Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

ANALISIS KECUKUPAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) BERDASARKAN RENCANA DETAIL TATA RUANG KOTA SIBOLGA Romaito Simatupang; Iswahyudi Iswahyudi; Boy Riza Juanda
Jurnal Ilmu Pertanian Tirtayasa Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ruang Terbuka Hijau (RTH) merupakan sebidang lahan yang ditata sedemikian rupa sehingga mempunyai keindahan, kenyamanan dan keamanan bagi pemiliknya atau penggunanya yang bernilai estetika dan berfungsi sebagai ruang terbuka dengan fungsinya yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) Eksisting di Kota Sibolga berdasarkan luas wilayah dan jumlah penduduk dan membuat rekomendasi pengembangan Ruang Terbuka Hijau di Kota Sibolga. Penelitian ini dilakukan menggunakan analisis spasial tutupan lahan untuk mengetahui kebutuhan Ruang Terbuka Hijau dihitung berdasarkan kebutuhan RTH berdasarkan jumlah penduduk dan kebutuhan RTH berdasarkan luas wilayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RTH eksisting di Kota Sibolga seluas 132,607 Ha menyebar di 30 titik dan belum mencukupi 30% dari luas wilayah. Adapun berdasarkan jumlah penduduk, kebutuhan RTH Kota Sibolga sebesar 180,05 Ha. Hasil analisis strategis untuk menyusun rekomendasi pengembangan RTH Kota Sibolga menggunakan analisis SWOT dengan strategi agresif yang menggambarkan kekuatan dan peluang merupakan strategi yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan RTH Kota Sibolga dengan adanya kolaborasi sinergitas pentahelix antar stakeholder yang ada di Kota Sibolga.
PENGELOLAAN LAHAN KRITIS HUTAN LINDUNG BUKIT BATABUH BERKELANJUTAN Iswahyudi Iswahyudi
Jurnal Penelitian Agrosamudra Vol 4 No 1 (2017): Jurnal Penelitian Agrosamudra
Publisher : Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hutan Lindung Bukit Batabuh merupakan salah satu Kawasan Strategis Nasional (KSN) yang terletak di Provinsi Riau. Saat ini telah mengalami tekanan terhadap kawasan hutan dan sumberdaya hutannya yang mengancam keutuhan kawasan hutan akibat bertambahnya luas lahan yang termasuk kategori kritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui luasan lahan kritis dan faktor-faktor dominan yang mendorong laju kerusakan Hutan Lindung Bukit Batabuh. Parameter yang digunakan dalam penilaian tingkat kekritisan lahan sesuai dengan Peraturan Dirjen Bina Pengelolaan DAS dan Perhutanan Sosial No: P.4/V-SET/2013. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kekritisan lahan lahan agak kritis mendominasi untuk tingkat kekritisan secara keseluruhan, yakni seluas +17.511,66 ha (39,04%). Faktor dominan yang mendorong laju kerusakan Hutan Lindung Bukit Batabuh adalah tekanan penduduk dalam bentuk konversi Hutan Lindung dan pemanfaatan lahan Hutan Lindung untuk menyangga sumber mata pencaharian penduduk, pengembangan wilayah pemukiman penduduk, serta penguasaan/pemilikan lahan sebagai aset produksi keluarga.
PERTUMBUHAN DAN HASIL KACANG TANAH (Arachis hypogeae, L) PADA BERBAGAI UKURAN BENIH DAN KEDALAMAN OLAH TANAH Rosmaiti Rosmaiti; Iswahyudi Iswahyudi; azhari azhari
Jurnal Penelitian Agrosamudra Vol 4 No 2 (2017): Jurnal Penelitian Agrosamudra
Publisher : Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil kacang tanah (Arachis hypogeae, L) pada berbagai ukuran benih dan kedalaman olah tanah serta interaksi antara kedua perlakuan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan, perlakuan berat benih berperanguh sangat nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 25, 50 dan 75 HST, jumlah daun pada umur 25, 50 dan 75 HST, jumlah polong, produksi perumpun dan berat 100 biji. Perlakuan berat benih terbaik yaitu B3 (Besar =0,41 - 0,50 gr). Perlakuan kedalaman olah tanah berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 25, 50 dan 75 HST, jumlah daun pada umur 25, 50 dan 75 HST, jumlah polong, produksi perumpun dan berat 100 biji. Perlakuan kedalaman olah tanah terbaik yaitu K3 = 30 cm. Interaksi antara berat benih dan kedalaman olah tanah berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 25, 50 dan 75 HST. Interaksi perlakuan terbaik yaitu B3K3 (besar = 0,41 - 0,50 gr) dan kedalaman olah tanah = 30 cm.
