Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : WALISONGO

INTERAKSI DAN HARMONI UMAT BERAGAMA Haryanto, Joko Tri
WALISONGO Vol 20, No 1 (2012): Walisongo, Fundamentalisme
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract   The community of Singkawang constituted the multi cultural society, in religion, ethnic, and culture. Historically Singkawang society was able to maintain inter religious harmony. The associative social interaction seemed to be potential to support the harmony in the society. Based on the paradigm of functional-structural, society was assumed as an organic system having inter-relatednes between one organ and another in order to maintain the existence of the society. Social interaction within Singkawang society was developed by the the interaction in the cyrcle of family, neighbourhood, economical activities, religious leaders, and the relation within culture and tradition. Inspite of this the relation between the element of society is still cosmopolitant, on which the society members are less active in developing community harmony.   *** Masyarakat Singkawang adalah masyarakat yang terdiri atas berbagai kelompok suku bangsa dan agama. Secara historis, masyarakat Singkawang mampu mempertahankan harmoni antar agama. Model interaksi sosial yang bersifat asosiatif tampaknya potensial untuk mendukung harmoni di dalam masyarakat. Berdasarkan paradigma fungsional-struktural, masyarakat diasumsikan sebagai sistem organik yang memiliki huungan antar bagiannya untuk mempertahankan masyarakat. Interaksi sosial di dalam masyarakat Singkawang dikembangkan melalui interaksi di dalam lingkup keluarga, lingkungan sekitar, aktifitas ekonomi, para pimpinan agama, dan hubungan di dalam lingkup budaya dan tradisi. Meskipun demikian, hubungan antar unsur masyarakat masih kosmopolitan, yang di dalamnya anggota masyarakat kurang aktif dalam mengembangkan harmoni masyarakat.   Keywords: interaksi sosial, harmoni, Singkawang, kosmopolitan
KONTRIBUSI UNGKAPAN TRADISIONAL DALAM MEMBANGUN KERUKUNAN BERAGAMA Haryanto, Joko Tri
WALISONGO Vol 21, No 2 (2013): Walisongo, "agama lokal"
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThe Ganjuran society who live in Sumbermulyo Village, District BambanglipuroBantul of DIY, have ability to maintain religious harmony although those people aredifferent religions. It is because Ganjuran society have elements that can be a socialglue in their local wisdom. This research is conducted by qualitative approach toreveal local wisdom in the maintaining harmony through the form of traditionalexpressions and tradition of kenduri (ritual of meal). Ganjuran society has strongsocial harmony perspective which is expressed by traditional idiom like rukun agawesantosa crah agawe bubrah (harmony makes peaceful, hostile makes splits).***Masyarakat Ganjuran Desa Sumbermulyo Kecamatan Bambanglipuro Bantul DIYmampu memelihara kerukunan umat beragama, meskipun berbeda agama. Halini disebabkan adanya elemen-elemen yang menjadi perekat sosial berupakearifan-kearifan lokal yang hidup dalam masyarakat Ganjuran. Penelitian yangdilakukan dengan pendekatan kualitatif ini mengungkapkan kearifan lokal padamasyarakat Ganjuran dalam memelihara kerukunan dalam bentuk ungkapanungkapantradisional dan tradisi kenduri. Masyarakat Ganjuran memilikipandangan sosial guyub rukun yang diungkapkan melalui berbagai ungkapantradisional seperti rukun agawe santosa crah agawe bubrah.Keywords: kearifan lokal, kerukunan, ungkapan tradisional, Ganjuran