Agung Hujatnika
Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesa No. 10, Bandung 40132

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

ANALYSIS STUDY OF ARCHIVE EXHIBITION TITLED MENGINGAT-INGAT SANENTO YULIMAN (1941-1992) (2019) Fadiansyah, Muhammad Hilmy; Hujatnika, Agung; Putri, Kiki Rizky Soetisna
Journal Albion : Journal of English Literature, Language, and Culture Vol 6, No 2 (2024): Issue 2
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/albion.v6i2.10493

Abstract

Archives in fine arts are the subject of study, namely how archives are presented in galleries or public spaces. This article examines the curatorial ideas at the Mengingat-Ingat Sanento Yuliman (1941-1992)’s exhibition held in 2019 at the Cipta II Gallery, Taman Ismail Marzuki, using a historical method approach and through an archive analysis method supported by archival theory according to Terry Cook's view. During his life, Sanento Yuliman was an Indonesian art critic where at the Mengingat-Ingat Sanento Yuliman (1941-1992)’s archive exhibition. The exhibition curator exhibited Sanento Yuliman's archives in the form of sketches, illustrations, caricatures, paintings, and objects collected personally. Through this exhibition study, the collection of archives as the subject of the exhibition presented in the Mengingat-Ingat Sanento Yuliman (1941-1992)’s exhibition provides findings that Yuliman's work is no longer just scientific work in written form. Still, various other forms of work, such as visual and illustrative works, are found in caricatures and paintings. This archival exhibition study sees the impression of Yuliman's deep appreciation of fine art so that his critical work is not just an idea that the art field can accept but a deep appreciation that comes from the ability to work, thoughts, and results of reflection that can be seen from the objects exhibited in Mengingat-Ingat Sanento Yuliman (1941-1992)’s as an archive.
Archive as silent witness: A study of Jeprut annual exhibition Hakim, Hazim Muhammad Zarkasyi; Sayahdikumullah, Dikdik; Soetisna Putri, Kiki Rizky; Hujatnika, Agung
Journal Albion : Journal of English Literature, Language, and Culture Vol 7, No 1 (2025): Issue 1
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/albion.v7i1.10533

Abstract

This research examines the Archival Exhibition: 1st Annual Jeprut Permanen 2014, which showcases documentation and artefacts from the performance art of the Jeprut group in Bandung. This exhibition is interesting to analyze due to its unconventional presentation of archives, resembling contemporary art installations. Though detailed descriptions of the exhibition and analysis based on archival theory, this research aims to examine the status and display format of archives in the exhibition. The method used is descriptive qualitative of archive study. The results show that although the presentation resembles installation work, the exhibited objects still meet the criteria of archives as records of performance events. This exhibition expands the understanding of the form and presentation of archives in contemporary art, demonstrating that archives can function not only as historical documents but also as artistic mediums. The archival exhibition approach successfully makes archive the main object while presenting them in a visually appealing form, showing the potential of archives in the context of art galleries.Keywords: archival exhibition, performance art, artefacts
Transforming Curatorial Practices: The Role of AI and Blockchain in Shaping an Ethical Art-Science Paradigm for Public Policy Dartanto, A. Sudjud; Irawanto, Budi; Hujatnika, Agung
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 11, No 2 (2024): December 2024
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v11i2.14388

Abstract

The integration of artificial intelligence (AI) and blockchain technology in curatorial practice offers transformative potential for managing, presenting, and distributing both traditional and digital art. This study explores how AI enhances curatorial processes through advanced data analysis and personalized visitor experiences. AI assists curators in organizing collections and recommending artworks tailored to individual preferences, fostering greater engagement with dynamic, customized exhibitions. Blockchain technology, on the other hand, ensures the provenance of decentralized artworks, guaranteeing authenticity and transparency. It addresses issues like counterfeiting, ownership disputes, and secure transactions, while supporting artists through smart contracts that ensure equitable compensation. However, ethical concerns remain. These include biases in AI algorithms, intellectual property challenges in decentralized NFT platforms, and limited digital access for marginalized artists. Academic studies and case analyses underscore these challenges and advocate for collaboration among curators, artists, technologists, and policymakers. This approach seeks to resolve ethical dilemmas, promote inclusivity, and maintain cultural integrity in implementing these technologies. The study emphasizes the need for public policy frameworks to regulate AI and blockchain, ensuring fair compensation and equitable access to their benefits while safeguarding cultural values. By addressing these concerns, these technologies can unlock new possibilities for the art world. Transformasi Praktik Kuratorial: Peran AI dan Blockchain dalam Membentuk Paradigma Seni-Sains yang Etis untuk Kebijakan Publik Abstrak Integrasi kecerdasan buatan (AI) dan teknologi blockchain dalam praktik kuratorial menawarkan potensi transformatif untuk mengelola, menyajikan, dan mendistribusikan seni baik tradisional maupun digital. Studi ini mengeksplorasi bagaimana AI meningkatkan proses kuratorial melalui analisis data yang mutakhir dan pengalaman pengunjung yang dipersonalisasi. AI membantu kurator dalam mengatur koleksi dan merekomendasikan karya seni yang disesuaikan dengan preferensi individu, mendorong keterlibatan yang lebih besar dengan pameran yang dinamis dan disesuaikan. Di sisi lain, teknologi blockchain memastikan asal-usul karya seni yang terdesentralisasi, menjamin keaslian dan transparansi. Teknologi ini mengatasi masalah seperti pemalsuan, sengketa kepemilikan, dan transaksi yang aman, serta mendukung para seniman melalui kontrak pintar yang memastikan kompensasi yang adil. Akan tetapi, masalah etika tetap ada. Ini termasuk bias dalam algoritma AI, tantangan kekayaan intelektual dalam platform NFT yang terdesentralisasi, dan akses digital yang terbatas untuk seniman yang terpinggirkan. Studi akademis dan analisis kasus menggarisbawahi tantangan-tantangan ini dan mengadvokasi kolaborasi di antara kurator, seniman, ahli teknologi, dan pembuat kebijakan. Pendekatan ini berusaha untuk menyelesaikan dilema etika, mempromosikan inklusivitas, dan menjaga integritas budaya dalam mengimplementasikan teknologi ini. Studi ini menekankan perlunya kerangka kerja kebijakan publik untuk mengatur AI dan blockchain, memastikan kompensasi dan akses yang adil terhadap manfaatnya sambil menjaga nilai-nilai budaya. Dengan mengatasi masalah ini, teknologi ini dapat membuka peluang baru bagi dunia seni.
PERMAINAN TRADISIONAL ANJANG-ANJANGAN MENGASAH KREATIVITAS DAN RESILIENSI Mangadil, Nur Annisya; Hujatnika, Agung; Damayanti, Nuning
Media Bahasa, Sastra, dan Budaya Wahana Vol 31, No 1 (2025): Volume 31 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/wahana.v31i1.12649

