Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

SARANA REKREASI EDUKASI BUDAYA SULAWESI UTARA DI MANADO, WAYFINDING ARCHITECTURE Angelina E. S. Sihotang; Judy O. Waani; Hendriek H. Karongkong
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 11 No. 1 (2022): DASENG Volume 11, Nomor 1, Mei 2022
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v11i1.43386

Abstract

Bermula dari lokasi di Sulawesi Utara, provinsi yang dikunjungi banyak turis luar mengakibatkan akulturasi budaya tak dapat terhindarkan. Maka perlu dihadirkan objek yang menunjang masyarakat mengetahui dan lebih mengenal budaya lokal. Dengan demikian, objek “Sarana Rekreasi Edukasi Budaya Sulawesi Utara di Manado” perlu untuk dihadirkan. Dalam implementasinya, penerapan tema wayfinding architecture terpilih untuk menunjang objek. Proses perancangan ini menggunakan metode kotak kaca (glass box) beserta teori Horst Rittel. Di mana dikenali atas sejumlah prosedur tindakan yang berurut dimulai dari adanya target dan strategi pencapaian target melalui pengumpulan informasi sehingga memunculkan beragam analisis/alternatif yang kemudian dievaluasi untuk mendapat solusi responsif atau yang terbaik dari sejumlah alternatif yang ada. Pada dasarnya, hasil rancangan “Sarana Rekreasi Edukasi Budaya Sulawesi Utara di Manado penerapan tema Wayfinding Architecture” berfokus mengingatkan kembali kebudayaan Sulawesi Utara secara menarik melalui implementasi tema. Penulis merekomendasikan adanya pengkajian lebih dalam tentang literatur terkait objek perancangan, penguasaan yang lebih baik terkait software perancangan arsitektur.Kata Kunci : Rekreasi, Edukasi, Budaya, Wayfinding Architecture
TERMINAL BUS TIPE A DI TONDANO, KABUPATEN MINAHASA: Green Architecture Jordy Kevin P. Banteng; Judy O. Waani; Frits O. P. Siregar
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 11 No. 1 (2022): DASENG Volume 11, Nomor 1, Mei 2022
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terminal merupakan suatu komponen sistem transportasi yang berperan menjadi pangkalan kendaraan angkutan umum yang digunakan untuk mengatur alur sirkulasi kedatangan dan keberangkatan angkutan, serta menjadi sarana untuk menaikan dan menurunkan orang atau barang, serta menjadi perpindahan moda angkutan umum. Melihat dari fungsi tersebut, terminal penumpang merupakan sarana pelayanan public yang memiliki peranan penting dalam penagaturan sirkulasi kendraan umum pada suatu trayek, yang secara luas diperlukan oleh masyarakat. Melihat Tondano sebagai ibukota dari kabupaten Minahasa yang memeiliki terminal bus bertipe B yang berada di kelurahan Wawalintouan, memiliki keadaan yang masih kurang layak untuk memenuhi kebutuhan dari mobilitas masyarakat pada saat ini. Keadaan terminal saat ini juga sudah tidak mencukupi untuk menampung volume kendaraan umum yang ada, diakrenakan keterbatasannya lahan yang ada saaat ini tidak mampu menampung lagi angkutan umum yang ada saat ini sehingga dengan dihadirkan rancangan terminal Tondano tipe A ini bisa menampung semua volume kendaraan dan trayek yang ada di terminal Tondano, dengan menerapan konsep Green Architecture diharapkan bisa mengembalikan citra dari.sebuah terminal dengan pelayanan yang baik dan lebih memadai sehingga menjadi lingkungan yang sehat bagi para penggunanya. Kata Kunci: Green Architecture, Terminal Tipe A, Tondano.
REDESAIN KAWASAN WISATA BENTENG MORAYA DI TONDANO: Arsitektur Historis Dina Salangka; Judy O. Waani; Vicky H. Makarau
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 11 No. 1 (2022): DASENG Volume 11, Nomor 1, Mei 2022
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan wisata Benteng Moraya merupakan salah satu objek wisata sejarah yang berada di Tondano Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Objek wisata ini dijadikan salah satu aspek penopang untuk menaikkan pendapatan daerah melalui pajak dan juga mengangkat nilai investasi di Tondano. Namun kawasan wisata Benteng Moraya saat ini belum terdapat fasilitas-fasilitas yang menampilkan latar belakang utama yang ada pada lokasi ini yaitu cerita dari sejarah Perang Tondano maka dari itu diperlukan perancangan kembali untuk memperkuat nilai sejarah dari Benteng Moraya terkait Perang Tondano yang terjadi pada abad ke-18. Objek yang dihadirkan tidak hanya berperan sebagai tempat wisata sejarah dari kawasan Benteng Moraya, namun terdapat juga fasilitas atau wadah untuk meningkatkan ilmu dan pengetahuan juga menjadi pusat kebudayaan dan kesenian Minahasa. Selain itu, dengan terwujudnya Redesain Kawasan Wisata Benteng Moraya dapat membuka lapangan pekerjaan baru dan juga bisa memberikan peluang ekonomi untuk masyarakat sekitar sehingga pengaplikasian makna Si Tou Timou Tumou Tou dapat terwujud. Kemudian untuk penggunan tema Arsitektur Historis dalam merancang kembali kawasan wisata Benteng Moraya ini merupakan tema yang sesuai dengan tujuan perancangan. Dimana tema Arsitektur Historis ini menjadi dasar dari bentuk bangunan, sirkulasi pada tapak dan juga menampilkan serial vision pada ruang luar terkait sejarah Perang Tondano. Kata Kunci : Benteng Moraya,Tondano, Arsitektur Historis
PERUBAHAN RUMAH TIPE 21 DI PERUMAHAN SIMPONY INDAH WATUTUMOU II DAN PERUMAHAN PEMDA KALAWAT MINAHASA UTARA Grace Junita Mokolensang; Judy O. Waani; Rieneke Sela
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 7 No. 1 (2015)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v7i1.8276

