Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

HUBUNGAN FAKTOR EKONOMI TERHADAP TERJADINYA PERNIKAHAN DINI DI KOTA MOJOKERTO Novi Kurniawati; Riska Aprilia Wardani
Jurnal Keperawatan Vol. 14 No. 2 (2021): Jurnal Keperawatan, Volume XIV, Nomor 2, Juli 2021
Publisher : LPPM Akper Dian Husada Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.823 KB)

Abstract

Pernikahan dini merupakan salah satu budaya yang masih dianut oleh sebagian masyarakat di Indonesia baik yang berada di perkotaan maupun pedesaan. Pernikahan dini yang terjadi secara tidak langsung akan memicu berbagai gangguan kesehatan baik yang dialami oleh pasangan yang menikah ataupun anak yang dilahirkan dari pernikahan tersebut. Hal ini dikarenakan kompleksnya permasalahan yang timbul akibat pernikahan dini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan faktor ekonomi terhadap terjadinya pernikahan dini di Kota Mojokerto. Desain penelitian yang digunakan adalah analitik dengan pendekatan crosssectional. Penelitian ini dilakukan di Wilayah Kecamatan Magersari Kota Mojokerto. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 34 responden. Variabel dalam penelitian ini adalah faktor ekonomi dan pernikahan yang terjadi. Data karakteristik responden penelitian disajikan dalam bentuk tabel ditribusi frekuensi yang terdiri dari usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir, pekerjaan dan sumber informasi tentang kesehatan. Untuk mengetahui hubungan faktor ekonomi terhadap terjadinya pernikahan dini di Kota Mojokerto digunakan uji chi square. Analisa data dilakukan menggunakan aplikasi SPSS. Dari hasil uji korelasi chi square didapatkan nilai asymp sig (2-sided) sebesar 0,020 < 0,05 sehingga hipotesis dalam penelitian diterima yang berarti ada hubungan antara faktor ekonomi terhadap terjadinya pernikahan dini di Kota Mojokerto. Menurunkan angka kejadian pernikahan dini membutuhkan peran dari berbagai pihak. Pemerintah melalui Kantor Urusan Agama harus menerapkan public policy pembatasan pernikahan sebelum pasangan mencapai usia ideal. Selanjutnya tenaga kesehatan dan petugas BKKBN harus secara rutin mensosialisasikan kepada masyarakat mengenai resiko menikah di usia dini kepada masyarakat. Kerjasama berbagai lapisan masyarakat serta pemerintah dipercaya mampu untuk menurunkan angka kejadian pernikahan dini
COPING MECHANISMS AND DEPRESSION IN ADOLESCENTS WITH DRUG ABUSE Yufi Aris Lestari; Hartin Suidah; Ninik Murtiyani; Riska Aprilia Wardani
Psychiatry Nursing Journal (Jurnal Keperawatan Jiwa) Vol. 3 No. 1 (2021): March, 2021
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/pnj.v3i1.22699

Abstract

Introduction: The high level of depression or life problems among adolescents impacted different coping for each individual intending to overcome the problems that occur. This study aimed to determine the relationship between levels of depression and coping mechanisms of adolescent drug users.Methods: This study was a correlational analytic research with cross-sectional approach. The sampling technique was simple random sampling. This study's sample was 32 adolescent drug users undergoing rehabilitation at the drug rehabilitation facility Rumah Obit Surabaya. Depression variables was measured used the Beck Depression Inventory questionnaire, and variable coping mechanisms used the Ways of Coping Checklist questionnaire. The data was analyzed using the rho spearmen test.Results: The analysis result showed that coping mechanism had a significant relationship with depression in adolescent drug users with p-value = 0.001 (p <0.05). The adolescent drug users mostly experienced mild depression as many as 25 respondents (78.1) and maladaptive coping mechanism as many as 21 (65.6%).Conclusion: Optimizing socialization to increase knowledge about the impact of drug use on adolescents is needed to prevent depression in adolescent therefore they can use adaptive coping mechanisms in problem solving.
FAKTOR RESIKO TERJADINYA KETUBAN PECAH DINI PADA IBU BERSALIN Lia Dharmayanti; Riska Aprilia Wardani
Pengembangan Ilmu dan Praktik Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2022): Volume 1, Nomor 2, Agustus 2022
Publisher : STIKES Dian Husada Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketuban pecah dini merupakan pecahnya selaput sebelum terdapat tanda persalinan mulai dan ditunggu satu jam belum terjadi inpartu terjadi pada pembukaan < 4 cm yang dapat terjadi pada usia kehamilan cukup waktu atau kurang waktu. Ada beberapa faktor resiko terjadinya ketuban pecah dini yaitu hubungan seksual, riwayat ketuban pecah dini, usia ibu, paritas, pekerjaan dan Cephalo Pelvic Disproportion. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor resiko terjadinya Ketuban Pecah Dini pada ibu bersalin di Puskesmas Rejoso. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan desain retrospektif, dengan data sekunder dari buku register dan data primer dari hasil wawancara dengan responden. Jumlah sampel adalah 20 Responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan Nonprobability Sampling dengan teknik total sampling. Analisa data menggunakan analisa univariat yang bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor hubungan seksual dari 20 responden sebagian besar 12 responden (60%) melakukan hubungan seksual. Berdasarkan faktor riwayat ketuban pecah dini dari 20 responden sebagian besar 14 responden (70%) tidak memiliki riwayat ketuban pecah dini. Berdasarkan faktor usia ibu dari 20 responden sebagian besar 13 responden (65%) berusia 20-35 tahun. Berdasarkan faktor paritas dari 20 responden sebagian besar 15 responden (75%) ibu dengan multipara. Berdasarkan faktor aktivitas dari 20 responden sebagian besar 14 responden (70%) memiliki aktivitas berat. Berdasarkan faktor Cephalo Pelvic Disproportion dari 20 responden sebagian besar 17 responden (85%) tidak Cephalo Pelvic Disproportion. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa faktor resiko terjadinya ketuban pecah dini adalah hubungan seksual, usia ibu dan pekerjaan. Maka disarankan pada ibu bersalin dengan resiko ketuban pecah dini untuk selalu memeriksakan kehamilan secara teratur dan mengkonsumsi makanan gizi seimbang serta menghindari faktor resiko terjadinya ketuban pecah dini
PENINGKATAN PARTISIPASI DAN KEMANDIRIAN MASYARAKAT DALAM PENANGANAN STUNTING MELALUI PROGRAM DAPUR IBU LURAH Riska Aprilia Wardani; Nasrul Hadi Purwanto; Eko Agus Cahyono
Jurnal AbdiMas Nusa Mandiri Vol. 8 No. 1 (2026): Periode Januari 2026
Publisher : LPPM Universitas Nusa Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33480/abdimas.v8i1.7412

