Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Penumbuhan Jiwa Wirausaha Siswa SMK Ma’arif NU 01 Wanasari Melalui Pelatihan Pengolahan Limbah Air Kelapa Muhamad Hasdar; Abdul Bashar; Wadli Wadli
JPM PAMBUDI Vol 3 No 1 (2019): JPM Pambudi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (P2M) IKIP Budi Utomo Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/pambudi.v3i1.509

Abstract

Entrepreneurship development among productive young people is a strategic program to build young entrepreneurs who have quality human resources. Vocational students are a strategic choice for building young entrepreneurs. The purpose of this community development activity is 1) Building strong character, because strong character becomes the main capital to become an entrepreneur in facing the challenges of changes that occur in his life. 2) Vocational students have skills to process coconut water waste into nata de coco. 3) Vocational students can start opening new business opportunities either before or after graduating later. The partners of this activity are students from SMK Ma'arif NU 01 Wanasari who are selected 20 students, their have an interest in food entrepreneurship. This activity was carried out in four stages for 2 months. Activities are divided into 4 stages. stage I is measuring the level of understanding from the students about entrepreneurship by giving quisioners, stage II is a process transfer knowlegde with the lecture method, stage III is carried out with the practice of directly using appropriate technology, stage VI is the evaluation stage of activities with quisioner and lecture methods. All vocational students participate in all stages of the training well, with this entrepreneurship training vocational students have increased skills and knowledge in entrepreneurship. Through these activities vocational students also have the skills to process coconut water waste into nata de coco until the packaging process is ready to be marketed and vocational students have basic knowledge about starting entrepreneurship in the food sector. Based on the evaluation results of entrepreneurship training activities, Vocational students are very happy and satisfied and in accordance with the expectations of SMK students to build their entrepreneurial spirit.
ORGANOLEPTIK TELUR PUYUH ASIN YANG DIREBUS DENGAN LARUTAN GARAM Hasdar, Muhamad
Journal of Technology and Food Processing (JTFP) Vol. 4 No. 01 (2024): Januari
Publisher : Program Studi Ilmu Teknologi Pangan Universitas Muhadi Setiabudi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46772/jtfp.v4i01.1184

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh perebusan dengan larutan garam 10% terhadap preferensi organoleptik telur puyuh asin oleh konsumen. Proses pengasinan dilakukan dengan inkubasi selama 2 x 24 jam, diikuti dengan perebusan menggunakan dua metode, yaitu air bersih (sampel A) dan larutan garam 10% (sampel B) selama 1 jam masing-masing. Parameter organoleptik dievaluasi oleh 36 panelis yang tidak terlatih. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji t untuk membandingkan kedua sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perebusan dengan larutan garam 10% tidak memiliki dampak signifikan (P>0,05) terhadap rasa putih telur, kemasiran, tekstur putih telur, dan aroma. Namun, berdampak signifikan (P<0,05) terhadap rasa kuning telur dan warna kuning telur. Dalam hal preferensi, 19 panelis lebih menyukai sampel A dan 16 panelis menyukai sampel B. Secara keseluruhan, proses perebusan dengan larutan garam 10% berpengaruh terhadap kualitas organoleptik, tetapi tidak menunjukkan perbedaan dalam peningkatan level kriteria organoleptik.
Pengaruh Persentase Penggunaan Koagulan Terhadap Tekstur Pada Pembuatan Tahu Kacang Tanah Hasdar, Muhamad; Wadli, Wadli
Journal of Technology and Food Processing (JTFP) Vol. 2 No. 02 (2022): Juli
Publisher : Program Studi Ilmu Teknologi Pangan Universitas Muhadi Setiabudi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46772/jtfp.v2i02.1527