Abstract

Rumah sudah menjadi kebutuhan dasar dari semua orang untuk membina keluarga dalam  menjaga kelangsungan kehidupannya. Pembangunan rumah tipe 21 pertama kali hadir di Perumahan Pemda (Pemerintah Daerah) Kalawat pada tahun 1989 yang dibangun oleh Pemerintah Provinsi dan mulai ditempati pada tahun 1993. Perumahan Simpony Indah Watutumou II merupakan pembangunan rumah tipe 21 kedua setelah Perumahan Pemda Kalawat dengan pengelola yang berasal dari pihak swasta di tahun 1993. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap faktor penyebab perubahan rumah Tipe 21 di antara Perumahan Simpony Indah Watutumou II dan di Perumahan Pemda Kalawat, Minahasa Utara. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor ekonomi dan sosial yang mempengaruhi terjadinya perubahan. Dari faktor itulah akan didapati kebutuhan dari penghuni rumah. Kebutuhan meliputi kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan akan harga diri, kehormatan, ego, dan kebutuhan penunjukkan aktualisasi diri. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa proses perubahan di Perumahan Simpony Indah Watutumou II dan Perumahan Pemda Kalawat terjadi karena adanya faktor kebutuhan sosial dan ekonomi dari penghuni rumah dengan perbedaan diantaranya berupa luasan lahan.  
PROSPEK TEMPAT PEMROSESAN AKHIR (TPA) SAMPAH REGIONAL MAMITARANG Humayroh S. A. Ladjolo Ladjolo; Judy O. Waani; Johansen C. Mandey
SPASIAL Vol. 11 No. 1 (2023): Volume 11 no.1 2023
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara merencanakan pembangunan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah Regional Mamitarang dengan sistem lahan urug yang berlokasi di Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara. Berdasarkan fenomena yang ada, masyarakat yang bermukim di sekitar TPA Mamitarang menolak pembangunan TPA tersebut. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui ukuran dari masyarakat tentang kemampuan dan kemauan mereka dalam tingkat kepuasan maksimum agar dilibatkan dalam suatu perencanaan untuk dapat menentukan rencana yang diinginkan berdasarkan kemauan dan kemampuannya dalam kepuasan maksimum. Tahap analisa dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif preferensi dengan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan masyarakat yang tinggal bersinggungan dengan TPA Mamitarang tidak memiliki kemauan untuk mendukung TPA Mamitarang sebagai Tempat Pemrosesan Akhir sampah dengan presentase indikator jenis produk/jasa layanan (23%), kualitas dan kuantitas (22%), utilitas pengguna (22%) dan perilaku pengguna (22%) sehingga perlu memprioritaskan indikator dengan presentase paling tinggi karena memungkinkan atau lebih berpeluang untuk menjadi positif yang dalam hal ini terkait pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap TPA Sampah Regional Mamitarang dengan dengan kajian rekomendasi yaitu program sosialiasi, kemudian dapat menunjang indikator dengan presentase di bawahnya karena saling terkait. Selain itu analisa kemampuan masyarakat menunjukan hasil bahwa masyarakat cenderung tidak mampu sehingga Pemerintah perlu memfasilitasi dan mendorong masyarakat dalam pengelolaan sampah yang dihasilkan agar dapat bernilai ekonomis. Alternatif lain adalah dengan tidak memaksakan masyarakat yang tinggal bersinggungan dengan TPA atau pembebasan iuran retribusi sampah sebagai kompensasi. Kata Kunci : Prospek; TPA Regional, Sampah, Prasarana.
ENTERTAINMENT CENTER DI MANADO. Biophilic Architecture Resky A. F. Th. Durandt; Judy O. Waani; Pingkan P. Egam
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.24039

