mimesis, Perpustakaan
LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS 1 DI MANADO. Teori Gestalt dalam Arsitektur Kolondam, Januar; Franklin, Papia J. C.; Siregar, Frits O. P.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.17261

Abstract

Negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila membuka pemikiran- pemikiran baru mengenai fungsi pembinaan yang tidak lagi sekedar penjaraan tetapi juga merupakan suatu usaha rehabilitasi dan reintegrasi sosial Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Beberapa fenomena yang menjadi kendala bagi sistem pembinaan dan pembimbingan di lembaga pemasyarakatan sampai saat ini belum mendapat titik penyelesaian, sehingga penilaian masyarakat terhadap lembaga pemasyarakatan tidak ada bedanya dengan penjara membuat mantan narapidana sulit diterima oleh masyarakat. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) atau dalam bahasa masyarakat awam disebut penjara,merupakan tempa/kediaman bagi orang-orang yang bermasalah dngan hukum.Penerapan teori gestalt terhadap bangunan dapat menghasilkan konsep baru bagi desain lapasLuas site yang akan di bangun 38.417 m2,BCR bangunan 26,443.9m2  dalam kawasan terdapat 11 masa bangunan,terdiri dari masa perkantoran ,rg.kunjungan,dapur,poliklinik,workshop,aula,hunian umum,narkoba dan tipikor.Dengan ketinggian lantai berfariasi tergantung kebutuhan.Untuk mencapai bangunan tujuan bangunan lapas yang dapat memanusiakan manusia di terapkan 2 hukum gestalt yaitu hukum similarity atau kelarasan pada fasade bangunan dan hukum ketertutupan pada konsep layout.Kata kunci : Lembaga Pemasyarakatan, Gestalt 
MALL OTOMOTIF DI MANADO. Arsitektur Metafora Lontoh, Kevin; Franklin, Papia J. C.; Kapugu, Herry
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 1, Mei 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i1.19214

Abstract

Kota Manado sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Utara, merupakan sebuah ibu kota di bagian Indonesia Timur yang sedang dalam tahap perkembangan dalam berbagai bidang termasuk juga dalam bidang otomotif, yang dapat di lihat dari jumlah kepemilikan dan presentase peningkatan jumlah kendaraan di Kota Manado. Namun dengan peningkatan jumlah pengguna kendaraan bermotor di Kota Manado, belum tersedianya suatu wadah yang memfasilitasi segala keperluan dalam bidang otomotif dalam satu wadah atau terkonsentrasi dalam satu gedung. Telah banyak hadir bengkel, retail/toko, dan dealer otomotif di Manado, namun letaknya tersebar di pusat maupun di pinggiran kota yang membuat kesulitan bagi para masyarakat pengguna kendaraan bermotor untuk memenuhi keperluan nya dalam bidang otomotif, dimana jarak yang terlalu jauh antar toko-toko ataupun lokasi yang agak sulit untuk di temukan. Mall Otomotif adalah solusi untuk mengatasi keperluan masyarakat dalam bidang otomotif, dengan menyatukan dan mengkonsentrasikan segala keperluan otomotif dalam satu lokasi atau satu gedung. Penerapan Arsitektur Metafora dengan dalam bangunan Mall Otomotif merupakan sebuah cara untuk mengekspresikan suatu objek bangunan yang dapat menghasilkan suat rancangan yang memiliki wujud yang unik untuk menraik minat masyarakat dan menjadi identitas yang unik untuk mewakili fungsi Mall Otomotif di Manado.Kata kunci: Otomotif, Arsitektur Metafora
KAWASAN GEDUNG GEREJA GMIM SENTRUM DI RATAHAN. Manifestasi Christian Symbolism dalam Arsitektur Antou, Carlos W.; Kapugu, Herry; Franklin, Papia J. C.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 1, Mei 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i1.19303

