p-Index From 2021 - 2026
7.706
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Sendratasik Rekam : Jurnal, Fotografi, Televisi Animasi Jurnal Kawistara : Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora Channel : Jurnal Komunikasi Jurnal Orasi ETTISAL Journal of Communication JADECS (Journal of Art, Design, Art Education and Culture Studies) Jurnal Studi Komunikasi Persepsi : Communication Journal Jurnal Invensi (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) IRJE (Indonesian Research Journal in Education) Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora (KAGANGA) Wacana: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Jurnal Pemberdayaan: Publikasi Hasil Pengabdian Kepada Masyarakat Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Ultimacomm: Jurnal Ilmu Komunikasi Humaniora Jurnal Riset Komunikasi Jurnal Penelitian Sosial Ilmu Komunikasi Communicare : Journal of Communication Studies JURNAL PUSTAKA KOMUNIKASI Tonil, Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Source: Jurnal Ilmu Komunikasi Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Mediakom : Jurnal Ilmu Komunikasi Literatus Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Communique Jurnal SASAK : Desain Visual dan Komunikasi COMMICAST MEDIASI Jurnal Kajian dan Terapan Media, Bahasa, Komunikasi CITRAWIRA : JOURNAL OF ADVERTISING AND VISUAL COMMUNICATION Jurnal PIKMA : Publikasi Ilmu komunikasi Media dan Cinema International Journal of Science and Society (IJSOC) Jurnal Kajian Seni JURNAL PARADIGMA: Journal of Sociology Research and Education Jurnal Indonesia Sosial Sains Lektur, Jurnal Ilmu Komunikasi Jurnal Kawistara CHANNEL: Jurnal Komunikasi INJECT Interdisciplinary Journal of Communication Orasi: Jurnal Dakwah dan Komunikasi
Claim Missing Document
Check
Articles

Makna Aktivitas Repost TikTok bagi Gen Z dalam Mengekspresikan Diri dan Membangun Self-Image Rachma Aulia Hantarti; Vani Dias Adiprabowo
Jurnal Kawistara Vol 15, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.109074

Abstract

Perkembangan teknologi komunikasi telah mengubah cara Generasi Z mengekspresikan diri dan membentuk citra diri di ruang digital. Media sosial seperti TikTok menjadi medium utama dalam membangun identitas digital, salah satunya melalui fitur repost. Penelitian ini bertujuan mengungkap pemaknaan di balik fenomena aktivitas repost TikTok oleh Generasi Z dan hubungannya dengan pembentukan self-image. Studi ini berlandaskan teori fenomenologi sosial Alfred Schutz yang membedakan because motive (alasan berbasis pengalaman masa lalu) dan in order to motive (tujuan reflektif masa depan). Pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi digunakan untuk memahami makna subjektif tindakan repost dari perspektif pelaku, melalui wawancara mendalam pada sepuluh informan Generasi Z yang aktif di TikTok. Temuan menunjukkan bahwa because motive didorong oleh kebutuhan katarsis emosional, ekspresi perasaan, dan resonansi pengalaman hidup melalui konten yang dirasa mewakili perasaan. Sementara in order to motive terkait tujuan membangun identitas digital: memperoleh validasi sosial, mengirim kode simbolik, menjaga estetika akun, memperkuat personal branding, dan menegaskan self-image. Aktivitas repost terbukti bukan sekadar teknis, tetapi praktik komunikasi bermakna untuk memperkuat eksistensi diri di ruang digital.
Makna Aktivitas Repost TikTok bagi Gen Z dalam Mengekspresikan Diri dan Membangun Self-Image Rachma Aulia Hantarti; Vani Dias Adiprabowo
Jurnal Kawistara Vol 15, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.109074

Abstract

Perkembangan teknologi komunikasi telah mengubah cara Generasi Z mengekspresikan diri dan membentuk citra diri di ruang digital. Media sosial seperti TikTok menjadi medium utama dalam membangun identitas digital, salah satunya melalui fitur repost. Penelitian ini bertujuan mengungkap pemaknaan di balik fenomena aktivitas repost TikTok oleh Generasi Z dan hubungannya dengan pembentukan self-image. Studi ini berlandaskan teori fenomenologi sosial Alfred Schutz yang membedakan because motive (alasan berbasis pengalaman masa lalu) dan in order to motive (tujuan reflektif masa depan). Pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi digunakan untuk memahami makna subjektif tindakan repost dari perspektif pelaku, melalui wawancara mendalam pada sepuluh informan Generasi Z yang aktif di TikTok. Temuan menunjukkan bahwa because motive didorong oleh kebutuhan katarsis emosional, ekspresi perasaan, dan resonansi pengalaman hidup melalui konten yang dirasa mewakili perasaan. Sementara in order to motive terkait tujuan membangun identitas digital: memperoleh validasi sosial, mengirim kode simbolik, menjaga estetika akun, memperkuat personal branding, dan menegaskan self-image. Aktivitas repost terbukti bukan sekadar teknis, tetapi praktik komunikasi bermakna untuk memperkuat eksistensi diri di ruang digital.
Analisis Framing pada Pemberitaan AI dan Koding dalam Kurikulum Pendidikan di CNN Indonesia dan Tempo.co Rosada, Anisa Amrina; Adiprabowo, Vani Dias
Kaganga:Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora Vol. 9 No. 3 (2026): Kaganga: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/hahfg561