Abstract

           Kota Manado adalah Ibukota dari Provinsi Sulawesi utara yang merupakan kota kedua terbesar di pulau Sulawesi, berdasarkan Dinas Pariwisata, kota Manado memiliki 84 obyek pariwisata dimana 78 obyek diantaranya merupakan obyek pariwisata buatan. Pengembangan sektor pariwisata diyakini mampu memberi efek bagi kesejahteraan daerah dan mewujudkan manado sebagai Kota Ekowisata sebagai tujuan turis di ujung utara sulawesi.Entertainment Center merupakan bangunan yang mengakomodasi pusat hiburan terpusat, berdasarkan fenomena masyarakat dan pusat rekreasi yang sudah ada apabila obyek tersebut monoton akan ditinggalkan oleh masyarakat, Maka perlu sebuah bangunan hiburan yang menyediakan fasilitas menarik yang terpusat didalam satu area atau kawasan.Tema yang di terapkan dalam proses perancangan objek Entertainment Center adalah “Biophilic Architecture” tema ini mengangkat dan menampilkan sebuah hasil perancangan yang didalamnya menerapkan Prinsip-prinsip dari Biophilic Design (Nature in the spaces, Natural Analogues, Nature of the spaces) dengan 14 Patterns dan juga Karakter-karakter Biophilic yang menghadirkan suasana alami dengan elemen-elemen alam seperti tumbuhan, material-material alami dan mengadopsi bentuk-bentuk alam dan juga pemanfaatan alam ke dalam konsepsi perancangan massa . Penerapan tema ini diharapkan mampu menjadi sebuah citra baru terhadap fasilitas rekreasi dan entertainment yang unik di Kota Manado, sehingga dapat menarik minat masyarakat dan juga wisatawan dari luar dengan karakteristiknya serta menjadi icon bangunan pariwisata di Kota Manado yang kemudian dapat berdampak meningkatknya pertumbuhan perekonomian daerah di bidang pariwisata. Kata Kunci : Entertainment Center, Biophilic Architecture, Biophilic Design, Prinsip Biophilic Design(Nature in the spaces, Natural Analogues, Nature of the spaces)
MUSEUM SENI RUPA KONTEMPORER DI MANADO . Ambiguitas Christy E. Nelwan; Judy O. Waani; Leidy M. Rompas
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.24065

Abstract

Bercermin dari potret realita tidak adanya wadah profesional berskala nasional dan internasional untuk memfasilitasi kegiatan konservasian eksebisi karya-karya seni Indonesia maupun dunia khususnya seni kontemporer yang kian berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan kurangnya apresiasi masyarakat Manado terhadap urgenitas seni dan museum sebagai “Gudangnya ilmu, budaya, dan fasilitas publik yang merupakan pilot project majunya perkembangan dan image sebuah kota” Museum Seni Rupa Kontemporer di Manado didesain menggunakan pendekatan ambiguitas dimana, akan mengubah image sebuah museum yang dipandang dari dulu oleh masyrakat sebagai tempat yang kramat dan meningkatkan ketertarikan masyarakat khususnya Manado terhadap seni, dengan menghadirkan bentuk yang baru dan unik dari lingkungan sekitar. Kata kunci : Museum Seni Rupa Kontemporer di Manado, Ambiguitas
PUSAT SENI BUDAYA MASYARAKAT SORONG. Arsitektur Nusantara Nomensen Tiba; Judy O. Waani; Amanda S. Sembel
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.24633

Abstract

Kota Sorong merupakan salah satu daerah di Provinsi Papua Barat yang memiliki keanekeragaman seni dan budaya yang tak kalah dengan daerah lain. Dan sangat mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat Sorong sendiri, hal ini dapat dilihat dari banyaknya peminat yang tertarik ingin belajar dan mencoba menghasilkan karya-karya seni, Serta Adanya dukungan pemerintah dalam mengembangkan seni budaya di Sorong seperti banyaknya perizinan akan kegiatan-kegiatan seni budaya dari luar/dalam Sorong seperti atraksi kesenian, pagelaran dan festival seni tari-tarian, musik tradisional, seni pahat ukir, pameran hasil kerajinan tangan.Akan tetapi masalah yang dihadapi untuk mengembangkan bahkan melestarikan dan mempertahankan seni dan budaya di Sorong adalah Kurangnya informasi serta promosi seni budaya secara continue kepada masyarakat maupun wisatawan. Dan juga Belum adanya suatu wadah untuk menampung kegiatan aktifitas seni dan budaya secara menyeluruh namun terpusat.Berdasarkan kondisi diatas maka objek Pusat Seni Budaya Masyarakat Sorong diperlukan untu memecahkan serta menjembatani permasalahan yang dihadapi dalam pelayanannya akan kegiatan-kegiatan pengembangan seni budaya berupa kegiatan pendidikan, kesenian, pemasaran serta informasi. Dan kiranya mampu memberikan pengetahuan mengenai seni dan budaya kepada masyarakat Sorong melalui tampilan visual hasil-hasil karyanya, dan dapat menambah wawasan  masyarakat kota Sorong tentang seni dan budaya itu sendiri, serta menjadi sarana untuk melatih kreatifitas ke dalam produk seni dan budaya. Kata kunci:Pusat, seni dan budaya,Papua
MANADO GAME CENTER Ryo K. Prijadi; Judy O. Waani; Alvin J. Tinangon
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i2.25047