Abstract

Salah satu kebutuhan dasar setiap individu adalah kebutuhan spiritual. Kebutuhan spiritual menjadi suatu kebutuhan yang tingkat pemenuhannya merupakan sesuatu yang individu lainnya tidak dapat ukur dengan suatu skala besaran. Karena kebutuhan ini hanya bisa dirasakan, diperlukan, dicari, dan dapat diukur oleh individu itu sendiri. Minahasa Tenggara merupakan sebuah daerah kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara yang masih tergolong muda, karena belum lama dimekarkan. Sehingga sarana prasarana di Minahasa Tenggara belum semuanya bisa tersedia. Perkembangan masyarakat didaerah ini yang sudah berkembang dengan pesat, juga turut mempengaruhi perkembangan jumlah penganut agama Kristen didaerah ini. Ratahan sebagai ibukota Kabupaten Minahasa Tenggara menjadi pusat pemerintahan dan juga pusat pelayanan GMIM di Minahasa Tenggara. Sehingga secara tidak langsung juga berdampak pada tingkat kebutuhan suatu wadah peribadatan pusat khususnya untuk masyarakat dengan denominasi GMIM, kebutuhan akan sebuah wadah peribadatan pusat ini sangatlah penting, karena pada nantinya daerah kabupaten yang beribukota di Ratahan ini pastinya akan terus berkembang secara khusus dalam jumlah penganut agama Kristen.            Perancangan Kawasan Gedung Gereja GMIM Sentrum diRatahan ini diharapkan bisa menjadi wadah untuk pemenuhan akan fasilitas peribadatan. Dalam penulisan ini, kajian diawali dengan mempelajari tentang Kawasan Gedung Gereja tersebut, standart-standart perancangan bangunan Gereja, kajian tema Manifestasi “Christian Symbolism” dalam Arsitektur. Dilakukan juga kajian tentang Kabupaten Minahasa Tenggara Kata kunci: Kawasan, Gedung Gereja GMIM, Christian Symbolism
WISMA ANGIN LAUT DI UNIVERSITAS SAM RATULANGI. Architecture Metabolism Setiawan, Nataniel A.; Franklin, Papia J. C.; Kapugu, Herry
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Noomor 1, Mei 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i1.20826

Abstract

Universitas Sam Ratulangi menjadi salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia yang menerapkan sistem pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum (BLU) yaitu berupa keleluasaan untuk menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat. Namun saat ini Universitas Sam Ratulangi hanya bisa memberikan beberapa pelayanan jasa melalui Rumah Sakit, auditorium dan laboratoirum yang dikomersialkan sebagai sumber pendapatan. Laporan tugas akhir dengan judul “Wisma Angin Laut di Universitas Sam Ratulangi” memiliki rumusan masalah yaitu bagaimana merancang suatu bangunan komersial yang dapat menjadi salah satu sumber pendapatan Universitas Sam Ratulangi sebagai Badan Layanan Umum (BLU). Tujuan untuk menghadirkan sebuah bangunan komersial yang dapat menjadi salah satu sumber pendapatan bagi Universitas Sam Ratulangi sebagai Badan Layanan Umum (BLU). Perancangan objek pada tugas akhir ini menggunakan pendekatan tema “Architecture Metabolism”, yaitu suatu pendekatan arsitektural yang menganalogikan sistem metabolisme hewan, tumbuhan, organisme hidup dan lingkungan alami mereka, siklus dari perubahan, pembaharuan dan perusakan dari jaringan organik yang terjadi tanpa henti. Architecture Metabolism melepaskan analogi mekanik dengan bentuk geometris yang monoton dan terkesan kaku menjadi analogi biologis dengan bentukan yang lebih beragam.Kata Kunci: Universitas Sam Ratulangi, Badan Layanan Umum, Architecture Metabolism
PSYCHIATRIC HOSPITAL. Spiritual Architecture Majore, Christopher S.; Franklin, Papia J. C.; Waani, Judy O.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i2.21253

Abstract

Arti kata “spritual” telah berkembang dari waktu ke waktu dan saat ini memiliki banyak arti dan konotasi. Dulu ia dikaitkan dengan agama, perasaan religius dan Roh Kudus. Namun di era yang modern ini, kata tersebut kini memiliki makna yang bersifat duniawi dan lebih luas serta tertuju pada rasa yang tidak ada pada/tidak berasal dari dunia ini. Ia telah menjadi kata yang biasa digunakan sebagai cara untuk mendefinisikan hal-hal yang tidak memiliki wujud dan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.Pada saat ini banyak arsitektur yang telah kehilangan maknanya, hanya sekedar seni retina mata. Alih-alih membuat kita merasakan keberadaan kita sebagai manusia yang ada di dunia, kita seperti ditempatkan untuk melihat dunia dari luar, layaknya bayangan penonton yang diproyeksikan di depan permukaan retina .Spiritual Architecture adalah sesuatu yang dengan sederhananya menggugah diri kita dengan mempengaruhi indra-indra kita dalam cara tertentu untuk membangkitkan perasaan batin kita pada tingkat yang lebih dalam.Manusia adalah suatu kesatuan dari jasmani dan rohani sehingga begitulah juga kita dalam ber-arsitektur yakni bukan hanya sekedar wadah jasmani manusia saja tetapi juga (terlebih lagi) aspek rohaninya (spiritual; jiwa). Kesehatan jiwa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan manusia dan merupakan bagian integral dalam menunjang kualitas hidup manusia yang utuh. Terganggunya kesehatan jiwa seseorang menandakan adanya ketidakseimbangan dalam dirinya. Spiritual Architecture yang dimaksud di sini adalah pendekatan perancangan yang mengangkat kembali unsur arsitektur yang mampu menyentuh ke dalam perasaan, menimbulkan reaksi dan sikap kejiwaan, arsitektur yang mendidik untuk menghayati ruang serta suasana secara manusia yang mulia dan utuh dalam arti menyeimbangkan, mengawinkan dimensi guna dan citra, yang telah lama timpang dalam dunia arsitektur modern.Kata Kunci : Psychiatric, Hospital, Spiritual, Architecture
REDESAIN PACUAN KUDA DI TOMPASO. Arsitektur Tropis Modern Gijoh, Christ H.; Franklin, Papia J. C.; Rogi, Octavianus H. A.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.23670

