Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

PENENTUAN PENGADUKAN OPTIMUM BERDASARAN PENGOMPOSAN DAN PRODUKSI LISTRIK DALAM CSMFCs (COMPOST SOLID PHASE MICROBIAL FUEL CELLS) Cagayana Cagayana; Mochtar Hadiwidodo; Ganjar Samudro
Jurnal Sains & Teknologi Lingkungan Vol. 10 No. 2 (2018): SAINS & TEKNOLOGI LINGKUNGAN
Publisher : Teknik Lingkungan Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jstl.vol10.iss2.art2

Abstract

Compost Solid Phase Microbial Fuel Cells adalah salah satu alternatif teknologi pemrosesan sampah organik yang mampu menghasilkan energi yang bersih sebagai hasil dari pengolahan material padat. Masalah dalam CSMFCs adalah masih rendahnya daya listrik yang dihasilkan selama proses berlangsung, sehingga belum dapat diaplikasikan dengan kondisi yang diharapkan.  Penelitian ini mengembangkan sebuah sistem CSMFCs menggunakan pengadukan sebagai variabel bebas yang mempengaruhi kinerja CSMFCs, baik dalam menghasilkan kompos matang maupun listrik. Elektroda yang digunakan adalah elektroda graphene yang dirangkai dalam reaktor menggunakan konfigurasi single chamber – air cathode. Volume sampah yang digunakan adalah 2/3 dari volume reaktor dan sumber sampah berasal dari sampah sisa makanan, sampah sisa sayuran, ampas kedelai, dan sampah daun berasal dari pekarangan sekitar Undip yang dioperasikan dalam kondisi batch. Hasil penelitian CSMFCs menunjukkan bahwa kinerja paling optimum terdapat pada frekuensi pengadukan 4 hari sekali. Kompos yang dihasilkan memenuhi ketentuan SNI 19-7030-2004 dan menghasilkan produksi listrik dengan Power Density, Coulombic Efficiency (CE), dan Energy Efficiency (EE) berturut-turut sebesar 17,744 mW/m2, 0,6477%, dan 0,0000733% pada hari ke 20. 
Potensi Material Sampah Combustible pada Zona II TPA Jatibarang Semarang sebagai Bahan Baku RDF (Refuse Derived Fuel) Lucy Amena Sembiring; Ika Bagus Priyambada; Ganjar Samudro; Baskoro Lokahita; Irawan Wisnu Wardhana; Mochtar Hadiwidodo; Syafrudin Syafrudin
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/jtm.v7i1.2240

Abstract

Jumlah penduduk yang meningkat juga meningkatkan jumlah kebutuhan energi. Namun, sumber daya yang tersedia juga semakin berkurang. Sehingga perlu digantikan dengan energi yang baru. Sampah yang meningkat dan pengolahan yang sangat sedikit dapat dijadikan sumber energi yang baru bagi masyarakat dengan konsep waste to energy (WTE). Salah satunya yaitu dengan mengubah sampah menjadi bahan baku RDF (refuse-derived fuel). RDF merupakan salah satu teknik penanganan sampah dengan mengubah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat yaitu bahan bakar. Sampah sangat berpotensi menjadi bahan baku RDF terutama organik dan plastik sebagai sampah yang mudah terbakar (combustible). Sampah tersebut dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku RDF dengan cara menganalisis nilai kalor yang dihasilkan. Untuk menganalisis nilai kalor pada sampah combustible zona aktif II TPA Jatibarang dapat dilakukan dengan cara pengujian sampel sebanyak 100 gram dengan alat bom kalorimeter. Sampel tersebut diambil pada kedalaman 0-3 m dengan metode random sampling. Kemudian akan didapat nilai kalor tinggi yang dihasilkan sampel tersebut. Nilai Kalor Tinggi yang dihasilkan sampel tersebut sebesar 5,69 kkal/ton pada kedalaman 0-1 m, 6,07 kkal/ton pada kedalaman 1-2 m dan 5,94 kkal/ton pada kedalaman 2-3 m. Nilai kalor tinggi yang dihasilkan sampah combustible tersebut menunjukkan bahwa semakin rendah kedalaman sampah maka akan semakin tinggi nilai kalor yang dihasilkan dan sampah tersebut berpotensi sebagai bahan baku RDF. 
Potensi Material Sampah Combustible pada Zona Pasif TPA Jatibarang Semarang sebagai Bahan Baku RDF (Refuse Derived Fuel) Irma Natasya Hutabarat; Ika Bagus Priyambada; Ganjar Samudro; Baskoro Lokahita; Syafrudin Syafrudin; Irawan Wisnu Wardhana; Mochtar Hadiwidodo
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/jtm.v7i1.2241

