Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Pelatihan dan Pendampingan Pengembangan Materi Pembelajaran PPKn Kajian Bhinneka Tunggal Ika Berbantuan Website Winarno Narmoatmojo; Rusnaini Rusnaini; Machmud Alrasyid; Erna Yuliandri; Muchtarom Muchtarom; Anis Suryaningisih
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 2 No 2 (2020): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v2i2.60

Abstract

Materi pokok PPKn menurut Kurikulum 2013 ada 4 (empat) yakni Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan BhinnekaTunggal Ika. Materi Bhinneka Tunggal Ika merupakan materi baru jika dibanding dengan 3 (tiga) materi sebelumnya. Materi Bhinneka Tunggal Ika sebagai wujud filosofi kesatuan yang melandasi dan mewarnai keberagaman kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Materi Bhinneka Tunggal Ika membelajarkan siswa perihal sikap menghargai dan menghormati keragaman dan perbedaan dalam diri bangsa Indonesia. Materi BhinnekaTunggal Ika penting diberikan dalam rangka menumbuhkan sikap tolerensi, mencegah terjadinya intoleransi, diskriminasi dan gejala radikalisme siswa. Tujuan pengabdian adalah melatih dan mendampingi guru PPKn mengembangkan materi aspek Bhinneka Tunggal Ika berbasis isu aktual yang sejalan dengan Kompetensi Dasar berdasar Kurikulum PPKn 2013 jenjang SMP. Sejalan dengan tujuan tersebut, metode yang digunakan adalah workshop/pelatihan disertai pendampingan dengan menganalisis situasi dan kebutuhan, menetapkan tujuan, mendesain model pelatihan dan pendampingan. Sasaran kegiatan adalah guru-guru PPKn jenjang SMP di Kabupaten Sukoharjo. Hasil kegiatan adalah telah dilakukan pelatihan yang meliputi analisis KI, KD dan Indikator , pendalaman materi keberagaman, dan penyusunan materi kedalam bahan ajar dalam bentuk modul bagi siswa. Modul berisi pembelajaran materi BhinnekaTunggal Ika yang nantinya bisa digunakan guru dan siswa dalam wujud e-modul.
Teacher Competence: Development of Pancasila Education Teaching Materials Based on the Merdeka Curriculum in the Society 5.0 Era Erna Yuliandari; Moch. Muhtarom; Machmud Al Rasyid Rasyid; Raharjo Raharjo; Pipit Widiatmaka
AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Vol 16, No 4 (2024): AL-ISHLAH: JURNAL PENDIDIKAN
Publisher : STAI Hubbulwathan Duri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35445/alishlah.v16i4.6075

Abstract

The Merdeka Curriculum mandates teachers to possess specific competencies, particularly in developing teaching materials. However, many teachers struggle to master these competencies, hindering effective curriculum implementation. This study investigates: 1) the competencies MGMP Pancasila Education teachers require in the Society 5.0 era, 2) their proficiency in developing teaching materials aligned with the Merdeka Curriculum at the junior high school level, and 3) the challenges they face in achieving these competencies. This qualitative study employs a descriptive research method, using in-depth interviews, structured observations, and documentation for data collection. Grounded theory analysis is applied to identify patterns and insights regarding teacher competencies and challenges. Findings indicate that competencies needed by MGMP Pancasila Education teachers in the Society 5.0 era include mastering digital technology. However, their ability to develop teaching materials based on the Merdeka Curriculum remains suboptimal, primarily due to difficulties in integrating digital technology into their instructional content. Key obstacles include limited mastery of digital technology competencies and insufficient understanding of the Merdeka Curriculum’s conceptual framework and implementation strategies. These challenges highlight the need for targeted professional development programs to enhance teacher preparedness. This study underscores the critical need for professional training to bridge competency gaps and support teachers in leveraging digital tools to align teaching materials with the Merdeka Curriculum. Addressing these issues is essential for empowering educators to meet the demands of Society 5.0 and achieve curriculum goals effectively.
Penerapan Metode Pembelajaran Debat Aktif untuk Membangun Sikap Demokratis Siswa pada Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila Luqman Wijayanto; Machmud Al Rasyid; Winarno
Civics Education and Social Science Journal (CESSJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/cessj.v7i2.7279

