Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

PERAN MODERASI MINDFULNESS DALAM HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS PENGGUNAAN INSTAGRAM DAN KESEPIAN PADA DEWASA MUDA Tyas Apti Salsabila; Riana Sahrani
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i2.10932.2021

Abstract

Loneliness is a feeling of emptiness that a person feels as a result of a lack of intimacy with others. The development of social media technology is also one of the factors that affect a person's loneliness. Results from previous research have shown that the use of social media can make a person lonely. To reduce feelings of loneliness, one must have mindfulness. The purpose of this study was to test the role of mindfulness moderation against the intensity of relationships of Instagram use and loneliness. The research uses non-experimental quantitative methods. Measuring instruments used in this study are UCLA Loneliness scale version 3, Instagram usage intensity measuring instrument, and Kentucky Inventory of Mindfulness Skills. The participants of this study were 544 people who are Indonesian residents aged 20-40 years active users of Instagram.The results of this study show that there is no significant relationship between the intensity of Instagram use and loneliness, so the role of mindfulness moderation cannot be proven.  Kesepian merupakan perasaan hampa yang dirasakan seseorang akibat dari kurangnya keintiman dengan orang lain. Perkembangan teknologi sosial media juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi rasa kesepian seseorang. Hasil dari penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan sosial media dapat menyebabkan seseorang menjadi kesepian. Untuk mengurangi perasaan kesepian, seseorang harus memiliki kesadaran dan sikap mindfulness. Tujuan penelitian ini adalah ingin menguji peran moderasi mindfulness terhadap hubungan intensitas penggunaan Instagram dan kesepian. Penelitian menggunakan metode kuantitatif non-eksperimental. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah UCLA Loneliness scale version 3, alat ukur intensitas penggunaan Instagram, dan Kentucky Inventory of Mindfulness Skills. Partisipan penelitian ini sebanyak 544 orang yang merupakan penduduk Indonesia berusia 20-40 tahun pengguna aktif Instagram. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara intensitas penggunaan Instagram dan kesepian, sehingga peran moderasi mindfulness tidak dapat dibuktikan.
HUBUNGAN SELF-PRESENTATION DENGAN KEPUASAN TUBUH REMAJA PADA SMP X Christine Hadinata; Riana Sahrani; Debora Basaria
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i2.9303.2020

Abstract

Adolescents who go through puberty will experience various change, adolescents will experience physical changes. The physical changes experienced will affect body satisfaction which is part of adolescent self-identity. In addition, social media also contributes to adolescent body satisfaction. In social media, adolescents can see various exposures to the ideal body shape of artists, friends, or other people which in turn make adolescents insecure and can reduce body satisfaction. But on the other hand, adolescents want to show their existence and want to be recognized by others. The existence of social media makes it easier for adolescents to show their existence through photos uploaded on social media. Photos uploaded on social media can be in the form of selfie which are part of self-presentation. Adolescents pay attention to physical appearance and want to appear as attractive as possible, so that teenagers will present their ideal self on social media. The intensity of uploading photos on social media is related to the level of body satisfaction. Adolescents who frequently upload photos on social media have lower body satisfaction. This study aims to see the relationship between self-presentation and adolescent body satisfaction in SMP X. The subjects of this study were adolescents or junior high school students, totaling 167 participants. The research data was taken using a questionnaire, the results of the study found that there was no relationship between selfie and body satisfaction. However, there is a relationship between the dimensions of self-relationship that attempt to act with body satisfaction in the facial area Pada masa pubertas remaja akan mengalami beberapa perubahan salah satunya perubahan fisik. Perubahan fisik tersebut dapat membentuk tingkat kepuasan tubuh remaja yang menjadi suatu bagian dari identitas diri. Selain itu, adanya media sosial berkontribusi pada kepuasan tubuh remaja. Pada media sosial, remaja dapat melihat berbagai paparan bentuk tubuh ideal artis, teman, atau orang lain yang pada akhirnya membuat remaja tidak percaya diri dan dapat menyebabkan rendahnya kepuasan tubuh. Namun, di sisi lain remaja ingin menunjukkan eksistensi dirinya dan ingin diakui oleh orang lain. Adanya media sosial mempermudah remaja untuk menunjukkan eksistensi melalui foto yang di unggah di media sosial. Salah satu foto yang diunggah dapat berupa selfie yang merupakan salah satu bentuk dari self-presentation.  Remaja sangat memperhatikan penampilan fisik dan ingin tampil semenarik mungkin, sehingga remaja akan menampilkan diri ideal mereka di media sosial. Intensitas mengunggah foto di media sosial berhubungan dengan tingkat kepuasan tubuh. Semakin sering remaja mengunggah foto di media sosial, semakin rendah kepuasan tubuhnya. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan self-presentation dengan kepuasan tubuh yang dimiliki remaja pada SMP X. Subyek penelitian ini merupakan remaja atau siswa-siswi SMP yang berjumlah 167 partisipan. Data penelitian ini diambil menggunakan kuesioner, pada hasil penelitian ditemukan tidak terdapat hubungan antara memfoto diri sendiri (selfie) dengan kepuasan tubuh. Meskipun demikian terdapat hubungan self-presentation dimensi attempt to act dengan kepuasan tubuh area wajah.
PERAN EMPATI DAN SELF-EFFICACY GURU TK TERHADAP GAYA PENGATURAN KELAS DALAM KONTEKS UNJUSTIFIED AGGRESSION Carolyne Sutradjaja; Riana Sahrani; Fransisca Iriani Roesmala Dewi
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i1.5677