Abstract

Abstrak: Peningkatan jumlah timbulan sampah menyebabkan meningkatnya kebutuhan lahan pada TPA Jatibarang. Untuk menghindari terjadinya kekurangan lahan perlu dilakukan penanganan pada sampah yakni dengan mengubah sampah menjadi sumber energi seperti bahan baku RDF (Refused Derived Fuel). RDF merupakan salah satu teknik penanganan sampah dengan mengubah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat yaitu bahan bakar. Sampah tersebut dapat dimanfaatkan menjadi bahan baku RDF dengan cara menganalisis nilai kalor yang dihasilkan. Untuk menganalisis nilai kalor pada sampah combustible zona pasif TPA Jatibarang dapat dilakukan dengan cara pengujian sampel sebanyak 100 gram dengan alat bom kalorimeter. Sampel tersebut diambil pada kedalaman 0-3 m dengan metode random sampling. Kemudian akan didapat nilai kalor tinggi yang dihasilkan sampel tersebut. Nilai Kalor Tinggi yang dihasilkan sampel tersebut sebesar 5,25 kkal/ton pada kedalaman 0-1 m, 5,76 kkal/ton pada kedalaman 1-2 m dan 6,31 kkal/ton pada kedalaman 2-3 m. Nilai kalor tinggi yang dihasilkan sampah combustible tersebut menunjukkan bahwa semakin rendah kedalaman sampah maka akan semakin tinggi nilai kalor yang dihasilkan dan sampah tersebut berpotensi sebagai bahan baku RDF. 
Potensi Sampah Combustible pada Zona Aktif 1 TPA Jatibarang Semarang sebagai Bahan Baku RDF (Refuse Derived Fuel) Rizki Tri Andrianingsih; Ganjar Samudro; M. Arief Budihardjo; Baskoro Lokahita; Syafrudin Syafrudin; Mochtar Hadiwidodo; Irawan Wisnu Wardhana
Jurnal Teknik Mesin Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/jtm.v7i1.2239

Abstract

Banyaknya produksi sampah di Semarang menyebabkan timbulan sampah di TPA Jatibarang semakin meningkat. Untuk mengurangi timbulan sampah, perlu adanya energi alternatif. Oleh karena itu, produksi refuse derived fuel (RDF) dapat menjadi salah satu solusi positif dalam penyelesaian masalah ini. Pemanfaatan energi dari limbah dikenal sebagai Waste-to-Energy (WTE). Pemanfaatan limbah menjadi energi sangat berhubungan dengan nilai kalor. Pada kajian ini, sampah combustible dari zona aktif 1 TPA Jatibarang akan dihitung nilai kalor tingginya dengan bom kalorimeter. Sampah diambil pada kedalaman 0-1 m, 1-2 m, dan 2-3 m di bawah permukaan timbulan sampah. Nilai kalor yang dihasilkan sampel tersebut sebesar 6,07 kkal/ton pada kedalaman 0-1 m, 5,56 kkal/ton pada kedalaman 1-2 m dan 5,55 kkal/ton pada kedalaman 2-3 m. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kedalaman maka semakin tinggi pula nilai kalornya, sehingga sampah zona aktif 1 TPA Jatibarang memiliki potensi yang tinggi untuk diolah menjadi RDF.
Tinjauan Nilai Manfaat pada Pengelolaan Sampah Plastik Oleh Sektor Informal (Studi Kasus: Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan) Ratna Kustanti; Arya Rezagama; Bimastyaji Surya Ramadan; Sri Sumiyati; Budi Prasetyo Samadikun; Mochtar Hadiwidodo
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 18, No 3 (2020): November 2020
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.18.3.495-502

