Dwi Hidayah
Faculty of Medicine, Sebelas Maret University

Published : 11 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Hubungan Pola Konsumsi Makanan Dengan Status Gizi Siswa Di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (Mis) Pontianak Hidayah, Dwi; Hastuti, Lidia; Wardani, Nuniek Setyo
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Vol 8 No 1 (2017): JK2
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Menciptakan sumber daya manusia yang bermutu, perlu ditata dengan memperhatikan kesehatan anak. Salah satu unsur penting kesehatan adalah masalah gizi. Status gizi dipengaruhi oleh pola konsumsi makan dan penyakit infeksi. Anak usia sekolah memiliki masa pertumbuhan dan perkembangan fisik untuk itu diperlukan status gizi yang optimal. Tujuan : Mengetahui hubungan pola konsumsi makanan dengan status gizi siswa di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Pontianak. Metode penelitian : Jenis penelitian bersifat analitik dengan menggunakan deskriptif analitik dengan pedekatan Cross Sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling dengan jumlah sampel 42 orang. Analisa data bivariat menggunakan Uji Chi Square. Hasil Penelitian : Hasil dari penelitian dari 42 responden menunjukkan bahwa sebagian besar sampel memiliki pola konsumsi makanan baik sebanyak 25 orang (59,5%), anak yang pola konsumsi makanan kurang baik sebanyak  17 orang (40,5%) dan sebagian besar mempunyai gizi baik sebanyak sebanyak 37 orang (85,7%) dan anak yang berstatus gizi kurang baik sebanyak 6 orang (14,3%). Data yang diperoleh di uji statistik, didapatkan hasil bahwa nilai uji p <? (0,202 > 0,05 Kesimpulan : Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan pola konsumsi makanan dengan status gizi di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Pontianak.
Comparison Neutrophil to Lymphocyte Count Ratio with C-Reactive Protein as a Predictor for Neonatal Sepsis Nugroho, Irfan Dzakir; Hidayah, Dwi; Salimo, Harsono
Indonesian Journal of Medicine Vol. 6 No. 2 (2021)
Publisher : Masters Program in Public Health, Sebelas Maret University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.831 KB) | DOI: 10.26911/theijmed.2021.6.2.384

Abstract

Background: Accurate early detection of bacteriemia plays an important role in the treatment and prognosis of infected neonates, but is constrained by the limitations of spe­cific sepsis markers for detecting bacteriemia. NLCR or neutrophil to lymphocyte count ratio in adult population shows a more sen­sitive parameter in predicting infection and has the advantage of being economical and widely available. The role of NLCR in the neonatal population has not been widely studied. The purpose of this study was to analyze NLCR versus CRP as a predictor of neonatal sepsis.Subjects and Method: This study take ana­lytic observatinal with diagnostic test approach to subject with sepsis risk factor and neonatal sepsis at dr. Moewardi hospital from April until May 2017. Characteristics data as gestational age, gender, birth weight, IT ratio, leucocyte count, neutrophil and lym­phocyte count, NLCR, CRP and blood culture. Data presented descriptively and statistical analysis was performed.Results: No significant correlation between subject’s characteristics and neonatal sepsis. NLCR with cutoff point for 2.22 has sensi­ti­vity, specificity, positive and negative pre­dictive value for 87.5%, 75%, 70% and 90%, respec­ti­vely. CRP with cutoff point for 0.25 has sensi­tivity, specificity, positive and nega­tive predic­tive value for 83.3%, 55.6%, 55.6% and 83.3% respectively. While IT-rasio has sensitivity, spe­cificity, positive and negative predictive value for 29.2%, 91.7%, 70% and 66%, respectively.Conclusion: NLCR has a satisfactory pre­dictive value for neonatal sepsis that widely available and economic predictor alternative with cutoff point for 2.22.Keywords: NLCR, CRP, predictor, neonatal sepsisCorrespondence: Irfan Dzakir Nugroho. Masters Program in Family Medicine, Universitas Sebelas Maret. Jl. Ir. Sutami 36A, Surakarta, Central Java.Indonesian Journal of Medicine (2021), 06(01): 112-118https://doi.org/10.26911/theijmed.2021.06.02.02 
Hubungan Bayi Kecil Masa Kehamilan (KMK) dan Usia Kehamilan dengan Kejadian Stunting pada Bayi Usia 24-60 Bulan di RSUD Dr. Moewardi Miftachuljannah, Regita Ayu; Hidayah, Dwi; Setyawan, Sigit
Plexus Medical Journal Vol. 3 No. 3 (2024): Juni
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/plexus.v3i3.1586

