Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

PEMBERIAN SUSU KEDELAI PADA PENDERITA HIPERTENSI UNTUK MENURUNKAN TEKANAN DARAH Ernawati; Elisa Oktaviana; Syamdarniati; Winda Nurmayani
Jurnal LENTERA Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal LENTERA
Publisher : Stikes Yarsi Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57267/lentera.v3i1.217

Abstract

Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang ada di dunia baik negara maju maupun negara berkembang. Hipertensi disebut the silent killer karena sering menjadi pembunuh tanpa adanya keluhan, sehingga penderita tidak mengetahui dirinya mengalami hipertensi dan baru diketahui setelah terjadi komplikasi. Hipertensi menjadi kontributor tunggal utama untuk penyakit jantung, gagal ginjal, dan stroke di Indonesia. dalam pengabdian ini menggunakan pendekatan Quasy Experimental adalah suatu intervensi pada kelompok subjek dengan kelompok pembanding atau tanpa adanya kelompok pembanding, Adapun dalam pengabdian ini menggunakan pendekatan one group pretest-posttest design (rancangan pra-pasca tes pada satu kelompok, dengan tidak adanya kelompok pembanding/kontrol). Hasil pengabdian ini Rata-rata tekanan darah sistol sebelum intervensi pemberian susu kedelai adalah 157,99 mmHg dan setelah intervensi 151,06 mmHg. Sedangkan rata-rata tekanan darah diastole sebelum intervensi pemberian susu kedelai adalah 91,24 mmHg dan setelah intervensi 86,7 mmHg. Ada pengaruh yang signifikan intervensi pemberian susu kedelai terhadap perubahan tekanan darah sistol dengan nilai ρ value 0,000 dan tekanan darah diastol ρ value 0,000. Kedelai mengandung antioksidan yang dapat memperbaiki tekanan darah dan meningkatkan kesehatan pembuluh darah. Susu kedelai sangat baik untuk penderita hipertensi karena mengandung isoflavon yang melancarkan metabolisme, melancarkan pencernaan, meningkatkan imunitas, memperkuat struktur matriks, menstabilkan tekanan darah, menurunkan kadar kolesterol darah, menstabilkan gula darah.
The Increasing of Self Efficacy-Self Care on Patients with DM Type 2 Through Peer Group Education Support System Novira Egan Cahyaningrum; Baiq Nurainun Apriani Idris; Elisa Oktaviana; Hapipah Hapipah; Irwan Hadi
Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 11, No 2 (2023): Mei 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jkj.11.2.2023.437-446

Abstract

Diabetes mellitus is still a scourge of the world, DM cases are always increasing every year. Diabetes is a serious chronic disease that occurs when the pancreas does not produce enough insulin, or when the body cannot effectively use the insulin it does produce. Self-efficacy is the patient's self-confidence in his ability to perform self-care. Self-care is an action to help control blood sugar which can produce better health conditions. The risk of complications for people with DM can be reduced by increasing self-efficacy and good self-care. The strategy used to increase self-efficacy_ self-care is through a peer group education support system. This research was conducted to determine the increase in self-efficacy - self-care in patients with type 2 DM through a peer group education support system in the thunderstorm environment. This research is a pre-experimental study with a One Group – Pretest-Posttest without control group design. The population in this study amounted to 20 respondents. The sampling technique in this study was purposive sampling, with a total sample of 18 respondents. The statistical test used in this study was the Wilcoxon sign-rank test. The results of the Wilcoxon sign-rank test obtained a p-value of 0.000 (α=0.05). With good self-efficacy as many as 17 respondents (94.4%) and good self-care as many as 17 respondents (94.4%). So it can be concluded that the peer group education support system has an effect on self-efficacy_self-care for type 2 DM patients in the Geguntur Environment.
EDUKASI SEX EDUCATION PADA ANAK-ANAK SD: EDUKASI SEX EDUCATION PADA ANAK-ANAK SD Winda Nurmayani; Sopian Halid; Syamdarniati; Elisa Oktaviana
Jurnal LENTERA Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal LENTERA
Publisher : Stikes Yarsi Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57267/lentera.v3i1.223

