Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Asuhan Akupunktur Pada Kasus Angioma Kavernosa (Aneurisma) Menggunakan Scalp Acupuntur Jiao Shunfa Toufiq Martin; Mayang Wulandari; Chantika Mahadini; Leny Candra Kurniawan
Journal of Mandalika Literature Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jml.v7i1.6332

Abstract

Cavernous angioma or cavernous malformation is a benign vascular abnormality that frequently occurs in the central nervous system and may cause neurological disturbances such as seizures, headache, motor weakness, and stroke. Conventional medical management of cavernous angioma remains limited, particularly in cases without surgical indications. Acupuncture, as a complementary therapy, may provide clinical benefits in reducing symptoms and improving patients’ quality of life. This study aimed to evaluate the benefits of acupuncture care using scalp acupuncture in a case of cavernous angioma. A qualitative case study approach was applied to one client at an independent acupuncture practice in Jakarta. Data were collected through four diagnostic methods of acupuncture (inspection, auscultation and olfaction, inquiry, palpation), medical diagnostic findings, and clinical evaluations before and after treatment. The results demonstrated that structured scalp acupuncture on motor, sensory, and chorea–tremor areas led to clinical improvement in the client’s main and additional complaints. Scalp acupuncture shows potential as a supportive modality in the management of cavernous angioma
Asuhan Akupuntur pada Kasus Sulit Buang Air Besar di Praktik Mandiri Sely Meting Pluit Jakarta Utara Sely Meting; Amal Prihatono; Mayang Wulandari; Chantika Mahadini
Jurnal Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026): September: Jurnal Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/klinik.v5i3.7090

Abstract

Constipation is a global health problem experienced by about 14% of the adult population and 30% of the elderly. Around 23% occurs in women and 11% in men in Asia, including Indonesia. The aim of the study was to provide acupuncture care for constipation cases at Sely Meting Independent Practice, Pluit, North Jakarta. The research method used was a case study, with a sample of 1 person using purposive sampling, and data collection was carried out using a client data sheet instrument (DSI). The acupuncture points used in the therapy were LI4, KI6, LI11, SP15, BL25, ST25, ST44. The therapy was provided in 12 sessions, twice a week for 6 weeks. The analysis of the case study results used content analysis. Research using the case study method found a significant difference between the first therapy session and the twelfth therapy session. Patient complaints in the final session improved from difficulty in bowel movements to normal. Acupuncture therapy at this point can be recommended to therapists in managing patients based on syndromes and a high-fibre diet therapy.
Penatalaksanaan Akupunktur pada Kasus Nyeri Betis di Rumah Sehat Bekam Medika Palopo Asgar; Mayang Wulandari; Chantika Mahadini
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 11 No 1 (2026): Vol. 11 No. 1 Juni 2026
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v11i1.2886

Abstract

Nyeri betis merupakan keluhan yang sering dialami oleh kelompok pekerja akibat adanya cedera pada area betis. Manifestasi nyeri dapat berupa rasa panas, gemetar, kesemutan, terbakar, tertusuk, maupun ditikam, yang timbul akibat gangguan pada struktur pembentuknya. Dalam sudut pandang Traditional Chinese Medicine (TCM), nyeri terjadi akibat terhambatnya aliran Qi dan darah. Akupunktur berfungsi sebagai terapi komplementer yang efektif untuk mengatasi stagnasi serta memulihkan sirkulasi Qi dan darah guna mengurangi nyeri sekaligus meningkatkan kemampuan fungsional. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus kualitatif dengan seorang partisipan yang mengalami nyeri betis. Intervensi akupunktur dilakukan di Rumah Sehat Bekam Medika Palopo sebanyak 6 sesi terapi sejak 3 Mei hingga 23 Mei 2025. Pengumpulan data menggunakan Lembar Data Klien, yang kemudian diolah berdasarkan empat metode diagnostik: Pengamatan (Wang), Pendengaran dan Penciuman (Wen), Wawancara (Wen), serta Palpasi/Sentuhan (Qie). Hasil pascaterapi menunjukkan perbaikan klinis yang signifikan; intensitas nyeri betis responden yang semula berada pada kategori nyeri sedang sebelum intervensi, menurun secara signifikan menjadi kategori tidak nyeri hingga nyeri ringan setelah menjalani terapi akupunktur. Hasil ini membuktikan adanya pengaruh signifikan dari pemberian terapi akupunktur terhadap penurunan intensitas nyeri betis pada pasien di Rumah Sehat Bekam Medika Palopo.
Peran Akupunktur dalam Mengatasi Mual pada Klien Tuberkulosis Melina Solihin; Mayang Wulandari; Chantika Mahadini; Leny Candra Kurniawan
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 11 No 1 (2026): Vol. 11 No. 1 Juni 2026
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v11i1.2901

