Ike Damayanti Habar
Department Of Prosthodontic Faculty Of Dentistry, Hasanuddin University Makassar, Indonesia

Published : 24 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

The difference maximum bite force and mastication ability in patients wearing metal framework and acrylic removable partial dentures : Perbedaan kekuatan gigit maksimal dan kemampuan mastikasi pasien pengguna gigi tiruan sebagian lepasan kerangka logam dengan akrilik Hastinawaty; Wahyuni, Nurimah; Habar, Ike Damayanti; Jubhari, Eri Hendra; Dammar, Irfan
Makassar Dental Journal Vol. 14 No. 1 (2025): Volume 14 Issue 1 April 2025
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35856/mdj.v14i1.980

Abstract

Dentures are expected to restore masticatory function, which is an indicator of the functional complex of mastication influenced by elevator muscle activation from craniomandibular biomechanics. The level of bite force is important to determine the effec-tiveness of mastication in denture-using patients. This study evaluated the differences in maximal bite force values and mastica-cation ability in metal and acrylic partial denture patients. Subjects were RPD users; 12 metal frame patients and 12 acrylic pa-tients. The bite force values the patients were measured using a byte gauge. Mastication ability was assessed using a mastica-cation ability questionnaire. The age groups of 46-55 years and 56-65 years used the RPD the most. The mean maximal bite force of metal-frame RPD patients was 260.92 N and 90.67 N in acrylic. All of the metal frame users had good mastication ability and only 5% of acrylic RPD users had good ability. Only 66.7% of metal frame RPD patients had a high quality of life and 8.3% of acrylic. It was concluded that the maximal bite force value of metal frame RPD patients was greater than acrylic.
Evaluation of labial and palatal bone thickness of maxillary anterior teeth in prosthodontic treatment planning: Evaluasi ketebalan tulang labial dan palatal gigi anterior maksila pada perencanaan perawatan prostodonsi Raqib, Abd; Ikbal, Muhammad; Habar, Ike Damayanti; Nurrahma, Rifaat; Sriwulan, Roro Dewiayu; Jubhari, Eri Hendra
Makassar Dental Journal Vol. 14 No. 2 (2025): Volume 14 Issue 2 August 2025
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35856/mdj.v14i2.1204

Abstract

It is necessary to evaluate the labial and palatal bone thickness of maxillary anterior teeth based on gender and age to provide in-formation for prosthodontic treatment planning. This study used an observational design with the Mann-Whitney U statistical test to compare the labial and palatal bone thickness of 6 maxillary anterior teeth between gender (male and female) and age (under and over 30 years old) groups. Measurements were taken at three labial and three palatal points using CBCT. The results showed significant differences in labial bone thickness at several measurement points, with men having significantly greater labial bone thickness than women (p<0.05). Differences in palatal bone thickness according to gender were only seen at one point but were not significant. Individuals under 30 years old showed greater labial and palatal bone thickness than those over 30 years old at certain points (p<0.05). It was concluded that gender affects labial bone thickness more significantly than palatal bone, while in-creasing age plays a role in decreasing bone thickness in both labial and palatal bones. This knowledge can be used for more effective prosthodontic treatment planning.
Lingualized occlusion in full edentulous patient with flat ridge posterior mandibular: Lingualized occlusion pada pasien full edentulous dengan lingir yang datar pada posterior rahang bawah Ludfia Ulfa; Ike Damayanti Habar; Herawati Hasan
Makassar Dental Journal Vol. 12 No. 3 (2023): Volume 12 Issue 3 Desember 2023
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah yang sering ditemukan pada pasien pengguna gigi tiruan lengkap dengan kondisi flat ridge adalah kurangnya retensi dan stabilitas, sehingga mengganggu fungsi pengunyahan. Kondisi tersebut dapat diatasi tidak hanya pada proses pencetakan, tetapi juga pada penentuan konsep oklusi saat penyusunan gigi. Untuk mengatasi masalah ini konsep lingualized occlusion menjadi solusi dan diharapkan meningkatkan retensi, stabilitas dan dukungan yang lebih baik pada kasus flat ridge. Artikel ini membahas konsep lingualized occlusion dalam penyusunan gigi tiruan pada kasus pasien flat ridge posterior rahang bawah. Seorang wanita berusia 62 tahun datang ke Departemen Prostodontik RSGM Unhas dengan keluhan sulit mengunyah akibat kehilangan seluruh giginya. Pasien pernah menggunakan gigi tiruan namun sekarang longgar dan ingin dibuatkan gigi tiruan baru agar dapat mengunyah dengan baik. Disimpulkan bahwa konsep oklusi pada pasien dengan flat ridge menggunakan konsep lingualized occlusion yang dapat meningkatkan retensi, stabilitas gigi tiruan, dan efisiensi pengunyahan pasien.
Lingualized occlusion in full edentulous patient with flat ridge posterior mandibular: Lingualized occlusion pada pasien full edentulous dengan lingir yang datar pada posterior rahang bawah Ludfia Ulfa; Ike Damayanti Habar; Herawati Hasan
Makassar Dental Journal Vol. 12 No. 3 (2023): Volume 12 Issue 3 Desember 2023
Publisher : Makassar Dental Journal PDGI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah yang sering ditemukan pada pasien pengguna gigi tiruan lengkap dengan kondisi flat ridge adalah kurangnya retensi dan stabilitas, sehingga mengganggu fungsi pengunyahan. Kondisi tersebut dapat diatasi tidak hanya pada proses pencetakan, tetapi juga pada penentuan konsep oklusi saat penyusunan gigi. Untuk mengatasi masalah ini konsep lingualized occlusion menjadi solusi dan diharapkan meningkatkan retensi, stabilitas dan dukungan yang lebih baik pada kasus flat ridge. Artikel ini membahas konsep lingualized occlusion dalam penyusunan gigi tiruan pada kasus pasien flat ridge posterior rahang bawah. Seorang wanita berusia 62 tahun datang ke Departemen Prostodontik RSGM Unhas dengan keluhan sulit mengunyah akibat kehilangan seluruh giginya. Pasien pernah menggunakan gigi tiruan namun sekarang longgar dan ingin dibuatkan gigi tiruan baru agar dapat mengunyah dengan baik. Disimpulkan bahwa konsep oklusi pada pasien dengan flat ridge menggunakan konsep lingualized occlusion yang dapat meningkatkan retensi, stabilitas gigi tiruan, dan efisiensi pengunyahan pasien.