Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

A MEDIUM CONTAINING COMMERCIAL FOLIAR FERTILIZER AND SOME ORGANIC ADDITIVES COULD SUBSTITUTE MS MEDIUM FOR IN VITRO GROWTH OF DENDROBIUM HYBRID SEEDLINGS Dwi Hapsoro Hapsoro; Vincentia Atika Septiana Septiana; Sri Ramadiana Ramadiana; Yusnita yusnita
Jurnal Floratek Vol 13, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (724.101 KB)

Abstract

In an attempt to obtain a cost-effective and a simpler way of growing Dendrobium seedling in vitro, this study was conducted to investigate effects of basal media and organic additives on in vitro growth of Dendrobium seedlings.  The basal media used were that of half strength Murashige and Skoog (½ MS medium) and that containing foliar fertililizer 32:10:10 and trace elements (FT medium). Treatments were combinations of basal media (1/2 MS medium and FT medium) and different kinds of organic additive (tomato, potato, and mungbean sprout juice and banana homogenate). The experiment was conducted in a completely randomized design with three replicates, 5 culture vessels per replicate and 4 seedlings ca. 1.5 cm per vessel.  The experiment showed that FT medium resulted in significantly higher growth than ½ MS medium as indicated by seedling fresh weight.  The media containing tomato juice led to highest growth of seedling as shown by seedling fresh weight and seedling height. Since FT medium caused better growth than ½ MS medium, the FT medium could be used as a substitute for ½ MS medium for growing Dendrobium hybrid seedlings. The seedlings were successfully acclimatized in a shaded green house environment with 100% survival rate.
IDENTIFIKASI KARAKTER KUANTITATIF DAN KUALITATIF BEBERAPA VARIETAS TOMAT (Lycopersicon esculentum Mill.) Andrian Nurhuda; Yusnita Yusnita; Dwi Hapsoro
Jurnal Agrotek Tropika Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.22 KB) | DOI: 10.23960/jat.v5i2.1829

Abstract

Identifikasi karakter kuantitatif dan kualitatif tanaman merupakan tahapan dasar yang sangat penting dalam program pemuliaan tanaman tak terkecuali tanaman tomat. Hal ini menjadi dasar pertimbangan suatu varietas ataupun klon sebagai sumber tetua dalam program pemuliaan tanaman. Penelitian dilakukan di Desa Airnaningan, Kec. Airnaningan, Kab. Tanggamus, Lampung dari bulan April hingga bulan Juli 2016. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK), pengelompokan didasarkan pada letak petakan. Perlakuan tunggal yang digunakan adalah empat varietas tomat introduksi yaitu Celebrity, Ponderosa Red Beef Steak (RBS), Martino’s Roma, Marglobe, dan satu varietas nasional yaitu Zambrud dengan 3 kali pengulangan, setiap satuan percobaan terdiri dari 2 tanaman. Perbedaan karakter kuantitatif diuji menggunakan uji beda nyata terkecil (BNT) pada taraf beda nyata 5%, sedangkan untuk karakter kualitatif dicocokan dengan keriteria IPGRI. Hasil penelitian menunjukkanbahwa kelima varietas tersebut memiliki beberapa perbedaan karakter kuantitatif dan kualitatif, varietas nasional Zambrud memiliki keunggulan karakter generatif berupa rataan jumlah buah tertinggi yaitu 18 buah/tanaman, selanjutnya varietas Marglobe memiliki keunggulan generatif berupa ukuran lingkar buah mencapai 20 cm sedangkan pada karakter kualitatif varietas Martino’s Roma memiliki bentuk buah unik yaitu pyriform. Karakter varietas introduksi yang identifikasi memiliki perbedaan karakter dibandingkan karakter dari literatur. Perbedaan karakter terdapat pada tinggi tanaman, bobot per buah, umur panen, jumlah lokus dan ukuran buah. Perbedaan iklim tumbuh berupa suhu dan panjang hari diduga menjadi faktor perubahan karakter yang muncul, selain itu iklim pada waktu tanam yang buruk berupa intensitas hujan tinggi menjadi faktor penghambat lain bagi tanaman untuk memunculkan potensi genetik secara maksimal.
PENGARUH 2-iP, BA, 2,4-D, DAN TDZ PADA EMBRIOGENESIS SOMATIK IN VITRO KOPI ROBUSTA UNGGUL LAMPUNG Dwi Hapsoro; Dwi Setiawan; Rahmadyah Hamiranti; Yusnita Yusnita
Jurnal Agrotek Tropika Vol 7, No 3 (2019): JAT September 2019
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2030.843 KB) | DOI: 10.23960/jat.v7i3.3545