Abstract

Mual merupakan efek samping yang sering muncul pada pasien tuberkulosis yang menjalani pengobatan anti-tuberkulosis (OAT) dan dapat menurunkan toleransi serta kepatuhan terapi. Pendekatan komplementer seperti akupunktur berpotensi berperan sebagai terapi adjuvan untuk mengatasi keluhan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran asuhan akupunktur dalam mengurangi mual pada klien tuberkulosis yang menjalani terapi OAT berdasarkan perspektif Chinese Medicine. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan satu partisipan yang menjalani 12 sesi akupunktur selama enam minggu. Pengumpulan data dilakukan melalui pemeriksaan klinis CM (empat cara pemeriksaan), observasi tanda objektif seperti lidah, nadi, dan nyeri tekan titik diagnostik, serta wawancara subjektif setiap sesi. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan pendekatan hierarki patologis Biao–Ben. Hasil penelitian menunjukkan penurunan bermakna pada durasi dan intensitas mual, perbaikan fungsi Shen, serta peningkatan fungsi organ paru dan limpa-lambung secara bertahap. Namun, tanda-tanda defisiensi kronis terdalam, khususnya defisiensi Yin ginjal dan kelemahan Qi limpa, relatif menetap hingga akhir terapi. Berdasarkan temuan tersebut, akupunktur disarankan untuk dilanjutkan sebagai terapi adjuvan dengan fokus lanjutan pada tonifikasi konstitusional guna mendukung pemulihan jangka panjang.
Asuhan Akupunktur Pada Klien Skiatika di Klinik Akupunktur Gejayan Yogyakarta Elok Wibisono; Leny Candra Kurniawan; Puspo Wardoyo; Chantika Mahadini
Jurnal Multidisiplin West Science Vol 4 No 12 (2025): Jurnal Multidisiplin West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jmws.v4i12.3196

Abstract

Latar Belakang: Skiatika merupakan diagnosis klinis dengan gambaran nyeri yang dimulai dari bagian pinggang bawah menjalar sampai ke kaki. Hal tersebut bisa disebabkan karena penekanan akar saraf lumbosacral (L4 - S1). Skiatika bisa menyebabkan kerusakan saraf secara menetap, bila saraf skiatik rusak dan tidak segera ditangani dengan tepat akan dapat berakibat kesemutan, mati rasa pada area yang terkena hingga terjadi kelemahan pada alat gerak bagian bawah. Terapi Akupunktur diharapkan dapat membantu untuk mempercepat penyembuhan pada klien dengan kasus skiatika. Metode: Pada penelitian ini digunakan metode pendekatan secara kualitatif dengan bentuk studi kasus tunggal, dengan jumlah partisipan 1 orang. Metode pengumpulan data ini dengan cara menggunakan empat cara pemeriksaan yaitu dengan cara pengamatan (Wang), dengan cara pendengaran serta penciuman (Wen), dengan cara wawancara (Wen), dan dengan cara perabaan (Qie). Pengambilan data ini dilakukan secara mendalam dengan cara menggunakan alat dengan bentuk lembar data klien. Dari data tersebut akan dijadikan dasar dalam menegakkan suatu Diagnosis Penyakit dan Sindrom. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa setelah dilakukan Asuhan Akupunktur sebanyak 6 kali terapi dapat meredakan rasa nyeri pinggang bawah yang menjalar ke kaki kanan bagian belakang pada kasus skiatika. Kesimpulan: Dari hasil penelitian tersebut akan dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dan acuan untuk menentukan formulasi penggunaan titik akupunktur pada klien dengan kasus skiatika.
Studi Kasus Penerapan Akupunktur pada Lansia Dengan Sembelit di Griya Akupunktur Buana Purwokerto Budi Suniarto; Chantika Mahadini; Mayang Wulandari; Leny Candra Kurniawan
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i5.25173