Abstract

This Community Service activity was motivated by the high prevalence of stunting in Sooko Village, Mojokerto Regency, which is triggered by multidimensional factors including parental ignorance in fulfilling toddler nutrition, economic limitations, and the lack of synergy of sustainable programs among stakeholders at the village level. To address this, a series of activity implementation methods were carried out, including intensive nutrition education on stunting and the preparation of nutritious menus, local food diversification training to optimize affordable food ingredients, and productive skills training such as making herbal products using a food dehydrator and making ecoprint batik using a steaming technique. All methods were designed in a participatory and collaborative manner, involving the village government, health workers, and PKK members as participants, with direct mentoring from a team of academics to ensure the achievement of applicable and sustainable knowledge and skills transfer. This community service activity has been successfully implemented through a series of collaborative interventions between the village government, health workers, and academics in Sooko Village, Mojokerto Regency. The implementation results showed a significant increase in community capacity, including a 40% increase in nutritional knowledge, mastery of herbal product production skills (using a food dehydrator) and ecoprint batik by 100% of participants, and the establishment of a Healthy Fund mechanism from the allocation of group business profits to purchase nutritious food for stunted toddlers. Sustainable synergy between nutrition training, economic empowerment, and local policy support can be an effective blueprint for accelerating the reduction in stunting prevalence independently and sustainably.
PROGRAM RUMAH SABUN SEBAGAI UPAYA BERBASIS MASYARAKAT DALAM MENGATASI PERMASALAHAN STUNTING Nasrul Hadi Purwanto; Riska Aprilia Wardani; Rina Widiyawati
Jurnal AbdiMas Nusa Mandiri Vol. 8 No. 1 (2026): Periode Januari 2026
Publisher : LPPM Universitas Nusa Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33480/abdimas.v8i1.7422

Abstract

The problem of stunting that occurs in the community tends to occur due to the inability of the community, especially families, to meet the nutritional needs of toddlers during growth and development. To resolve this problem, one effort that can be done is to stimulate the community, especially families of stunted toddlers, to become economically empowered. One of these efforts is by providing productive skills combined with education related to stunting. The implementation method of the activity is focused on a collaborative and practical approach, starting with coordination with the Village Government to identify participants, followed by entrepreneurship training that includes interactive lectures on stunting and hands-on training in making dish soap, laundry soap, and softener. Through this method, the activity aims to create new sources of income for families as a practical step in stunting prevention efforts. The Rumah Sabun community service activity has succeeded in improving the technical skills of 23 participants in producing dish soap, laundry soap, and softener, which previously did not have any at all. The evaluation results showed a significant increase, where 34.8% of participants (8 people) were categorized as capable and 65.2% (15 people) were categorized as quite capable, so that there were no longer any unskilled participants. As a form of sustainability, this program goes beyond training and has also pioneered the formation of community-based entrepreneurial groups, assisted by the village government and academic volunteers. This collaboration also facilitates local product marketing, ensuring that this activity is not only a successful empowerment intervention but also creates a sustainable micro-enterprise ecosystem to support family economic growth, a strategic step in stunting prevention.
Latihan Senam Yoga Pada Lansia Untuk Mencegah Depresi Pada Penderita Diabetes Melitus Di Posyandu Lansia Desa Sooko Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto Riska Aprilia Wardani; Dian Fitra Arismawati; Bety Mayasari
Journal of Community Engagement in Health Vol. 4 No. 1 (2021): Maret
Publisher : Universitas STRADA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/jceh.v4i1.124