Abstract

Penelitian sebelumnya mengaitkan empati dan self-efficacy dengan kemungkinan guru TK merespon situasi bullying. Akan tetapi belum ada penelitian yang mengaitkan empati dan self-efficacy dengan actual behaviour guru TK di dalam kelas. Maka penelitian ini dilakukan untuk melihat peran empati dan self-efficacy terhadap gaya pengaturan kelas guru TK dalam konteks unjustified aggression. Hal ini dipertimbangkan karena gaya pengaturan kelas kerap dikaitkan dengan perilaku konkrit yang diterapkan oleh guru di dalam kelas. Partisipan dalam penelitian ini adalah 124 guru TK dan preschool, teknik pengambilan sampel menggunakan non-probability dan snowball sampling. Analisis data dilakukan menggunakan regresi berganda (multiple regression) dan didapatkan bahwa tingkat empati dan self-efficacy guru TK memiliki peran signifikan terhadap gaya pengaturan kelas sebesar 17.5% (F = 14.045, p = 0.00 < 0.05). Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat empati dan self-efficacy guru TK dapat memprediksi bagaimana mereka mengelola kelas, yang terlihat dalam perilaku saat mereka menetapkan kontrol serta membangun interaksi dengan siswa. Analisis lebih lanjut dilakukan untuk melihat peran empati dan self-efficacy terhadap masing-masing dimensi dalam gaya pengaturan kelas, yaitu kontrol dan keterlibatan guru. Dari analisis tersebut ditemukan bahwa konstruk empati memiliki peran signifikan terhadap keterlibatan guru, sedangkan konstruk self-efficacy memiliki peran signifikan terhadap disiplin. Previous research linked empathy and self-efficacy to the possibility of kindergarten teachers responding to bullying situations. However, there are no studies that relate empathy and self-efficacy with the actual kindergarten teacher behaviour in the classroom. Therefore this study was conducted to examine the role of empathy and self-efficacy towards the classroom management style of kindergarten teachers in the context of unjustified aggression. This is considered because the style of classroom management is often associated with concrete behaviour that is applied by the teacher in the classroom. Participants were 124 kindergarten and preschool teachers, the sampling technique was non-probability and snowball sampling. Data analysis was performed using multiple regression (multiple regression) and it was found that the level of empathy and self-efficacy of kindergarten teachers had a significant role in the style of classroom management by 17.5% (F = 14,045, p = 0.00 <0.05). This indicates that the level of empathy and self-efficacy of kindergarten teachers can predict how they manage the classroom, which is seen in behavior when they establish controls and build interactions with students. Further analysis was carried out to see the role of empathy and self-efficacy towards each dimension in the style of classroom management, namely teacher control and involvement. From the analysis it was found that the construct of empathy has a significant role on teacher involvement, while the construct of self-efficacy has a significant role on discipline.
Perbedaan Prestasi Belajar Matematika Ditinjau dari Self-Efficacy dan Mathematic Anxiety Siswa SMP di Depok Mia Anggraeni; Riana Sahrani; Rahmah Hastuti
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i1.350