Abstract

Penggunaan kembali material limbah dengan cara mendaur ulang merupakan salah satu cara efektif untuk menghindari pencemaran lingkungan dan mengurangi volume timbulannya di Tempat Pembuangan Akhir. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi ekonomi kegiatan daur ulang sampah plastik oleh sektor informal di Kecamatan Purwodadi. Penelitian dilakukan melalui survei menggunakan kuesioner terhadap 29 pelaku daur ulang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi ekonomi yang terdapat dalam usaha daur ulang sampah plastik pada tiap tingkatan pelaku daur ulang berbeda-beda. Berdasarkan analisis kelayakan ekonomi menggunakan  nilai Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR),  dan  Internal Rate of Return (IRR) dapat disimpulkan bahwa usaha daur ulang tingkat penggiling layak secara ekonomi dengan nilai NPV Rp 923.395.260  (NPV > 1), nilai BCR 1,58 (BCR > 1), dan nilai IRR 56,82. Benefit (manfaat) dari implementasi program 3R sampah plastik pada sektor informal secara umum dapat digolongkan menjadi dua manfaat, yaitu manfaat langsung (direct benefit) dan manfaat tidak langsung (indirect benefit). Manfaat langsung (direct benefit) berupa keuntungan penjualan sampah plastik. Keuntungan bersih tiap jenis sampah plastik pada tingkat pemulung  antara Rp 500-Rp 2.600, tingkat bank sampah berkisar antara Rp 100-Rp 400, tingkat pengepul I berkisar antara Rp 91,67-Rp 391,67, tingkat pengepul II berkisar antara Rp 173,46-Rp 473,46, tingkat bandar berkisar antara Rp 186,94-Rp 686,94, dan tingkat penggiling berkisar antara Rp 136,23-Rp 1.136,32. Manfaat tidak langsung (indirect benefit) adanya pengelolaan sampah plastik oleh sektor informal yaitu tereduksinya sampah plastik di Kecamatan Purwodadi sebesar 10,08%.ABSTRACTRecycling of waste material is an effective way to eliminate environmental pollution and reduce the volume of its generation in landfills. This research purpose was to determine the economical potention of plastic waste recycling business by the informal sector in Purwodadi District. The research method by a questionnaire survey of 29 recycling actors. The results showed that the economical potention of the plastic waste recycling business at each level of the recycling actors was different. Based on the economic feasibility analysis using Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR), and Internal Rate of Return (IRR), it can be concluded that recycling business at the grinder level is economically feasible with NPV value of Rp 923,395,260 (NPV> 1) , BCR value 1.58 (BCR> 1), and IRR value 56.82. The benefits of implementing the 3R plastic waste program in the informal sector can be classified into two benefits, there are direct benefit and indirect benefit. The direct benefit can be formed the profit from selling plastic waste. The net profit of each type of plastic waste at the scavenger level is about Rp 500-Rp 2,600, the level of waste bank about Rp 100-Rp 400, the level of collectors I about Rp 91.67-391.67, the level of collector II about  Rp 173.46-Rp 473.46, the level of dealer about Rp 186.94-Rp 686.94, and the grinder level about Rp 136.23-Rp 1,136.32. The indirect benefit of plastic waste management by the informal sector is the reduction of plastic waste in Purwodadi District for about 10.08%.