Abstract

Redesain adalah suatu proses merancang kembali apa yang telah ada, dalam hal ini Pacuan Kuda akan di rancang kembali untuk orang berolahraga berkuda dan untuk orang menyaksikan perlombaan sambil menikmati fasilitas-fasilitas lain di dalamnya. Sulawesi Utara sudah dari dulu terkenal karena sering mengikuti perlombaan-perlombaan tingkat nasional, bahkan sebelum adanya Pacuan Kuda di Tompaso, Sulawesi Utara sudah mempunyai Pacuan Kuda di Perkamil terlebih dahulu. Tompaso merupakan daerah yang terkenal akan kualitas kuda-kudanya karena faktor tempatnya, latihan dan pakan yang diberikan. Maka dari hal-hal demikian menjadi alasan untuk merancang kembali fasilitas yang sudah ada juga menghadirkan fasilitas yang belum ada, dan hal-hal tersebut dapat mewadahi kegiatan-kegiatan yang berfokus pada pacuan kuda, seperti stadion dan lintasan pacuan kuda, serta fungsi-fungsi penunjang lainnya, yakni arena ketangkasan berkuda, peternakan kuda, sekolah berkuda, klinik kuda, pengelolaan pakan, pengelolaan limbah, farrier, retail, pelelangan, tempat rekreasi dan resort.Tema “Arsitektur Tropis Modern” digunakan untuk dapat menghasilkan suatu desain objek yang dapat mengurangi dampak klimatik dan dapat memanfaatkan faktor klimatik yang ada tanpa merusak lingkungan (ramah lingkungan) juga membuat nyaman penggunanya dengan suatu permodelan desain, material dan perangkat yang tepat. Selain itu, bentukan geometri juga menjadi suatu hal yang dibutuhkan untuk kenyamanan fisik yang ditawarkan (penglihatan, pendengaran, peraba) sampai memengaruhi persepsi bawah sadar pengamat. Maka dengan penggunaan tema tersebut, data lapangan, studi kasus dan studi pendukung; diharapkan produk desain yang tercipta dapat mewadahi aktifitas-aktifitas pacuan kuda. Kata Kunci : Pacuan Kuda, Arsitektur Tropis Modern
PERANCANGAN FLOATING HOTEL RESORT DI SELAT LEMBEH. Floating Architecture Mosesa, Sola G. P.; Franklin, Papia J. C.; Rogi, Octavianus H. A.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.23700

Abstract

 Keindahan alam bawah laut di Selat Lembeh menjadi primadona pariwisata di Bitung sehingga mengundang wisatawan untuk berkunjung. Jumlah wisatawan dari tahun ke tahun baik dari nusantara maupun mancanegara terus bertambah secara signifikan. Melihat fenomena tersebut, maka perlu wadah dalam hal ini akomodasi yang dapat menampung aktivitas wisatawan yang datang berwisata, berekreasi, dan menikmati keindahan alam, terutama alam bawah lautnya. Tujuan perancangan ini adalah merancang Floating Hotel Resort di Selat Lembeh yang dapat menampung aktivitas wisatawan serta mengintegrasi aktivitas manusia dengan keindahan alam di Selat Lembeh dengan standar kebutuhan dan kenyamanan yang ada.Hotel resort ini dirancang dengan pendekatan tipologi objek, pendekatan tematik dan pendekatan lokasional dan menggunakan metode glass box. Dalam perancangan konsep menggunakan proses desain dari Horst Rittel yaitu mekanisme pengembangan varietas-reduksi varietas. Proses desain ini berupa gagasan awal yang diolah berdasarkan data dan pertimbangan yang ada, kemudian disajikan menjadi beberapa alternative terbaik yang selanjutnya akan diseleksi atau menggabungkan beberapa alternative untuk mendapatkan satu alternative konsep terbaik.  Tema Floating Architecture diterapkan pada struktur bangunan. Bangunan menjadi setengah tenggelam di permukaan air dan dapat mengeskplor keindahan alam bawah laut di Selat Lembeh tanpa merusak biota lautnya, sehingga dapat dinikmati oleh wisatawan selagi beraktivitas atau beristirahat. Sistem ballast kapal dan sistem tambat diterapkan pada bangunan ini untuk menjaga bangunan tetap stabil dari beban dinamik bangunan maupun arus laut dan angin.   Kata kunci: Hotel Resort, Selat Lembeh, Floating Architecture, Mekanisme Pengembangan Varietas-Reduksi Varietas