Abstract

Pada zaman modern ini game merpakan hobi yang dapat menghasilkan uang, pemain game yang engikuti esport dapat di sebut atlit game center adalah tempat untuk menaungi seala kebutuhan mereka,di kota besar seprti manado banyak lomba lomba esport yang di selengarakan dikarenakan tidak mempunyai tempatlomba tersebut di adakan di tempat yang tidak semestinya banyak yang mengeluhkan hal hal tersebut seperti ribut yang dapat menghilangan konsentrasi dan juga komentator dapat membuat kesalahan karena pemain dapat mengatakan perkataan komentator akan tetapi game center merupakan banunan yang boros energy dikarenakan itu harus memikirkan tema yang cocok seperti tema biomimikri dimana tema itu membuat rancangan mengikuti organisme perilaku dan lingkuan yang membuat dampak negative terhadap lingkungan dari bangunan game center dapat berkurang bukan Cuma mengurangi dampak negative konsep dari biomimikri tidak terlalu mengubah design dari bangunan yang di rancang ini yaitu game center yang sering berkaitan dengan modern dan futuristic sehingga bwalaupun bentuk modern bangunan ini tetap tdk terlalu berdampak buruk bagi lingkungan sekitarnya  Kata kunci: Manado, Game Center, Biomimikri,
PUSAT REKREASI EDUKASI PROFESI UNTUK ANAK DI MANADO. Arsitektur Perilaku dengan Pendekatan Emotional Rachel F. Massie; Judy O. Waani; Herry Kapugu
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.30145

Abstract

Proses belajar semakin berkembang sejalan dengan perkembangan zaman. Proses belajar sudah tidak lagi terbatas pada rutinitas belajar formal di sekolah, tetapi juga melalui cara informal salah satunya adalah dengan bermain. Melalui bermain, anak-anak tidak hanya bisa belajar tanpa rasa tekanan dan paksaan, tetapi juga anak bisa mengekspresikan dirinya dan bersosialisasi dengan teman sebayanya. Salah satu penerapan metode belajar sambil bermain dapat ditemukan pada edukasi profesi untuk anak-anak. Edukasi profesi ditujukan untuk mengenalkan berbagai profesi yang ada kepada anak-anak. Sarana edukasi dengan menggunakan metode ini sudah ada di beberapa negara, sedangkan di Indonesia sendiri sarana ini hanya ada di Kota Jakarta dan dikenal dengan nama Kidzania. Kota Manado, sebagai ibukota provinsi Sulawesi Utara, merupakan salah satu kota di Indonesia yang sedang berkembang dan memiliki tingkat pertumbuhan penduduk yang cukup pesat. Namun peningkatan jumlah penduduk ini tidak sejalan dengan jumlah tempat rekreasi yang ada. Sehingga pemilihan objek Pusat Rekreasi Edukasi Profesi Untuk Anak, diharapkan dapat menjadi alternatif tempat untuk berekreasi yang edukatif, serta membuka peluang investasi di Kota Manado, mengingat tempat wisata dengan konsep serupa belum ditemui di Kota Manado. Penerapan tema Arsitektur Perilaku dalam perancangan diharapkan dapat memberikan wadah untuk berekreasi dan belajar yang disesuaikan dengan perilaku anak. Dalam hubungannya dengan pengembangan kecerdasan emosional, sebuah objek sebagai sarana edukasi yang berkualitas diharapkan dapat memberikan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. Dimana suasana belajar yang berkualitas dianggap mampu menstimulasi psikologis dan emosi anak untuk lebih semangat dalam proses edukasi melalui bentuk-bentuk dalam perancangan objek. Objek dan ruang di dalamnya harus bisa memberikan efek positif, baik dari bentuk, ukuran, sampai pada penataannya. Hal ini agar anak-anak menjadi termotivasi dan memberikan emosi positif yang dapat membantu proses pembelajaran. Kata kunci: Rekreasi Edukasi, Profesi, Arsitektur Perilaku, Kecerdasan Emosional