Peningkatan Produktifitas UKM Soun di Klaten melalui Introduksi Sistem Pemasakan Menggunakan Steam Mohamad Djaeni; Ari Wibawa Budi Santosa; Mochtar Hadiwidodo; Febiani Dwi Utari
Jurnal Pasopati : Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Pengembangan Teknologi Vol 1, No 3 (2019)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Daleman, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten merupakan sentra industri kecil soun. Kurang  lebih ada 8 unit rumah tangga  yang menjalankan wirausaha soun (sohun) ini, dari kapasitas kecil (omset < Rp 50 juta per bulan) sampai dengan kapasitas cukup besar (omset > Rp 100 juta per bulan). UKM Bintang Singa merupakan salah satu diantara puluhan UKM yang menjalankan wirausaha soun secara turun teumurun. Seperti UKM Soun pada umumnya, UKM Bintang Singa memnghadapi beberapa kendala diantaranya adalah bahan baku pati pohon aren, penggunaan pemutih pangan dengan kaporit, proses produksi yang belum efisien (pemasakan, pembentukan soun, dan pengeringan), serta sumber daya tenaga manusia. Adanya permasalahan ini, maka UKM saat ini cukup kesulitan memenuhi permintaan konsumen, mendapatkan sertifikat jaminan kualitas produk, serta mendapatkan akses pemasaran yang lebih luas. Untuk  mengatasi kendala padaUKM  mitra tersebut,  maka  tim Pengabdian Masyarakat UNDIP merancang sebuah kegiatan introduksi sistem pemasakan menggunakan steam untuk peningkatan efisiensi energi dan kapasitas produksi. Hasil positif didapatkan dengan adanya peningkatan kapasitas produksi hingga 3,5 kali.
PEMBUATAN GULA SEMUT KELAPA DI DESA UJUNG – UJUNG, KEC. PABELAN, KAB. SEMARANG Mochtar Hadiwidodo; Anik Sarminingsih
Jurnal Pasopati : Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Pengembangan Teknologi Vol 2, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2018 Desa Ujung-Ujung  Kecamatan Pabelan Kabupaten Semarang merupakan desa dengan luas wilayah 2,83 km2. Desa Ujung–ujung memiliki wilayah perkebunan yang cukup luas yaitu sekitar 7,83 Ha. Salah satu hasil perkebunan yang mendominasi yaitu kelapa. Pemanfaatan kelapa yang dilakukan oleh masyarakat sekitar yaitu pembuatan gula kelapa. Selama ini, produk gula kelapa yang terdapat di pasaran masih memiliki kelemahan diantaranya yaitu memiliki daya simpan yang tidak lama (sekitar 2-4 minggu), belum adanya pengemasan yang baik, serta kurang praktis dalam penyajian. Salah satu alternatif untuk mangatasi kekurangan gula kelapa yang ada saat ini yaitu perlu dilakukan perubahan bentuk gula kelapa dari cetak menjadi butiran (gula semut). Pada Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat, Tim Pelaksana bekerjasama dengan Mitra pada Desa Ujung Ujung, Kelompok Tani Ngadimakmur 1 untuk melakukan koordinasi dalam meningkatkan potensi daerah dengan melakukan pembuatan produk gula semut kelapa. 
Improving Recycled Waste Management Performance in Ngaliyan District, Semarang City Prihanita Ratih Fitriandani; Mochtar Hadiwidodo; Haryono Setiyo Huboyo
Jurnal Presipitasi : Media Komunikasi dan Pengembangan Teknik Lingkungan Vol 19, No 2 (2022): July 2022
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (950.928 KB) | DOI: 10.14710/presipitasi.v19i2.231-238

