Claim Missing Document
Check
Articles

KONGSEN : RUMAH ADAT K YAI K UNCI DAN BEDOGOL DI PERMUKIMAN K OMUNITAS K EJAWEN BONOKELING, BANYUMAS WITA WIDYANDINI; YOHANA NURSRUWENING
Teodolita ( Media Komunikasi Ilmiah di Bidang Teknik ) Vol 17, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v17i1.214

Abstract

Komunitas kejawen Bonokeling tinggal di Desa Pekuncen, Jatilawang, Banyumas. Komunitas ini dipimpinoleh seorang Kyai Kunci. Komunitas dibagi menjadi 5 (lima) keluarga besar yang dipimpin oleh seorangBedogol. Kyai Kunci dan Bedogol mendapat rumah dinas yang bernama Kongsen. Sebagai rumah adat,Kongsen memiliki keunikan-keunikan yang tidak ditemui di rumah warga lainnya. Baik dari bentuk rumah,macam dan fungsi ruang, maupun pada pola sirkulasi di dalam rumah Kongsen. Untuk itu, penelitibermaksud menggali atau menemukan pola tata ruang dalam rumah Kongsen.Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan metode analisisnya menggunakanmetode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan 3 (tiga) cara yaitu: 1). survei atau pengamatan,2). wawancara, 3). melakukan dokumentasi yang berupa foto, pengukuran, dan penggambaran rumahKongsen.Kesimpulan dari hasil penelitian adalah Kongsen selain sebagai rumah tinggal, juga berfungsi sebagaitempat ritual. Oleh karena itu, tata ruang dalam serta sirkulasi pada rumah Kongsen berbeda dengan rumahwarga lainnya.Kata Kunci : Bedogol, Bonokeling, Kejawen, Kongsen
PENGARUH SISTEM KEKERABATAN TERHADAP POLA PERKEMBANGAN PERMUKIMAN BONOKELING DI BANYUMAS Wita Widyandini Atik Suprati R. Siti Rukayah
Teodolita ( Media Komunikasi Ilmiah di Bidang Teknik ) Vol 14, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v14i2.99

Abstract

ABSTRAKSI            Masyarakat Bonokeling sebagai penganut Islam Kejawen memiliki hubungan kekerabatan yang sangat erat. Hal ini dapat dilihat pada pernikahan antara sesama anak putu (keturunan) Bonokeling. Setelah menikah, masyarakat Bonokeling biasanya masih tetap tinggal di sekitar rumah tinggal orang tua maupun Bedogol (pimpinan keluarga) mereka.  Dalam membangun rumah tempat tinggal mereka, masyarakat Bonokeling sangat taat mengikuti aturan-aturan yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk menggali sistem kekerabatan masyarakat Bonokeling di Banyumas serta pengaruhnya terhadap pola perkembangan permukiman mereka. Kata kunci : kekerabatan, perkembangan, permukiman Bonokeling
ORIENTASI DAN HIRARKI PADA TATA RUANG PERMUKIMAN ABOGE CIKAKAK DI WANGON, BANYUMAS WITA WIDYANDINI; DWI JATI LESTARININGSIH
Teodolita ( Media Komunikasi Ilmiah di Bidang Teknik ) Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v15i2.135

