Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Nasi Kapau Sebagai Simbol Budaya dalam Wisata Kuliner Minangkabau Egi Fazhira; Adri Febrianto
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 8 No 1 (2026): Culture & Society: Journal of Anthropologival Research
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v8i1.250

Abstract

Artikel ini menggali dan mendeskripsikan makna simbol wisata kuliner nasi kapau yang dilakukan oleh wisatawan di Kota Bukittinggi dan Nagari Kapau. Nasi kapau menjadi salah satu makanan tradisional yang populer. Berasal dari kampung kecil bernama Nagari Kapau yang terletak di Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam. Penelitian etnografi ini dianalisis dengan teori interpretivisme simbolik dari Clifford Geertz. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling dengan jumlah informan sebanyak 11 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumen. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa makan nasi kapau oleh wisatawan merupakan simbol nostalgia dan kebersamaan sosial yang bermakna sebagai wujud budaya yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, menghadirkan rasa kekeluargaan dan menjadi pengalaman makan yang tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga menghadirkan nilai emosional. Selain itu, nasi kapau merupakan simbol secara interpretivisme simbolik bermakna sebagai representasi budaya Minangkabau, identitas lokal, dan media kebersamaan sosial.
Membangun dari Rantau: Loyalitas dan Pengabdian Perantau bagi Kemajuan Nagari Magek Fadila Mailiza; Adri Febrianto
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 8 No 1 (2026): Culture & Society: Journal of Anthropologival Research
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v8i1.251

Abstract

Artikel ini mendeskripsikan dan menjelaskan peran perantau terhadap pembangunan di Nagari Magek serta mendeskripsikan faktor-faktor yang mendasari perantau dalam membantu pembangunan di Nagari Magek. Kontribusi perantau tidak hanya terlihat secara finansial, tetapi terdapat faktor yang mendorong peran perantau. Penelitian dianalisis dengan Teori Strukturasi Anthony Giddens. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling, dengan informan sebanyak 20 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam dan pemanfaatan dokumen. Tahap-tahap penelitian sampai kepada penarikan kesimpulan dilakukan mengikuti analisis data dari Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran perantau dalam pembangunan di Nagari Magek tidak hanya secara fisik maupun non fisik. Perantau memiliki misi budaya sebagai bentuk tanggung jawab memajukan nagari untuk kemajuan bersama. Lebih dari sekedar bantuan material, perantau Nagari Magek mencerminkan sikap loyalitas dan Pengabdian terhadap tanah kelahiran. Bantuan perantau bersifat swadaya dan diajukan berdasarkan keperluan. Bantuan rutin yang relatif terjadwal berupa zakat tahunan. Bantuan ini mempertegas bahwa loyalitas perantau kepada nagari didorong oleh rasa tanggung jawab bahwa kemajuan nagari merupakan kemajuan bersama.
Merencam dan Nuai: Sistem Pertanian Padi Ladang Masyarakat Melayu Jambi Zumrotul Husna; Adri Febrianto
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 8 No 1 (2026): Culture & Society: Journal of Anthropologival Research
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v8i1.280

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis sistem pertanian padi ladang secara tradisional yang dilakukan masyarakat Melayu Jambi di Desa Tanjung, mulai dari tahapan pembukaan lahan (manuk), penanam padi (merencam), panen (nuai). Selain itu juga menjelaskan alat yang digunakan hingga kegiatan ritual pertanian seperti turun baumo dan memasak bubur ayak yang dilakukan pada saat bertani padi ladang. Penelitian kualitatif ini dilakukan dengan tipe studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan kajian dokumen, serta dianalisis dengan teori Robert Redfield tentang masyarakat petani (peasant society). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peisan di Desa Tanjung mempertahan padi ladang melalui pemanfaatan lahan adat (tanah ramo) dan lahan tumpangsari padi ladang dengan kelapa sawit sebagai adaptasi terhadap perubahan penggunaan lahan. Seluruh tahapan pertanian dilakukan secara bertahap dengan menggunakan alat-alat tradisional, mulai dari pembukaan lahan, penanam benih (merencam), hingga panen (nuai). Kegiatan pertanian padi ladang disertai ritual keagamaan seperti turun baumo dan makan bubur ayak yang diyakini membawa keselamatan, keberkahan, dan kelancaran dalam proses pertanian. Sistem kerja yang dilakukan oleh petani padi ladang dilakukan dengan sistem kekeluargaan dan gotong royong, mulai dari pembukaan lahan, pelaksanaan ritual pertanian hingga panen padi ladang. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat petani di Desa Tanjung berada dalam posisi sebagai peasant society yang mempertahankan ciri tradisional melalui gotong royong, kekeluargaan, dan praktik tradisional, sekaligus beradaptasi dengan perubahan alih fungsi lahan perkebunan kelapa sawit.
Makna simbol Maarak Anak dalam Upacara Perkawinan di Nagari Tabek Patah Maharani Daswan; Adri Febrianto
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 7 No 2 (2025): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2025)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v7i2.191

