Octavianus H. A. Rogi
Unknown Affiliation

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

REDESAIN SLB B GMIM DAMAI TOMOHON, Deaf Space Architecture Rinda W. Kalangi; Octavianus H. A. Rogi; Alvin J. Tinangon
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 10 No. 2 (2021): DASENG Volume 10, Nomor 2, November 2021
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v10i2.39071

Abstract

Salah satu yayasan swasta di Sulawesi Utara menyediakan sekolah luar biasa tipe b di Tomohon, sekolah ini dikhususkan untuk orang yang memiliki ketidaksempurnaan kurangnya pendengaran. Namun pada kenyataannya, sekolah ini masih belum ramah bagi penyandang tunarungu. Hal ini dikarenakan kurangnya kesadaran dari masyarakat terhadap kebutuhan akses untuk tunarungu yang pada akhirnya masalah tersebut berdampak pada kualitas hidup mereka. Penjabaran di atas melatarbelakangi penelitian ini untuk merancang pembangunan sekolah luar biasa tipe b melalui pendekatan Deaf Space dengan prinsip Sensory Reach, Space and Proximity, Mobility and Proximity, Light and Color, serta Acoustic. Kelima prinsip desain ini merupakan parameter yang digunakan Deaf Space untuk merancangan. Metode perancangan menggunakan acuan desain generasi II yang dielaborasi oleh John Ziesel. Metode terdiri dari dua fase yaitu, fase pertama pengembangan wawasan komprehensif dan fase kedua siklus Image-Present-Test. Di mana proses desain dilakukan secara berulang-ulang secara terusmenerus (Cyclical/Spiral). Hasil dari pembahasan kemudian dipaparkan dalam strategi implementasi tema Di mana kelima prinsip Deaf Space tersebut diimplmentasikan pada site development, konfigurasi massa, tata ruang dalam, selubung bangunan, struktur, ruang luar, dan utilitas. Sehingga menghasilkan gambar-gambar desain seperti, siteplan, layout, denah, potongan, tampak bangunan, isometri, utilitas, spot visual bangunan, interior serta ruang luar yang ditunjang sarana dan prasarana yang memadai diharapkan menjadi wadah bagi siswa-siswi tunarungu dalam mengembangkan keinginan dan talentatnya.Kata Kunci: Redesain, SLB B GMIM Damai, Tomohon, Deaf Space
MONUMEN DR. SAM RATULANGI DI TONDANO, Space & Memory Architecture Sefanya S. Kuhon; Octavianus H. A. Rogi; Ricky M. S. Lakat
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 10 No. 2 (2021): DASENG Volume 10, Nomor 2, November 2021
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v10i2.40943

Abstract

Tokoh sejarah Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau biasa kita menyebutnya Sam Ratulangi, dia lahir pada tanggal 5 November 1890 di Tondano, Minahasa. Beliau merupakan seorang jurnalis, politikus dan guru yang dikagumi masyarakat pada masanya. Tetapi lambat laun jasa para pahlawan termasuk Sam Ratulangi makin tergerus masa, banyak orang mulai tidak mengenal mereka terutama generasi penerus bangsa, maka dibuat “Monumen Peringatan Dr. Sam Ratulangi di Tondano, Architeture: Space & Memory”. Monumen ini akan menjadi sebuah wadah untuk menampung kenangan dan sejarah, dalam hal ini tokoh Sam Ratulangi, dan tentunya akan dilengkapi dengan sarana edukasi dan rekreasi. Dengan mengangkat tema Architecture : Space & Memory, para masyarakat diharapkan dapat lebih merasakan dan memaknai nilai sejarah yang berada dalam objek.Kata Kunci : Sam Ratulangi, Monumen, Architecture Space & Memory
GRAHA BELAJAR DI KOTA MANADO, Desain Biofilik Dalam Paradigma New Normal Putu A. B. Kusuma; Jefrey I. Kindangen; Octavianus H. A. Rogi
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 10 No. 2 (2021): DASENG Volume 10, Nomor 2, November 2021
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v10i2.40944