Abstract

Pendahuluan: Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang  menjadi perhatian di Indonesia. Bayi kecil masa kehamilan (KMK) dan usia kehamilan merupakan beberapa faktor risiko stunting namun hubungannya dengan kasus  stunting pada bayi usia 24-60 bulan masih sedikit diteliti. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui kaitan bayi kecil masa kehamilan (KMK) dan usia kehamilan dengan kejadian stunting pada bayi umur 24-60 bulan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi. Metode: Penelitian ini memakai desain studi analitik dan pendekatan case control dengan jumlah sampel sebanyak 60 anak berusia 24-60 bulan di RSUD Dr. Moewardi pada tahun 2022. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Data diambil dari rekam medis dan dilakukan analisis data  menggunakan software SPSS dengan analisis bivariat (uji Chi-square) dan uji multivariat (uji regresi logistik). Hasil: Dari hasil analisis statistik didapatkan  bahwa ada hubungan yang signifikan antara bayi KMK dengan kejadian stunting (p = 0,018 dan OR 6.00),  bayi KMK memiliki risiko 6 kali lebih tinggi terjadi stunting daripada bayi non KMK (sesuai masa kehamilan/SMK dan besar sesuai masa kehamilan/BMK). Usia kehamilan juga memiliki hubungan yang signifikan dengan stunting (p = 0,010 dan OR 4,07), usia preterm mempunyai risiko 4.07 kali lebih besar daripada bayi aterm. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara bayi kecil masa kehamilan dan usia kehamilan dengan kejadian stunting pada usia 24-60 bulan. Bayi kecil masa kehamilan memiliki pengaruh lebih kuat daripada usia kehamilan dalam kejadian stunting pada bayi usia 24-60 bulan.
The Efficacy of Melatonin in Neonatal Sepsis with Respiratory Distress: A Randomized Controlled Study Hidayah, Dwi; Nur Irfani Agita
Journal of Maternal and Child Health Vol. 9 No. 5 (2024)
Publisher : Masters Program in Public Health, Universitas Sebelas Maret, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26911/thejmch.2024.09.05.03

Abstract

Background: Neonatal sepsis is a significant condition worldwide, contributing to high morbidity and mortality, especially in developing countries such as Indonesia. Neonatal sepsis can rapidly progress to respiratory distress. Melatonin, an effective antioxidant and free radical scavenger, may be an adjuvant therapy. This study aimed to evaluate the efficacy of melatonin in neonatal sepsis with respiratory distress. Subjects and Method: A double-blind randomized controlled study was conducted on 42 neonatal sepsis with respiratory distress diagnosed with clinical and laboratory criteria. The subjects were randomly allocated into treatment and control groups, receiving a single dose of oral melatonin 20 mg and a placebo, respectively. The dependent variables were improvement of suplementation in oxygenation and ventilator, outcome, and hospital length of stay. The independent variables was suplementation melatonin The oxygen supplementation and ventilation support were measured at baseline and 72 hours after therapy. We analyzed all data with SPSS 25 using independent t test and determined the significance level at p < 0.050.              Results: Seven of the 21 subjects in the treatment group experienced decreased oxygen supplemen­tation and ventilation support, which was statistically significant (p = 0.009). While the outcome for both groups was the same proportion, it was statistically not significant (p = 1.000). Conclusion: Melatonin administration significantly decreased oxygen supplementation and ventilation support.
Platelet lymphocyte ratio (PLR), neutrophil lymphocyte ratio (NLR), and diastolic dysfunction as neonatal sepsis mortality predictors in preterm neonates Tampy, Safitri Tia; Hidayah, Dwi; Lilijanti, Sri
Paediatrica Indonesiana Vol. 65 No. 3 (2025): May 2025
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/pi65.3.2025.216-23