Abstract

Pengaruh 2-iP, BA, 2,4-D, dan TDZ pada Embriogenesis Somatik In Vitro Kopi Robusta Unggul Lampung. Embriogenesis somatik in vitro kopi Robusta terdiri dari empat tahap: induksi kalus primer, induksi kalusembriogenik, regenerasi embrio somatik, dan regenerasi planlet. Penelitian bertujuan mempelajari pengaruh zat pengatur tumbuh (ZPT) terhadap pembentukan kalus primer kopi Robusta unggul Lampung klon Komari. Eksplan potongan daun ditanam pada media induksi kalus primer dengan penambahan (mg/l): BA 1; 2-iP 1; 2-iP 1 + 2,4-D 0,5 ;2-iP 1 + 2,4-D 1 ;TDZ 1 + 2,4-D 0,5; dan TDZ 1 + 2,4-D 1 sebagai perlakuan. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan, 3 botol kultur per ulangan, 5 eksplan per botol. Hasil percobaan menunjukkan, pada 4 minggu setelah tanam, semua perlakuan dapat menginduksi kalus primer 100%, namun waktu terbentuknya kalus pertama kali dan bobot segar kalus primer berbeda-beda. Kalus primer paling cepat terbentuk pada perlakuan 2-iP (14,7 hari setelah tanam), sedangkan paling lambat (16,0-16,3) pada perlakuan TDZ + 0,5-1,0 mg/L 2,4-D dan BA 1 mg/l. Bobot segar kalus primer tertinggi didapat pada perlakuan 2-iP + 2,4-D (96-110 mg/eksplan) dan terkecil pada perlakuan 2-iP atau BA saja (24-18 mg/eksplan). Kalus primer berkembang menjadi kalus embriogenik waktu dipindah ke media induksi kalus embriogenik. Subkultur kalus embriogenik ke media regenerasi menghasilkan embrio somatik.
PENGARUH BENZILADENIN DAN VITAMIN B TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT ANGGREK DENDROBIUM Dea Resty Noventa; Sri Ramadiana; Rugayah Rugayah; Yusnita Yusnita
Jurnal Agrotek Tropika Vol 2, No 3 (2014)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (45.321 KB) | DOI: 10.23960/jat.v2i3.2047

Abstract

Dendrobium adalah salah satu anggrek epifit yang banyak diminati oleh masyarakat. Permintaan anggrek Dendrobium semakin meningkat setiap tahunnya, akan tetapi anggrek memiliki tipe pertumbuhan yang lambat sehingga untuk membantu pertumbuhan dan perkembangannya, anggrek membutuhkan zat pengatur tumbuh. Selain itu, anggrek juga membutuhkan vitamin sebagai katalisator dalam proses metabolisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh peningkatan konsentrasi benziladenin terhadap pertumbuhan bibit anggrek Dendrobium yang berasal dari bibit botolan, pemberian vitamin B terhadappertumbuhan bibit anggrek Dendrobium yang berasal dari bibit botolan, dan ada atau tidaknya interaksi antara peningkatan konsentrasi benziladenin dan vitamin B terhadap pertumbuhan anggrek Dendrobium. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari bulan Maret sampai September 2013. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan disusun secara faktorial (3x2). Faktor pertama adalah konsentrasi BA 20; 40; dan 60 mg/l dan faktor kedua adalah vitamin B 0 g/l (tanpa vitamin B) dan vitamin B 1 g/l. Setiap kombinasi perlakuan diulang tiga kali dan masing-masing percobaan terdiri dari 10 bibit anggrek Dendrobium dengan sampel percobaan 5 bibit tanaman. Homogenitas ragam antar perlakuan diuji dengan uji Bartlett. Apabila kedua asumsi terpenuhi dilanjutkan dengan analisis ragam dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan BA 20 mg/l menghasilkan pertumbuhan terbaik tanaman jika dibandingkan dengan BA 40 dan 60 mg/l. Penambahan vitamin B 1 g/l tidak menunjukkan pertumbuhanyang lebih baik jika dibandingkan dengan tanpa vitamin B. Interaksi terbaik didapat pada perlakuan BA 20 mg/l dengan tanpa vitamin B, yaitu pada variabel pengamatan penambahan tinggi tanaman, jumlah akar, panjang akar, dan bobot basah.
PENGARUH JENIS PUPUK GROWMORE DAN BENZILADENIN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PEMBUNGAAN ANGGREK Dendrobium Pitriyanto Pitriyanto; Dwi Hapsoro; Yusnita Yusnita
Jurnal Agrotek Tropika Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (58.754 KB) | DOI: 10.23960/jat.v2i1.1892