Abstract

Tahu merupakan makanan semi padat yang terbuat dari susu serealia yang mengandung protein tinggi dengan proses pengendapan protein pada titik isoelektrik. Kenyataan ini sangat mencemaskan karena ketergantungan terhadap produk impor meningkat pesat. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian untuk mencari bahan baku non-kedelai sehingga mengurangi ketergantungan impor bahan pangan. Modifikasi yang dapat dilakukan dalam pembuatan tahu adalah penggunaan bahan baku dari non kedelai yaitu kacang tanah yang mengandung protein. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui persentase yang tepat dalam penggunaan koagulan (asam cuka) yang dapat menghasilkan mutu tahu yang baik dan mengetahui karakteristik tahu yang memiliki tekstur kompak dan kenyal seperti pada tahu umumnya. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah dengan tiga perlakuan yaitu 1%, 1,5% dan 2% (v/v) dari volume susu kacang tanah yang kemudian dianalisis menggunakan uji chi square untuk uji organoleptik dan uji F untuk uji tekstur dan kadar air. Data diambil dari 30 panelis perempuan dan 30 panelis laki-laki. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa (1) persentase yang tepat dalam penggunaan koagulan (asam cuka) yang dapat menghasilkan mutu tahu yang baik adalah P2 dengan pemberian asam cuka sebanyak 1,5 % (2) tahu yang memiliki tekstur kompak dan kenyal seperti pada tahu umumnya adalah P3 dengan pemberian asam cuka 2% yang memiliki kekerasan 219 mm/50gram.
LIMBAH UDANG SEBAGAI KALDU BUBUK: ANALISIS KADAR AIR, AKTIVITAS AIR, DAN EVALUASI ORGANOLEPTIK DENGAN METODE PENYANGRAIAN Diah Eka Maulina; Nurwati; Muhamad Hasdar
Journal of Technology and Food Processing (JTFP) Vol. 4 No. 02 (2024): Juli
Publisher : Program Studi Ilmu Teknologi Pangan Universitas Muhadi Setiabudi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46772/jtfp.v4i02.1542

Abstract

Limbah udang (kulit dan kepala) dapat dimanfaatkan untuk membuat kaldu bubuk yang sering digunakan sebagai penambah rasa pada makanan. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah udang dalam pembuatan kaldu bubuk dengan memperhatikan kadar air, aktivitas air, dan aspek organoleptik. Metode penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan berbeda dalam proses pengeringan dan tiga kali pengulangan. Keempat perlakuan tersebut melibatkan variasi waktu penyangraian, yaitu K1 (30 menit), K2 (40 menit), K3 (50 menit), dan K4 (60 menit). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kadar air yang sesuai standar terdapat pada perlakuan K4 (3,93). Aktivitas air (Aw) kaldu bubuk berkisar antara 0,4 hingga 0,52. Dalam uji organoleptik, perlakuan terbaik pada parameter kenampakan adalah K1 (dengan skor 6,48), sedangkan pada parameter aroma, perlakuan terbaik adalah K2 (dengan skor 6,25). Nilai tertinggi pada parameter rasa ditemukan pada perlakuan K3 (dengan skor 6,30). Selain itu, perlakuan K4 memberikan tekstur terbaik (dengan skor 6,87), dan parameter warna terbaik ditemukan pada perlakuan K1 (dengan skor 6,57). Dengan demikian, berbagai waktu penyangraian dapat digunakan untuk menghasilkan kaldu bubuk dengan kualitas yang seimbang dan sesuai dengan preferensi konsumen.
Utilization of Shrimp Waste (Litopenaeus vannamei) as Powdered Broth: Effects of Roasting Duration on Protein Content, Color Changes, and FTIR DIAH EKA MAULINA; Nurwati; Muhamad Hasdar
Bantara Journal of Animal Science Vol. 6 No. 1 (2024): BJAS
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/bjas.v6i1.5410

Abstract

Shrimp waste, such as shells and heads, can still be utilized to create powdered broth commonly used as a flavor enhancer in food. This research is intriguing because shrimp waste can substitute for MSG (monosodium glutamate). This study aims to investigate the impact of the roasting process duration on the protein content and physical properties of powdered broth derived from shrimp heads and shells. The primary treatment in this study involves varying roasting times, divided into four groups: K1 (30 min), K2 (40 min), K3 (50 min), and K4 (60 min). The protein content aligns with the quality requirements for flavor enhancers. Additionally, the L* color value ranges from 65-12-71.33, the a* value ranges from 2.23-5.61, and the b* value ranges from 22.71-25.32. Due to the prolonged drying process, the peaks of amide A, amide B, amide I, amide II, and amide III shift. The opportunity to utilize shrimp waste in the form of shells and heads for powdered broth is wide open for commercialization.
Comprehensive Characterization of Gelatin Films from Goat Skin Incorporating Konjac Glucomannan: Physical, Mechanical, and Molecular Properties Hasdar, Muhamad; Nalinanon, Sitthipong; Kittiphattanabawon, Phanat; Sriket, Chodsana
Indonesian Journal of Science and Technology Vol 9, No 3 (2024): IJOST: December 2024
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/ijost.v9i3.75048