Abstract

Background Neonatal sepsis is a significant challenge in neonatal care, particularly among preterm neonates who are highly vulnerable due to their underdeveloped immune systems. Traditional markers for predicting the outcomes of neonatal sepsis, such as procalcitonin and C-reactive protein, are not always available all across places. Objective To evaluate the predictive value of platelet lymphocyte ratio (PLR), neutrophil lymphocyte ratio (NLR), and diastolic dysfunction for neonatal sepsis mortality in preterm neonates. Methods A prospective cohort study was conducted in 42 preterm neonates with neonatal sepsis admitted to Dr. Moewardi Hospital. The PLR and NLR were collected at two time points: the first blood specimen was drawn within the first 24 hours of life and the second was collected 72 hours later. Diastolic function was assessed by echocardiography performed within 48–72 hours after the diagnosis of sepsis. Mortality during treatment was recorded as the dependent variable. The relationships among these variables were analyzed with bivariate and multivariate analyses, and the significance level was set at P<0.05. Results Of 42 subjects, 57.1% died. Increased NLR and diastolic dysfunction were significantly associated with an increased risk of mortality (OR=3.64; P=0.049 and OR=25.0; P<0.001, respectively), while PLR was not. Multivariate analysis revealed that diastolic dysfunction  remain a significant independent predictor of mortality (adjusted OR=28.9;P=0.001), whereas NLR did not maintain statistical significance (P=0.093). Conclusion Diastolic dysfunction was an independent predictor of mortality in preterm neonatal sepsis. The NLR and PLR did not associate with mortality in preterm neonatal sepsis. Rigorous monitoring of cardiovascular function is crucial in the management of neonatal sepsis.
Hubungan Kadar Malondialdehid dengan Usia Kehamilan pada Bayi Kurang Bulan Hidayah, Dwi; Suryani, Fitri Ika; Rachma, Ulfa Puspita
Sari Pediatri Vol 25, No 5 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp25.5.2024.292-6

Abstract

Latar belakang. Selama beberapa dekade terakhir, angka kelahiran kurang meningkat di seluruh dunia. Bayi baru lahir, terutama Bayi Kurang Bulan sangat rentan terhadap stres oksidatif karena ketidakseimbangan antara peningkatan produksi Reactive Oxygen Species dan kurangnya kemampuan antioksidan. Adanya cedera oksidatif dapat dilacak dengan pengukuran penanda, malondialdehid hasil dari peroksidasi lipid.Tujuan. Untuk menilai hubungan kadar malondialdehid dengan usia kehamilan, berat lahir, dan asfiksia pada Bayi Kurang Bulan Metode. Penelitian cross-sectional dilakukan pada Bayi Kurang Bulan (Usia Kehamilan 28 - < 37 minggu) yang lahir di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi pada bulan Mei - November 2021. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara consecutive. Variabel bebas adalah kadar malondialdehid, variabel terikat adalah Usia Kehamilan, Berat Lahir, dan asfiksia. Data dianalisis secara statistik dengan uji Kolmogorov-Smirnov, dan nilai p<0,05 dianggap signifikan. Hasil. Didapatkan 42 subjek sebagian besar Usia Kehamilan 28 – < 34 minggu 25 subjek (59,52%) dan 17 subjek (40,48%) ?34 – 37 minggu. Rerata kadar malondialdehid adalah 49,9 nmol / mL. Tidak ada hubungan signifikan kadar malondialdehid dengan Usia Kehamilan [p = 0,301; IK95% = (-2,93) – 9,27], BL [p = 0,867; IK95% = (-11,19) – 9,50] dan asfiksia [(p= 0,168), IK95% = (-10,87) – 1,95].Kesimpulan. Kadar malondialdehid pada Bayi Kurang Bulan tidak berhubungan dengan Usia Kehamilan, Berat Lahir, dan asfiksia.
Pengaruh Perawatan Paliatif Terhadap Peningkatan Kualitas Hidup Pasien Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan Sianotik Pratomo, Satrio; Artiko, Bagus; Hidayah, Dwi
Sari Pediatri Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.1.2024.23-9

