Claim Missing Document
Check
Articles

Peningkatan Harga Diri Untuk Mengurangi Shyness Pada Siswa Ahmad Ridfah; M Ahkam Alwi; Sitti Murdiana
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 6 No. 4 (2024): November
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/sasambo.v6i4.2247

Abstract

Fenomena shyness sering menghambat siswa dalam berinteraksi sosial dan mempengaruhi performa akademik. Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan harga diri guna mengurangi tingkat shyness siswa di MAN 1 Polman. Metode pelaksanaan mencakup psikoedukasi, permainan interaktif, dan refleksi. Kegiatan ini diikuti oleh 10 siswa dengan tingkat shyness yang tergolong sedang. Pada tahap awal, dilakukan pre-test menggunakan skala shyness untuk mengukur tingkat shyness awal, diikuti dengan kegiatan intervensi yang dirancang secara khusus untuk meningkatkan harga diri. Hasil menunjukkan adanya penurunan skor shyness dari rata-rata 72,6 pada pre-test menjadi 64,2 pada post-test, menunjukkan efektivitas intervensi dengan penurunan median dari 69,0 menjadi 63,5. Uji Wilcoxon menghasilkan nilai W = 47, p < 0,05 dengan efek besar 0,709, mengindikasikan adanya pengaruh signifikan dari peningkatan harga diri terhadap penurunan tingkat shyness. Observasi menunjukkan peningkatan keterlibatan siswa dalam kegiatan kelas dan peningkatan rasa percaya diri. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa peningkatan harga diri melalui pendekatan psikoedukatif dan permainan dapat membantu mengurangi shyness secara signifikan. Disarankan agar sekolah mengadopsi program serupa secara berkelanjutan dengan dukungan guru dan konselor untuk menjaga hasil positif ini. Enhancing Self-Esteem to Reduce Shyness Among Students  Shyness often hinders students from engaging in social interactions and affects their academic performance. This study aims to enhance self-esteem to reduce shyness levels among students at MAN 1 Polman. The implementation method includes psychoeducation, interactive games, and reflection. This program involved 10 students with moderate shyness levels. Initially, a pre-test using a shyness scale was conducted to measure the baseline level of shyness, followed by a specifically designed intervention to boost self-esteem. Results showed a decrease in shyness scores from an average of 72.6 in the pre-test to 64.2 in the post-test, indicating the intervention's effectiveness, with a median reduction from 69.0 to 63.5. The Wilcoxon test yielded W = 47, p < 0.05, with a large effect size of 0.709, suggesting a significant impact of self-esteem enhancement on reducing shyness levels. Observations highlighted an increase in student engagement in classroom activities and improved self-confidence. This study concludes that self-esteem enhancement through psychoeducational and game-based approaches can significantly help reduce shyness. It is recommended that schools adopt similar programs on an ongoing basis with support from teachers and counselors to maintain these positive outcomes.  
MENCEGAH FENOMENA FEAR OF MISSING OUT PADA REMAJA Raka Rasyal; Muhammad Setiawan Sahib; Muhammad Alif Abdi Manaf; Ahmad Ridfah; Ismalandari Ismail
Jurnal Kebajikan: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1, No 3 (2023): Mei
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jk.v1i3.43397

Abstract

Fear of missing out is a great desire to stay connected with what other people are doing through cyberspace. This psychoeducation aims to add information to adolescents about the Fear of Missing Out phenomenon and how to prevent it. Psychoeducation was carried out by distributing posters and giving a survey using a Google form to several teenagers in Makassar and South Tangerang for three days. The results of implementing psychoeducation on 30 teenage respondents aged 17 to 20 years, namely psychoeducational activities provide information so that respondents become more aware of the Fear of Missing Out phenomenon and add insight. In addition, the insights obtained from psychoeducational activities are that respondents understand more about the Fear of Missing Out phenomenon and how to overcome it, the contents of the poster can be applied to themselves, know what to do when experiencing this situation, and get motivation after reading posters related to Fear of Missing Out prevention.
Psikoedukasi Non Pelatihan Melalui Media Poster untuk Mengurangi Kecemasan Akademik pada Mahasiswa Ahmad Ridfah; Ismalandari Ismail; Syawaliah Nurul Fitriah; Zahwa Aryani Putri Arif; St. Najwa Nurul Barqah; St. Nurhaliza Hermansyah
Jurnal Kebajikan: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3, No 2 (2025): JANUARI
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jk.v3i2.72577