Abstract

Permukiman komunitas Aboge di Desa Cikakak, Wangon, Banyumas dapat dikatakansebagai permukiman yang usianya cukup tua, karena permukiman ini lahir bersamaandengan berdirinya Mesjid Saka Tunggal Cikakak pada tahun 1288 H atau 1522 M.Permukiman ini memiliki elemen tata ruang yang meliputi: mesjid, makam, pelataran, rumahadat, hunian/tempat tinggal, sumber mata air, dan hutan. Kesemua elemen-elemenpermukiman tersebut membentuk suatu tata ruang tersendiri yang memiliki orientasi danhirarki tertentu. Untuk itulah, peneliti melakukan penelitian untuk mengetahui arah orientasiserta tingkatan hirarki elemen-elemen tata ruang pada permukiman komunitas Islam Abogedi Desa Cikakak, Wangon, Banyumas.Karena tujuan penelitian ini adalah menggali dan menemukan orientasi dan hirarkisuatu tata ruang permukiman, maka metode penelitian yang digunakan adalah metodekualitatif dengan metode analisisnya menggunakan metode deskriptif. Pengumpulan datadilakukan dengan 3 (tiga) cara yaitu:survei atau pengamatan langsung ke permukimankomunitas Islam Aboge, wawancara dengan perangkat Desa Cikakak dan tokoh komunitasIslam Aboge, serta dengan melakukan dokumentasi yang berupa foto, pengukuran, danpemetaan permukiman.Dari penelitian yang dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa orientasi hunian rumahtinggal di permukiman Aboge Cikakak terbagi menjadi 3 (tiga) yaitu : orientasi rumah adatkuncen ke arah Utara-Selatan, orientasi rumah tinggal warga di sekitar mesjid ke arahUtara-Selatan-Barat, sedangkan orientasi rumah warga di luar radius 100 meter dari mesjidadalah bebas dapat ke arah Utara-Selatan-Timur-Barat. Sedangkan untuk hirarki padapermukiman Aboge Cikakak diperoleh kesimpulan bahwa hirarki tertinggi ada di makam,kemudian mesjid dan rumah adat kuncen, selanjutnya rumah tinggal warga, dan hirarkiterendah ada di persawahan sebagai lahan mata pencaharian sebagian besar komunitasAboge Cikakak.Keyword : Orientasi, hirarki, tata ruang, permukiman Aboge
PENERAPAN FENG SHUI PADA PENATAAN RUMAH TINGGAL YOHANA NURSRUWENING; WITA WIDYANDINI
Teodolita ( Media Komunikasi Ilmiah di Bidang Teknik ) Vol 18, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v18i1.221

Abstract

Rumah tinggal menjadi kebutuhan utama suatu keluarga yang memiliki fungsi utama sebagai tempattinggal sebuah keluarga, karena itu rumah didesain senyaman mungkin agar penghuninya merasatentram, damai, dan bahagia, serta memberikan keberuntungan kepada penghuninya. Untukmendapatkan rumah tinggal yang nyaman dan memberikan keberuntungan bagi penghuninya, makadalam membangun rumah didesain dengan menggunakan perhitungan tertentu yang dalam masyarakatTionghoa dikenal dengan nama Feng Shui. Berdasarkan Feng Shui kehadiran rumah tinggal bukanhanya sebagai bangunan yang fungsinya sebagai tempat tinggal saja, tapi dalam penataan komposisirumah akan membuka pintu rezeki bagi penghuninya bila dibangun dengan perhitungan yang baik.Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mempublikasikan kegiatan Tim Pengabdian Program StudiArsitektur Fakultas Teknik Universitas Wijayakusuma Purwokerto tentang penataan rumah denganmenggunakan konsep Feng Shui, yang bersifat eksploratif dengan membahas keterkaitan penerapanFeng Shui pada penataan rumah tinggal.Adanya kegiatan pengabdian ini memberikan dampak positif bagi mitra Tim Pengabdian, dalam hal inimitra memperoleh pengetahuan dan wawasan, serta memahami cara menata rumah tinggalnya denganbaik, dengan menggunakan konsep Feng Shui.Kata kunci : Feng Shui, Penerapan, Penataan, Rumah Tinggal
THE YIN-YANG CONCEPT IN SPATIAL OF HOK TEK BIO CHINESE TEMPLE, PURWOKERTO Wita Widyandini; Yohana Nursruwening
Teodolita ( Media Komunikasi Ilmiah di Bidang Teknik ) Vol 20, No 1 (2019): Teodolita
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v20i1.298