KONFLIK LAHAN DI HUTAN GAMBUT RAWA TRIPA PROVINSI ACEH Iswahyudi Iswahyudi
Jurnal Penelitian Agrosamudra Vol 3 No 2 (2016): Jurnal Penelitian Agrosamudra
Publisher : Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Provinsi Aceh termasuk daerah yang sangat rawan akan terjadi konflik, terutama konflik lahan yang melibatkan perusahaan dan masyarakat. Penyebab utama maraknya konflik ini berkaitan dengan formulasi kebijakan mengenai pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) terutama perkebunan kelapa sawit. Hutan gambut Rawa Tripa sebagian besar lahannya merupakan Kawasan Ekosistem Leuser yang merupakan kawasan strategis nasional, namun pada saat ini telah dirambah untuk pembukaan perkebunan sawit oleh perusahaan-perusahaan besar. Konflik lahan antara masyarakat dengan pihak perusahaan perkebunan kelapa sawit di Hutan Gambut Rawa Tripa merupakan kondisi yang sengaja diciptakan. Sebelum diterapkan kebijakan Otonomi Daerah, para aktor birokrat pusat (lokal) dan partai politik berkolaborasi dengan pemilik modal dalam mengeksploitasi sumber daya perkebunan kelapa sawit. Caranya adalah dengan menerapkan berbagai kebijakan pembangunan yang menguntungkan pihak pemilik modal besar, birokrat dan para politisi dalam memperebutkan lahan dan akses ke pembuat keputusan perizinan. Sementara itu, para tokoh lokal tidak bisa berbuat banyak. Disini memberikan suatu gambaran kepada kita tentang lemahnya peran pemerintah dalam menyelesaikan konflik lahan. Peran aktif pemerintah sangat diperlukan dalam mengawal berbagai masalah yang berkaitan dengan tanah agar tidak terjadi perselisihan karena ada pihak-pihak yang merasa dirugikan atas kebijakan yang dibuat.
EVALUASI KETAHANAN PANGAN DALAM MENGATASI KRISIS PANGAN DI KABUPATEN ACEH UTARA Iswahyudi Iswahyudi
Jurnal Penelitian Agrosamudra Vol 3 No 1 (2016): Jurnal Penelitian Agrosamudra
Publisher : Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berkurangnya luas sawah karena tingginya laju konversi lahan merupakan faktor utama yang dapat mengurangi produksi padi yang dapat mengancam ketahanan pangan di Kabupaten Aceh Utara. Konversi lahan sawah boleh dikatakan bersifat multidimensi. Oleh karena itu, upaya pengendaliannya tidak mungkin hanya dilakukan melalui satu pendekatan saja. Mengingat nilai keberadaan lahan sawah bersifat multifungsi, maka keputusan untuk melakukan pengendaliannya harus memperhitungkan berbagai aspek yang melekat pada eksistensi lahan itu sendiri. Hal tersebut mengingat lahan yang ada mempunyai nilai yang berbeda, baik ditinjau dari segi jasa yang dihasilkan maupun beragam fungsi yang melekat didalamnya. Sehubungan dengan isu tersebut, direkomendasikan tiga pendekatan secara bersamaan dalam kasus pengendalian konversi lahan sawah untuk mewujudkan ketahanan pangan, yaitu melalui kebijakan penetapan lahan sawah abadi, peningkatan produktivitas padi dan pemberian intensif kepada petani padi
Pengaruh Pemberian Pupuk NPK dan Biochar terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi Sawah (Oryza sativa, L) Iswahyudi Iswahyudi; iwan Saputra; irwandi irwandi
Jurnal Penelitian Agrosamudra Vol 5 No 1 (2018): Jurnal Penelitian Agrosamudra
Publisher : Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk NPK dan biochar dan interaksi antara kedua perlakuan terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi sawah (Oryza sativa, L). Penelitian ini telah dilaksanakan di Desa Cot Asan, Kecamatan Nurussalam, Kabupaten Aceh Timur. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial yang terdiri dari dua factor, yaitu dosis pupuk NPK (N) yang terdiri dari 4 taraf, yaitu: N0 = 0 kg/ha, N1 = 200 kg/ha, N2 = 300 kg/ha dan N3 = 400 kg/ha; dan faktor dosis biochar (B) yang terdiri dari 4 taraf yaitu: B0 = 0 ton/ha, B1 = 10 ton/ha, B2 = 15 ton/ha dan B3 = 20 ton/ha. Parameter yang diamati: tinggi tanaman dan jumlah anakan perumpun (umur 15 HST, 30 HST dan 60 HST); jumlah anakan produktif, jumlah gabah per malai, persentase gabah hampa permalai, persentase gabah berisi permalai dan produksi gabah per plot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk NPK berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman padi umur 15, 30 dan 60 HST, jumlah anakan perumpun umur 30 dan 60 HST, jumlah anakan produktif, jumlah gabah per malai, persentase gabah berisi, persentase gabah hampa dan produksi gabah per plot. Perlakuan terbaik diperoleh pada N3 (400 kg/ha). Pemberian dosis biochar berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman padi dan jumlah anakan perumpun umur 30 dan 60 HST, jumlah anakan produktif, jumlah gabah per malai, persentase gabah berisi, persentase gabah hampa dan produksi gabah per plot. Perlakuan terbaik diperoleh pada B3 (20 ton/ha). Interaksi antara dosis pupuk NPK dan dosis biochar berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi tanaman umur 60 HST, dan berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan umur 30 HST. Interaksi terbaik diperoleh pada perlakuan N3B3 (pupuk NPK 400 kg/ha dan dosis biochar 20 ton/ha).