Abstract

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini meneliti penerapan metode debat aktif untuk membangun sikap demokratis siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila di SMAN 2 Boyolali. Penelitian dua siklus ini melibatkan siswa kelas XI-7 dengan teknik pengumpulan data wawancara, observasi, dan studi dokumen, yang dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian membuktikan keefektifan metode debat aktif. Rata-rata sikap demokratis siswa meningkat signifikan dari 50% pada pra-siklus menjadi 62,5% pada siklus pertama lalu 87,5% pada siklus 2, dengan indikator toleransi terhadap perbedaan mencapai 100%. Partisipasi siswa juga naik dari 68,75% menjadi 93,75%. Peningkatan ini didukung oleh pendekatan terstruktur, pengalaman belajar nyata, dan peran guru sebagai fasilitator. Tantangan seperti ketimpangan partisipasi dan manajemen waktu berhasil diatasi melalui pelatihan debat, pembagian peran, dan evaluasi berbasis umpan balik. Kesimpulannya, debat aktif efektif membentuk sikap demokratis ketika didukung perencanaan matang, topik kontekstual, dan lingkungan inklusif. Implikasinya, guru disarankan mengadopsi metode interaktif ini untuk menciptakan pembelajaran yang partisipatif. Penelitian lanjutan dapat mengembangkan modul debat berbasis isu lokal agar pendidikan demokrasi tidak hanya teoritis tetapi juga melatih keterampilan sosial siswa sebagai warga negara. ReferensiAbdussamad, Z. (2021). Metode penelitian kualitatif. Syakir Media Press. Arends, R. (2012). Learning to teach (9th ed.). McGraw-Hill. Arends, R. (2015). Learning to teach (10th ed.). McGraw-Hill. Bandura, A. (1986). Social foundations of thought and action: A social cognitive theory. Prentice-Hall. Bernadetta, S., dkk. (2021). Action research in education: Theory and practice. Routledge. Brookfield, S. D. (2017). Becoming a critically reflective teacher (2nd ed.). Jossey-Bass. Dewey, J. (1916). Democracy and education: An introduction to the philosophy of education. Macmillan. Hattie, J. (2009). *Visible learning: A synthesis of over 800 meta-analyses relating to achievement*. Routledge. Johnson, D. W., & Johnson, R. T. (1999). Learning together and alone: Cooperative, competitive, and individualistic learning (5th ed.). Allyn & Bacon. Johnson, D. W., & Johnson, R. T. (2014). Cooperative learning in the classroom. Interaction Book Company.Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2022). Panduan pembelajaran pendidikan Pancasila fase F. Kemendikbud.Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2021). Pedoman implementasi kurikulum merdeka. Kemendikbudristek. Lickona, T. (1991). Educating for character: How our schools can teach respect and responsibility. Bantam. Lie, A., dkk. (2020). Debate pedagogy in Asian contexts. Springer. Majid, A., & Rochman, C. (2020). Pembelajaran interaktif: Teori dan praktik. Remaja Rosdakarya. Miles, M. B., & Huberman, A. M. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). SAGE. Murdiyana, E. (2020). Validitas data penelitian kualitatif. Universitas Brawijaya Press. Nurdin, E. S. (2022). Model debat aktif dalam pembelajaran. Prenadamedia Group. Nussbaum, M. C. (2010). Not for profit: Why democracy needs the humanities. Princeton University Press. Patton, M. Q. (2015). Qualitative research & evaluation methods (4th ed.). SAGE. Putnam, R. D. (2000). Bowling alone: The collapse and revival of American community. Simon & Schuster. Rosenberg, M. J. (2021). E-learning: Strategies for delivering knowledge in the digital age (2nd ed.). Pfeiffer. Sapriya. (2012). Pendidikan kewarganegaraan: Konsep dan pembelajaran. Rosda. Sapriya. (2019). Pendidikan nilai dalam pembelajaran PKn. Remaja Rosdakarya. Slavin, R. E. (2014). Cooperative learning: Theory, research, and practice (3rd ed.). Pearson. Suharsimi, A. (2006). Prosedur penelitian: Suatu pendekatan praktik (Edisi Revisi). Rineka Cipta. Tomlinson, C. A. (2017). How to differentiate instruction in academically diverse classrooms (3rd ed.). ASCD. Trilling, B., & Fadel, C. (2009). 21st century skills: Learning for life in our times. Jossey-Bass. Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society: The development of higher psychological processes. Harvard University Press. Zamroni. (2017). Dinamika pendidikan karakter. UNY Press.
The Role of the Patriot Program in Fostering Nationalism Among High School Students at SMAIT Peradaban Al Izzah in Sorong as a Strategy for Preventing Social Conflict in Papua: A Review of Ernest Renan’s Theory of Nationalism Heru Sujaryanto; Winarno; Machmud Al Rasyid
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 6 No. 3 (2026): Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/eduvest.v6i3.53006