Abstract

Hok Tek Bio temple is located in the Old Navan Kauman Muslim students. This temple in addition to functioning as a place of worship, also serves as a cultural center of the Chinese community, and socialcenter of the Chinese community in Purwokerto. One of the concepts used in Chinese society in building abuilding is the concept of Yin-Yang, which harmonize between the two conflicting elements that Yin and Yanginto a single unit that is in harmony, and balance. The purpose of this study is to explore and discover the application of the concept of Yin-Yang onspatial in Hok Tek Bio Temple Purwokerto. The method used is qualitative research methods. As for themethod of analysis using descriptive methods. The results of this study are Hok Tek Bio Temple Navan apply the concept of Yin-Yang on spatial. Theapplication of the concept of Yin-Yang is seen in circulation and layout inside the temple. Circulationpatterns in the temple produce imaginary North-South axis that produce spatial patterns in temples thatsymmetry and balance. Keywords:  Yin-Yang, spatial, chinese temple, Hok Tek BioABSTRAK Kelenteng Hok Tek Bio terletak di kawasan muslim santri Kauman Lama Purwokerto.  Kelenteng iniselain berfungsi sebagai tempat ibadah, juga berfungsi sebagai pusat kebudayaan masyarakat Tionghoa, danpusat bersosialisasi masyarakat Tionghoa di Kota Purwokerto. Salah satu konsep yang digunakan masyarakatTionghoa dalam membangun suatu bangunan adalah konsep Yin-Yang, yang menyelaraskan antara duaunsur yang bertentangan yaitu Yin dan Yang menjadi satu kesatuan yang selaras, serasi, dan seimbang.  Tujuan dari penelitian ini adalah menggali dan menemukan penerapan konsep Yin-Yang pada tataruang dalam Kelenteng Hok Tek Bio Purwokerto. Metode penelitian yang digunakan adalah metodepenelitian kualitatif. Adapun untuk metode analisisnya menggunakan metode deskriptif.  Hasil dari penelitian ini adalah Kelenteng Hok Tek Bio Purwokerto menerapkan konsep Yin-Yangpada tata ruangnya. Penerapan konsep Yin-Yang ini terlihat pada sirkulasi dan tata ruang bagian dalamkelenteng. Pola sirkulasi di dalam kelenteng menghasilkan sumbu imajiner Selatan-Utara yang menghasilkanpola tata ruang dalam kelenteng yang simetri dan seimbang.Kata-kata Kunci :  Yin-Yang, tata ruang, kelenteng, Hok Tek Bio
ELEMEN STRUKTUR BANGUNAN MESJID “SAKA TUNGGAL” BAITUSSALAM DI CIKAKAK, WANGON, BANYUMAS YOHANA NURSRUWENING; WITA WIDYANDINI
Teodolita ( Media Komunikasi Ilmiah di Bidang Teknik ) Vol 16, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6668.691 KB) | DOI: 10.53810/jt.v16i1.125

Abstract

ABSTRACTIn an effort to get close to the real problems of the building of this research istaking an object on Baitussalam mosque, located in the Cikakak Village,Wangon, Banyumas. This mosque has a uniqueness that is not owned by anothermosque, which is constructed by using only one pole (saka) of wood, which bearthe entire burden of the mosque, that’s way the mosque is known as the "SakaTunggal" Mosque Cikakak. Is the structural elements in Baitussalam Mosque hasbeen able to respond the tropical climate in Banyumas, and to what extenttropical building’s technology can be applied to the Baitussalam Mosque inCikakak, Banyumas. Therefore, conducted research to determine the structuralanalysis of the mosque in the village Baitussalam Cikakak, Wangon, Banyumas.This research used a qualitative rationalistic method, and the method of analysisused descriptive qualitative method. Based on the analysis, we concluded that theBaitussalam Mosque in Cikakak, Banyumas is the Spiritual Architecture’sbuilding which structural elements used the combine of some traditional andmodern elements, so that resulted the transplantatip expression.Key words : Element structure, Building, Saka Tunggal, Cikakak Mosque
PENGEMBANGAN TRADITIONAL GAME PARK DENGAN KONSEP ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR DI DESA SUNYALANGU, BANYUMAS WITA WIDYANDINI; NOVIA RAHMAWATI; YOHANA NURSRUWENING
Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur Vol. 26 No. 1 (2021): JURNAL TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/jtsa.v26i1.1175

Abstract

Banyumas merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang memanfaatkan sumber daya alam sebagai pembangunan pariwisata, salah satunya adalah Taman Brilian Angkruk Logawa yang berada di Desa Sunyalangu, Kecamatan Karanglewas. Obyek wisata ini memiliki daya tarik wisatawan karena memiliki konsep untuk menyelamatkan kebudayaan daerah dan mengedukasi masyarakat untuk lebih mengenal permainan tradisional. Dalam merancang Traditional Game Park di Desa Sunyalangu, Banyumas ini, permainan tradisional anak khas Banyumasan menjadi konsep dasar dalam perancangannya. Konsep yang digunakan mengambil karakteristik dari Panggal, yaitu semacam gasing yang terbuat dari kayu. Panggal terdiri dari tiga bagian yaitu kepala, badan, dan kaki. Hal itu dikaitkan dengan unsur bangunan yaitu kepala sebagai atap, badan sebagai dinding, dan kaki sebagai pondasi. Panggal memiliki karakteristik berputar pada porosnya. Perputaran tersebut menggambarkan sirkulasi pengunjung yang dibuat melingkar sehingga memudahkan akses pengunjung untuk berpindah-pindah secara dinamis. Untuk menambah daya tarik pengunjung, fasade bangunan dan fasilitas penunjang lainnya menggunakan warna yang cerah dan mencolok. Desain yang dihasilkan selain menyesuaikan dengan kebutuhan pengguna, juga harus sesuai dengan nilai-nilai dan tradisi yang terkandung di lingkungan masyarakat setempat. Konsep yang diterapkan pada desain bangunan adalah Arsitektur Neo-Vernakular yaitu mendesain bangunan dengan mengambil bentuk dari elemen bangunan yang ada di lingkungan sekitar seperti bentuk atap rumah srotong dengan mengemasnya menjadi lebih modern tanpa mengesampingkan nilai tradisi setempat. Kata kunci : neo-vernakular, permainan tradisional, wisata
PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR FUTURISTIK PADA PERANCANGAN GEDUNG CONCERT HALL DI PURWOKERTO Wahyu Ashari; Yohana Nursruwening; Wita Widyandini
Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik Vol 23, No 1 (2022): Teodolita : Media Komunikasi Ilmiah Di Bidang Teknik
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v23i1.437