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis makna simbol maarak anak dalam upacara perkawinan di Nagari Tabek Patah, Sumatera Barat. Simbol yang terdapat pada tradisi tersebut seperti, kain panjang, kambiang, ganggah, salomak kuniang dan boban. Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan pemilihan informan yang dilakukan dengan purposive sampling. Data dikumpulkan dengan cara observasi partisipasi, wawancara mendalam dan studi dokumen. Analisis data dilakukan dengan teori interpretivisme simbolik oleh Clifford Geertz. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa simbol dalam maarak anak seperti alat-alat, makanan hantaran, hewan yang dipakai dalam kegiatan maarak anak adalah kain panjang, kambiang, ganggah, salomak kuniang, dan boban. Secara emik makna simbol maarak anak dimaknai oleh masyarakat sebagai simbol restu dari pihak bako, kedekatan dan keakraban, kasih sayang bako dengan membantu kehidupan anak pisang, dan kesanggupan bako secara ekonomi. Sedangkan secara etik makna simbol maarak anak mempererat hubungan antara bako dengan anak pisang, memperlihatkan status sosial dan ekonomi, gotong royong dan kebersamaan, serta sebagai kebanggaan bako.
Negosiasi Piti Sasuduik dalam Perkawinan Adat Minangkabau Latifa Latifa; Adri Febrianto
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 7 No 2 (2025): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2025)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v7i2.202

Abstract

Adat perkawinan di Indonesia berbeda-beda di setiap sukubangsa. Orang Minangkabau memiliki sistem kekerabatan matrilineal, secara umum aturan adat perkawinan pihak perempuan memberikan harta kepada pihak laki-laki. Namun dalam adat perkawinan Minangkabau terdapat aturan nagari yang berbeda seperti masyarakat daerah Payakumbuh, pihak laki-laki yang memberikan harta kepada pihak perempuan. Di Nagari Situjuah Banda Dalam Payakumbuh terdapat tahapan penting menjelang pernikahan yaitu, mengantarkan piti sasuduik. Piti sasuduik merupakan harta benda atau uang yang diserahkan oleh pihak laki-laki kepada keluarga pihak perempuan (bride wealth). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses negosiasi piti sasuduik antara pihak keluarga perempuan dan laki-laki sebelum melangsungkan pernikahan. Penelitian ini dianalisis dengan teori strukturalisme oleh Claude Lévi-Strauss. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Pemilihan informan dilakukan dengan cara purposive sampling dan pengumpulan data secara observasi, wawancara mendalam dan dokumen. Berdasarkan hasil penelitian proses negosiasi piti sasuduik diawali dengan perwakilan niniak mamak atau panghulu calon pengantin laki-laki melakukan negosiasi mulai dari jumlah piti sasuduik yang diminta oleh keluarga perempuan, proses kedua niniak mamak pihak laki-laki mencoba menyebutkan alasan kemenakan memberi uang tidak sesuai dengan permintaan calon mertuanya, proses ketiga niniak mamak perempuan memberikan keputusan terbaik untuk kemenakan, proses yang terakhir niniak mamak perempuan memakan sirih jika negosiasi diterima, tetapi kalau niniak mamak perempuan mulai berbicara atau tidak memakan sirih tandanya negosiasi ditolak.
HERITAGE TOURISM AND LOCAL ECONOMIC TRANSFORMATION IN BUKITTINGGI NAVIGATING FORMAL AND INFORMAL LIVELIHOODS Ucu Feni; Adri Febrianto; Azmi Fitrisia
Indonesian Journal of Social Science Education (IJSSE) Vol 8, No 2 (2026): July 2026 (In Press)
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ijsse.v8i2.11861

Abstract

This article aim to explain the heritage tourism is widely recognized as a driver of regional economic growth, limited research has examined how historical tourism clusters reshape the daily livelihoods of micro-entrepreneurs in secondary heritage cities. This study investigates how heritage tourism transforms the local economy surrounding four major landmarks in Bukittinggi, Indonesia: Jam Gadang plaza, the Birth House of Bung Hatta, Fort de Kock, and the Lobang Jepang tunnel. Using a qualitative descriptive approach, this study interviewes twelve key informants—including street vendors, craft merchants, local guides, and tourism officials—and combined these narratives with field observations and documentary analysis. The thematic findings reveal that the local tourism economy depends on a symbiotic relationship between formal institutional regulation and informal grassroots trade. Local residents gradually shifted from unstable low-wage labor into tourism-related services, generating higher but highly seasonal incomes. The transformation is further accelerated by the adoption of digital payment systems such as Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). This study introduces the Hybrid-Formal-Informal Tourism Economy Model to explain how informal micro-vendors survive and adapt within institutional heritage spaces. The findings contribute to contempary debates on inclusive urban tourism governance in secondary heritage cities. The study concludes that municipal governments must implement balanced  zoning policies that protect informal livelihoods while preserving the visual and physical authenticity of heritage monuments from commercial overcrowding.