Abstract

Untuk pertumbuhan vegetatif, tanaman membutuhkan pupuk dengan kandungan nitrogen (N) yang tinggi, sedangkan untuk masuk ke fase generatif tanaman membutuhkan pupuk dengan kandungan fosfor (P) dan kalium (K) yang tinggi. Pemberian ZPT benziladenin dilaporkan dapat merangsang pertumbuhan anggrek Phalaenopsis dan Dendrobium pada waktu aklimatisasi. Disamping itu, pemberian BA juga dilaporkan dapat merangsang pembungaan pada anggrek Doritaenopsis dan Phalaenopsis. Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui pengaruh jenis pupuk Growmore terhadap pertumbuhan dan pembungaan anggrek Dendrobium, (2) mengetahui pengaruh benziladenin terhadap pertumbuhan dan pembungaan anggrek Dendrobium, dan (3) mengetahui apakah ada interaksi antara jenis pupuk dan benziladenin dalam mempengaruhi pertumbuhan dan pembungaan anggrek Dendrobium. Penelitian bertempat di rumah kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung, dan dilaksanakan selama 4 bulan, yaitu dari bulan Februari sampai dengan bulan Juli 2011. Perlakuan disusun secara faktorial (3x2) dalam rancangan kelompok teracak sempurna (RKTS) dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah pupuk daun, yaitu pupuk GrowmoreBiru (G), GrowmoreMerah (G2),GrowmoreBiru +GrowmoreMerah (G3) dengan kosentrasi pupuk masing-masing adalah 2 g l -1. Faktor kedua adalah benziladenin (BA), yaitu tanpa pemberian BA (B0), dan pemberian BA (B1), dengan kosentrasi50 mg l -1 . Setiap satuan percobaan terdiri dari 6 pot tanaman. Kesamaan ragam antar-perlakuan diuji dengan uji Bartlett. Kemudian data diolah dengan menggunakan sidik ragam yang dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf nyata 5%.Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian GrowmoreBiru, GrowmoreMerah dan GrowmoreBiru + GrowmoreMerah tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tunas baru, jumlah tunas baru, jumlah akar primer, jumlah bunga, panjang malai, dan jumlah kuntum bunga. Pemberian BA dengan konsentrasi 50 mg l -1 tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tunas baru, jumlah tunas baru, jumlah akar primer, jumlah bunga, panjang malai dan jumlah kuntum bunga. Tidak ada pengaruh interaksi yang nyata antara pemberian pupuk dan pemberian ZPT terhadap seluruh variabel yang diamati yaitu tinggi tunas baru, jumlah tunas baru, jumlah akar primer, jumlah daun, panjang malai, dan jumlah kuntum bunga.
PENGARUH APLIKASI KOMBINASI NAA (Naphtaleneacetic Acid) Dan IBA (Indole Butyric Acid) TERHADAP PENGAKARAN SETEK LADA (Piper nigrum Linn) VARIETAS NATAR 1 Dita Dani Artha; Yusnita Yusnita; Sugiatno Sugiatno
Jurnal Agrotek Tropika Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.235 KB) | DOI: 10.23960/jat.v3i1.1879