Abstract

This study aimed to comprehensively investigate and characterize the physical, mechanical, and molecular properties of gelatin films made from goat skin incorporated with konjac glucomannan. The study involved three treatment groups, labeled GG/KG1, GG/KG2, and GG/KG3, which included konjac glucomannan at concentrations of 0, 10, and 20% (w/w), respectively. Glycerol at 20% (w/w) was also included as a plasticizer. All samples underwent homogenization and ultrasonic treatment. The addition of konjac glucomannan to the gelatin-based film resulted in changes such as increased thickness (0.033 - 0.093 mm), opacity (0.9910 - 1.0433 mm-1), color L* (92.45 - 92.77), color difference (48.13 - 48.38), swelling (65.53 - 69.47%), and contact angle (86.92 - 127.85o). Conversely, a decrease was observed in water activity (0.521 - 0.463 Aw), moisture content (9.87 - 9.62%), tensile strength (0.0171 - 0.0118 N/mm2), elongation at break (5.91 - 4.52%), young’s modulus (0.0029 - 0.0026 N/mm²), WVTR (118.99 - 116.82 g/m². day), transparency (81.59 - 67.33%), and water resistance (34.47 - 30.53 %). Additionally, the peaks of amides A, B, I, II, and III exhibit both a shift and an increase in intensity, suggesting structural modifications and molecular interactions. The microstructure also indicated the presence of goat skin gelatin and konjac glucomannan cross-linked in the film formation. Therefore, the addition of konjac glucomannan modifies gelatin-based films, enhancing their suitability for food packaging.
KADAR VITAMIN C PADA MANGGA ARUM MANIS YANG DISIMPAN PADA SUHU YANG BERBEDA Hapsari, Anisa Prima Vera; Hasdar, Muhamad; Daryono, Daryono; Purwanti, Yunika
Journal of Food Technology and Agroindustry Vol 6 No 2 (2024): Journal of Food Technology and Agroindustry
Publisher : Journal of Food Technology and Agroindustry dipublikasikan oleh Universitas Wiraraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24929/jfta.v6i2.4010

Abstract

Mango fruit that is consumed daily has several benefits such as increasing the body’s immunity, facilitating digestion, supporting eye health, helping hair and skin health, helping reduce cancerrisk, emphasizing cholesterol levels, and nourishing the heart. Mango post-harvest handling is a critical activity that needs attention before mango fruit reaches consumers. Mango fruit storageis closely related to distribution and marketing activities. This study aims to determine how to store at different temperatures for seven days. This study used the storage temperature treatment of arum manis mango. The treatments used were 5-10oC, 15-20oC, 27-32oC, and 35-40oC. The main parameters were vitamin C levels in each treatment and a decrease in vitamin C levelsduring storage. Storage at a temperature of 5-10oC produces an average vitamin C content of 6.84 ± 0.28 mg/ 100 g. Storage at room temperature (27-32oC) resulted in an average vitamin Ccontent of 3.91 ± 0.44 mg/ 100 g. The vitamin C content of the freshly harvested sweet arum mango fruit was 7.53 ± 0.40 mg/ 100 g. Storage at low temperatures is the best choice tomaintain the quality of vitamin C of arum manis mango.
Garam di Desa Grinting : Peluang Penggunaan Tunnel dan Geomembrane Roni; Hasdar, Muhamad; Umisara, Elinda
IJECS: Indonesian Journal of Empowerment and Community Services Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/ijecs.v5i2.5546

Abstract

Desa Grinting adalah salah satu desa di pesisir utara Kabupaten Brebes yang memiliki potensi garam yang dikelola oleh petambak garam tradisional. Dosen Universitas Muhadi Setiabudi melakukan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) untuk mendukung penerapan teknologi tunnel dan geomembrane di petambak garam. Tujuan utama dari PkM ini adalah memberikan pengetahuan tentang teknologi baru kepada petambak agar dapat meningkatkan pendapatan mereka, terutama bagi petambak garam di Desa Grinting. Teknologi yang diperkenalkan adalah teknologi tunnel dan geomembrane, yang merupakan solusi inovatif untuk meningkatkan produksi garam dengan keunggulan dalam kontrol lingkungan, perlindungan dari cuaca, dan efisiensi biaya. Kegiatan PkM ini menggunakan metode ceramah interaktif, dan peserta diberikan kuesioner yang mencakup aspek reliability, responsiveness, empathy, tangibles, dan assurance. PkM ini juga memberikan penjelasan tentang peluang bisnis yang menjanjikan bagi petambak, seperti produksi garam berkualitas tinggi, efisiensi biaya, dan ekspansi pasar ekspor. Petambak dapat melakukan diversifikasi produk, bermitra dengan pemerintah, mengembangkan agrowisata, dan berkolaborasi dengan industri. Para petambak menilai kegiatan PkM ini memberikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan mereka, serta mekanisme pelaksanaan program yang terorganisir dengan baik. Mereka juga sangat puas dengan ketepatan waktu dan penjadwalan kegiatan PkM, yang mencerminkan tingkat responsivitas program yang memadai. Secara umum, hampir tidak ada penilaian negatif dari para petambak garam. Kegiatan PkM ini mendapat respon positif dan diharapkan dapat berlanjut pada masa yang akan datang untuk mendukung ekonomi petambak garam di Desa Grinting.
Contributing Factors to Quail Farming Failures in Brebes and Potential Mitigation Strategies Roni; Hasdar, Muhamad; sholihah, Amelia
Bantara Journal of Animal Science Vol. 6 No. 2 (2024): BJAS
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/bjas.v6i2.5672