Abstract

ABSTRAK Sembelit merupakan salah satu keluhan yang sering dialami oleh lansia dan cenderung bersifat kronis. Penurunan fungsi fisiologis saluran cerna, pola makan, aktivitas fisik, serta penggunaan obat-obatan jangka panjang menjadi faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya sembelit. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan terapi akupunktur pada lansia dengan keluhan sembelit di Griya Akupunktur Buana Purwokerto. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus pada satu orang lansia perempuan berusia 78 tahun. Terapi akupunktur diberikan selama dua bulan dengan frekuensi dua kali seminggu, total sebanyak 16 kali. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan akupunktur meliputi pengamatan, wawancara, pendengaran, penciuman, dan perabaan, serta dievaluasi secara berkala. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbaikan pada frekuensi buang air besar, penurunan kesulitan mengejan, dan berkurangnya rasa tidak tuntas setelah defekasi serta berkurangnya rasa tidak nyaman di bagian abdomen. Kesimpulan dari studi kasus ini menunjukkan bahwa terapi akupunktur dapat menjadi alternatif terapi nonfarmakologis yang bermanfaat dalam membantu mengurangi keluhan sembelit pada lansia. Kata Kunci: Akupuntur, Lansia, Sembelit.  ABSTRACT Constipation is a common complaint among older adults and tends to be chronic. A decline in gastrointestinal physiological function, dietary patterns, physical activity, and long-term medication use are contributing factors to constipation in the elderly. This study aimed to describe the application of acupuncture care in an elderly patient with constipation at Griya Akupunktur Buana Purwokerto. This research employed a qualitative approach using a case study design involving a 78-year-old female elderly patient. Acupuncture therapy was administered for two months with a frequency of twice a week, totaling 16 sessions. Data were collected through acupuncture examinations, including observation, interview, hearing, smelling, and palpation, and were evaluated periodically. The results showed improvements in bowel movement frequency, reduced straining during defecation, decreased sensation of incomplete evacuation, and reduced abdominal discomfort. In conclusion, this case study indicates that acupuncture therapy may serve as a beneficial non-pharmacological alternative in helping to alleviate constipation complaints in elderly patients. Keywords: Acupuncture, Elderly, Constipation.
Acupuncture Treatment for Patients with Xuan Yun Syndrome with Kidney Yin Deficiency and Liver Hyperactivity at Griya Sehat Metta Tegal Alur, West Jakarta Junet; Mayang Wulandari; Chantika Mahadini; Amal
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 7 No. 3 (2026): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jiss.v7i3.2280

Abstract

Vertigo or Xuan Yun is a vestibular disorder causing spinning sensations and significantly affecting quality of life. Pharmacological management may cause adverse effects; therefore, complementary therapy is required. This study aimed to analyze the effectiveness of acupuncture care in a patient diagnosed with Kidney Yin Deficiency and Liver Yang Rising syndrome. A single-case study design was applied to a 43-year-old female with chronic vertigo. Five therapy sessions were conducted. Evaluation used the Visual Analog Scale (VAS) and Dizziness Handicap Inventory (DHI). Results showed a decrease in VAS score from 7 to 0 and DHI score from 56 to 8. Clinical improvement was also observed in Wang, Wen, and Qie examinations. Acupuncture was effective in reducing vertigo intensity and improving functional activity through Qi regulation and Yin–Yang balance restoration.
Acupuncture Care for Myalgia Patients at Iryas Cisauk Clinic Dewanto Dwi Saputra; Chantika Mahadini; Ikhwan Abdullah
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 7 No. 4 (2026): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jiss.v7i4.2281

Abstract

Myalgia is a common musculoskeletal disorder characterized by muscle pain and discomfort, often caused by excessive activity, poor posture, or stress. In Traditional Chinese Medicine (TCM), acupuncture is used to regulate Qi and Xue flow to relieve pain and improve body function. This research aims to determine the benefits of acupuncture care in overcoming pain in the shoulder and neck area in myalgia patients at the Iryas Cisauk Health Clinic. This research used a qualitative descriptive design with a case study approach in one myalgia patient. Data collection was carried out through anamnesis, physical examination, and examinations based on TCM principles such as pulse and tongue examinations. Pain intensity was measured using the Numerical Rating Scale (NRS). Acupuncture therapy is administered during eight sessions of visits, and evaluations are carried out at each session to see the progression of the patient's condition. The results showed significant improvement after acupuncture therapy. The patient's pain scale decreased from NRS 6 to 0–1 after eight therapy sessions. In addition, there is an increase in the range of motion in the neck and shoulders, a reduction in pain points, and an improvement in daily activities and the quality of sleep of patients. Acupuncture care provided in a structured manner based on the diagnosis of TCM syndrome is effective in reducing myalgia pain, improving movement function, and helping the patient's condition recover. Acupuncture therapy can be a safe and beneficial alternative to non-pharmacological therapy in the treatment of musculoskeletal pain.