Abstract

Tren belajar era digital adalah pola komunikasi antara pelajar/mahasiswa dengan guru/dosen yang menggunakan kecanggihan teknologi sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung di mana saja dan kapan saja. Aspek penting dalam proses belajar dan riset di abad 21 yaitu interactivity, interdisciplinary, internationalization, dan information technology. Permasalahan pelajar dan mahasiswa Kota Manado masa kini salah satunya adalah tidak adanya fasilitas yang dapat mewadahi kebutuhan belajar era digital. Dalam rangka memenuhi kebutuhan pelajar dan mahasiswa akan tempat yang mendukung aktivitas belajar mereka, maka hadirlah Graha Belajar di Kota Manado. Terdapat fasilitas edukasi, rekreasi, ekshibisi, serta perdagangan dan jasa yang ditawarkan pada Graha Belajar. Perancangan Graha Belajar menerapkan konsep Desain Biofilik karena sangat tepat bagi pelajar dan mahasiswa sebagai pengunjung di mana Desain Biofilik dapat membawa dampak positif terhadap fisik dan mental pengguna. Sejalan dengan dunia yang juga memasuki era new normal, diterapkan pula beberapa protokol kesehatan agar pengunjung tidak merasa khawatir dengan pertukaran virus atau penyakit pada masa kini dan yang akan datang.Kata Kunci: Manado, Graha Belajar, Desain Biofilik
PUSAT REKREASI AKUATIK DI TONDANO, Eco Architecture Frichilla C. Agalui; Reny Syafriny; Octavianus H. A. Rogi
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 10 No. 2 (2021): DASENG Volume 10, Nomor 2, November 2021
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v10i2.40954