Abstract

Lada merupakan salah satu tanaman penting di Indonesia.  Setek merupakan perbanyakan tanaman yang efektif dan efisien dalam budidaya tanaman lada.  Salah satu kendala dalam perbanyakan tanaman dengan setek yaitu sulitnya mendapatkan bahan tanaman dalam jumlah yang banyak dan berkualitas.  Salah satu cara untuk mendapatkan bahan tanaman dalam jumlah yang banyak yaitu dengan menggunakan setek lada 6—8 buku.  Pemberian auksin pada setek lada dapat meningkatkan pembentukan akar.  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh aplikasi campuran auksin NAA dan IBA pada konsentrasi berbeda terhadap pengakaran setek lada,  mengetahui pengaruh peningkatan konsentrasi campuran NAA dan IBA terhadap pengakaran setek lada, dan menentukan konsentrasi campuran auksin NAA dan IBA yang optimum untuk pembentukan akar setek lada. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tujuh perlakuan. Perlakuan yang dicobakan adalah kontrol (tanpa auksin), 500 ppm (250 NAA +250 IBA), 1000 ppm (500 NAA +500 IBA), 2000 ppm (1000 NAA+1000 IBA), 4000 ppm (2000 NAA +2000 IBA), 6000 ppm (3000 NAA +3000 IBA), 8000 ppm (4000 NAA+4000 IBA), masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Auksin yang digunakan dalam bentuk powder mixture. Setiap satuan percobaan terdiri atas sepuluh setek batang. Data yang dianalisis dengan sidik ragam (ANOVA).  Perbedaan nilai tengah masing-masing perlakuan diuji dengan uji beda nyata terkecil (BNT) pada taraf nyata 5%. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian campuran NAA dan IBA  mulai 500 ppm hingga 8000 ppm secara signifikan  meningkatkan jumlah akar, dengan jumlah akar terbanyak terdapat pada perlakuan 1000 ppm. Pemberian campuran NAA dan IBA  mulai dari 500 ppm hingga 8000 ppm secara signifikan meningkatkan panjang akar primer dan bobot segar akar dengan akar terpanjang dan bobot akar tertinggi terdapat pada perlakuan 6000 ppm. Berdasarkan morfologi akar, panjang akar, dan bobot akar, pemberian campuran NAA dan IBA 6000 ppm merupakan perlakuan terbaik untuk merangsang pembentukan akar pada setek lada varietas Natar 1. Tanpa auksin setek lada tidak dapat membentuk akar di dasar setek. Aplikasi campuran auksin NAA dan IBA mulai dari 500 ppm  hingga 8000 ppm merangsang pembentukan akar pada dasar setek dengan persentase tertinggi didapat pada perlakuan campuran NAA dan IBA 8000 ppm.
APPLICATION OF BENZYLADENINE (BA) IN THE FORM OF LANOLIN PASTE ON FLOWER-STALK BUDS SUCCESSFULLY INDUCED RE-BLOOMING OF HYBRID Phalaenopsis Mukhaila Iryani; Yusnita Yusnita; Dwi Hapsoro; Kukuh Setiawan; Agus Karyanto
Jurnal Agrotek Tropika Vol 8, No 2 (2020): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 8, MEI 2020
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.641 KB) | DOI: 10.23960/jat.v8i2.3915

Abstract

Hybrid moth orchid (genus Phalaenopsis) is one of the most popular ornamentals in Indonesia. It has beautiful and long-lasting flowers, but cultivating this orchid is still become a challenging issues due to the need of specific condition to grow and long time period to re-blooming. Plant growth regulators (PGR) (i.e. Benzyladenine (BA)) has been widely documented as a flower-inducing substance in several orchids. However, the optimal concentration and its mechanism in inducing flower-stalk bud and re-blooming is still unclear. This research aimed to study the effects of BA application in the form of lanolin paste on hybrid Phalaenopsis flower-stalk buds. We conducted this study using completely randomized design with four replications at the greenhouse laboratory Faculty of Agriculture University of Lampung on August to December 2018. We divided the orchid into 5 group of BA concentration (0, 1000, 1500, 3000, or 6000 ppm). The sheath of the fourth or fifth buds of the flowers were carefully opened, then it smeared with BA. The percentage of bud break into flower spike or keiki, length of shoots or spike and number of open flowers were recorded until 10 weeks of observation. The results showed that, neither of the buds under the control treatment (without BA), 1000 ppm nor 1500 ppm BA broke and grew into keiki or spike. On the other hand, application of BA at 3000 ppm or 6000 ppm successfully induced 100% flower spikes on the buds treated. No keiki was formed in all buds treated. In addition, treatment of the buds with 6000 ppm BA produced longer flower spikes as well as more open flowers. We conclude that the application of BA (minimal 3000 ppm) successfully induced flower spike of  hybrid Phalaenopsis.
PENGARUH MEDIA DASAR DAN BENZILADENIN (BA) TERHADAP PEMBESARAN SEEDLING ANGGREK Dendrobium IN VITRO Adryade Reshi Gusta; Dwi Hapsoro; Nyimas Sa’diyah; Yusnita Yusnita
JURNAL AGROTROPIKA Vol 16, No 2 (2011): Agrotropika Vol.16 No.2 2011
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.795 KB) | DOI: 10.23960/ja.v16i2.4268