Abstract

Untuk menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat. Penelitian yang dilakukan oleh TIMSS dan PISA menunjukkan bahwa prestasi belajar matematika siswa Indonesia usia 15 tahun tergolong masih rendah jika dibandingkan dengan prestasi belajar matematika siswa lain di dunia. Beberapa faktor yang memengaruhi prestasi belajar matematika ini diantaranya adalah self-efficacy dan mathematic anxiety. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji perbedaan prestasi belajar matematika ditinjau dari self-efficacy dan mathematic anxiety. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif non-experimental dengan menggunakan teknik dan analisis Mann-Whitney. Partisipan penelitian ini adalah siswa SMP dari tiga sekolah yang ada di Depok sebanyak 385 orang. Teknik pengambilan sampel dengan purpossive sampling. Pengambilan data dilaksanakan pada bulan Oktober 2016. Instrumen penelitian berupa kuesioner self-efficacy dan mathematic anxiety dengan skala Likert serta data sekunder prestasi belajar matematika siswa berupa nilai rapor terakhir. Hasil penelitian pengujian hipotesis dilakukan dengan analisis Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan (Z = -2,791 dan p = 0.005 < 0,05)  bahwa ada perbedaan prestasi belajar matematikaditinjau dari self-efficacy (self-efficacy rendah dan tinggi). Hasil penelitian juga menunjukkan (Z = -2,695 dan p sebesar 0.007 < 0,05) bahwa ada perbedaan prestasi belajar matematikaditinjau dari mathematic anxiety (mathematic anxiety rendah dan tinggi). Hasil penelitian ini dapat memprediksikan prestasi belajar matematikasiswaberdasarkan self-efficacy dan mathematic anxiety yang dimiliki oleh siswa tersebut.Kata kunci: self-efficacy, mathematic anxiety, prestasi belajar matematika, matematika
GAMBARAN KEDUKAAN PADA PEREMPUAN DEWASA MADYA YANG PERNAH MENGALAMI KEGAGALAN PROGRAM IN VITRO FERTILIZATION Giovanni Patricia; Riana Sahrani; Agustina Agustina
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v2i1.1670

Abstract

Kedukaan merupakan suatu respon yang dialami oleh manusia ketika mereka kehilangan orang yang dikasihi. Berdasarkan penelitian sebelumnya, ketika seorang perempuan mengalami kegagalan pada program IVF-nya, mereka akan mengalami kedukaan yang cukup dalam. Menurut Kübler-Ross (2009), respon kedukaan memiliki lima tahapan di antaranya denial, anger, bargaining, depression dan acceptance. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran kedukaan perempuan yang mengalami kegagalan program IVF. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan teknik pengambilan sampling yaitu purpose criterion sampling, yang melibatkan empat subyek yang pernah mengalami kegagalan program IVF. Hasil dari penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa tiga dari empat subyek melewati semua tahapan kedukaan yang telah dikemukakan oleh Kübler-Ross. Selain itu, dua dari empat subyek memiliki faktor hubungan dengan calon bayi dalam rahim mereka sehingga mempengaruhi proses kedukaan mereka. Tiga dari empat subyek memiliki faktor proses kematian pada calon bayi mereka. Semua subyek mendapat dukungan sosial dari orang-orang terdekat mereka sehingga mereka dapat melewati proses kedukaan mereka. Selain itu berdasarkan hasil penelitian, faktor kepribadian, usia dan jenis kelamin tidak mempengaruhi kedukaan perempuan yang mengalami kegagalan program IVF.
INTERVENSI RASA BERSYUKUR UNTUK MENINGKATKAN HARGA DIRI REMAJA DI SMP X Novia Sri Parindu Purba; Riana Sahrani; Heni Mularsih
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i1.7638.2020