Abstract

Pariwisata merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan nasional. Peranan pariwisata di Indonesia sangat dirasakan manfaatnya, karena pembangunan dalam sektor pariwisata serta pendayagunaan sumber potensi kepariwisataan menjadi kegiatan ekonomi yang dapat diandalkan. Keindahan pariwisata dari tahun ke tahun mengundang banyak wisatawan dari nusantara maupun mancanegara. Untuk itu dengan meningkatnya wisatawan menyebabkan kebutuhan akan fasilitas rekreasi menjadi cukup tinggi. Mengingat Danau Tondano merupakan salah satu daya Tarik wisatawan untuk datang ke Minahasa. Terkhususnya Pemandangan yang di tawarkan di Danau Tondano yang cukup bagus yang bisa membuat wisatawan betah berada di sekitar danau tersebut. Maka dari itu dengan penambahan sarana rekreasi air di pesisir Danau Tondano tentunya akan menarik perhatian pengunjung. Rekreasi air bisa memberikan manfaat bagi manusia seperti mingkatkan perkembangan fisik, mengembangkan kreatifitas, ide dan imajinasi anak. Untuk dapat menarik wisatawan, maka ide yang ditawarkan untuk objek wisata adalah perencanaan dan perancangan Pusat Rekreasi Akuatik di Tondano. Konsep yang digunakan pada perancangan Pusat Rekreasi Akuatik di Tondano adalah Eco-Architecture yang diharapkan mampu meminimalkan penggunaan energi seefesien mungkin sehingga tidak terjadi pemakaian energi yang besar khususnya listrik.Kata Kunci : Tondano, Pusat Rekreasi Akuatik, Eco - Architecture
ARGRICULTURE CENTRE DI MINAHASA UTARA: Sustainable Building Envelopes Evabella M. Rawung; Sangkertadi; Octavianus H. A. Rogi
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 11 No. 1 (2022): DASENG Volume 11, Nomor 1, Mei 2022
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perancangan Agriculture Centre ini berangkat dari pemilihan Minahasa Utara sebagai lokasi perancangan, kemudian menentukan objek yang cocok untuk dihadirkan sesuai dengan isu yang ada dilokasi tersebut. Dimana Minahasa Utara merupakan salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Utara yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani. Namun bangunan – bangunan di sektor pertanian yang ada di Minahasa Utara pun hanya toko – toko alat pertanian dan kantor dinas pertanian daerah, bangunan kantor dinas pertanian pun sudah cukup lama dan bisa dibilang kecil, bahkan tempat melakukan pertemuan atau pelatihan untuk banyak petani ruang dan lahannya tidak mencukupi karena mengingat petani di Minahasa Utara cukup banyak. Metode perancangan yang digunakan pada perancangan ini yaitu metode perancangan dari John Zeisel yaitu fase pertama dan fase kedua, dimana perancangan Agriculture Centre ini akan melalui proses spiral development yaitu melalui fase pertama Imaging, Presenting, dan Testing hingga ke fase ke 2 ReImaging, Re-Presenting-ReTesting yang dimana dalam penerapan tema Sustainable Building Envelopes akan secara kontinyu merubah konsep desain karena akan ada konsep-konsep yang akan melalui berbagai test dan berbagai simulasi hingga mencapai sebuah desain envelopes yang sustainable atau berkelanjutan. Pada perancangan Agriculture Centre di Minahasa Utara ini telah berhasil menghadirkan gedung yang mampu mewadahi dan menghubungkan setiap aktivitas para petani dan perintis usaha pertanian di Minahasa Utara. Dengan pengimplementasian prinsip - prinsip tema "Sustainable Building Envelopes" pada objek rancangan telah berhasil menyelesaikan problematika optimasi penggunaan energi dan gangguan kenyamanan internal dalam bangunan melalui respon terhadap konteks lingkungan sekitarnya dengan dampak minimal sambil menjaga penghuninya dalam kenyamanan yang memuaskan dan biaya konsumsi energi yang efisien. Kata Kunci : Agriculture Centre, Minahasa Utara, Sustainable Building Envelopes
PUSAT INOVASI DI KOTA BITUNG: Manifestasi Nature In The Space Patterns Dalam Arsitektur Biofilik Shania Laily; Jefrey I. Kindangen; Octavianus H. A. Rogi
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 11 No. 1 (2022): DASENG Volume 11, Nomor 1, Mei 2022
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perancangan Pusat Inovasi ini didorong oleh urgensitas Kota Bitung dalam kebutuhan peningkatan inovasi di kota ini, dimana Kota Bitung merupakan salah satu kota dengan Inovasi daerah yang berkembang sangat pesat khususnya di era digitalisasi. Selain program inovasi daerah, prospek dari perkembangan industri di Kota Bitung meningkatkan kesempatan dan peluang dalam berinovasi di berbagai aspek demi peningkatan kualitas hidup masyarakat. Oleh karena Kota ini memiliki wilayah yang strategis untuk kegiatan perdagangan baik dalam negeri maupun luar negeri, serta tersedianya sarana dan prasarana yang menunjang seperti pelabuhan Bitung dan Kawasan Ekonomi Khusus, sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang didukung oleh infrastruktur yang baik dan berkualitas. Walaupun demikian, dengan belum tersedianya wadah untuk menampung dan menunjang pengembangan inovasi di Kota ini, sehingga pengembangan Inovasi di Kota ini dinilai belum maksimal. Untuk itu, tujuan dari perancangan ini adalah menghadirkan wadah dalam memfasilitasi pengembangan inovasi di Kota Bitung berupa gedung Pusat Inovasi, yang akan secara spesifik berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus Kota Bitung. Proses dan metode desain yang digunakan pada perancangan ini mengacu pada Proses desain Generasi Pertama yang dikemukakan oleh Horst Rittel (1972), dengan menggunakan mekanisme Pengembangan Varietas – Reduksi Varietas (PV-RV) yang dikemukakan oleh Horst Rittel dalam tahapan proses desain yang berciri argumentative (Generasi II). Dimana metode ini bertujuan untuk memperoleh suatu solusi dari permasalahan yang muncul dalam tahapan desain, dengan beberapa alternatif desain yang hadir dalam proses perancangan, guna mencapai hasil desain dengan alternatif terbaik berdasarkan argumentasi yang mendalam. Pada perancangan objek Pusat Inovasi ini dinilai telah mampu merespon permasalahan kebutuhan perwadahan kegiatan berinovasi di Kota Bitung, dengan pemaksimalan program kebutuhan keruangan yang ada, khususnya untuk kategori kegiatan utama, yaitu kegiatan bekerja dan kegiatan penelitian pada keempat bidang terkait, guna untuk memaksimalkan kegiatan berinovasi. Serta penataan lansekap yang mampu menghadirkan kondisi ruang luar yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan berinovasi dan pemaksimalan pengimplementasian tema pada objek rancangan. Dengan mengangkat tema “Nature In The Space Patterns” dalam Arsitektur Biofilik, maka Pusat Inovasi ini mampu menjawab permasalahan kondisi psikologis pengguna objek dalam berinovasi, dengan memperhatikan kondisi pengguna untuk lebih produktif dan kreatif, serta meminimalisir stres kerja yang mungkin terjadi. Dengan kesesuaian objek dan tujuan tematis yang ada, maka perancangan pusat inovasi ini menerapkan keseimbangan dalam hubungan psikologis antara manusia dan alam dalam suatu desain. Kata Kunci: Kota Bitung, Pusat Inovasi, Arsitektur Biofilik, Nature in the Space Patterns.
PUSAT KONSERVASI DAN WISATA EDUKASI DANAU TONDANO DI KABUPATEN MINAHASA: Solution Grows from Place Andriano G. S. Rumbajan; Octavianus H. A. Rogi; Amanda S. Sembel
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 11 No. 1 (2022): DASENG Volume 11, Nomor 1, Mei 2022
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perancangan Pusat Konservasi dan Wisata Edukasi ini lahir dari urgensitas kelestarian Danau Tondano. dimana Danau ini merupakan danau yang kaya akan sumber daya alamnya dan masyarakat sekitar banyak bergantung dengan keberadaan danau ini karena memberikan dampak besar bagi keberlangsungan hidup masyarakat sekitar Danau Tondano terutama masyarakat yang bermukim di kabupaten Minahasa dan Kota Manado. Namun, berbagai permasalahan lingkungan yang dihadapi danau tondano saat ini dapat mengancam kehidupan setiap mahluk hidup yang bergantung pada keberadaan danau ini di masa mendatang untuk itu tujuan perancangan ini adalah untuk menghadirkan wadah pelestarian Danau Tondano lewat kehadiran area konservasi serta area wisata edukasi bagi masyarakat sekitar. Metode yang dipakai dalam perancangan ini merupakan metode dari John Zeisel yakni image, present, dan test dimana pemilihan metode ini bertujuan untuk menghasilkan desain yang bertransformasi untuk mendapatkan konsep dan hasil rancangan lewat proses desain yang berulang untuk memperoleh desain yang baik dan sesuai dengan kondisi tapak untuk mendapatkan solusi terhadap permasalahan tapak. Pada perancangan objek Pusat Konservasi dan Wisata Edukasi ini telah menghasilkan desain arsitektural yang mampu merespon permasalahan tapak yang ada mulai dari permasalahan banjir dengan menaikan elevasi bangunan, eceng gondok dengan penyediaan fasilitas pemberdayaan dan edukasi dan aspek kelestarian tapak dengan memaksimalkan penataan lansekap untuk perwadahan kegiatan konservasi. Dengan penerapan tema “Solution Grows from place.” Maka perancangan ini mampu menjawab permasalahan tapak yang ada lewat solusi arsitektural yang ada dengan pendekatan arsitektur ekologi. Kata kunci: Tondano, Pusat Konservasi, Wisata Edukasi, Solution Grows from Place.
OCEANARIUM di MANADO. Arsitektur Biomimetik Kriswanto W. Zachawerus; Dwight M. Rondonuwu; Octavianus H. A. Rogi
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i2.25586

