Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pengaruh Pemupukan dan Mikoriza terhadap Pertumbuhan Tanaman Karet Muda Pada Model Peremajaan Bertahap Yulius Ferry; Rusli Rusli; Juniaty Towaha
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 2, No 2 (2015): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jtidp.v2n2.2015.p85-90

Abstract

Gradual rejuvenation model is an option to increase the productivity of smallholder rubber plantation due to old and damaged plants. The limitation of this model is the high variation of the growth of young plant in the field. This study aimed to determine the effect of extra fertilization and mycorrhiza on the growth of young rubber plants in the gradual rejuvenation model. The research was located at Ramsay Village, Way Tuba District, with red-yellow podzolic soil types and climate type of B2 according to Oldemand, from 2012 to 2014, and arranged in split plot design. The plant age, P1 (3 years old); P2 (2 years old); and P3 (1 year old) was denoted as the main plot, whereas the subplot is fertilizer dosage, D1 (100% of recommended dosage); D2 (100% of recommended dosage + mycorrhiza; D3 (125% of recommended dosage); D4 (125% of recommended dosage + mycorrhiza). Fertilizer application was done twice a year, while mycorrhiza were given once a year toward the end of the rainy season. The plant material used was PB 260 clone, with a standard agricultural practices such as weeding and watering during the dry season. Variables measured were plant height and girth. The results showed that application of 25% extra from the recommended dosage + mycorrhiza was able to accelerate the growth of young rubber plants. Fertilizer dose of 125% from the recommendation + mycorrhiza applied on 2-year-old plants exhibited the same growth with 3-year-old plant that treated with recommended dosage. This result indicates that mycorrhiza works synergistically with inorganic fertilizer, which enhances the effectivity and efficiency of extra fertilization in gradually rejuvenation models.
Pengaruh Penambahan Gliserol pada Media Perbanyakan terhadap Daya Simpan Biofungisida Trichoderma Widi Amaria; Yulius Ferry; Samsudin Samsudin; Rita Harni
Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar Vol 3, No 3 (2016): Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jtidp.v3n3.2016.p159-166

Abstract

Daya simpan biofungisida yang mengandung Trichoderma virens dan T. amazonicum untuk mengendalikan penyakit jamur akar putih (JAP) pada tanaman karet penting untuk diketahui agar tetap efektif ketika diaplikasikan. Komposisi media perbanyakan dalam biofungisida Trichoderma sp. dapat mempengaruhi lama hidup dan viabilitas konidia selama penyimpanan. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh penambahan gliserol dalam media perbanyakan terhadap daya simpan biofungisida T. virens dan T. amazonicum. Penelitian dilakukan di Laboratorium Proteksi Tanaman, Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri), Sukabumi, mulai bulan Januari sampai Juli 2014. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 8 perlakuan dan 3 ulangan. Biofungisida yang dibuat terdiri dari: (1) penambahan gliserol (0%, 3%, 6%, dan 9%) pada media perbanyakan T. virens dan (2) penambahan gliserol (0%, 3%, 6%, dan 9%) pada media perbanyakan T. amazonicum. Masing-masing hasil perbanyakan dicampur dengan bahan pembawa talk, dikeringanginkan, selanjutnya dikemas dalam kantong plastik dan disimpan selama 4 bulan. Pengamatan dilakukan setiap bulan, meliputi: jumlah konidia dan populasi Trichoderma sp., serta kadar air biofungisida. Hasil penelitian menunjukkan penambahan gliserol pada media perbanyakan dapat membantu mempertahankan viabilitas T. virens dan T. amazonicum serta daya simpan biofungisida. Penambahan gliserol 6% sampai 9% pada media perbanyakan T. virens dan T. amazonicum merupakan konsentrasi terbaik, menghasilkan konidia 7,98 x 107 – 8,59 x 107 konidia/g dan kelimpahan populasi 11,67 x 103 – 14,67 x 103 cfu/g pada biofungsida yang disimpan selama 4 bulan.
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN SERTA PENDAPATAN PETANI PADA MODEL PEREMAJAAN KELAPA SAWIT SECARA BERTAHAP MUHAMMAD SYAKIR; MAMAN HERMAN; DIBYO PRANOWO; YULIUS FERRY
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v21n2.2015.69-76