Abstract

Kecemasan akademik merupakan masalah yang banyak dialami oleh mahasiswa. Dampak yang ditimbulkan oleh kecemasan akademik dapat memengaruhi kesehatan mental dan prestasi akademik mahasiswa. Hasil need assessment yang dilakukan terhadap 27 mahasiswa menunjukkan bahwa mayoritas mengalami gejala kecemasan akademik yang mempengaruhi kesehatan mental mereka, seperti sakit kepala, mual, dan pikiran paranoid. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk melakukan upaya preventif dengan memberi penjeleasan terkait gejala, penyebab, dampak, serta cara pencegahan dari kecemasan akademik yang dialami mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar. Mahasiswa akan diberikan prevensi berupa psikoedukasi non-pelatihan melalui media poster. Metode yang digunakan dalam psikedukasi ini melibatkan pembagian poster menarik yang didalamnya berisi informasi mengenai kecemasan akademik, termasuk definisi, gejala, penyebab, serta strategi penanganannya. Sebelum pemberian psikoedukasi, mahasiswa diminta untuk mengisi pre-test untuk melihat pemahaman awal mahasiswa terkait kecemasan akademik. Setelah itu, mahasiswa kemudian akan diperlihatkan poster dan kembali mengisi post-test untuk melihat perbedaan pemahaman setelah diberi psikoedukasi berbentuk poster. Berdasarkan hasil pre-test, sebagian mahasiswa belum memahami dengan baik mengenai kecemasan akademik. Setelah menerima psikoedukasi, ditemukan bahwa mayoritas responden mengalami peningkatan pemahaman yang signifikan tentang kecemasan akademik dan cara mengelolanya. Poster psikoedukasi yang dibagikan memperoleh respons positif dari mahasiswa karena dinilai informatif, mudah dipahami, dan menarik secara visual. Kegiatan ini dapat menjadi sarana efektif dalam meningkatkan kesadaran mahasiswa tentang pentingnya mengenali dan mengelola kecemasan akademik sejak dini.
Pengaruh mewarnai mandala dalam mengurangi stres pada narapidana di Lapas Kelas I Makassar Alifia Ainun Rizky; Widyastuti Widyastuti; Ahmad Ridfah
Jurnal Psikologi Udayana Vol. 7 No. 1 (2020)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JPU.2020.v07.i01.p07

Abstract

Narapidana di Lapas Kelas I Makassar memiliki permasalahan baik secara fisik maupun psikis yang kompleks selama menjalani masa tahanan. Hal tersebut menjadi salah satu faktor narapidana mengalami stres di dalam Lapas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mewarnai mandala dalam mengurangi stres yang dialami oleh narapidana di Lapas Kelas I Makassar. Subjek penelitian berjumlah 11 (N=11) narapidana yang memiliki tingkat stres yang berat. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuasi eksperimen the one-group pretest-posttest design. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan skala stres yang disusun oleh Lovibond dan Lovibond dan telah diadaptasi kedalam Bahasa Indonesia oleh Damanik dengan nilai reliabilitas 0,878. Analisis data menggunakan analisis statistik nonparametrik uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai p sebesar 0,002, sehingga 0,002 < 0,05 dan dapat disimpulkan bahwa mewarnai mandala berpengaruh dalam mengurangi stres pada narapidana. Implikasi dari penelitian ini adalah mewarnai mandala dapat digunakan sebagai salah satu metode intervensi dalam mengurangi stres yang dialami khususnya pada narapidana.
Manajemen Konflik: Meningkatkan Kinerja Guru Melalui Penyelesaian Perbedaan Muh. Aidil Fitra; Maychilyana Dwi Christine Mile; Khusnul Wafiah Nabilah Hawa; Feronika; Khalifah Tul Jannah; Rezky Eka Wardana; Nur Afni Indahari Arifin; Ahmad Ridfah
Gudang Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2026): GJPM - Juli
Publisher : PT. Gudang Pustaka Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/gjpm.v4i2.2137

Abstract

Konflik merupakan bagian dari interaksi sosial yang dapat muncul akibat perbedaan pandangan, nilai, kebutuhan, dan tujuan, termasuk dalam lingkungan pendidikan. Di sekolah, konflik yang tidak dikelola dengan baik dapat menghambat kerja sama, menurunkan kualitas komunikasi, dan berdampak pada kinerja guru maupun pegawai. Oleh karena itu, pemahaman mengenai manajemen konflik penting diberikan agar konflik tidak hanya dipandang sebagai masalah yang harus dihindari, tetapi sebagai situasi yang perlu dikelola secara bijak dan konstruktif. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman guru dan pegawai mengenai manajemen konflik melalui seminar psikoedukasi. Kegiatan diikuti oleh 19 peserta dari berbagai tingkatan jabatan di lingkungan sekolah. Materi yang diberikan mencakup faktor penyebab konflik, dampak konflik dalam organisasi, serta strategi manajemen konflik yang meliputi menghindari, mengakomodasi, mengkompromikan, berkompetisi, dan mengkolaborasikan. Evaluasi kegiatan menunjukkan bahwa seminar psikoedukasi memberikan manfaat bagi peserta, terutama dalam meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya mengelola perbedaan dan memilih strategi penyelesaian konflik yang sesuai dengan situasi. Dengan demikian, psikoedukasi melalui seminar dapat menjadi salah satu upaya untuk membantu guru dan pegawai mengembangkan keterampilan dasar dalam mengelola konflik di lingkungan pendidikan.
Bukti Validitas dan Reliabilitas Subskala Basic Psychological Needs Satisfaction pada Siswa SMA di Indonesia Anita Ramadhani; Widyastuti Widyastuti; Ahmad Ridfah
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 5: Agustus 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i5.18965