Abstract

Latar belakang. Penyakit jantung bawaan sianotik merupakan kelainan jantung yang didapatkan sejak lahir dengan gejala yang bervariasi dari ringan hingga berat. Anak dengan penyakit jantung bawaan membutuhkan perawatan paliatif selain penanganan medis dari tenaga medis profesional. Perawatan Paliatif tersebut memerlukan pengembangan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup anak dengan penyakit jantung bawaan sianotik. Tujuan. Mengetahui pengaruh perawatan paliatif terhadap peningkatan kualitas hidup pada pasien anak dengan penyakit jantung bawaan sianotik. Metode. Pasien anak dengan penyakit jantung bawaan sianotik usia dua hingga kurang dari 18 tahun yang berobat di bagian kardiologi anak Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi. Desain penelitian adalah uji acak terkontrol. Subjek penelitian dibagi menjadi dua grup dengan cara matching dan didapatkan grup kontrol dan intervensi yang masing-masing mendapat perawatan paliatif selama tiga bulan. Penilaian kualitas hidup subjek sebelum dan sesudah perlakuan menggunakan kuosioner PedsQL kardiologi.Hasil. Sejumlah 40 subjek dibagi menjadi kelompok intervensi (20) dan kelompok kontrol (20). Sebanyak 11 pasien dalam kelompok usia 2-4 tahun di grup intervensi memiliki penurunan nilai PedsQL dari rerata 73,9 menjadi 63,2 yang menunjukkan adanya peningkatan kualitas hidup dengan hasil uji statistik pair t test p<0,001 (P<0,05). Pada kelompok usia 5-7 tahun di grup intervensi, terdapat 6 pasien dengan penurunan nilai PedsQL dari rerata 77,5 menjadi 63,4 dengan hasil uji statistik p<0,001 (P<0,05). Sebanyak 3 pasien pada kelompok usia 8 hingga kurang dari 18 tahun di grup intervensi menunjukkan penurunan hasil nilai PedsQL dari rerata 82,8 menjadi 72,7 dengan hasil uji statistik p<0,001 (P<0,05). Hasil uji statistik tiap kelompok usia menunjukkan nilai yang bermakna dengan signifikansi p<0,001.Kesimpulan. Perawatan paliatif dapat meningkatkan kualitas hidup anak dengan penyakit jantung bawaan sianotik usia dua hingga kurang dari 18 tahun di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi, Surakarta.
Perbedaan Perubahan Kadar Hormon Tiroid pada Bayi Kurang Bulan melalui Pemeriksaan Fungsi Tiroid Serial Al Khusna, Nandia Permata Rahma; Hidayah, Dwi; Giri Moelyo, Annang
Sari Pediatri Vol 26, No 2 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.2.2024.85-90

Abstract

Latar belakang. Hipotiroid kongenital merupakan gangguan hormon yang terjadi pada bayi baru lahir dimana ditemukan kadar hormon tiroid yang rendah. Pada bayi kurang bulan dan berat lahir rendah dapat mengalami hipotiroksinemia tanpa disertai peningkatan thyroid stimulating hormone. Hal ini bersifat sementara dan akan meningkat seiring pertambahan usia. Tujuan. Menilai perbedaan perubahan kadar hormon tiroid pada bayi kurang bulan melalui pemeriksaan fungsi tiroid serial serta faktor risiko yang berhubungan dengan hal tersebut.Metode. Kohort prospektif dengan melakukan pemeriksaan TSH dan FT4 serial pada BKB di NICU dan HCU Neonatus RSUD Dr. Moewardi bulan Oktober 2022 hingga Januari 2023. Pengambilan sampel dilakukan pada BKB dengan usia kehamilan < 32 minggu dan 32 s/d <37 minggu pada usia 48-72 jam dan 2 minggu. Hasil pengamatan dideskripsikan dengan mean±SD, analisis data dengan SPSS 22 dan dinyatakan signifikan apabila uji menghasilkan p?0,05.Hasil. Didapatkan nilai TSH dan FT4 yang semakin turun pada usia 48-72 jam dan 2 minggu pada kelompok usia kehamilan <32 minggu (TSH p= 0,221; FT4 p=0,008) dan 32 s/d < 37 minggu (TSH p=0,037; FT4 p=0,013). Faktor yang berpengaruh adalah berat badan lahir bayi dimana ditemukan perbedaan signifikan pada berat bayi lahir sangat rendah (p=0,021).Kesimpulan. Bayi prematur, terutama dengan berat lahir sangat rendah, cenderung mengalami hipotiroksemia prematur. Pemeriksaan fungsi tiroid secara berkala sangat penting untuk memantau perkembangan bayi dan mencegah komplikasi jangka panjang.
The Association between Hypothermia during Emergency Room Admission and Newborn Mortality at Dr. Moewardi Hospital Hidayah, Dwi; Rohsiswatmo, Rinawati; Hafidh, Yulidar
Journal of Maternal and Child Health Vol. 8 No. 4 (2023)
Publisher : Masters Program in Public Health, Universitas Sebelas Maret, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26911/thejmch.2023.08.04.06