Abstract

Pendidikan sex di Indonesia masih menjadi kontroversi, masih banyak anggota masyarakat yang belum menyetujui pendidikan sex di rumah maupun di sekolah. Secara umum pandangan masyarakat tentang pendidikan sex merupakan hal yang dipandang “tabu” utuk dibicarakan terhadap anak, terutama anak usia dini. Masyarakat beranggapan bahwa ada masanya mereka akan memahaminya secara alamiah. Pendidikan seks yang yang tidak diberikan di usia dini mengakibatkan tingginya kekerasan seksual pada anak yang dilakukan orang-orang terdekat anak termasuk keluarga Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah memberikan pemahaman tentang sex education pada anak. Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilakukan di SDN 46 Ampenan dengan peserta yang diambil dari kelas V dan VI. Metode yang digunakan ceramah dan Tanya jawab, dengan media yang digunakan LCD proyektor dan leaflet. Hasil dari pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dari peserta anak-anak murid kelas V dan VI yang hadir tampak sangat antusias, setelah kuesioner sebelum dan sesudah pemberian pendidikan kesehatan mengenai sex education tampak adanya peningkatan pengetahuan. Pelaksanaan pemberian pendidikan kesehatan mengenai sex education untuk meningkatkan pengetahuan bagi siswa-siswa SDN 46 Ampenan dengan resiko yang mungkin bisa terjadi dengan keadaan masyarakat sangat perlu dilakukan, selain sebagai penambah dan peningkat pengetahuan juga sebagai tindak untuk mengurangi resiko terjadi pelecehan seksual terhadap anak.
The Level of Knowledge Regarding Dengue Hemorrhagic Fever Elisa Oktaviana
Genius Journal Vol. 5 No. 1 (2024): GENIUS JOURNAL
Publisher : Inspirasi Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/gj.v5i1.337

Abstract

Objective: The primary objective of this study is to assess the level of knowledge regarding dengue hemorrhagic fever (DHF) within the Tanjung Karang Community Health Center's operational jurisdiction. Method: The research employed an analytical-descriptive approach. The study population comprised individuals residing in the Tanjung Karang Community Health Center area who had encountered dengue fever. The total number of reported dengue fever cases within the Tanjung Karang Community Health Center's operational boundary, spanning six sub-districts from January 2021 to August 2022, amounted to 96 cases. Utilizing the Slovin formula with a margin of error set at 0.05, the calculated sample size was 77. Results: Findings revealed that 39 individuals (50.6%) exhibited sufficient knowledge of preventive measures against DHF. Subsequently, 20 participants (26.0%) demonstrated good knowledge of preventative strategies, while 18 individuals (23.4%) displayed a lower level of awareness regarding DHF prevention efforts. Conclusion: The study findings revealed varying levels of knowledge among participants regarding prevention efforts for dengue hemorrhagic fever. These results underscore the importance of continuous education and awareness initiatives to enhance community knowledge and promote effective prevention strategies.
The Relationship Between Psychological Adaptation and Anxiety Level In The New Normal Era At Central Lombok Dewi Nur Sukma Purqoti; Harlina Putri Rusiana; Elisa Oktaviana; Ernawati Ernawati; Baik Heni Rispawati
STRADA : Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 10 No. 1 (2021): May
Publisher : Universitas STRADA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/sjik.v10i1.688