Abstract

The waste that enters the Jatibarang landfills does not go through the management and processing process in advance, and the people's laziness in sorting waste has resulted in an increase in waste at the Jatibarang landfills. Ngaliyan reduce, reuse, recycle (3R) waste management site is currently inactive due to a lack of implementation in aspects of waste management. Therefore, it is necessary to plan waste management as an effort to overcome urban waste by increasing performance at reduce, reuse, recycle (3R) waste management sites. Data collection methods used are sampling, interviews, and questionnaires. In this technical, operational planning of waste management, an area of reduce, reuse, recycle (3R) waste management site is required of 661 m2. Organic waste is processed through composting using the Open Windrow method, and inorganic waste is managed using the MRF (material recovery facility) method. The total cost required is IDR 11,135,856,300.00. The community is expected to be able to participate in waste processing and management through 3R-based sorting, comply with applicable regulations, and pay a retribution every month.
Forecasting Greenhouse Gas Emissions from Heavy Vehicles: A Case study of Semarang City Mochamad Arief Budihardjo; Isaaf Fadhilah; Natasya Ghinna Humaira; Mochtar Hadiwidodo; Irawan Wisnu Wardhana; Bimastyaji Surya Ramadan
Jurnal Presipitasi : Media Komunikasi dan Pengembangan Teknik Lingkungan Vol 18, No 2 (2021): July 2021
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.113 KB) | DOI: 10.14710/presipitasi.v18i2.254-260

Abstract

In Indonesia, transportation sector, specifically road transport consumed most energy compared to other sectors. Eventually, the energy consumption will increase due to the growth of vehicle number that also escalate emission. Vehicle emissions had been recognized as a significant contributor to atmospheric greenhouse gas (GHG) pollution. Heavy-duty vehicles are considered as main sources of vehicular emissions in most cities. Therefore, it is crucial to take into account heavy-duty vehicle emission projections in order to support policymakers to identify vehicle emissions and develop pollution control strategies. The aim of this study is to forecast heavy-duty vehicle population, vehicle kilometers travelled (VKT), fuel consumption, and heavy-duty vehicle emissions using data of Semarang City to illustrate greenhouse gas emission of big cities in Indonesia. Business as Usual (BAU) and The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) method were incorporated to determine vehicle emission projection. Heavy-duty vehicle emissions increase from 2021 to 2030 by 12.317 to 22.865 Gg CO2/year with amount trucks and buses emissions of 21.981,5 Gg CO2/year and 884,2 Gg CO2/year, respectively.
Removal Efficiency of Chemical Oxygen Demand on Greywater using Multi Soil Layering (MSL) Technology Syafrudin Syafrudin; Mochtar Hadiwidodo; Irawan Wisnu Wardhana; Tika Ayu Kusuma Wardani; Indah Sekar Arumdani; Sudarno Sudarno; Nurandani Hardyanti
Jurnal Presipitasi : Media Komunikasi dan Pengembangan Teknik Lingkungan Vol 18, No 2 (2021): July 2021
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.248 KB) | DOI: 10.14710/presipitasi.v18i2.299-305

Abstract

Greywater is household waste sourced from kitchens and bathrooms, except for toilets. Around 58%-85% of greywater can be generated from the total volume of household wastewater per house. It is necessary to treat wastewater before it is discharged into water bodies to prevent the adverse effects of contaminants on the environment and human health while reducing the demand for clean water. However, due to environmentally friendly, socially sustainable, and economical treatment costs, considering that greywater is produced every day and continuously, Multi Soil Layering (MSL) technology can be an alternative to remove contaminants in water. Thus, this study aims to determine the migration of COD in greywater using MSL technology. Other parameters tested were pH and temperature by taking samples of wastewater in residential areas of Semarang City. In this study, there are two stages, namely the preliminary stage and the running stage. The MSL system will use three reactors with andosol soil, apus bamboo, and coconut shell activated charcoal as mixed soil blocks (SMB). Reactor A (activated charcoal and andosol soil), reactor B (bamboo apus and andosol soil), reactor C (andosol soil, bamboo apus, activated charcoal). The results of domestic wastewater treatment using the MSL method in each of the three reactors could remove COD by 75%, 74%, and 76%. Reactor C obtained the highest COD removal efficiency compared to other reactors.