Abstract

This condition affects the way the younger generation, especially Indigenous Papuan students, interpret their identity as part of the Indonesian nation. On the one hand, there is a historical narrative of inequality and marginalization that has developed in society, while on the other hand, the state seeks to strengthen national integration through education. This study aims to analyze the role of the Patriot Program in shaping student nationalism at SMAIT Peradaban Al Izzah in Sorong City. This study uses a qualitative approach with an ethnographic design in education. The data in this study were collected through several techniques, namely observation, in-depth interviews, and documentation. The results of the study show that the Patriot Program has an important role in shaping the nationalism of Indigenous Papuan students at SMAIT Peradaban Al Izzah in Sorong City through three main mechanisms: as an agent of socialization of national values that is dialogical and inclusive; as a medium of cross-ethnic interaction that encourages cooperation, reduces prejudice, and increases empathy between Papuan and non-Papuan students; and as a means of identity construction that allows the simultaneous integration of Papuan and Indonesian identities. These findings also show the relevance of Ernest Renan’s theory of nationalism, especially the concept of the nation as a “daily plebiscite,” which emphasizes the sustained will to live together. However, in the Papuan context, the theory needs to be complemented by a critical perspective that considers the factors of economic and political inequality in the process of forming nationalism.
RELEVANSI PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH PADA KOMPETENSI DASAR MENELAAH PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA DAN PANDANGAN HIDUP BANGSA (Studi pada mata pelajaran PKn Kelas VIII di SMP N 1 Polanharjo, Kabupaten Klaten) Dita Dewayani; Machmud Al Rasyid; Muhammad Hendri Nuryadi
PKn Progresif : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Kewarganegaraan Vol 14, No 2 (2019): Jurnal PKn Progresif, Vol. 14 No. 2 Desember 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan FKIP Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/pknp.v14i2.42442

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) Relevansi model pembelajaran kooperatif tipe make a match yang digunakan guru pada kompetensi dasar menelaah Pancasila sebagai dasar negara dan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa; 2) Kendala yang ditemukan guru dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe make a match yang digunakan guru pada kompetensi dasar menelaah Pancasila sebagai dasar negara dan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan studi dokumen. Teknik sampling menggunakan purposive sampling. Pengujian validitas data menggunakan triangulasi data dan triangulasi metode. Analisis data menggunakan model analisis interaktif.Simpulan hasil penelitian: 1) Model pembelajaran yang digunakan guru pada kompetensi dasar menelaah Pancasila sebagai dasar negara dan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa adalah model pembelajaran kooperatif tipe make a match, model pembelajaran yang digunakan guru “relevan marginal” apabila digunakan pada kompetensi dasar menelaah Pancasila sebagai dasar negara dan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dikarenakan hanya memenuhi dua persyaratan untuk dapat dikatakan relevan , 2) Kendala yang dihadapi guru dalam menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe make a match pada kompetensi dasar menelaah Pancasila sebagai dasar negara dan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa menurut guru yaitu memerlukan banyak waktu pada pembentukan kelompok dan pelaksanaannya serta sulit membuat siswa berkonsentrasi karena ketakutan siswa jika terkena hukuman, sedangkan kendalanya menurut siswa yaitu takut apabila terkena hukuman ketika salah menjawab. Kata Kunci: Relevansi, pembelajaran, kooperatif tipe make a match.
STUDI RELEVANSI MODEL PEMBELAJARAN YANG DIGUNAKAN GURU DENGAN KOMPETENSI DASAR PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Bayu Yoga Prasetya; Machmud Al Rasyid; Wijianto Wijianto
PKn Progresif : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Kewarganegaraan Vol 14, No 1 (2019): Jurnal PKn Progresif, Vol. 14 No. 1 Juni 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan FKIP Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/pknp.v14i1.34787