Abstract

Basic Psychological Needs Satisfaction merupakan faktor penting dalam menjelaskan kesejahteraan dan penyesuaian psikologis remaja, khususnya dalam konteks pendidikan. Namun, bukti terkait keterpahaman item dan karakteristik psikometrik instrumen ini pada siswa SMA di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kesesuaian konteks, keterpahaman item, serta karakteristik psikometrik subskala Basic Psychological Needs Satisfaction dari Basic Psychological Needs Satisfaction and Frustration Scale (BPNSFS) versi Bahasa Indonesia. Penelitian dilakukan dalam dua tahap. Studi 1 melibatkan penilaian validitas isi oleh lima ahli menggunakan indeks Aiken’s V serta cognitive interview dengan lima siswa untuk mengevaluasi keterpahaman item. Studi 2 melibatkan 205 siswa SMA yang diperoleh melalui convenience sampling untuk menguji reliabilitas internal dan struktur internal menggunakan Confirmatory Factor Analysis (CFA). Hasil menunjukkan seluruh item memiliki validitas isi memadai (V ≥ 0,80). Cognitive interview mengindikasikan perlunya revisi minor pada beberapa item, khususnya dimensi otonomi. Reliabilitas internal tergolong baik (α dan ω = 0,76–0,81). Model tiga faktor berkorelasi menunjukkan kecocokan yang dapat diterima (CFI = 1,000; TLI = 1,019; RMSEA = 0,064; SRMR = 0,048). Temuan ini memberikan bukti awal bahwa subskala BPNS versi Bahasa Indonesia layak digunakan pada siswa SMA. Keywords: Subskala BPNS, Katakteristik Psikometrik, Kebutuhan Psikologis Dasar
Hubungan Stres Akademik dengan Emotional Eating pada Mahasiswa Universitas Negeri Makassar Nurul Izza Hasbullah; Ahmad Ridfah; Novi Yanti Pratiwi
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 5: Agustus 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i5.17559

Abstract

Emotional eating adalah perilaku makan tidak sehat yang digunakan sebagai pelarian untuk meredakan emosi negatif. Salah satu pemicu munculnya perilaku ini adalah stres akademik, yaitu tekanan dan tuntutan dari aktivitas perkuliahan. Kondisi tersebut menimbulkan masalah serius karena dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun psikologis mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan emotional eating terhadap stres akademik pada mahasiswa Universitas Negeri Makassar. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 382 mahasiswa aktif yang berasal dari empat fakultas Universitas Negeri Makassar yang dipilih menggunakan teknik random cluster sampling. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala konstrak emotional eating dan skala adaptasi ESSA yang telah diuji reliabilitas dan validitasnya. Hasil analisis diuji menggunakan uji hipotesis Spearman Rho yang menunjukkan korelasi positif signifikan antara emotional eating terhadap stres akademik, rs(380) = 0,687, p < .001 yang berarti semakin tinggi perilaku emotional eating pada mahasiswa, maka semakin tinggi stres akademik yang dimiliki. Implikasi dari temuan ini adalah pentingnya mengembangkan coping stres yang lebih adaptif, sehat dan bermanfaat bagi mahasiswa, agar mencegah perilaku emotional eating.
Education For Family Happiness: Desain Prevensi terhadap Timbulnya Masalah dalam Keluarga Asniar Khumas; Ismarli Muis; Dian Novita Siswanti; Ahmad Ridfah
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 3: April 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/j-ceki.v5i3.15214

Abstract

Keluarga merupakan pilar atau penyokong utama suatu bangsa. Kebahagiaan yang terwujud dalam kehidupan keluarga merupakan cerminan kesejahteraan suatu bangsa. Keretakan yang terjadi pada keluarga dapat pula menjadi cermin keretakan suatu bangsa. Perselingkuhan dan perceraian merupakan cerminan komitmen terhadap perkawinan yang rendah. Permasalahan yang terjadi pada keluarga berpengaruh buruk terhadap kesejahteraan psikologis semua anggota keluarga, termasuk anak-anak dan remaja. Gangguan perilaku (conduct disorder), gangguan penyesuaian diri, menurunnya prestasi anak-anak dan remaja di sekolah, merupakan indikator yang paling mudah diamati dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini merupakan rancangan kuasi eksperimen berupa pencegahan terhadap timbulnya masalah-masalah dalam keluarga, melalui program education for family happiness. Program ini dirancang khusus untuk mencegah masalah dalam keluarga yang berkaitan dengan menurunnya tingkat kebahagiaan dan komitmen perkawinan. Responden penelitian adalah ibu rumah tangga. Data penelitian dianalisis dengan teknik uji wilcoxon. Pemberian program education for family yang dilakukan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kebahagiaan perkawinan.