Abstract

Background: Hypothermia in newborns continues to be a significant issue and a leading cause of morbidity and mortality. The incidence of hypothermia in referral newborns is still high during hospital admission. Subjects and Method: This is a prospective cohort study conducted at Dr. Moewardi Hospital. Data collection was carried out on January 1, 2015, until March 31, 2015, for referred newborns. The dependent variable was mortality and the independent variables included gestational age, birth weight, sepsis, severe respiratory distress, and temperature at the time of admission at the ER. The chi-square test and logistic regression were used to analyze the data, with a cut-off value of p<0.05 cut off and a confidence interval of 95%. Results: There were 56 newborn referrals, with 60.7% incidence of hypothermia and 19.6% inci­dence with mortality. From the chi-square analysis, the variable of gestational age and weight did not meet the requirements of multivariate analysis (p> 0.25). The multivariate logistic regression analysis revealed a non-significant association between severe respiratory distress and mortality in referred newborns (OR= 5.25; 95% CI= 0.89 to 30.82; p= 0.066). After performing multivariate logistic regression analysis to obtain controlled ORs, there was a significant relationship between newborn referrals mortality and temperature at the time of ER admission (OR= 8.75; 95% CI= 1.07 to 3.26; p= 0.047) and sepsis (OR= 6.25; 95% CI= 150 to 28.69; p= 0.012) with mortality of referred newborns. Conclusion: The incidence of hypothermic referred newborns is high. Hypothermia during admission at the ER and sepsis are both associated with increased mortality in referred newborns. Keywords: newborns, hypothermia, mortality. Correspondence:Dwi Hidayah. Department of Child Health, Faculty of Medicine, Sebelas Maret University and Dr. Moewardi General Hospital, Jalan Kolonel Sutarto No.132, Surakarta 57126, Indonesia. Mobile: 08122623728 Email: dwihidayah_dr2020@staff.uns.ac.id
The RELATIONSHIP BETWEEN MATERNAL AGE AND INTRAUTERINE GROWTH RESTRICTION (IUGR) AT DR. MOEWARDI GENERAL HOSPITAL, SURAKARTA Nabiilah, Khusniyatin Dwi; Hidayah, Dwi; Candrarukmi, Dewinda
Jurnal Kesehatan Karya Husada Vol 13 No 4 (2025): Jurnal Kesehatan Karya Husada
Publisher : POLITEKNIK KESEHATAN KARYA HUSDA YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36577/jkkh.v13i4.785

Abstract

Background. Intrauterine Growth Restriction (IUGR) is a fetal growth disorder that significantly impacts neonatal morbidity and mortality, with a high incidence, especially in developing countries. Maternal age is known to be a major risk factor associated with IUGR, therefore, research on the relationship between gestational age and IUGR is crucial to support more effective prevention and treatment efforts in Indonesia. The aim of this study was to determine the relationship between maternal age and IUGR at Dr. Moewardi Regional General Hospital. Methods. This study employed a cross-sectional approach. Sixty-seven pregnant women, selected based on inclusion and exclusion criteria, whose deliveries took place at Dr. Moewardi Regional Hospital between January and December 2024, participated in this study. Secondary data were obtained from medical records and then analyzed using chi-square and logistic regression tests. The Result of 67 subjects, 35 (52.2%) delivered babies with IUGR and 32 (47.8%) non-IUGR[3]. Mothers with risk age had 14.286 times higher odds of delivering babies with IUGR compared to non-risk age (OR 14.286; 95% CI 4.397–46.413; p=0.000). Risk interpregnancy interval also showed significant association with IUGR (OR 12.632; 95% CI 2.606–61.222; p=0.000). Parity, nutritional status, and comorbidities did not show significant association with IUGR. Conclusion: Maternal age is significantly related to IUGR incidence. Pregnant women with risk age require more intensive antenatal monitoring to detect fetal growth disorders early.