Abstract

The aims of this study are: 1) Describe the learning models used by the teachers on Citizenship Education subject. 2) Explain the relevance of the learning models used with the basic competencies in Citizenship Education subject. According to the results of the study, there are two conclusions. The first one is the teachers use a few learning models in Citizenship Education. The first model is the class based-passive cognitive pedagogies model. The teacher has planned the subject as stated in the lesson plan (RPP). This model emphasizes traditional learning about how the teacher provides initial definitions, principles, and concepts of learning materials and provides examples of problem-solving exercises in the form of lectures, demonstrations, question and answer, and assignments. The second model is the application of the model used by the teacher, namely lectures. The second conclusion is, the learning model used by the teachers in Wikarya Vocational School is not yet relevant to the basic competencies in the school. This can be seen from a number of facts, namely: a) the plan for implementing learning that has been prepared by the teacher does not fully reflect the circumstances during the learning process. b) The teachers do not apply everything contained in the lesson plan and the teachers still use the traditional learning models which is the lecture model. c) On average more than 70% of students have low minimum completeness criteria. d) Attitudes and behaviors of the students in the school show the lack of achievement of basic competencies to be achieved. In addition to the facts mentioned above, the unsuccessful learning model applied by the teachers at Karanganyar Wikarya Vocational School in maintaining a conducive atmosphere during the learning process makes the students feel bored and not concerned with the importance of the lesson. Then, it results in failure to achieve the expected basic competencies. Keywords : learning model, teacher, basic competence
HUBUNGAN KEMAMPUAN SISWA DALAM MENGIDENTIFIKASI KEBERAGAMAN SUKU, AGAMA, RAS, DAN ANTARGOLONGAN DALAM BINGKAI BHINNEKA TUNGGAL IKA DENGAN SIKAP MENGHARGAI KEBERAGAMAN SUKU, AGAMA, RAS, DAN ANTARGOLONGAN (STUDI SISWA KELAS VII SMP NEGERI 4 SURAKARTA) Ika Wahyuningsih; Hassan Suryono; Machmud Al Rasyid
PKn Progresif : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Kewarganegaraan Vol 13, No 2 (2018): Jurnal PKn Progresif, Vol. 13, No. 2 Desember 2018
Publisher : Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan FKIP Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/pknp.v13i2.26592

Abstract

The purpose of this study was to determine the relationship between students' ability in identifying ethnic, religious, racial and intergroup diversity in the frame of Unity in Diversity with an attitude of respect for ethnic, religious, racial and intergroup diversity in class VII students of Surakarta State Junior High School 4.This research is quantitative research. The method used is descriptive correlational statistics. Subjects in this study were class VII students of SMP Negeri 4 Surakarta using simple random sampling technique. Data collection techniques used are test and questionnaire instruments. Validity test used uses the product moment formula. Reliability testing uses the Spearman Brown formula to test the X variable, and the Cronbach Alpha formula to test the Y variable. Data analysis uses a simple correlation technique.The results in this study are that there is a positive and significant relationship between students' ability to identify ethnic, religious, racial and intergroup diversity in the frame of Unity in Diversity with an attitude of respect for ethnic, religious, racial and intergroup diversity. A positive relationship between variable X and variable Y is indicated by the value of r count = 0.889> r table = 0.244. The meaning of the relationship between variable X and variable Y is significant indicated by the value of t count = 15, 28> t table1.27. Keywords: identifying diversity, respect.
STUDI ANALISIS KONSISTENSI DAN KECUKUPAN MATERI DALAM BAHAN AJAR BHINNEKA TUNGGAL IKA KELAS X TERHADAP CAPAIAN PEMBELAJARAN FASE E Rizki Amalia Pratiwi; Machmud Al Rasyid; Raharjo Raharjo
PKn Progresif : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Kewarganegaraan Vol 18, No 1 (2023): Jurnal PKn Progresif Volume 18 Nomor 1 Juni 2023
Publisher : Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan FKIP Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/pknp.v18i1.85566