Abstract

Pada masa lanjut usia secara bertahap seseorang mengalami berbagai kemunduran, baik fisik, mental, dan sosial (Azizah 2011). Banyak faktor yang menyebabkan gangguanmental. Gangguan mental yang sering ditemukan pada usia lanjut adalah depresi. (Departemen Kesehatan,2008). Depresi pada lanjut usia juga sering terjadi pada lansia yang mengalami Diabetes Melitus. Gangguan depresi pada lansia yang menderita Diabetes Melitus kurang dipahami sehingga banyak kasus depresi pada lansia yang menderita Diabetes Melitus tidak dikenali dan tidak diobati. Dampak gangguan depresi yang lain pada lansia berasal dari faktor fisik, psikologis dan sosial yang saling berinteraksi secara merugikan dan memperburuk kualitas hidup dan produktifitas kerja pada lansia. Faktor fisik yang dimaksud adalah penyakit fisik yang diderita lansia salah satunya penyakit Diabetes Melitus. Salah satu alternative penanganan pada lansia yang menderita depresi adalah senam yoga. Dengan menggunakan senam yoga akan dapat membangkitkan pikiran yang lebih positif, karena di dalam yoga terdapat banyak sekali pose / gerakan yang dapat melepaskan ketegangan disyaraf, merengganggkan otot, mengistirahatkan tubuh dan menenangkan pikiran. Did alam senam yoga terdapat teknik meditasi yang membuat pikiran yang tenang, damai, dan rileks dapat mempengaruhi akibat yang ditimbulkan karena adanya pikiran yang negatif. Latihan meditasi yoga dapat menenangkan pikiran dan menimbulkan kejernihan batin, kedamaian pikiran, pemahaman, serta meredakan emosi (Krishna 2000). Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk mencegah kemungkinan terjadinya depresi pada lansia yang menderita Diabetes Melitus di Posyandu Lansia Desa Sooko kabupaten Mojokerto, dengan metode demonstrasi
Transfer IPTEK Bahaya penyalahgunaan Obat pada Remaja dan pencegahannya di Pondok Muqorrobin Jalan Raya Brangkal-Mojokerto Riska Aprilia Wardani; Yufi Aris Lestari; Kurnia Indriyanti P.S
Journal of Community Engagement in Health Vol. 4 No. 2 (2021): September
Publisher : Universitas STRADA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/jceh.v4i2.256

Abstract

Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim dan Badan Nasional Narkotika (BNN) Jatim menunjukan bahwa jumlah mencapai 238.680 orang atau 27,3 persen dari pengguna narkoba Jatim sebanyak 884.000 orang (Jatim newaroom, 2017). Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Surabaya, menemukan peningkatan penyalahgunaan narkoba dalam dua tahun terakhir. Di tahun 2016 di temukan 84 pelajar di kota surabaya menjadi pengguna narkoba dan sedang menjalani proses rehabilitasi. Dari jumlah itu menunjukan peningkatan pada tahun 2017 yaitu 101 pelajar dengan kecanduan narkoba dan pil dobel L. Kebanyakan dari mereka adalah pelajar dari 4 SD, 63 SMP, 34 SMA (Jatimtimes,Surabaya 2018). Semakin meningkatnya penyalahgunaan napza dikalangan remaja di sebabkan oleh faktor-faktor pencetus seperti depresi, kegagalan dalam pencapaian harapan, kondisi fisik, psikologis, sedangkan untuk faktor pendukung diantaranya: perpisahan orang tua, pengaruh lingkungan sekitar dan sekolah, gaya pergaulan, adanya pembulian, dan pengaruh teman sebaya. Remaja merupakan usia rentan terpengaruhi oleh hal baru tidak terkecuali rasa ingin tahu mengenai banyak hal yang menurutnya menarik untuk di coba, seperti (alkohol, sabu, narkoba, obat/pil terlarang). Mereka menganggap bahwa dengan mengonsumsi itu semua kan membuatnya merasakan sensasi seperti fly atau melayang dan menghilangkan sedikit pikiran dalam otak yang selama ini menumpuk. Pencegahan pengguna napza pada remaja sebagian besar bias dilakukan dengan menggunakan mekanisme koping yang positif antara lain olahraga, bercanda, dan bercerita. Untuk meningkatkan kemampuan mekanisme koping pada remaja dibutuhkan sosialisasi yang maksimal, sehingga dapat menggunakan mekanisme koping yang benar dalam pengambilan keputusan suatu permasalahan.