Abstract

Orchid such as Dendrobium is more commonly propagated in vitro by using tis-sue culture techniques. In tissue culture, the type and composition of media and plant growth regulator was very crucial. The research was aimed to study the effect of media and plant growth regulator on growth of Dendrobium seedlings in vitro and was conducted in Plant Tissue Culture Laboratory, Faculty of Agriculture, University of Lampung, from April 2010 until October 2010. The experiment was carried out in a completely randomized design with three replicates. Treatments were arranged as 2 x 3 factorial design with media (½ MS and modified ½ MS with high P and low N) as the first factor and three concentrations of benzyl-adenine (0, 5, and 10 mg/l) as the second factor. Each experimental unit consisted of 3 culture bottles each of which containing 2 five-month-old seedlings. The result showed that both media was not significantly affected the growth of Dendrobium seedlings. Whereas, the addition of benzyl-adenine (BA) at 5 mg/l and 10 mg/l in both of media was able to increase shoot number from 2.8 to 5.2-5.4 and increase leave number from 9.2 to 18.0-18.2. Overall, the application of benzyl-adenine decreased shoot height (from 3.7 to 3.0-2.7 cm), root number (from 2.7 to 1.3-0.8), and root length (from 1.6 to 1.0-0.8 cm). Keyword : Dendrobium in vitro, seedlings growth.
IDENTIFIKASI SPESIES ORCHIDACEAE DI BLOK KOLEKSI TAMAN HUTAN RAYA WAN ABDUL RACHMAN LAMPUNG, INDONESIA Ambarwati Ambarwati; Indriyanto Indriyanto; Yusnita Yusnita
Jurnal Hutan Tropis Vol 7, No 1 (2019): Jurnal Hutan Tropis Volume 7 No 1 Edisi Maret 2019
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v7i1.7241

Abstract

Wan  Abdul  Rachman  Forest  Park  is  a  nature  conservation  area  in  Lampung Province, Indonesia, which is devided into five large blocks, one of which is the collection block for  plants  and  animal.  The  function  of this  collection  block  is  for  area  of  plant  and  animal collection,  protection,  and  conservation.  One  focus  of  interest  of  the  plant collection  and conservation in the collection block of this Forest Park is Orchidaceae, since this flowering plant family has large diversity. In the past, this collection block was park of the primary forest. Due to land  clearing  by  the  surrounding  community,  currently  this  area  became  a  mixed  forest. Therefore, a study of orchid identification in this block is needed to know the current and actual orchid diversity, density and distribution  in this area. The research was conducted since March to April 2018 in area of 141,18 ha of the collection block. Using 2% of sampling intensity, data of orchid were  collected  by  surveying  the  area  using  a  line-plot method  consisting  a  total  of  70 plots. The  results  showed  that  there were a  total of 29 epiphytic orchid plants  identified as 8 species, namely Dendrobium subulatum, Dendrobium phalaenopsis, Dendrobium crumenatum, Adenoncos  elongata,  Liparis  lacerata,  Cymbidium  finlaysonianum,  Eria  javanica,  Thecostele alata, and 3 genera, namely Cymbidium sp., Coelogyne sp., and Cleisostoma sp. Those orchid species or genera were  living on 7 species of host plants with density varied  from 0.36 – 3.21 plants  per  ha.  Orchid  species  with  the  highest  densities  were  Dendrobium  subulatum (3.6 plants/ha).
Resistance status and physiological responses of Dactyloctenium aegyptium to diuron herbicide in pineapple plantation RESTI PUSPA KARTIKA SARI; NANIK SRIYANI; YUSNITA YUSNITA; HIDAYAT PUJISISWANTO
Jurnal Natural Volume 22 Number 3, October 2022
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1457.772 KB) | DOI: 10.24815/jn.v22i3.25286

Abstract

Diuron herbicide has been used in the pineapple plantation in Lampung, Indonesia, for more than 35 years. It has been realized that the use of herbicides with the same mode of action intensively can speed up the evolution of resistant weeds over a long period of time. This study aimed to determine whether Dactyloctenium aegyptium from pineapple plantation has evolved resistance to diuron and to examine whether the resistance correlates with the weed physiological activities. The study was conducted at the University of Lampung, from September 2018 to March 2019. The study consisted of two stages, i.e. Stage 1: Weed resistance test and Stage 2: Physiological activity test on resistant weed. The study used a split-plot design. The main plot was the origins of weeds (exposed and unexposed to diuron) and thhe supplots was the diuron dose. The result showed that D. aegyptium exposed has high-level resistance to diuron. The physiological activities of D. aegyptium which has a high level of diuron resistance exhibited higher carbon assimilation, stomatal conductance, and transpiration rates than the sensitive D. aegyptium.