Abstract

Penelitian menganalisa keterhubungan nilai kearifan pada permainan tradisional anjang anjangan dan resiliensi ditengah isu lingkungan yang dilakukan dengan cara yang kreatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode interaktif dan noniteraktif. Sampel dari penelitian ini adalah enam orang anak berusia enam sampai sembilan tahun yang tinggal di Bandung Timur. Lokasi penelitian dilaksanakan di Seni Tani, Arcamanik, Bandung Timur yang dipilih berdasarkan penggunaan lahan kebun yang memanfaatkan lahan tidur di bawah sutet menjadi kebun pertanian pangan organik yang bekelanjutan. Data didapatkan melalui pengamatan terhadap subjek melalui wawancara, observasi langsung, pencatatan selama kegiatan dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa bermain anjang-anjangan adalah metode yang tepat untuk mendekatkan diri anak dan alam melalui sektor pertanian. Saat bermain, anak-anak menunjukkan sisi kreatifnya yang dikembangkan dari imajinasinya pada saat bermain peran menjadi seorang petani. Menghayati perannya dengan kegiatan bermain yang sama halnya dengan kegiatan petani di kebun, yakni menanam biji sayur bayam dengan segala prosesnya. Di Seni Tani, anak menemukan banyak sampah yang menunjukkan adanya pencemaran lingkungan pada tanah yang diakibatkan oleh ulah tangan manusia. Penemuan tersebut memicu anak untuk berpikir kritis dan berpikir untuk menemukan solusi. Terakhir, anak menghayati dirinya sebagai manusia yang hidup berdampingan dengan alam melalui sikap-sikap bijaksana yang mereka dapati selama bermain anjang-anjangan dan merefleksikan pengalamannya saat mengamati banyaknya sampah di kebun yang mereka tunjukkan melalu aksinya selama bermain di kebun dan selama merawat sayur kangkungnya secara mandiri dirumahnya masing-masing. Nilai kearifan yang tertanam dalam permainan anjang-anjangan menjadi pembelajaran yang berguna untuk bekal hidup mereka dimasa depan.
Negara dan Pasar: Globalisasi dan Dua Dasawarsa Seni Rupa Kontemporer Indonesia Hujatnika, Agung
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 27 No. 2 (2011)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v27i2.304.171-186

Abstract

This paper analyses the changes in production’s pattens, distributions and consumptions of Indonesian contemporary art by way of comparing the regional and international art exhibitions participated by Indonesia during the last two decades (1990-2010). There were two dominant and different patterns in each decade. The development during the 90s showed the dominance of the state's role, notably Japan and Australia, through large-scale exhibitions with the support of government funding and infrastructure. However, Indonesian contemporary art later became more prominent among the non-government initiatives, especially through the market activities at the auction houses and art fair in Asia. By referring to cultural theories and globalisation process, this paper wants to show how the development of Indonesian contemporary art might have been related to the changes in the constellation of geo-political and geo-economic developments in Asia Pacific which lead to the triumph of neoliberalism. The growing popularity of international art fair involving commodities and capital in large quantities can be seen as an evidence of how the fine arts are increasingly following the pattern of trade and free markets. As an institution that previously was doing the 'validation' of art, public museum now 'competes' with the free market fundamentalism loaded with some elite’s interests. Keywords:*globalisation, *Indonesian contemporary art, *postmodernism, *geopolitics, *geo-economics, *artmarket, *neoliberalism, *regionalism, *art fair, *sociopolitical art