Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Stilistika

CERITA RAKYAT DU WANGKA RANA MESE: KAJIAN MAKNA SEBAGAI REPRESENTASI NILAI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT MANGGARAI TIMUR (PERSPEKTIF LINGUISTIK KEBUDAYAAN) Ni Wayan Sumitri; Gunartha, I Wayan; Sudarthi, Ni Wayan
Stilistika : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni Vol. 13 No. 2 (2025): Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/stilistika.v13i2.4815

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji makna cerita rakyat “Du Wangka Rana Mese” (DWRM) sebagai representasi kearifan lokal masyarakat Manggarai Timur. Fokus kajian pada aspek makna secara tekstual dan kontekstual dari perspektif linguistik kebudayaan. Sumber data utama adalah data lisan dari pencerita dengan metode simak catat serta wawancara mendalam dengan didukung oleh data kepustakaan. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan metode induktif. Temuan  menunjukkan bahwa teks cerita rakyat DWRM memiliki karakteristik bentuk prosa gaya narasi  dengan menggunakan bahasa Manggarai sebagai media penceritaan. Cerita ini sarat makna budaya  secara tekstual dan tontekstual yang saling terkait sebagai representasi kearifan lokal Masyarakat Manggarai Timur. Secara tekstual cerita DWRM mengungkap kisah mendalam, yang mengisahkan pengorbanan  tokoh Kae Anus serta cinta kasih, keberanian dan  penghargaan terhadap kebaikan hati. Dalam tataran kontekstual mengungkap makna terkait keyakinan dan kepercayaan, gotong royong dan solidaritas, hubungan harmonis dengan alam dan makhluk halus atau gaib, simbolisme lokal, dan pemberian nama terhadap peristiwa. Pengetahuan tradisional ini  merupakan nilai-nilai budaya warisan leluhur  masyarakat Manggarai Timur yang masih sangat relevan dalam dunia modern dan perlu diketahui, termasuk mempertahankan pewarisannya untuk generasi penerus.
CERITA RAKYAT TANTING MAS DAN TANTING RAT: MENGUNGKAP KONSEP RWA BHIENDA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT BALI-HINDU (DALAM KAJIAN LINGUISTIK KOGNITIF) Ni Wayan Sumitri; Gunartha, I Wayan; Junianti, Putu Sri
Stilistika : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni Vol. 14 No. 1 (2025): Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/stilistika.v14i1.5598

Abstract

Cerita rakyat Tanting Mas dan Tanting Rat merupakan salah satu tradisi lisan masyarakat Bali-Hindu dalam istilah Bali disebut dengan satua yang artinya cerita. Teks cerita rakyat ini mengungkap ajaran-ajaran filosofis kehidupan utamanya konsep Rwa Bhineda. Tujuan tulisan ini mengkaji bagaimana pengungkapan konsep Rwa Bhineda itu digambarkan sebagai objek kajian. Fokus kajian pada aspek kognitif dalam perspektif sosio-kultural linguistik yang terintegrasi dalam analisis tekstual dan kontesktual. Sumber data utama adalah teks cerita rakyat Tanting Mas dan Tanting Rat yang dianalsis secara deskriptif kualitatif dengan pendekatan folklor dan linguistik kognitif kultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, secara tekstual cerita rakyat Bali Tanting Mas lan Tanting Rat menunjukkan penggunaan bahasa yang khas misalnya majas (gaya bahasa) sastra prosa naratif untuk menciptakan efek kognitif ‘kesucian dan magis’ dengan memanfaatkan fitur sosio-linguistik dan simbol-simbol budaya Hindu (Bali). Efek kesucian dan magis dicapai dengan sumber daya bahasa menggunakan bahasa Bali halus yang secara sosial sarat makna simbolis, juga menunjukkan tingginya penggunaan bahasa secara simbolik sosial. Cerita ini sarat dengan lambang dan isi pengetahuan black magic yang berhubungan dengan konsep Rwa Bhineda (simbol dualistis) yakni kebaikan dan kejahatan sebagai simbol perlawanan. Dalam konteks budaya menggambarkan kehancuran negara. Ada dua elemen yang saling terkait, yakni ilmu putih dan ilmu hitam (black magic) yakni Rwa Bhineda yang saling bertentangan dan berlawanan seperti pebuatan baik dan jahat/buruk dharma-adharma yang tidak terlepas dari perbuatan manusia.