Pertumbuhan Bibit Kakao (Theobroma cacao L) pada Media Tanah Sub Soil yang diberikan Biochar dan Pupuk Organik Granul Iswahyudi Iswahyudi; Syukri Risyad; Ulfia Ulfia
Jurnal Penelitian Agrosamudra Vol 5 No 2 (2018): Jurnal Penelitian Agrosamudra
Publisher : Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Media tanam merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman kakao di pembibitan. Tanah sub soil sudah mulai digunakan sebagai pengganti media tanam top soil. Pada umumnya tanah sub soil mempunyai nilai kesuburan yang lebih rendah dibandingkan dengan tanah top soil. Upaya untuk meningkatkan kesuburannya dengan memberikan biochar dan pupuk organik. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian biochar dan dosis pupuk organik granul terhadap pertumbuhan bibit kakao, serta interaksi antara kedua perlakuan. Penelitian ini telah dilaksanakan di Desa Leuge, Kecamatan Peureulak Kota, Kabupaten Aceh Timur yang dilakukan selama lima bulan (Oktober 2017-Februari 2018). Rancangan yang digunakan RAK pola faktorial, yaitu Faktor jenis Biochar (B) terdiri dari tiga taraf: B1 = Biochar arang sekam padi; B2 = Biochar arang tempurung kelapa dan B3 = Biochar arang serbuk gergaji, masing –masing dengan dosis 20 ton/ha dan Faktor Dosis Pupuk Organik granul (G) terdiri dari empat taraf: G0 = 0 ton/ha; G1 = 1,5 ton/ha; G2 = 3,0 ton/ha dan G3 = 4,5 ton/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jenis biochar berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi bibit kakao, diameter batang umur 90 HST, panjang akar dan bobot basah tanaman. Perlakuan terbaik diperoleh pada B2 (Biochar Tempurung Kelapa). Pemberian pupuk oranik granul berpengaruh sangat nyata terhadap panjang akar, tinggi bibit, diameter batang dan jumlah daun umur 90 HST. Perlakuan terbaik diperoleh pada G3 (9 gr/polybag). Interaksi antara jenis biochar dan pupuk organik granul berpengaruh nyata terhadap jumlah daun bibit kakao umur 90 HST. Jumlah daun terbanyak dijumpai pada kombinasi perlakuan B2G3(biochar arang tempurung kelapa dan dosis pupuk granul 9gr/polybag).
Synergy for the Management of Sungai Kuruk III Village Development Towards a Sustainable Village Cut Mulyani; Syamsul Bahri; Iswahyudi Iswahyudi; Rozalina Rozalina
Eumpang Breuh : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1 No 1 (2022): EUMPANG BREUH : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kampung Sungai Kuruk III secara geografis kampung ini berbatasan langsung dengan Selat Malaka. Mata pencaharian utama masyarakatnya sebagian besar sebagai nelayan dan petani. Banyak terdapat permasalahan yang dihadapi mitra untuk memenuhi kebutuhaan ekonominya. Permasalahan prioritas yang dihadapi mitra selama ini adalah (1) tingginya pencemaran air sungai oleh limbah rumah tangga, (2) hasil panen ikan bandeng dijual dalam bentuk segar sehingga tidak mempunyai nilai tambah, (3) minimnya pengetahuan masyarakat dalam budidaya sereh dan perlakuan pasca panen dan (4) harga sayuran tinggi karena tergantung pasokan dari luar. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan melalui dialog interaktif dan sosialisasi yang melibatkan mitra dan aparat kampung dalam seluruh kegiatan sosialisasi dan pelatihan-pelatihan yang dilakukan. Juga dilakukan kegiatan pendampingan untuk memonitoring dan mengevaluasi perkembangan hasil kegiatan untuk keberlanjutan program PKM yang berdampak terhadap peningkatan ekonomi. Hasil dari kegiatan PKM yang telah dilakukan adalah peserta pelatihan sudah mengerti dan mampu melakukan teknik budidaya sayuran sistem hidroponik, mengetahui dan memahami mengenai jenis sampah sampah organik, meningkatnya pemahaman dan keterampilan membuat olahan bahan makanan berbahan baku ikan bandeng dengan dengan mutu yang lebih baik dari segi rasa dan standar kesehatan, dan peserta pelatihan telah mengetahui teknik budidaya tanaman sereh yang baik dan mampu mengoperasionalkan alat penyulingan minyak sereh sederhana dan melakukan produksi minyak atsiri sereh secara mandiri.