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) ketepatan prinsip konsistensi pada materi Bhinneka Tunggal Ika dalam bahan ajar Pendidikan Pancasila Kurikulum Merdeka Kelas X SMA, 2) presisi prinsip kecukupan materi Bhinneka Tunggal Ika dalam bahan ajar Pendidikan Pancasila Kurikulum Merdeka Kelas X SMA. Metode penelitian kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini, dan jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Data berasal dari informan, lokasi, peristiwa, dan dokumen; pengambilan sampel secara sengaja; Pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan peninjauan dokumen; dan validitas data dengan trianggulasi data dan teknik. Analisis data menggunakan teori elaborasi. Simpulan dari penelitian ini 1) materi Bhinneka Tunggal Ika pada buku paket Pendidikan Pancasila Kurikulum Merdeka 2022 belum sepenuhnya sesuai dengan konsep dasar keteguhan/kepatuhan yang menyatakan bahwa isi yang disampaikan kepada siswa harus sesuai dengan kemampuan dasar yang teridentifikasi dalam Hasil Belajar. Hal ini ditunjukkan oleh fakta bahwa informasi yang diberikan dalam buku ini tidak sesuai dengan referensi ilmiah terkini dan mengandung sejumlah kekurangan prosedural pengetahuan, misalnya: belum adanya proses menginisiasi kegiatan bersama dan gotong royong. Materi pembelajaran yang ada pada bahan ajar ini menunjukkan bahwa buku tersebut belum sepenuhnya memenuhi konsistensi prinsip. 2) materi Bhinneka Tunggal Ika pada buku paket Pendidikan Pancasila Kurikulum Merdeka 2022 belum sepenuhnya memenuhi prinsip kecukupan, yang menyatakan bahwa muatan materi yang dibutuhkan harus mampu bagi siswa untuk memahami keterampilan dasar yang diajarkan. Indikator dalam modul terbuka dan buku yang tidak seluruhnya terdapat dalam buku Pendidikan Pancasila Kurikulum Merdeka 2022 menjadi buktinya maka perlu adanya penambahan materi pada buku tersebut. Kata kunci : Bahan Ajar, Materi, Bhinneka Tunggal Ika, Capaian Pembelajaran AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) ketepatan asas konsistensi materi Bhinneka Tunggal Ika pada bahan ajar Kurikulum Mandiri Pendidikan Pancasila Kelas X SMA dan 2) ketepatan asas kecukupan materi Bhinneka Tunggal Ika pada materi ajar Mandiri Pendidikan Pancasila Kurikulum Bahan Ajar SMA Kelas X. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dan jenis penelitian deskriptif kualitatif Sumber data diperoleh dari informan, tempat, peristiwa, dan dokumen. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi, dan studi dokumen. Keabsahan data dengan triangulasi data dan metode Analisis data menggunakan teori elaborasi. Kesimpulan dari penelitian ini 1) Materi Bhinneka Tunggal Ika dalam buku Paket Pendidikan Pancasila Kurikulum Merdeka 2022 belum sepenuhnya memenuhi prinsip konsistensi yaitu keteguhan atau ketaatan pada prinsip, dimana materi yang diajarkan siswa harus sesuai dengan kompetensi dasar yang telah ditentukan dalam Hasil Belajar. Hal ini dibuktikan dengan materi yang disajikan dalam buku tersebut tidak sesuai dengan referensi ilmiah yang ada, serta terdapat beberapa kesalahan dalam pengetahuan prosedural; misalnya tidak adanya proses untuk memulai kegiatan bersama dan gotong royong. Materi pembelajaran dalam bahan ajar ini menunjukkan bahwa buku ini belum sepenuhnya mencakup prinsip konsistensi. 2) Materi Bhinneka Tunggal Ika dalam paket Pendidikan Pancasila Kurikulum Merdeka 2022 belum sepenuhnya memenuhi prinsip kecukupan, yaitu prinsip bahwa materi yang harus diajarkan harus cukup untuk membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Hal ini dibuktikan dengan indikator-indikator yang terdapat dalam silabus belum sepenuhnya tertuang dalam buku Kurikulum Pancasila Merdeka 2022; perlu menambahkan materi ke dalam buku. Kata Kunci : Bahan Ajar, Materi Pelajaran, Bhinneka Tunggal Ika, Hasil Belajar
STRATEGI PENGUATAN DEMOKRASI AGONISTIK PADA BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (STUDI PADA BEM FKIP UNS) Ismi Ismi; Machmud Al Rasyid; Erna Yuliandari
PKn Progresif : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Kewarganegaraan Vol 19, No 1 (2024): Jurnal PKn Progresif Volume 19 Nomor 1 Juni 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan FKIP Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/pknp.v19i1.88844

