Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Pengendalian Waktu Proyek Menggunakan Metode Critical Chain Project Management (CCPM) Studi Kasus Pembangunan Proyek Irigasi Tahap II Kabupaten Aceh Barat Saputra, Arie; Putra, Gaustama; Aguslita, Fani
JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol. 11 No. 3 (2021): VOLUME 11 NO 3 NOVEMBER 2021
Publisher : Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Indusri Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/jti.v11i3.13063

Abstract

Intisari - Perencanaan dan pengendalian waktu proyek merupakan bagian dari manajemen proyek konstruksi secara keseluruhan dimana usaha yang sistematis untuk menentukan standar yang sesuai dengan sasaran perencanaan, merancang sistem informasi, membandingkan pelaksanaan dengan standar menganalisis kemungkinan adanya penyimpangan. PT Wirataco Mitra Mulya merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi infrastruktur pengaspalan, pembangunan jalan dan jembatan yang bertempat di Kabupaten Aceh Barat. Masalah yang sering dihadapi dalam proyek pembangunan irigasi tahap II adalah terjadinya waste pada proyek seperti menunggu material yang diakibatkan karena keterlambatan pengiriman dari pemasok, menunggu turunnya dana karena pengajuan dana belum disetujui, metode kerja yang tidak baik sehingga menyebabkan material yang menumpuk, peralatan tidak memadai dikarenakan peralatan tidak berfungsi maksimal yang disebabkan kurangnya perawatan dan jadwal perawatan diabaikan, kualitas pekerjaan kurang baik disebabkan karena cuaca tidak mendukung pelaksanaan pekerjaan. Tujuan penelitian ini yaitu menentukan jalur kritis pada jaringan kerja pengerjaan proyek pembanguan irigasi Lhok Guci tahap II, menentukan indikator pengawasan konsumsi buffer akibat potensi timbulnya waste dan menentukan perbandingan waktu dan biaya perencanaan penjadwalan sebelum dan sesudah penerapan metode Critical Chain Project Management. Hasil penelitian menunjukan bahwa kegiatan kritis pada proyek pembangunan Irigasi Lhok Guci tahap II yaitu pekerjaan Mob/Demob Dump Truck, Mob/Demob Vibro Roller, Mob/Demob Bulldozer, Mob/Demob Sheet Foot Roller, Pembersihan Lapangan/Clearing and Grubbing, Galian Tanah (MP), Galian Tanah (ALB), Timbunan Tanah Didatangkan, diratakan, dipadatkan (ALB), Pengadaan dan Peasangan Geotextile-Geogrid Komposit dan Urungan Sirtu. Indikator pengawasan konsumsi buffer akibat potensi timbulnya waste akan berujung pada penggunaan durasi project buffer. Indikator zona pemakaian buffer yang diperoleh. Pihak pelaksana harus melakukan perencanaan tindakan pencegahan jika buffer yang terkonsumsi pada kurun waktu 15-28 hari dan segera melakukan tindakan jika buffer yang terkonsumsi pada kurun waktu 29-42 hari dan menjadikan akar permasalahan akibat potensi timbulnya waste sebagai pertimbangan dalam penentuan tindakan pencegahan terhadap konsumsi buffer dan berdasarkan penerapan critical chain project management diperoleh project buffer berdurasi 42 hari dengan kurun waktu penjadwalan proyek Irigasi Lhok Guci tahap II yaitu 409 hari menjadi 367 hari tanpa konsumsi buffer dengan pendanaan proyek sebesar Rp. 23,405,029,699belum termasuk PPN10% dan penghematan biaya tenaga kerja sebesar Rp. 124.223.914.72 tanpa konsumsi buffer. Abstract - Planning and controlling project time is part of the overall construction project management where a systematic effort to determine standards in accordance with planning objectives, designing information systems, comparing implementation with standards analyze possible deviations. PT Wirataco Mitra Mulya is a company engaged in the construction of asphalting infrastructure, road and bridge construction located in West Aceh Regency. Problems that are often faced in Phase II irrigation development projects are the occurrence of waste in projects such as waiting for materials caused by late delivery from suppliers, waiting for funds to decrease because the submission of funds has not been approved, poor working methods that cause material to accumulate, equipment is inadequate due to equipment is not functioning optimally due to lack of maintenance and neglected maintenance schedules, poor quality of work due to weather does not support the implementation of work. The purpose of this research is to determine the critical path in the work network for the second phase of the Lhok Guci irrigation development project, to determine indicators of monitoring buffer consumption due to the potential for waste generation and to determine the ratio of time and costs of scheduling planning before and after the application of the Critical Chain Project Management method. The results showed that the critical activities in the second phase of the Lhok Guci irrigation development project were the work of the Mob/Demob Dump Truck, Mob/Demob Vibro Roller, Mob/Demob Bulldozer, Mob/Demob Sheet Foot Roller, Field Cleaning/Clearing and Grubbing, Soil Excavation ( MP), Soil Excavation (ALB), Landfill Imported, leveled, compacted (ALB), Procurement and Installation of Composite Geotextile-Geogrids and Sirtu Storage. The indicator for monitoring buffer consumption due to the potential for waste will lead to the use of project buffer duration. Obtained buffer usage zone indicator. The implementer must plan preventive actions if the buffers are consumed within 15-28 days and immediately take action if the buffers are consumed within the period of 29-42 days and make the root of the problem due to the potential for waste as a consideration in determining preventive measures against buffer consumption and based on the application of critical chain project management, a project buffer of 42 days is obtained with a period of scheduling the Lhok Guci Phase Two Irrigation project, namely 409 days to 367 days without buffer consumption with project funding of Rp. 23,405,029,699 excluding 10% VAT and labor cost savings of Rp. 124,223,914.72 without buffer consumption.
PENERAPAN STANDARD NORDIC QUESTIONNAIRE DAN METODE ANTROPOMETRI DALAM PERANCANGAN ALAT BANTU PROSES PENGOLAHAN KELAPA PARUT Widarta, Fajar Okta; Putra, Gaustama; Lestari, Suci Ayu; Abubakar, Rahmad
JISI: Jurnal Integrasi Sistem Industri Vol. 12 No. 2 (2025): JISI UMJ
Publisher : Fakultas teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jisi.12.2.273-282