Training on Making Biopesticide Made from Daun Belimbing Wuluh at the Women's Farming Group “Nanas Madu” in Buket Meutuah Village, Langsa City Boy Riza Juanda; Iswahyudi; Iwan Saputra
Eumpang Breuh : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 2 No 2 (2023): EUMPANG BREUH : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33059/ebjpm.v2i2.9249

Abstract

The majority of farmers in Indonesia still use chemical pesticides to treat pests and diseases in the commodities they grow. One of the plants that can be used as an environmentally friendly alternative to biopesticides is starfruit leaves. The large availability and ease of obtaining starfruit leaves, especially in Aceh in general and in Langsa City in particular, makes it potential to be used as a biopesticide which can be used by farmers in Langsa City, especially vegetable farmers. The farmer group that is a partner in this service activity is the "Nanas Madu" Farming Women's Group (KWT). KWT “Nanas Madu”. Based on field surveys conducted, it was revealed that not many farmers are aware of the dangers posed by the use of chemical pesticides over a long period of time. They also don't know about the existence of biological pesticides which are much cheaper and less dangerous and the manufacturing process is very easy. In Buket Meutuah village there are no effective and environmentally friendly control alternatives available, so farmers are very dependent and rely on chemical pesticides to control pests and plant diseases. This is due to the low level of knowledge of human resources among vegetable farmers and the lack of technology for the propagation and manufacture of biopesticides made from biological materials that are safe, effective and environmentally friendly.
Response of Growth and Production of Pare (momordica charantia L) to Dosage of Organic Liquid Fertilizer and Various Organic Mulch Muhammad Arief; Iswahyudi Iswahyudi; Yenni Marnita
Jurnal Agroqua: Media Informasi Agronomi dan Budidaya Perairan Vol 20 No 2 (2022): Jurnal Agroqua
Publisher : University of Prof. Dr. Hazairin, SH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32663/ja.v20i2.2512

Abstract

This study aims to see the response to the growth and yield of bitter melon plants due to the administration of NASA liquid organic fertilizer doses and various organic mulches, as well as to see the interaction between liquid organic fertilizer doses and various organic mulches. This research was conducted in Paya Bujok Beuramo Village, West Langsa District, Langsa City. The research time was 3 months, starting from June to August 2021. This study used a factorial randomized block design (RAK), which consisted of 2 factors, namely: The first factor was liquid organic fertilizer dose (N), consisting of 4 factors, namely: N0 = control, N1 = 2 ml/plot N2 = 2.4 cc/plot and N3 = 2.8 ml/plot and the second factor is various organic mulch (M) which consists of 3 levels, namely: M1 = Rice straw (1.8 kg/plot), M2 = Sawdust (1.8 kg/plot) and M3 = Alang-alang (1.8 kg/plot). The parameters observed were plant height, fruit length, fruit diameter, and fruit weight per plant. The results showed that the dosage of liquid organic fertilizer significantly affected the parameters of plant height, fruit length, fruit diameter, and fruit weight per plant. The best results were obtained in the treatment of N3 (dose of 2.8 ml/plot). The application of various organic mulches significantly affected the parameters of plant height, 1st and 2nd harvest length, 1st harvest fruit diameter, and fruit weight per plant. The best results were obtained in the M1 treatment (rice straw mulch). The interaction of liquid organic fertilizer dose treatment with various organic mulches had a significant effect on plant height parameters at 30 and 45 DAP, as well as fruit weight parameters per 1st harvest plant. The best interaction was obtained in the treatment combination N3M1. (dose of 2.8 ml/plot with rice straw mulch)