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan strategi untuk menguatkan demokrasi agonistik mahasiswa dalam lingkungan BEM FKIP UNS; (2) Mendeskripsikan hasil dari penguatan demokrasi agonistik terhadap kualitas demokrasi di lingkungan BEM FKIP UNS dalam perspektif Pendidikan Kewarganegaraan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi, serta analisis dokumen. Pengambilan subjek penelitian menggunakan teknik purposive sampling. Lokasi penelitian pada BEM FKIP UNS  Kabinet Alterasi 2023. Pengujian validitas data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi metode. Hasil penelitian yang didapatkan adalah sebagai berikut. Pertama, BEM FKIP UNS melaksanakan penguatan demokrasi agonistik melalui kegiatan yang diselenggarakan oleh organisasi tersebut seperti Rapat Harian Terbatas (RHT), pembinaan di masing-masing kementerian, LKMM-D, dan kegiatan kepanitiaan, bentuk penguatan yang dilakukan adalah dengan menciptakan kontestasi dan perdebatan yang sehat, menciptakan kebebasan dan kesetaraan dalam berpendapat, serta adanya kepastian terhadap pluralisme. Kedua, hasil dari penguatan demokrasi agonistik terhadap kualitas demokrasi di lingkungan BEM FKIP UNS yaitu dapat meningkatkan partisipasi aktif dari anggota dan pengurus organisasi, menumbuhkan kemampuan untuk mengelola konflik secara melembaga, dan mampu bersikap terbuka terhadap adanya perbedaan dan menjunjung tinggi nilai toleransi dimana hal ini menunjukkan adanya keterampilan kewarganegaran dan sikap kewarganegaraan dalam diri anggota dan pengurus BEM FKIP UNS.
ANALISIS KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU PPKn DALAM MEMILIH MATERI PEMBELAJARAN YANG TERKAIT DENGAN TUJUAN PEMBELAJARAN DAN PENGALAMAN BELAJAR (Studi di SMP Negeri 20 Purworejo) Herawang Dwi Siswantoko; Machmud Al Rasyid; Wijianto Wijianto
PKn Progresif : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Kewarganegaraan Vol 14, No 2 (2019): Jurnal PKn Progresif, Vol. 14 No. 2 Desember 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan FKIP Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/pknp.v14i2.42447

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui : 1) kompetensi pedagogik guru PPKn dalam memilih materi pembelajaran KD 3.3 “memahami tata urutan peraturan perundang-undangan dalam sistem hukum nasional di Indonesia” yang terkait dengan tujuan pembelajaran; dan 2) kompetensi pedagogik guru PPKn dalam memilih materi pembelajaran KD 3.3 “memahami tata urutan peraturan perundang-undangan dalam sistem hukum nasional di Indonesia” yang terkait dengan pengalaman belajar.Merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan studi dokumen. Pengujian validitas data menggunakan model analisis triangulasi data dan metode. Analisis data menggunakan model analisis interaktif.Simpulan hasil penelitian: 1) Guru PPKn di SMP Negeri 20 Purworejo belum memiliki kompetensi pedagogik dalam memilih materi pembelajaran KD 3.3 “memahami tata urutan peraturan perundang-undangan dalam sistem hukum nasional di Indonesia” yang terkait dengan tujuan pembelajaran, dikarenakan : a) Indikator pembelajaran yang dibuat tidak sesuai dengan tuntutan KD 3.3. b) Pengidentifikasian jenis materi pembelajaran tidak sesuai dengan kebutuhan KD 3.3, dikarenakan guru belum mampu menempatkan jenis materi konseptual sesuai dengan kebutuhan pengetahuan prasyarat, inti dan pengayaan, dan c) Belum memiliki kemampuan menyeleksi materi pembelajaran yang sesuai kebutuhannya. 2) Guru juga belum memiliki kompetensi pedagogik dalam memilih materi pembelajaran dari KD 3.3tersebut terkait dengan pengalaman belajar, dikarenakan guru belum mampu membedakan jenis pengalaman belajar yang sesuai terhadap materi bertujuan meretensi pengetahuan dan materi bertujuan mentrasfer pengetahuan. Kata Kunci : Kompetensi Pedagogik, Memilih materi, Pengalaman belajar, dan Tujuan pembelajaran