Abstract

Oceanarium merupakan sebuah tempat penangkaran ikan-ikan dan hewan-hewan air laut yang ditempatkan dalam suatu Akuarium raksasa yang dibuat menyerupai habitat aslinya. Kota Manado  merupakan kota dengan banyak potensi akan pariwisata dan dikenal sebagai daerah tujuan wisata di kawasan timur Indonesia, khususnya pulau Bunaken sudah lama dikenal dengan taman bawah lautnya yang sangat indah sehingga mendapat perhatian khusus dan menjadi salah satu misi pemerintah Kota Manado untuk mengembangkannya. karena dibutuhkannya begitu banyak biaya untuk mengunjungi dan melihat nya dan juga tidak bisa semua kalangan untuk bisa mengunjunginya. maka perlu dihadirkan objek Oceanarium ini untuk bisa dinikmati oleh semua kalangan masyarakat kota Manado dan sekitarnya. Tujuannya Merancang sebuah Oceanarium di Manado dengan tema biomimetik yang nantinya bisa membangkitkan citra wisata kota Manado dan memiliki sarana rekreasi, sarana edukasi, dan sarana konservasi sehingga bisa dijadikan sebagai landmark wisata kota Manado. Tema Biomimetics Architecture adalah tema yang memiliki keterkaitan erat dengan makhluk hidup dan alam sehingga dirasa cocok untuk objek Oceanarium ini yang isinya juga berhubungan dengan makhluk hidup dan alam. Pendekatan dalam proses perancangan ini melalui kajian tipologi objek, konsep tematik, dan pendekatan terhadap analisa tapak dan lingkungan dilakukan dengan metode deskriptif dengan tahapan pengumpulan data, analisis data, dan transformasi konsep. hasil dari proses perancangan terdiri dari layout, siteplan, denah, tampak, potongan, perspektif, dan gambar tambahan lainnya. Dimana tema Biomimetics Architecture diterapkan pada rencana tapak kawasan Oceanarium yang mengambil bentuk dari makhluk hidup dan alam. Faktor yang berkontribusi terhadap tema ini  seperti bentukan dan suasana yang diterapkan pada massa bangunan dan ruang luar pada perancangan oceanarium sebagai penerapan tema Biomimetics Architecture. Kata kunci : Kota Manado, Oceanarium, Biomimetics Architecture 
CREATIVE CENTER DI MANADO. Arsitektur Kontemporer Dennis M. Rumangu; Octavianus H. A. Rogi; Faizah Mastutie
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i2.25587