Abstract

Covid-19 affects all aspects of life such us health, social, economy, education, politics and development that cause psychological distress and anxiety. The purpose of this study was to determine the relationship between psychological adaptation and community anxiety levels in the new normal era. This study uses analytic cross sectional design.The sampling technique in this study was simple Random Sampling of 54 respondents. Data analysis used the Chi Square test. The results: Obtained p value = 0.033, it can be concluded that there is a difference in the proportion of anxiety levels between mal-adaptive respondents with adaptive respondents, which means that there is a significant relationship between psychological adaptation and anxiety levels with OR=6,821
THE EFFECT OF TRADISIONAL MUSIC “CILOKAQ” THERAPY FOR THE ANXIETY LEVEL IN ELDERLY WOMEN AT THE RETIERMENT HOME Harlina Putri Rusiana; Sopian Halid; Elisa Oktaviana; Rias Pratiwi Syafitri; Dewi Nur Sukma Purqoti; Fitri Romadonika; Ade Mely Rosmiatun
Journal for Quality in Women's Health Vol. 6 No. 1 (2023): March
Publisher : Universitas STRADA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/jqwh.v6i1.172

Abstract

Background: Elderly is who’s over 60 years old with decline in biological, psychological, social, and economic changes. Method:  The design of this research is Pre-Experimental with One-Group Pretest-Posttest design with 30 respondents. Results: of this study used the chi square test with p value 0.002 <0.005, which means that there is an effect of cilokaq music therapy on the level of anxiety in the elderly. Conclution: Cilokaq music therapy can be used as an alternative to professional nursing actions for the elderly who experience anxiety and can be applied institutionally in the form of establishing permanent work procedures.
GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN KORBAN GEMPA LOMBOK DEWI NURSUKMA PURQOTI; zurriyatun thoyyibah; ELISA OKTAVIANA
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 4, No 3 (2019)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v4i3.153

Abstract

Earthquakes are consistently proven to relate of mental health issues such as anxiety, depression and post-traumatic stress disorders immediately after disaster. This condition will deteriorate if not detected early and well handled, so it requires mental health services (trauma healing). Excessive anxiety can have a detrimental impact on the mind as well as the body can even cause physical illness. Objectives: The study aims to determine the level of anxiety victims of Lombok earthquake. Methods: This research is a descriptive study with a cross sectional approach. Sampling techniques used by Purposive Sampling with a sample number of 40 people. Data analysis used is univariate with data presented in narrative form, frequency distribution table and percentage. Results: The results showed that 15 respondents experienced mild anxiety (37.5%) and 25 respondents experienced moderate anxiety (62.5%).  Discussion: In addition to physical impact, earthquake incidence also raises mental health problems, one of which is anxiety. Anxiety is a response to a specific situation that threatens and is a normal thing to happen. The instruments used in this study are the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) questionnaire. Anxiety in the medium category still experienced by respondents can be influenced by gender, age, level of education and experience in the event of an earthquake. Conclusion: most of the respondents in this study is still experiencing moderate anxiety.
Gambaran Tingkat Kecemasan Korban Gempa Lombok Zurriyatun Thoyibah; Dewi Nur Sukma Purqoti; Elisa Oktaviana
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 4, No 3 (2019)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.815 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v4i3.190

