Ali Soekirno
Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Published : 20 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

KONSEP EKOLOGI-TEKNIK PADA PERANCANGAN RESORT DI PANTAI SENDANG BIRU MALANG Alfa Septy Kristyarini; Subhan Ramdlani; Ali Soekirno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.145 KB)

Abstract

Pantai Sendang Biru ditetapkan oleh pemerintah sebagai kawasan pariwisatadikarenakan potensi alamnya. Hal ini dapat dilihat dari kondisi topografinya berupakawasan perbukitan, pegunungan, hutan, pantai berpasir putih. Pantai Sendang Biruberada dalam satu kawasan dengan Pelabuhan Perikanan Pondokdadap dan PulauSempu yang terkenal dengan panorama alam yang menarik. Pengembangan danpendayagunaan potensi yang ada belum optimal, hal ini terlihat dari kurangterpenuhinya fasilitas akomodasi bagi wisatawan. Selain itu kegiatan yang ada di pantaidan pelabuhan mengakibatkan pencemaran lingkungan. Hal tersebut menjadi salahsatu penyebab naik turunnya jumlah wisatawan. Oleh karena itu diperlukanpemecahan menggunakan konsep ekologi teknik berkelanjutan. Penelitian inidilakukan melalui survei lokasi untuk mendapatkan data fisik maupun non fisik tapak,sedangkan studi komparatif digunakan sebagai referensi terhadap perancangan.Penelitian mengenai parameter ekologi teknik ini didasarkan pada variabel analisisyang dijadikan dasar dalam konsep perancangan resort di Pantai Sendang Biru Malang.Konsep ekologi teknik diwujudkan melalui organisasi massa bangunan, sistempenghawaan, sistem pencahayaan, pemilihan material, dan sistem sanitasi padaperancangan resort di Pantai Sendang Biru Malang beserta aspek pelengkap yangmempengaruhi didalamnya seperti pemilihan dan peletakan elemen vegetasi. Darikeseluruhan aspek tersebut dapat saling mempengaruhi dan terkait satu sama lainuntuk menghasilkan rancangan resort dengan konsep ekologi-teknikKata kunci: resort, ekologi-teknik, pariwisata
Apartemen dan Mall di Kota Surabaya Perancangan dengan Pendekatan Tekno Ekonomi Bangunan Arda Ariyo Kuncoro; Tito Haripradianto; Ali Soekirno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 4 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Surabaya merupakan kota terbesar di Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan data dari Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya (2009) tingkat urbanisasi mencapai 2,66% dan diperkirakan akan semakin bertambah hingga tahun 2029 sekitar 3.9 juta jiwa. Laju pertumbuhan masyarakat pendatang tercatat 5,5% per tahun yang tidak sebanding dengan pertumbuhan penduduk asli Kota Surabaya yang hanya 1,89% per tahun. Sehingga pada tahun 2015 diperkirakan jumlah penduduk Kota Surabaya akan melonjak menjadi 2.9 juta jiwa. Masyarakat pendatang semakin meningkat, sehingga perlu adanya penyediaan fasilitas kota, terutama pada fasilitas hunian vertikal, dengan memanfaatkan lahan kosong yang tidak produktif. Salah satunya di kawasan Surabaya Timur yang saat ini sudah mulai banyak dibangun apartemen dan mall, termasuk di Kecamatan Mulyorejo juga akan dialih fungsikan sebagai kawasan perdagangan dan jasa, serta dekat dengan kawasan industri, dan institusi pendidikan. Sehingga perancangan bangunan investasi apartemen dan mall dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan tekno ekonomi bangunan.Kata kunci: apartemen, mall, Mulyorejo, Surabaya, investasi
Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Khusus Tunanetra melalui Pendekatan Orientasi dan Mobilitas di Malang Adif Lazuardy Firdiansyah; Abraham Mohammad Ridjal; Ali Soekirno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan fisik pada siswa tunanetra akan menghambat tunanetra dalammenjalani kehidupan sehari – hari. Gangguan yang dimiliki siswa tunanetra dalamaspek penglihatan akan menyebabkan siswa tunanetra mempunyai keterbatasanmengenai orientasi dan mobilitas. Orientasi dan mobilitas menjadi faktor utamadalam menjalani kehidupan sehari – hari secara mandiri karena berkaitan dengankemampuan bergerak siswa tunanetra dari satu tempat ke tempat lain.Berdasarkan Badan Pusat Statistika Jawa Timur menjelaskan bahwa wilayahMalang memiliki presentase penyandang tunanetra yang lebih tinggi daripadapenyandang tuna lainnya, yaitu sebesar 874 orang. Sedangkan diantara jumlahpenyandang tunanetra tersebut, angka yang paling tinggi berdasarkan umurnyayaitu anak tunanetra yang berusia 12 – 15 tahun, yaitu sebesar 24.45% (214 anaktunanetra). Oleh karena itu, berdasarkan data tersebut, penyandang tunanetramerupakan aspek yang cukup berpotensi untuk dikembangkan. Sebagai tempatbelajar siswa, perancangan sekolah tunanetra berperan sebagai media latihorientasi dan mobilitas. Perancangan sekolah tunanetra ini didasarkan padaobservasi sederhana di Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa YPAB Surabaya,analisis tunanetra pada masing – masing klasifikasi dan analisis orientasi danmobilitas, sehingga diperoleh kriteria desain untuk perancangan seklah tunanetra.Kata Kunci : Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa, Tunanetra, Orientasi, Mobilitas
PENERAPAN STRUKTUR SPACE FRAME PADA HANGGAR PEMELIHARAAN PESAWAT DI BANDARA SAMARINDA BARU Agung Hariyanto; Beta Suryokusumo; Ali Soekirno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (927.171 KB)

Abstract

Pada Bandar Udara Samarinda Baru direncanakan terdapat hanggar pesawat yang mampu melakukan perawatan preventif dan dapat menampung pesawat jenis Boeing 737-300 dan ATR 72. Untuk menampung pesawat Boeing 737 dan ATR 72 bentang hanggar minimum yang dibutuhkan adalah 60 meter. Mengingat bentang bangunan hanggar yang sangat lebar, maka dibutuhkan suatu sistem struktur bentang lebar yang dapat mewujudkan berdiri bangunan hanggar tersebut. Sistem struktur yang dipilih adalah sistem struktur space frame (rangka ruang). Kajian ini bertujuan untuk merancang hanggar dengan melakukan penerapan sistem struktur space frame yang sesuai dengan fungsi bangunan, penerapan sistem struktur rangka ruang dilakukan khususnya pada bagian atap bangunan. Dalam pemilihan sistem struktur bentang lebar pada suatu rancangan dapat menggunakan kriteria-kriteria seperti kemampuan pelayanan dan keamanan (serviceability), efisiensi, dan konstruksi (Schodek, 1998). Kajian ini dilakukan dengan menggunakan metoda programatik, yaitu metode pembahasan secara sistematis, rasional, dan analitik dengan menggambarkan, mendiagramkan, serta memvisualisasikan tentang objek kajian berdasarkan literatur dan standar yang ada. Dengan dilakukannya kajian penerapan sistem struktur rangka ruang pada bangunan hanggar pesawat, maka diharapkan akan didapatkan rancangan hanggar pesawat yang sesuai dengan kapasitas dan fungsi yang akan diwadahi serta diketahui penerapan sistem struktur space frame yang sesuai untuk fasilitas hanggar perawatan pesawat di Bandara Samarinda Baru, khususnya pada bagian atap bangunan.Kata kunci: Bandara Samarinda Baru, hanggar pesawat, sistem struktur rangka ruang
Penerapan Kinetic Façade dengan Pendekatan Biomimicry pada Pusat Robotika Surabaya Kanoasa Akbar; Agung Murti Nugroho; Ali Soekirno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1166.478 KB)

Abstract

Perkembangan dunia robotik di Indonesia memiliki rekam jejak yang baik. Sejarah robotika di Indonesia dimulai sejak tahun 80an, pendayagunaan dan pemanfaatan permesinan otomatis telah dilakukan terutama melalui sejumlah industri strategis. Dalam Semiloka Perkembangan Robot di Indonesia pada tahun 2004 dirumuskan bahwa indikator baru dalam perekonomian berkelanjutan yang menyebutkan salah satu faktor investasi adalah "pengetahuan", yaitu : pendidikan tinggi, kegiatan litbang, dan ICT (informasi, komunikasi dan telekomunikasi). Pusat robotika ini akan menjadi tempat untuk penelitian seputar robotika dan terdapat fasilitas seperti laboratorium, akan ada beberapa jenis ruang eksperimentasi, studio komunal, laboratorium, dan ruang pengajaran untuk lokakarya dan kegiatan masyarakat. Fasad yang merupakan bagian terluar bangunan tidak hanya berfungsi sebagai identitas saja tetapi juga dapat mengakomodasi keadaan atau kebutuhan dalam bangunan, seperti halnya kulit yaitu sebagai perantara lansung antara kondisi alam luar dengan dalam bangunan. Dengan kinetic facade membuat fasad dapat “bernafas” atau beradaptasi terhadap kondisi luar dan mengakomodasi kebutuhan dalam bangunan. Dalam hal pengkajian biomimicry dilakukan pertama kali untuk mendapatkan acuan dan parameter dalam merancang kinetik façade, setelah itu pengkajian kinetic façade dilakukan meliputi komponen panel dan juga sistem.Kata kunci: kinetic facade, biomimicry, pusat robotika
Gedung Pengolahan Ikan Bandeng di Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik M. Bachrul Alam Al A.; Edi Hari Purwono; Ali Soekirno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 4 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Potensi sumber daya alam ikan Bandeng di kabupaten Gresik yang melimpah saat ini, belum terkelola secara optimal. Keberadaan usaha pengolahan hasil petani ikan Bandeng masih terbatas, pada industri kecil untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal. Perancangan gedung pengolahan ikan Bandeng di Kecamatan Manyar ini diharapkan mampu menampung hasil panen para petani tambak di Kabupaten Gresik, juga dapat mengatasi masalah perekonomian masyarakatnya. Pemilihan letak bangunan industri di Kecamatan Manyar dimaksudkan untuk mendekatkan proses produksi dengan bahan baku sehingga dapat menekan biaya produksi. Gedung pengolahan ikan Bandeng di Kecamatan Manyar dirancang sesuai standar industri pangan yang memperhatikan tingkat kebersihan dan keamanan. Standar tersebut berfungsi untuk menjamin keamanan hasil produk dari kontaminasi. Sehingga nantinya hasil produksi bisa memiliki nilai harga jual yang tinggi serta aman untuk dikonsumsi.Kata kunci: bangunan industri, ikan bandeng, Manyar, Gresik
Rumah Sakit Khusus Jantung di Kota Batu Grand Noble Mahenindra; Tito Haripradianto; Ali Soekirno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 4 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit Jantung menjadi salah satu pembunuh terbesar dalam beberapa tahun terakhir baik di Indonesia maupun di dunia. Khususnya di daerah Malang Raya, lebih dari 34% dari jumlah pasien yang berobat di Rumah Sakit se-Malang Raya merupakan penderita penyakit jantung pada tahun 2011. Dalam menanggapi hal ini, Pemerintah Kota Batu berencana membangun Rumah Sakit Khusus Jantung di Kota Batu, tepatnya di Tlekung, daerah Jalan Hassanudin. Rumah Sakit Khusus Jantung di Kota Batu, dirancang berdasarkan standar operasional pelayanan penyakit jantung, dimulai dari tata letak antar intalasi, sampai ke waktu tempuh yang dijadikan acuan dalam merencanakan alur sirkulasi pada rumah sakit khusus jantung. Sirkulasi menjadi penting dalam perancangan rumah sakit khusus jantung, karena kebutuhan akan kecepatan penanganan pada penyakit jantung menjadi hal utama yang harus di perhatikan. Oleh karena itu, sirkulasi menjadi poin utama dalam perancangan rumah sakit khusus jantung di Kota Batu.Kata kunci: penyakit jantung, rumah sakit khusus jantung, Kota Batu
Konsep Arsitektur Ramah Lingkungan pada Fasilitas Pelelangan Ikan di PPN Pondokdadap Sendangbiru Agus Sulistio; Heru Sufianto; Ali Soekirno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fasilitas pelelangan ikan di pelabuhan perikanan Sendangbiru berada di KecamatanSumbermajing Wetan Kabupaten Malang yang berhadapan langsung dengan SamuderaHindia. Potensi perikanan di perairan ini belum termanfaatkan secara optimal. Denganadanya potensi tersebut, pemerintah meningkatkan status pelabuhan perikananSendangbiru dari pelabuhan perikanan pantai menjadi pelabuhan perikanan nusantara.Aktivitas di pelabuhan perikanan berdampak pada lingkungan pelabuhan, berupapencemaran udara, air, konsumsi energi dan kenyamanan beraktivitas di dalamnya,sehingga dibutuhkan konsep arsitektur ramah lingkungan dalam perancangan pelabuhanperikanan khususnya fasilitas pelelangan ikan. Konsep arsitektur ramah lingkungan yangada di Indonesia telah dikembangkan oleh Lembaga Green Building Council Indonesia(GBCI). Oleh karena itu, perancangan fasilitas pelelangan ikan di pelabuhan perikanannusantara Sendangbiru didasarkan pada kriteria green building dari GBCI. Penerapankriteria green building dari GBCI meliputi aspek tata guna lahan, efisiensi dan konservasienergi, konservasi air, sumber siklus material, kesehatan dan kenyamanan ruang dalam,dan manajemen lingkungan bangunan. Hasil rancangan fasilitas pelelangan ikan dengankonsep arsitektur ramah lingkungan telah memenuhi kriteria GBCI setidaknya 43 poindari 77 poin untuk capaian peringkat bronze.Kata Kunci: Tempat pelelangan ikan, arsitektur ramah lingkungan, GBCI
PERANCANGAN RUANG LUAR RSO PROF. DR. R. SOEHARSO SURAKARTA DENGAN KONSEP GREEN HOSPITAL Samuel Bawole; Tito Haripradianto; Ali Soekirno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1217.384 KB)

Abstract

“Pada tahun 2020 semua rumah sakit di Indonesia harus sudah menerapkan Green Hospital”. Demikian disampaikan dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS, Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan pada Seminar Green Hospital tanggal 27 September 2012 di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta. Green Hospital merupakan rumah sakit yang berwawasan lingkungan dan jawaban atas tuntutan kebutuhan pelayanan dari pelanggan rumah sakit yang telah bergeser ke arah pelayanan paripurna serta berbasis kenyamanan dan keamanan lingkungan rumah sakit. Dalam rangka mendukung kebijakan tersebut, maka pihak Rumah Sakit Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta memiliki gagasan untuk menyelenggarakan perancangan Desain Green Hospital Rumah Sakit Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta dalam kesatuan desain yang utuh khususnya pada perancangan ruang luar dalam kawasan rumah sakit, yang berpotensi untuk dikembangkan melalui penerapan green hospital. Dengan penerapan green hospital pada pengembangan masterplan RSO Prof. DR. R. Soeharso Surakarta diharapkan nantinya akan menjadi ciri khas sekaligus model pembangunan Green Hospital yang berkelanjutan untuk industri rumah sakit.Kata kunci: green hospital, pengembangan masterplan, perancangan ruang luar
Gedung Kuliah Fakultas Teknik Kampus II UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Berkonsep Hemat Energi Nurul Hidayati; Heru Sufianto; Ali Soekirno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang dalam rencana strategisnya tahun 2030 akan melakukan pengembangan bidang studi dan infrastruktur dengan membuka kampus II yang berlokasi di kecamatan Junrejo, Kota Batu. Salah satunya adalah pembangunan Fakultas Teknik (FT) dengan fokus rancangan pada Jurusan Arsitektur. Kampus II UIN Maliki mengusung konsep “ Green, Health, and Smart Campus”. Konsep green building di Indonesia, telah dikembangkan oleh lembaga Green Building Council Indonesia (GBCI) dalam program sertifikasi green builing. Oleh karena itu perancangan gedung kuliah Fakultas Teknik kampus II UIN Maliki didasarkan pada kriteria green building dari GBCI sebagai upaya hemat energi dan perwujudan konsep kampus. Perancangan gedung kuliah kampus II UIN Maliki disesuaikan dengan rancangan masterplan yang sudah tersusun sebelumnya. Rancangan masterplan terutama untuk area FT dikembangkan dengan pengolahan tapak dan ruang dalam bangunan dengan pertimbangan utama pada aspek hemat energi. Penerapan kriteria green building dari GBCI meliputi aspek tata guna lahan, efisiensi dan konservasi energi, konservasi air, sumber siklus material, kesehatan dan kenyamanan ruang dalam, dan manajemen lingkungan bangunan. Hasil rancangan gedung kuliah Fakultas Teknik dengan konsep hemat energi telah memenuhi kriteria GBCI setidaknya 24 poin untuk capaian peringkat terendah.Kata kunci: Fakultas Teknik jurusan Arsitektur, hemat energi, green building