Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

SENI KETANGKASAN ADU DOMBA DI GARUT SEBAGAI SARANA PENINGKATAN PARIWISATA: SENI KETANGKASAN ADU DOMBA DI GARUT SEBAGAI SARANA PENINGKATAN PARIWISATA Agus Nero Sofyan; Kunto Sofianto
KABUYUTAN Vol 3 No 1 (2024): Kabuyutan, Maret 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i1.222

Abstract

Penelitian ini berjudul “Seni Ketangkasan Adu Domba di Garut sebagai Sarana Peningkatan Pariwisata.” Kesenian tradisional ketangkasan adu domba Garut adalah kecepatan seekor domba dalam menyerang lawannya, menghindar, dan bertahan dari serangan lawannya di arena pertandingan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, yaitu metode yang digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang populasi yang besar dengan menggunakan sampel yang relatif kecil. Sampel yang digunakan dalam penyelidikan ini adalah domba adu yang ada di wilayah Kabupaten Garut. Sumber data yang digunakan adalah Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara wawancara dan studi kajian pustaka. Implikasi dari penyelidikan adalah meningkatkan jumlah wisatawan, baik dalam maupun luar negara. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah menilai kecepatan berlarinya domba dalam menyerang lawan secara berhadapan, kekuatan bertahan, dan menilai penampilan fisik (estetik). Fokus kajian dalam penelitian ini adalah kecepatan gerak dan keindahan fisik domba adu. Selain itu, dikaji pula bagaimana meningkatkan pendapatan Pemerintahan Daerah Kabupaten Garut melalui wisata seni ketangkasan adu domba. Dari hasil penelitian ini ditunjukkan bahwa seni ketangkasan adu domba merupakan kesenian ikonik Garut, memiliki daya tarik wisata, yaitu dari segi keunikan dan keindahan. Upaya Usaha pemerintah daerah untuk mengembangkan dan melestariakan kesenian tradisional ketangkasan adu domba Garut ini dilakukan dengan menyelengarakan turnamen dan pasanggiri.
KRISIS KETELADANAN DALAM PERIBAHASA SUNDA “CAI TI HILIR MAH KUMAHA TI GIRANGNA” R. Yudi Permadi; Agus Nero Sofyan
KABUYUTAN Vol 3 No 3 (2024): Kabuyutan, Nopember 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i3.288

Abstract

Tulisan yang bertopik krisis keteladanan dalam peribahasa Sunda “ Cai ti hilir mah kumaha ti girangna” ini merupakan gambaran sifat manusia yang mengalami krisis keteladanan. Krisis keteladanan yang terjadi diakibatkan oleh tidak adanya suri teladan dari para pemimpin atau penguasa yang seharusnya menjadi anutan. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kualitatif deskriptif. Peribahasa merupakan objek penelitian yang mengandung nilai-nilai kehidupan dan dapat dijadikan sebagai norma bagi masyarakat untuk dilaksanakan. Nuilai-nilai yang terkandung di dalam peribahasa selanjutnya akan dideskripsikan sehingga makna peribahasa tersebut menjadi terang benderang. Adapun makna yang terungkap dalam peribahasa “Cai ti hilir mah kumaha ti girangna” yaitu krisis keteladanan yang terjadi pada seorang pemimpin/penguasa akan berdampak serupa pada rakyat atau masyarakatnya.. Berdasarkan analisis yang dilakukan diperoleh hasil bahwa keteladanan merupakan cara yang ideal bagi seorang pemimpin/penguasa untuk dicontoh oleh rakyatnya.