Abstract

Dewasa ini di era milenial industri kreatif merupakan industri yang sangat menjanjikan, di mana pemerintah juga turut mendorong industri kreatif dalam rangka memperkuat ekonomi dalam negeri. Salah satu upaya dalam mendukung hal tersebut adalah dengan membina insan-insan milenial lewat pendidikan dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dan daya saing. Penyediaan sarana pendidikan yang dapat menampung beberapa bidang industri kreatif, seperti desain, fotografi, musik, seni pertunjukkan dan lain-lain. Di Manado terlihat adanya  antusiasme generasi mudanya terhadap industri kreatif, yang tercermin dari diselenggarakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan industri kreatif dan munculnya komunitas-komunitas yang berhubungan dengan industri kreatif. Dari beberapa hal diatas, perancangan “Creative Center” di Manado dianggap sebagai sarana perlu untuk dihadirkan, di mana sarana ini dapat menanpung bukan saja aktivitas pendidikan/edukasi namun juga kegiatan pendukung lainnya. Adapun tema perancangan yang di angkat adalah “Arsitektur Kontemporer” karena sama halnya dengan industri kreatif yang berkembang seiring zamannya gaya arsitektur kontemporer bersifat dinamis dan secara konstan akan selalu berubah seiring perkembangan arsitektur. Dalam metode perancangan sendiri “Creative Center” di Manado terdiri dari pengumpulan data, analisis data dan sintesa konsep yang berlandaskan pada proses desain generasi kedua demi mendapatkan output desain yang optimal.Kata Kunci :    Industri Kreatif, Creative Center, Arsitektur Kontemporer, Manado
RESOR WISATA HUTAN MANGROVE DI KECAMATAN BUNAKEN, KOTA MANADO. Manifestasi Form Follows Flow dalam Arsitektur Canaya J. Riady; Octavianus H. A. Rogi; Alvin J. Tinangon
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.30169

Abstract

Kota Manado merupakan kota yang memiliki pesona lingkungan alam, sosial dan budaya yang menarik dan sangat menjanjikan. Namun, nilai ekonomi industri pariwisata yang begitu tinggi hanya mampu dimanfaatkan secara efisien oleh sebagian daerah atau oleh sebagian penggiat pariwisata untuk dikelola secara profesional sebagai salah satu sumber pendapatan daerah. Dengan deretan pantai yang panjang dan berhadapan langsung dengan Taman Laut Bunaken, maka sarana akomodasi berupa resor merupakan hal yang diperlukan untuk menunjang industri pariwisata tersebut. Perancangan Resor Wisata Hutan Mangrove di Kecamatan Bunaken dapat menjadi suatu daya tarik baru bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Manado. Dengan mengangkat tema Form Follows Flow, maka perancangan Resor Wisata Hutan Mangrove ini akan memperhatikan aspek genius loci pada tapak dengan memanfaatkan kondisi alam eksisting yang dikelilingi oleh tanaman mangrove. Dengan potensi alamiah yang ada, maka konsep resor yang masih tergolong baru ini dapat menerapkan keseimbangan sempurna antara manusia, alam, dan desain. Kata Kunci: Resor, Form Follows Flow