Abstract

Proses pengolahan kelapa parut menjadi patarana di UMKM X masih menggunakan cara manual. Patarana adalah bumbu masakan tradisional Aceh yang bahan bakunya berasal dari kelapa yang sudah tua. Pengolahan kelapa parut menjadi patarana dilakukan berulang-ulang dalam waktu yang lama, sehingga pekerja beresiko mengalami Musculoskeletal Disorders (MSDs). Selain itu, proses pengolahan kelapa parut menjadi patarana yang dilakukan selama ini dirasa belum efisien karena membutuhkan waktu yang relatif lama. Oleh karena itu dilakukan perancangan alat bantu kerja yang ergonomis untuk proses pengolahan kelapa parut tersebut. Sehingga, dari penelitian ini dihasilkan usulan rancangan alat bantu proses pengolahan kelapa parut menjadi patarana khususnya pada tahap pengepresan. Alat ini bersifat ergonomis karena dirancang dengan menerapkan antropometri, sehingga dapat mengurangi risiko terjadinya Musculoskeletal Disorders (MSDs) serta membuat proses pengolahan kelapa parut menjadi patarana semakin efektif dan efisien.
Analisis Optimalisasi Mesin Coal Feeder Menggunakan Metode Reliability Centered Maintenance (RCM) PT PLN (Persero) UPK Nagan Raya Ramadhani, Dasrizal; Putra, Gaustama
SITEKIN: Jurnal Sains, Teknologi dan Industri Vol 19, No 2 (2022): Juni 2022
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sitekin.v19i2.17782

Abstract

 Efektivitas dan efesiensi dari sebuah mesin merupakan hal yang penting untuk meningkatkan kompetitif pada sebuah perusahaan sehingga pihak perusahaan menuntut untuk adanya peningkatan pada mesin dalam mendukung proses produksi. Tujuan penelitian yaitu menentukan komponen kritis, menentukan Category risk,  dan memberikan usulan perawatan  mesin Coal feeder A Unit 2 terkait dengan peningkatan peforma mesin untuk mencapai optimalisasi. Data yang digunakan adalah data kerusakan mesin Coal feeder. Hasil FMEA menunjukan dari 7 komponen dengan 10 mode kerusakan terdapat nilai RPN paling tinggi pada komponen Line outlet dengan klasifikasi nilai berdasarkan Task Selection yaitu Low Maintenance (RTF). Hasil LTA yang didapat seluruh mode kerusakan didapat category B (kegagalan berpengaruh terhadap produksi). Perbaikan kebijakan perawatan didapatkan hasil semua bentuk kerusakan yaitu Condition Directed (CD). Untuk meningkatkan optimalisasi penulis memberikan Usulan pada setiap komponen yang mengalami kerusakan dengan melakukan Inspection secara rutin dan pergantian komponen jika rusak (Left time) sehingga kerusakan bisa diminimalisir. Kata Kunci:  RCM, Optimalisasi, Coal feeder, FMEA, Kerusakan mesin
SOSIALISASI PROGRAM PENDAMPINGAN PEMBUATAN ALAT TEKNOLOGI TEPAT GUNA (TTG) UNTUK PRODUKSI KUE KARAH DI DESA LANGUNG, KECAMATAN MEUREUBO, ACEH BARAT Fitriadi, Fitriadi; Putra, Gaustama; Widarta, Fajar Okta; Ridha, Arrazy Elba; Irawan, Heri Tri; Pamungkas, Iing; Akmal, Abdiel Khaliel
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025): Volume 6 No. 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i2.41929

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mensosialisasikan program pendampingan dalam pembuatan alat Teknologi Tepat Guna (TTG) guna mendukung produksi kue karah, sebuah makanan tradisional khas Aceh, di Desa Langung, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat. Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai konsep TTG, manfaatnya dalam meningkatkan efisiensi kerja, dan potensi penerapannya dalam industri rumah tangga lokal. Kegiatan dilakukan dengan pendekatan partisipatif melalui penyampaian materi, diskusi kelompok, dan tanya jawab interaktif. Materi yang disampaikan mencakup pengenalan konsep TTG, tahapan pembuatan alat, serta contoh penerapan TTG dalam usaha sejenis. Hasil kegiatan menunjukkan antusiasme masyarakat yang tinggi terhadap ide pengembangan alat TTG. Tingkat pemahaman masyarakat terhadap sosialisasi alat TTG mencapai 88,9%, sementara tingkat penerimaan masyarakat terhadap alat TTG tercatat sebesar 96,3%. Peserta menunjukkan pemahaman yang baik mengenai pentingnya inovasi teknologi dalam mendukung peningkatan produktivitas dan daya saing produk lokal. Selain itu, sosialisasi ini berhasil mendorong kesadaran masyarakat untuk lebih terbuka terhadap teknologi dan inovasi sebagai upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi kue karah. Program ini diharapkan menjadi langkah awal yang strategis dalam mendorong implementasi TTG di Desa Langung untuk mendukung pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan.