Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Porositas dan Permeabilitas Satuan Batupasir Karbonatan Kerek Sebagai Reservoir Daerah Slendro, Kecamatan Gesi, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah Zam Abu Bakar; Hill Gendoet Hartono; Rizqi Muhammad Mahbub
Retii Vol 18 No 1 (2023): Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-18 (Edisi Penelitian)
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan sumber daya alam pada Desa Slendro, Kecamatan Gesi, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah cukup berpotensi sebagai reservoir. Untuk menentukan kualitasnya perlu dilakukan penelitian data lapangan berupa sampel batuan untuk menentukan nilai porositas dan permeabilitas. Analisis kualitas porositas dan permeabilitas batuan digunakan dengan melakukan uji sifat fisik batuan menggunakan metode analisis inti batuan yang meliputi penentuan nilai permeabilitas absolut dengan menggunakan Gas Permeameter dan mengetahui besarnya porositas berdasarkan volume bulk batuan dan volume pori batuan, dengan metode Penimbangan dan hasil perhitungan porositas dan permeabilitas. Hasil perhitungan porositas 18,91% sampai 30,409% dengan nilai rata - rata 24,66% (sangat baik), permeabilitas berdasarkan metode gas permeameter didapatkan nilai kisaran permeabilitas 238,625 (mD) sampai 322,533 (mD) dengan nilai rata – rata 280,579 (mD) (sangat baik). Dengan hasil porositas baik dan permeabilitas baik sekali yang berkaitan dengan batuan reservoir, batupasir karbonatan Kerek berpotensi sebagai batuan reservoir yang sangat baik
KORELASI SEBARAN GEMPABUMI DAN DENSITAS KELURUSAN PADA KEAMANAN CALON TAPAK PLTN BOJONEGARA, BANTEN Mahbub, Rizqi Muhammad; Hartono, Hill Gendoet
KURVATEK Vol 4 No 2 (2019): November 2019
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33579/krvtk.v4i2.1583

Abstract

Pembangkit listrik tenaga nuklir sangat dibutuhkan di Indonesia mengingat listrik dari batubara sangat merusak lingkungan. Lokasi tapak PLTN Bojonegara di Banten masih dalam perencanaan didukung dari aspek tektonik. Di Busur muka Selat Sunda yang merupakan daerah transisi antara pulau Sumatera dan Jawa yang hingga tahun 2019 mengalami gempa tektonik di bagian subduksi antara Lempeng Indo Australia di bawah Lempeng Eurasia. Pergerakan lempeng aktif menghasilkan gaya kompresi sehingga mengakibatkan zona hancuran sangat luas yang akan berdampak bukan hanya daerah pesisir yang terkena bencana gempa namun daerah yang berdekatan dengan struktur sesar aktif. Objek penelitian yaitu mendeteksi zona lemah dengan metode densitas kelurusan dari data digital elevasi, landsat 8, data gravitasi, serta data focal mechanism. Pertama lakukan interpretasi kelurusan dari digital elevasi landsat 8, yang kemudian menggunakan data struktur geologi Kenozoikum dari peta geologi regional di wilayah Banten. Kedua interpretasi zona lemah dari kriteria jenis batuan berdasarkan peta geologi regional yang dihubungkan dengan densitas kelurusan. Ketiga deteksi kelurusan yang membentuk pola sama dengan pergerakan sesar dari data focal mechanism. Jumlah gempa Magnitudo 2 – 9 yang terdeteksi di perairan Selat Sunda hingga daratan Banten diakibatkan oleh karakteristik gempa mekanisme sesar geser di kedalaman dangkal (D< 20 km), adapun mekanisme sesar geser ini reaktivasi sesar di permukaan di tenggara dan timurlaut Serang, Banten. Panjang kelurusan dan saling koneksi difokuskan dengan grid 500m x 500m berhubungan dengan data densitas dan focal mechanism. Daerah dengan densitas kelurusan tinggi, distribusi gempa dengan mekanisme pergerakan sesar dan arah gaya pembentuk kelurusan tektonik sama dapat mempengaruhi kelayakan lokasi dalam pengembangan PLTN di daerah tersebut.
PENERAPAN SANDI STRATIGRAFI INDONESIA DALAM PEMETAAN GEOLOGI GUNUNG API DI KULONPROGO Hartono, Hill Gendoet; Sudradjat, Adjat
Bulletin of Scientific Contribution Vol 23, No 1 (2025): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v23i1.59526

Abstract

Dalam sandiStratigrafi Indonesia (SSI) 1973 yang dimutakhirkan tahun 1996 dan tahun 2023, dicantumkan mengenai konsep stratigrafi gunung api. Konsep ini memformulasikan kaidah stratigrafi dalam pemetaan batuan gunung api yang mencakup satuan batuan sebagai satuan paling kecil, gumuk, khuluk, bregada dan manggala sebagai satuan stratigrafi dengan hierarki yang semakin besar. Konsep ini dicoba diaplikasikan dalam pemetaan geologi gunung api Prakuarter di Pegunungan Kulonprogo. Hasilnya menunjukkan bahwa konsep ini dapat mengurai lebih jauh produk letusan yang selama ini dipetakan sebagai satu unit batuan. Pada peta geologi ditampilkan adanya tiga tubuh batolit yaitu Ijo, Gajah dan Menoreh[1]. Lokasi ketiganya berderet dari baratdaya ke timurlaut. Berdasarkan peta tersebut, maka diinterpretasikan bahwa ketiga tubuh batolit merupakan pusat letusan, sehingga disimpulkan bahwa terdapat tiga tubuh gunung api. Dalam konsep stratigrafi. maka ketiga tubuh gunung api tersebut memiliki status khuluk. Akan tetapi penelitian lebih lanjut [2,3] mengungkapkan adanya beberapa konduit, sehingga disimpulkan bahwa pada satu tubuh batolit terdapat beberapa pusat letusan. Dengan demikian maka statusnya berubah menjadi bregada. Berdasarkan hal tersebut maka Pegunungan Kulonprogo merupakan suatu manggala yang terdiri atas Bregada Gajah, Bregada Ijo dan Bregasa Menoreh.Bregada tersebut masing-masing diurai lebih lanjut menjadi Khuluk Bujel, Khuluk Pencu, Khuluk Ijo, Khuluk Kukusan dan Khuluk Gupit. Dikombinasikan dengan analisis facies maka dapat dilakukan deliniasi yang memisahkan produk gunung api dalam beberapa satuan batuan berdasarkan sumber, deskripsi dan genesis. 
Geologi dan Kajian Fasies Gunung Api Purba Soropati Berdasarkan Keberadaan Lava Basal Daerah Gedong dan Sekitarnya, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah Rizqi, Al Hussein Flowers; Maming, Haryadi; Hartono, Hill Gendoet
Retii 2024: Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-19 (Edisi Penelitian)
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study area is located on the flank of Mount Merbabu and south of the Soropati Band. Mount Soropati is thought to be active in the Quaternary, and was formed at the same time as two other nearby volcanoes, Old Merbabu and Ungaran. This study aims to identify basalt lavas on Mount Soropati that spread to the medial facies. The research method used is field observation supported by DEM map analysis and petrographic analysis. On the appearance of the DEM map, Mount Soropati has a morphology that shows the formation of a caldera and a visible depth that is likely the center of volcanic activity on Mount Soropati in the past. Mount Soropati is a Bregada volcano that gathers one Khuluk, Khuluk Telomoyo and one gumuk, Gumuk Gedong. Mount Soropati is composed of basalt lava flows and has historical records of activities that show that Mount Soropati is a polygenetic volcano. Mount Soropati has an effusive type, which is reflected in the Ca-rich plagioclase content, and an explosive type, which can be seen from the former caldera. In volcanic development, Mount Soropati is in the advanced erosional phase. The presence of basalt lava along ± 2.4 km and a considerable distance from the eruption center may indicate a medial facies.
Eksplorasi Geokimia untuk Menentukan Daerah Prospek Mineralisasi Emas Tipe Urat Epitermal: Studi Kasus di Daerah Tompaso, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara Idrus, Arifudin; Fadlin; Hartono, Hill Gendoet
EKSPLORIUM Vol. 42 No. 1 (2021): MEI 2021
Publisher : BRIN Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/eksplorium.2021.42.1.6230

Abstract

North Sulawesi, including the Tompaso region, South Minahasa district, is a part of the magmatic belts hosting potential hydrothermal ore deposits. This study is aimed to determine the prospect area for epithermal vein-type gold mineralization, based on geochemical exploration including rock and BLEG (Bulk Leach Extractable Gold) stream sediment geochemistry. Mapping of geology, alteration and vein direction, sampling (ore/rock and stream sediment), and geochemical analysis were performed. Gold in rock samples was analyzed by FA/AAS, and other elements were detected by AAS, while BLEG samples were analyzed using the cyanide leach and AAS methods. The study area is occupied by andesitic lava and diorite, which are suffered by silica-clay, argillic and propylitic alteration. An integration of geological mapping, alteration zones and vein direction with lithogeochemical survey enables to determine the prospect areas, which consist of Asam and Polangkok prospects. At the Asam prospect, the ore sample contains gold up to 0.03 ppm, where the gold anomaly in BLEG samples show a threshold of 13.52 ppb Au. At the Polangkok prospect, two NW-SE trending veins (P1 and P2 Veins) were discovered with a width of up to 5 m. Vein P1 and P2 contains of up to 0.31 and 0.16 ppm Au, respectively. Mineralization at the Polangkok prospect coincides with Ag anomaly of BLEG samples with a threshold of 67.18 ppb. The two prospect areas are recommended for follow-up exploration.
Identifikasi Batuan Gunung Api Purba di Pegunungan Selatan Yogyakarta Bagian Barat Berdasarkan Pengukuran Geolistrik Winarti, Winarti; Hartono, Hill Gendoet
EKSPLORIUM Vol. 36 No. 1 (2015): MEI 2015
Publisher : BRIN Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/eksplorium.2015.36.1.2771

Abstract

The study area is located between western part of Yogyakarta plains and Southern Mountains. The morphology and lithology along the Berbah-Imogiri show the existence of an ancient volcano. This is proven by outcrop of volcanic rock like lava, breccia and tuff. The aim of this study is to identify the existence of ancient volcanic rocks along Berbah-Imogiri based on geoelectrical data. The method used to perform measurements at four locations geoelectrical mapping with dipole-dipole configuration a long stretch of track for every 500 meters. Geoelectrical measurement results showed on track 1 in Source Kulon-Kalitirto, District Berbah, interpretedas volcanic rocks such as basalt lava and tuff. Tracks 2 in Pilang-Srimulyo, District Piyungan, iterpreted as volcanic rocks of scoria breccia. Tracks 3 in Ngeblak-Bawuran, District Pleret, interpreted as lava and tuff. And track 4 on Guyangan-Wonolelo, District Pleret interpreted as form of tuff and lava. Volcanic rocks are generally having a high resistivity value > 300 Ωm. The content of water or mineralization tends to reduce the resistivity value of resistant volcanic rock.
Geologi, Genesis dan Karakteristik Endapan Laterit Bauksit di Daerah Melugai, Kalimantan Barat Muhammad Hery Setiyawan; Rosana, Mega Fatimah; Hutabarat, Johanes; Hartono, Hill Gendoet
Retii 2025: Prosiding Seminar Nasional ReTII ke-20 (Edisi Penelitian)
Publisher : Institut Teknologi Nasional Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Endapan bauksit laterit yang ditemukan di Desa Melugai, Kalimantan Barat merupakan bagian dari zona laterit prospektif. Penelitian ini bertujuan mengkaji kondisi geologi dan genesis endapan yang mempengaruhi karakteristik bauksit. Metode yang digunakan meliputi pemetaan geologi, analisis petrografi, dan uji laboratorium (XRD dan XRF). Daerah Melugai tersusun oleh batuan Malihan Pinoh dengan unit metatuf dan metaandesit yang berumur Trias. Secara geomorfologi, wilayah ini berupa perbukitan bergelombang landai hingga miring dengan pola aliran dendritik. Pembentukan bauksit laterit dikendalikan oleh jenis batuan induk, waktu, iklim tropis, dan geomorfologi landai, dimana proses lateritisasi mengintensifkan pelapukan dan pelindian unsur larut (Na, K, Ca) sehingga meninggalkan residu kaya aluminium hidroksida (Al(OH)₃) yang mengeras menjadi bauksit. Endapan bauksit di Melugai terbagi menjadi dua tipe berdasarkan batuan induknya. Hasil analisis XRD menunjukkan mineral dominan berupa gibbsite, hematite, geothite, kaolinite, quartz, dan sodalite. Analisis XRF menyimpulkan perbedaan kualitas yang signifikan. Bauksit dari batuan induk metatuf memiliki kadar Al₂O₃ rata-rata 47,53% (kualitas medium grade). Sedangkan bauksit dari batuan induk metaandesit memiliki kadar Al₂O₃ rata-rata 32,25% (kualitas low grade). Disimpulkan bahwa bauksit yang bersumber dari batuan induk metatuf memiliki kualitas yang lebih baik dan tingkat laterisasi yang lebih kuat.