Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Pengaruh Desain Masker Kain Terhadap Minat Beli Mahasiswa Desain Komunikasi Visual Fakultas Bahasa Dan Seni Universitas Negeri Padang (Studi Pada Konsumen Brand Mari Ceria) Sri Suci Hariyati; Heldi Heldi
DEKAVE : Jurnal Desain Komunikasi Visual Vol 13, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/dekave.v13i2.122563

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengaruh desain terhadap minat beli pada produk masker kain mari ceria. Menganalisis keragaman produk, harga, dan kuaIitas produk apakah berpengaruh terhadap minat beIi masker kain mari ceria. Permasalahan yang dihadapi, konsumen tidak memahami bahwa desain belum bisa dianggap sebagai pilihan utama yang mempengaruhi minat beli konsumen. Terdapat beberapa faktor lain seperti kualitas produk, harga, keragaman produk yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian. Sampel penelitian berjumlah 50 responden, yaitu Mahasiswa Desain Komunikasi Visual (angkatan 2017 dan 2018), data kuesioner disebarkan menggunakan google form melalui link WhatsApp. Instrument penelitian menggunakan skala likert. Dalam penelitian ini, variabel desain, keragaman produk, dan harga secara parsial berpengaruh signifikan terhadap minat beli konsumen pada produk masker kain dari brand Mari Ceria, karena H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga faktor tersebut memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat beli konsumen. Namun, untuk variabel kualitas produk, H0 diterima dan Ha ditolak, yang berarti bahwa kualitas produk tidak berpengaruh signifikan terhadap minat beli konsumen pada produk masker kain dari brand Mari Ceria.
Digital Painting Wanita Minang Sang Pembawa Marwah Dan Nama Keluarga M. Rizky Alfajri; Heldi Heldi
DEKAVE : Jurnal Desain Komunikasi Visual Vol 13, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/dekave.v13i3.121689

Abstract

Masyarakat Minangkabau yang menganut sistem matrilinear, menempatkan wanita pada posisi yang dimuliakan sebagaimana yang diajarkan dalam agama islam. Namun pada era modern saat ini memudahkan masuknya budaya asing dan menggerus eksistensi budaya lokal salah satunya budaya Minangkabau. Salah satu contohnya dapat dilihat pada wanita Minangkabau pada saat ini. Wanita Minangkabau pada saat ini kurang atau sedikit sekali yang mencitrakan marwah dari wanita Minangkabau. Juga kurangnya media dalam bentuk visual yang menginformasikan tentang wanita Minangkabau yang bermarwah. Tujuan perancangan ini untuk memvisualisasikan 5 karakter kedudukan serta prilaku yang dimiliki oleh wanita Minangkabau yang bermarwah sesuai ajaran adat Minangkabau. Perancangan ini menggunakan metode glass box. Pengumpulan data melalui studi litelatur. Analisis pendekatan menggunakan metode 5W + 1H (what, when, who, where, why dan how). Hasil dari perancangan ini berbentuk digital painting dengan masing-masing judul 1)Pemalu, 2)Limpapeh Rumah Nan Gadang, 3)Kupu-kupu, 4)Pembimbing, 5)Pembawa Harapan. Disertai media pendukung berupa poster, x-banner, postcard, dan artstation.
Motif Batak Mandailing Dalam Kriya Makrame Sebagai Hiasan Dekoratif Linda Fitriani Hasibuan; Heldi Heldi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ragam hias Batak Mandailing merupakan bagian dari kekayaan budaya Nusantara yang sarat dengan nilai simbolik, filosofis, dan identitas lokal. Namun, dalam konteks kehidupan modern, pemahaman generasi muda terhadap motif tradisional Batak Mandailing cenderung mengalami penurunan seiring dengan dominasi budaya populer dan media informasi digital. Penelitian penciptaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik visual dan interpretasi makna motif Batak Mandailing serta mewujudkannya ke dalam tujuh karya kriya makrame sebagai hiasan dekoratif yang bersifat kontemporer. Metode yang digunakan adalah metode penciptaan seni konsorsium menurut Bandem yang meliputi tahapan persiapan, elaborasi, sintesis, realisasi konsep, dan penyelesaian. Hasil penciptaan berupa tujuh karya kriya makrame yang mengadaptasi motif-motif Batak Mandailing seperti Boraspati, Ulu ni Horbo, Adop-adop, dan ragam motif flora serta geometris. Karya-karya tersebut tidak hanya menonjolkan aspek estetis melalui pengolahan unsur dan prinsip seni rupa, tetapi juga merepresentasikan nilai budaya dan filosofi masyarakat Batak Mandailing. Penciptaan ini diharapkan dapat menjadi media alternatif pelestarian budaya sekaligus memberikan kontribusi terhadap pengembangan kriya tekstil berbasis kearifan lokal dalam ranah seni kontemporer.
The Potential of Young Coconut Fiber as an Organic Dye and Its Applications on Silk Thread Neliyarti Neliyarti; Eri Barlian; Abdul Razak; Nurhasan Syah; Heldi Heldi; Muhamad Sholichin
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 11 No 11 (2025): November
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v11i11.12632

Abstract

Young coconut fibers, often found as waste, contain tannin and anthocyanin compounds that can produce various natural colors, so they can be used as organic dyes. The research method used was an experiment with a focus on testing silk thread dyeing using young coconut fiber extract dissolved in rice field water. This study aims to explore and develop the use of young coconut fibers as a source of environmentally friendly natural dyes. The results showed that young coconut fibers have the potential as organic dyes. Young coconut fiber extract with fermented rice field water solvents produced three color variations depending on the fixator used: brownish black (ferrous sulfate), gray (alum), and brown (lime). Structural tests using Scanning Electron Microscopy (SEM) proved that the dyeing process did not change the cross-sectional shape of the silk thread. In terms of tensile strength, yarn with alum fixation had the highest strength compared to native yarn, ferrous sulfate fixation, and lime fixation. Elongation tests showed the highest elasticity in yarn with alum fixation, followed by lime, ferrous sulfate, and native yarn. The color fastness test against washing at a temperature of 40°C showed a fairly good level of fastness for organic dyes from young coconut fiber