Abstract

This study aims to identify the determinant factors leading to failure and to explore potential solutions for small-scale quail farmers in Brebes Regency. The research employs a quantitative approach, distributing questionnaires directly to 59 quail farmers in the Brebes region, including both active and inactive participants in quail farming. The questionnaire instrument is designed comprehensively to identify various factors contributing to failure in quail farming enterprises. The survey indicates that quail farmers face several major challenges, including high feed costs, low egg prices, and high quail mortality due to disease. All farmers also experience difficulties in marketing, limited capital, and threats from natural disasters. Lack of knowledge and poor farm management are additional issues, while competition with large-scale farmers makes it difficult for small-scale farmers to survive. Value-added products are considered highly profitable by all respondents. quail farmers in Brebes express a significant need for and strong support of government subsidies for feed costs, marketing assistance, training programs provided by veterinary departments, and the reinforcement of farmer organizations. Additionally, they concur that the adoption of advanced technologies, the enhancement of consumer awareness, the development of value-added products, and the expansion into new markets will contribute to greater efficiency and profitability within their operations.
Tinjauan Produksi Gelatin: Sumber, Bahan Baku, Pretreatment, dan Teknik Ekstraksi Lanjutan DIAH EKA MAULINA; Putri Ismayanti, Amanda; Suci Ana, Sri; Hasdar, Muhamad
Jurnal Agroindustri Pangan Vol 3 No 3 (2024): Jurnal Agroindustri Pangan
Publisher : PPPM POLTESA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47767/agroindustri.v3i3.753

Abstract

Gelatin adalah protein yang dihasilkan dari proses hidrolisis kolagen, merupakan biomaterial penting dengan berbagai aplikasi industri. Kolagen, protein struktural utama pada jaringan ikat hewan, diperoleh dari kulit, tulang, dan jaringan ikat. Kemampuan gelatin untuk menyerap air 5-10 kali beratnya dan membentuk gel yang dapat dilelehkan kembali membuatnya ideal untuk berbagai aplikasi. Struktur molekul gelatin yang kompleks memberikannya karakteristik unik seperti kekuatan dan stabilitas, berasal dari asam amino prolin atau hidroksiprolin, dan fleksibilitas dari glisin. Kombinasi ini memungkinkan gelatin untuk membentuk gel yang kuat dan elastis, ideal untuk berbagai aplikasi. Secara tradisional, gelatin diperoleh dari dua sumber utama: gelatin sapi dan gelatin babi dengan metode asam (tipe A) atau metode alkali (tipe B). Namun, saat ini, kulit dan tulang dari berbagai hewan seperti kambing, kerbau, domba, ayam, dan ikan juga menjadi alternatif sumber bahan baku gelatin. Bagian dermis kulit sering dipilih karena kandungan kolagennya yang tinggi, sementara tulang rawan, tulang sumsum, dan tulang kompak merupakan sumber kolagen yang baik untuk produksi gelatin. Sebelum proses ekstraksi, bahan baku harus melalui pretreatment. Pretreatment biasanya melibatkan penggunaan bahan kimia seperti asam, alkali, atau enzim untuk mempersiapkan bahan baku sehingga gelatin dapat diekstraksi secara efisien. Beberapa teknologi modern yang digunakan dalam ekstraksi gelatin termasuk metode Ultrasound-Assisted Extraction (UAE), Subcritical Water Extraction (SWE), High-Pressure Processing (HPP), dan Microwave-Assisted Extraction (MAE). Teknologi seperti UAE dan MAE telah terbukti dapat meningkatkan hasil ekstraksi dan menjaga kualitas gelatin dengan lebih baik, sekaligus mengurangi risiko degradasi termal. Meskipun metode konvensional masih sering digunakan karena biaya operasional yang lebih rendah dan kemudahan dalam produksi skala besar, metode modern menawarkan beberapa keunggulan. Keunggulan ini termasuk ramah lingkungan dan kualitas fungsional gelatin lebih baik. Oleh karena itu, metode modern menjadi alternatif menarik untuk dipertimbangkan dalam produksi gelatin, terutama untuk aplikasi yang membutuhkan kualitas gelatin yang lebih tinggi.