Abstract

Abstrak Musik di Indonesia berkembang cukup pesat di Kota Purwokerto. Ada 34 pertunjukan kesenian dan musik pada tahun 2020 dengan jumlah kenaikan pertunjukan kesenian dari tahun 2016-2020 sebesar 230%. Hal ini menunjukkan bahwa animo masyarakat yang besar akan pertunjukan kesenian dan musik. Pertunjukkan kesenian dan musik selama ini biasanya diadakan di ballroom, mall, resto, GOR, bahkan juga di alun-alun yang tidak dirancang secara spesifik sebagai concert hall. Adapun gedung kesenian yang tersedia di Kota Purwokerto adalah Gedung Kesenian Soetedja yang masih sangat jauh dari segi kapasitas dan fungsinya sebagai concert hall. Untuk itu dibutuhkan suatu fasilitas yang mampu menghadapi tantangan tersebut, yaitu concert hall. Konsep desain yang diterapkan adalah arsitektur futuristik yang memvisualkan masa depan, selaras dengan perkembangan Kota Purwokerto yang menuju kota modern. Pengumpulan data dilakukan dengan 2 metode, yaitu kualitastif dan kuantitatif. Data yang diperoleh lalu dianalisa dan kemudian menjadi konsep dalam perencanaan dan perancangan concert hall di Purwokerto. Perancangan Gedung Concert Hall di Kota Purwokerto didesain dengan menggunakan pendekatan arsitektur futuristik, dimana konsep tersebut diterapkan pada bentuk massa bangunan, penampilan fisik bangunan, jenis material bangunan, serta struktur dan teknologi yang digunakan. Kata Kunci : Concert Hall, Futuristik, Seni Musik
Arsitektur Metafora Pada Perancangan Museum Tsunami di Pangandaran WITA WIDYANDINI; FARYD ACHMAD MAULANA; YOHANA NURSRUWENING
Retii 2021: Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-16
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Pangandaran Earthquake and Tsunami on July 17, 2006 was an unforgettable moment. To commemorate this moment, Pangandaran Tsunami Museum was designed.as a historical monument, an education and recreation center in Pangandaran. The approach to the architectural theme at the Pangandaran Tsunami Museum is the application of the metaphor architecture. The research methodology used is the qualitative method, with observation, interview, and dokumentation as the data collection technique. The research results are 1) Pangandaran Tsunami Museum uses an analogy like a sea wave which is based on the idea of ​​the tsunami incident, 2) The application of the metaphor architecture can be seen from the facade, floor plans, colors, ceiling patterns, and interior of Pangandaran Tsunami Museum.
Perencanaan Purwokerto Technology Park Dengan Konsep Arsitektur Kontemporer WITA WIDYANDINI; JIHAN MUFIDAH UMAROH; BASUKI
Retii 2021: Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-16
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Science and technology are the determining factors for a country to be able to move forward to save the economy. In Indonesia the development of science and technology parks (STP) has been encouraged by the Government since 2002. which is regulated in Law Number 18 of 2002. The planning of Purwokerto Technology Park as a bridge to connect government and educational institutions in the field of information technology with the industrial world. The rapid development of the city of Purwokerto has great potential for the fulfillment of technology education facilities and business activities. The research methodology used is the qualitative method, with observation, interview, and dokumentation as the data collection technique, so that the data collected is in the form of words, pictures, and not numbers.The research results are 1) The basic form of Purwokerto Technology Park is a hexagonal shape, 2) The application of contemporary architecture are transparent materials, monochrome color, building voids, and the application of kinetic facade.