Abstract

ABSTRAKLuas kelapa sawit rakyat yang perlu diremajakan saat ini mencapai 1,26 juta ha atau 35% dari luas total nasional. Namun peremajaannya terkendala   karena   biaya   sangat   mahal.   Tujuan   penelitian   adalah mendapatkan model peremajaan kelapa sawit rakyat yang efisien dan ekonomis. Penelitian dilaksanakan pada Januari 2010-Desember 2012 di Kabupaten   Rokan   Hilir,   Provinsi   Riau.   Rancangan   percobaan menggunakan Petak Terbagi dengan tiga ulangan. Petak utama adalah tiga model peremajaan, yaitu 20-20-60; 40-40-20, dan 60-40. Anak petak adalah dua jenis tanaman sela (jagung dan kedelai). Model peremajaan 20-20-60, yaitu penebangan dan peremajaan 20% dari jumlah pohon sawit tua pada tahun pertama, 20% pada tahun kedua, dan 60% pada tahun ketiga. Dilakukan pendekatan yang sama untuk kedua model lainnya. Setiap plot percobaan  terdiri  dari 25  pohon  sawit  muda  dan 25  tua.  Variabel pengamatan untuk tanaman sawit muda adalah tinggi tanaman, jumlah daun, lingkar pangkal batang, indeks luas daun, dan persentase tanaman berbunga;  tanaman  sawit  tua  adalah  produksi  tandan  buah  sawit; sedangkan  tanaman  sela  adalah  produksi  jagung  dan  kedelai.  Hasil penelitian menunjukkan pola peremajaan model 20-20-60 paling efisien karena penebangan sawit tua hanya mempengaruhi pertumbuhan vegetatif tanaman sawit muda pada tahun I dan II, namun tidak mempengaruhi persentase berbunga tanaman sawit muda. Secara ekonomis, model 20-20-60 dengan tanaman sela jagung paling menguntungkan karena selama tiga tahun pengujian, nilai NPV mencapai Rp. 34.580.627; B/C 1,43; dan R/C 2,43. Oleh karena itu, model 20-20-60 dapat diajukan untuk peremajaan kelapa sawit rakyat.Kata kunci:  Elaeis  gueneensis,  model  peremajaan,  tebang  bertahap, pertumbuhan, usahatani Growth and Crop Production as well as The Farmer’s Income in Stepwise Replanting PatternABSTRACTThe total area of small holders’ oil palms in Indonesia that must be replanted is 1.26 billion hectares or 35% of the national total area. Replanting of the oil palms is highly cost. The objective of study was to get a replanting pattern that is cheaper and more efficient.  The research was conducted for three years from 2010 to 2012 in Rokan Hilir, Riau Province. The research used a split plot design with, three replications. The main plots were three replanting patterns: 20-20-60; 40-40-20; and 60-40, the subplots were the intercrops plants: maize and soybean. The replanting pattern 20-20-60 was done by cutting then replanting of oil palms in three consecutive years, 20% of the population in the 1st year, 20% in 2nd year, and 60% in 3rd year. The similar approaches were applied to others. The variables observed of the young oil palms were plant height, number of leaves, girth, leaf area index, and percentage of flowering; intercropping plants were yield productions of maize and soybean. The results showed that the most efficient replanting pattern was 20-20-60, because it only affected to vegetative growth of young oil palms in the first and second years, but not the inflorescences. This pattern is economically the best since income from three consecutive years of replanting were positive; the NVP value was Rp. 34,580,627; B/C was 1.43; and R/C was 2.43. Based on these results, the replanting pattern 20-20-60 can be recommended for small holder oil palms.Keywords:Elaeis  guineensis,  replanting  pattern,  gradually  cutting,growth, farming