Abstract

This study aims to analyze how CNN Indonesia and Tempo.co frame the issue of AI and coding in the Indonesian education curriculum. This study uses a qualitative content analysis method with the framing model of Zhongdang Pan and Gerald M. Kosicki. The research data consists of news articles from CNN Indonesia and Tempo.co discussing the integration of AI and coding in the national curriculum. Data selection was carried out using purposive sampling. Analysis was conducted using four framing structures: syntactic, script, thematic, and rhetorical. The results show that both media construct ambivalent framings towards AI in education. CNN Indonesia tends to highlight AI as an educational innovation that can improve the quality of learning and student creativity. Meanwhile, Tempo.co focuses more on social and moral challenges, such as the changing role of teachers and the impact of AI on the learning process. The conclusion of this study shows that media framing plays a significant role in shaping public understanding and the direction of AI-based education policy in Indonesia. Keywords: Artificial Intelligence, Education, Framing Analysis, Online Media, Media Discourse.  
Bahasa Inggris Vani Dias Adiprabowo; Marsiana Wibowo
Jurnal Riset Komunikasi (JURKOM) Vol. 7 No. 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komuniasi (ASPIKOM) Wilayah Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38194/jurkom.v7i1.1003

Abstract

Stunting is a serious health problem in the Special Region of Yogyakarta (DIY). This is evidenced by the prevalence of stunting in DIY according to the 2021 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI) of 17.3 percent. This figure shows that DIY is ranked third lowest in Indonesia after Bali at 10.9 percent and DKI Jakarta at 16.8 percent. The importance of stunting health literacy based on short film media produced by the DIY Public Health Department (Dinkes) is one of the alternatives and solutions to increase understanding related to stunting. Short film media about stunting has the power to convey relevant health messages to the public. This study aims to obtain a deeper understanding of stunting prevention through health literacy in a short film, Salah Kaprah, produced by the DIY Public Health Department. Qualitative research methods with the research stages are determining the focus of research, data collection, and data analysis. The results showed that the disease-related narrative is still considered dangerous. The disease narrative becomes harmless when delivered by health workers. The role of health workers is central and important to carry out literacy in tackling hoax disease-related issues.
Environmental Communication Based on Local Wisdom: An Ethnographic Study of the Lubuk Larangan Tradition in Tanjung Belit Village, Indonesia Dimas Cahya Wiguna; Vani Dias Adiprabowo
ULTIMA Comm Vol 17 No 1 (2025): ULTIMACOMM
Publisher : Universitas Multimedia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research examines environmental communication strategies based on local wisdom, focusing on the Lubuk Larangan tradition in Tanjung Belit Village, Riau Province. In the context of global ecological crises, such as water quality degradation, pollution, and climate change, it is essential to explore how local communities have safeguarded their ecosystems. Lubuk Larangan is a tradition that prohibits fishing in certain areas during specific periods, which serves as a conservation practice and as a means of environmental communication that educates the community about the importance of maintaining the balance of nature. The research method used is qualitative with an ethnographic approach, which allows researchers to explore the social and cultural interactions of the community in maintaining this tradition. The results showed that Lubuk Larangan serves as a symbol of cultural identity, supports social ties, and builds collective awareness of the importance of environmental sustainability. Despite modernization and economic pressures, participatory communication and traditional rituals have proven effective in preserving local wisdom. This research provides valuable insights for developing cultural preservation strategies and raising awareness of local traditions' role in maintaining a sustainable environment.
REPRESENTASI RAS KULIT PUTIH DALAM MENGEKSPLOITASI SUKU OSAGE DI FILM KILLERS OF THE FLOWER MOON Gymnastiar Danang Prayoga; Vani Dias Adiprabowo
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 11, No 6 (2024): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v11i6.2024.2338-2349

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi cara film ini menggambarkan masalah ketidakadilan dan diskriminasi dari ras kulit putih kepada suku Osage Penelitian ini menyajikan analisis mendalam terhadap narasi film dan dampaknya terhadap pemahaman budaya dan sejarah. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami lebih dalam tentang eksploitasi dan diskriminasi ras dan budaya serta dampak nya terhadap masyarakat. Dengan menggunakan metode analisis naratif, film ini mengidentifikasi masalah yang terjadi pada suku osage yang disebabkan oleh ras kulit putih  dan alur narasi nya pada bagian awal, tengah, dan akhir cerita. Hasil analisis menunjukkan bahwa film "Killers of the Flower Moon" menggambarkan eksploitasi dan diskriminasi budaya oleh ras kulit putih kepada suku Osage dengan menyoroti bagaimana kepentingan dan keserakahan individu dan juga ekonomi dapat mengorbankan suku minoritas. Kesimpulan dalam film ini yaitu membangkitkan kesadaran tentang pentingnya penghargaan terhadap suku dan budaya dan perlunya keadilan bagi mereka. Kesimpulan ini menekankan perlunya terus memperjuangkan hak-hak suku dan budaya agar terhindar dari eksploitasi budaya di masa depan. Melalui karakter-karakter utama seperti Ernest Burkhart, Tom White, dan Mollie Burkhart, film ini menggambarkan konflik moral, kekuasaan, dan keserakahan yang mendasari tragedi ini.