Abstract

ABSTRAKGempa bumi secara konsisten terbukti berhubungan dengan masalah kesehatan mental seperti cemas, depresi dan gangguan stres pasca-trauma segera setelah bencana. Kondisi tersebut akan semakin memburuk bila tidak dideteksi sejak dini dan ditangani dengan baik, sehingga membutuhkan pelayanan kesehatan mental (trauma healing). Kecemasan yang berlebihan dapat mempunyai dampak yang merugikan pada pikiran serta tubuh bahkan dapat menimbulkan penyakit fisik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecemasan korban Gempa Lombok. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Tehnik pengambilan sampel yang digunakan yakni dengan Purposive Sampling dengan jumlah sampel 40 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Analisis data yang digunakan adalah univariat dengan data disajikan dalam bentuk narasi, tabel distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 15 responden mengalami kecemasan ringan (37,5%) dan 25 responden mengalami kecemasan sedang (62,5%). Diskusi: Selain dampak fisik, kejadian gempa juga menimbulkan masalah kesehatan jiwa, salah satunya rasa cemas yang masih dirasakan responden meskipun 8 bulan setelah gempa. Sebagian responden mengelaman kecemasan dalam berbagai kategori sedang dengan skor berbeda. Hal tersebut terjadi dipengaruhi oleh jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan dan pengalaman saat terjadi gempa. Kesimpulan: Sebagian besar responden pada penelitian ini masih mengalami kecemasan sedang.Kata Kunci: Gempa bumi, kecemasanThe Level of Anxiety of Lombok Earthquake Survivors ABSTRACTEarthquakes are consistently proven to be related to mental health issues such as anxiety, depression and post-traumatic stress disorders immediately after disaster. This condition will deteriorate if not detected early and well handled, so it requires mental health services (trauma healing). Excessive anxiety can have a detrimental impact on the mind as well as the body can even cause physical illness. Objectives: The study aims to determine the level of anxiety of Lombok earthquake survivors. Methods: This research is a descriptive study with a cross sectional approach. Sampling techniques used by purposive Sampling with a sample number of 40 people. The instruments used in this study are the Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) questionnaire. Data analysis used is univariate with data presented in narrative form, frequency distribution table and percentage. Results: The results showed that 15 respondents experienced mild anxiety (37.5%) and 25 respondents experienced moderate anxiety (62.5%). Discussion: In addition to physical impact, earthquake incidence also raises mental health problem, one of which is anxiety that was felt by respondents even 8 months after the earthquake. Respondents partly experienced anxiety in the medium category with different score. This can be influenced by gender, age, level of education and experience in the event of an earthquake. Conclusion: most of the respondents in this study is still experiencing moderate anxiety.Keywords: Earthquakes; anxiety
Kombinasi Senam Yoga Dengan Open Kinetik Chain Exercise Menggunakan Music Keroncong Untuk Menurunkan Nyeri Rhematoid Arthritis di Desa Mekar Sari, Narmada Lombok Barat Istianah Istianah; Hapipah Hapipah; Elisa Oktaviana
Journal of Community Engagement in Health Vol. 3 No. 1 (2020): Maret
Publisher : Universitas STRADA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/jceh.v3i1.38

Abstract

Rheumatoid arthritis adalah peradangan sendi akibat sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringannya sendiri. Radang sendi ini menimbulkan keluhan bengkak dan nyeri sendi, serta sendi terasa kaku. Nyeri merupakan masalah utama pada penderita Rematoid Arthritis, sehingga penatalaksanaan penyakit ini berfokus pada upaya mengatasi rasa nyeri. Senam yoga kombinasi open kinetik chain exercise menggunakan music keroncong merupakan salah satu alternatif intervensi untuk menurunkan nyeri Rematoid Arthritis. Tujuan dari pengabdian kepada masyarakat ini untuk meningkatkan pengetahuan warga desa Mekar Sari tentang penyakit Rematoid Arthritis dan dapat menerapkan secara mandiri senam yoga untuk menurunkan rasa nyeri. Pengabdian ini dilakukan di Desa Mekar Sari, dimana didapatkan data sebagian besar warga memiliki keluhan nyeri pada persendian tangan dan kaki, warga tidak mengetahui tentang penyakit Rematoid Arthritis serta tidak mengetahui penatalaksanaan nonfarmakologi untuk menurunkan nyeri yang dirasakan. Metode pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan dengan ceramah penyampaian materi, selanjutnya bersama-sama melakukan senam yoga dan evaluasi. Hasil pengabdian menunjukkan setelah diberikan penyuluhan adanya peningkatan pengetahuan tentang Rhematoid Arthritis pada warga Desa Mekar Sari, terjadi penurunan tekanan darah baik sistolik maupun diastolik dan penurunan skala nyeri Rhematoid Arthritis setelah dilakukan senam yoga. Berdasarkan hasil pengabdian diharapkan kegiatan senam yoga ini dapat diterapkan secara mandiri 2 kali seminggu dibalai desa Mekar Sari.