Abstract

Low self-esteem is also associated with poverty, it is necessary to have an effort to accept the conditions of life first. One of the simple characteristics of the acceptance effort is gratitude. Gratitude is a strong predictor to increase hope and happiness in adolescents who experience poverty. This research was designed as experimental group in X secondary school. The group was consisted of 6 respondents without a control group. The design of this study was a quasi-experimental (one group pretest-posttest) using the Rosenberg Self-esteem scale (RSSE) with a reliability coefficient of 0.88. The implementation of the gratitude intervention was designed using an intervention module from the aspect of the Indonesian grateful scale (SBI) and it was neither just a list of words of gratitude nor gratefulness. This gratitude intervention is done by inviting participants to focus on positive aspects of life, exploring positive emotions by recalculating the blessings of life that have been received from God and others. To sum up, these findings provide new findings in the use of gratitude intervention that focuses on the divine aspect. The results of this study indicate that there are significant differences in respondent's self-esteem before and after administration of the gratitude intervention, with self-esteem (RSSE) (Asymp. Sig. (2-tailed) = 0.042, p <0.05). This discussion focuses on the implications generated for Gratitude literature which are adapted to Indonesian cultural values. Harga diri yang rendah juga terkait dengan kemiskinan, maka diperlukan adanya usaha penerimaan kondisi kehidupannya terlebih dahulu. Salah satu karakteristik sederhana sebagai upaya penerimaan tersebut yakni dengan rasa bersyukur. Rasa bersyukur merupakan prediktor yang kuat untuk meningkatkan harapan dan kebahagiaan pada remaja yang mengalami kondisi miskin sekalipun. Penelitian ini diberikan kepada satu kelompok eksperimen yang terdiri dari 6 responden tanpa adanya kelompok kontrol di salah satu sekolah menengah pertama (SMP) terbuka X di Jakarta Utara. Desain penelitian ini merupakan quasi eksperimen (one group pretest-posttest) dengan menggunakan Rosenberg Self-esteem scale (RSSE) dengan hasil koefisien reliabilitas sebesar 0.88. Pelaksanaan pelatihan rasa bersyukur ini dirancang dengan menggunakan modul intervensi dari aspek skala bersyukur Indonesia (SBI) dan bukan hanya sekedar daftar ucapan rasa bersyukur atau terimakasih. Pelatihan kebersyukuran ini dilakukan dengan mengajak partisipan untuk fokus terhadap aspek positif dalam hidup, mengeksplorasi emosi positif dengan menghitung kembali berkah kehidupan yang telah diterima dari Tuhan dan orang lain. Singkatnya, temuan ini memberikan temuan baru dalam penggunaan intervensi rasa bersyukur yang berfokus pada aspek keTuhanan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada harga diri responden sebelum dan sesudah pemberian pelatihan kebersyukuran, dengan nilai self-esteem (RSSE) (Asymp. Sig. (2-tailed) = 0.042, p< 0.05 Diskusi ini berfokus pada implikasi yang dihasilkan untuk literature bersyukur yang disesuaikan dengan nilai-nilai budaya Indonesia.
EFEKTIVITAS PELATIHAN KETERAMPILAN KOMUNIKASI UNTUK MENINGKATKAN SELF-ESTEEM SISWA FLIGHT OPERATION OFFICER LEMBAGA TRAINING CENTER X Ucu Anggraeni; Riana Sahrani; Soemiarti Patmonodewo
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v2i1.1691

Abstract

Meningkatnya industri penerbangan saat ini harus diimbangi dengan peningkatan keselamatan. Faktor keselamatan tidak hanya dinilai dari jenis pesawat terbaru yang memiliki teknologi yang canggih, namun faktor penting lainnya ialah sumber daya manusia itu sendiri salah satunya flight operation officer (FOO). Seorang FOO wajib memiliki kompetensi, sertifikasi, dan mampu melakukan tugas sesuai standar dan aturan yang berlaku. Salah satu tugas utama FOO ialah memberikan informasi secara langsung yang disebut dengan briefing kepada pilot sebelum melakukan tugas terbang. Isi briefing tersebut ialah mengenai seluruh informasi penerbangan termasuk kondisi cuaca dan kondisi rute yang akan dilalui oleh pilot, sehingga apabila diperkirakan ada kondisi yang kurang aman dapat diambil tindakan-tindakan pencegahan. Namun pada kenyataanya masih terjadi tidak dilakukan briefing sesuai standar oleh FOO kepada pilot yang mengakibatkan terjadi kecelakaan pesawat dan menelan banyak korban meninggal. Tidak dilakukannya briefing salah satu penyebabnya dalah rendahnya self esteem individu untuk melakukan komunikasi interpersonal secara tatap muka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelatihan keterampilan komunikasi dalam meningkatkan self- esteem pada siswa flight operation officer (FOO) yang menggunakan metode intervensi dengan pelatihan. Tiga domain perilaku yang dikembangkan dalam suatu pelatihan menyasar pada aspek kognitif, afeksi, dan psikomotor. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September-Desember 2017. Partisipan penelitian terdiri dari 10 siswa kelompok eskperimen dan 14 siswa kelompok kontrol. Jumlah partispan kelompok eksperimen terdiri dari 1 perempuan dan 9 laki-laki, serta 3 perempuan dan 11 laki-laki pada kelompok kontrol. Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimental dengan pretest-posttest control group design. Instrument pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) (Brown,1998) dan Komunikasi Interpersonal (Devito dalam Aw, 2011). Data dianalisis dengan teknik paired simple t-test dengan kriteria statistic non parametric Wilcoxon. Perhitungan dengan membandingkan skor pretest dan posttest RSES pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hasil perhitungan diperoleh terdapat perbedaan yang signifikan antara pretest dan posttest dalam kelompok eksperimen, dikarenakan hasil yang diperoleh < 0.05, yakni 0.000 < 0.05. Hal ini menjelaskan bahwa terjadi peningkatan self-esteem pada siswa FOO di kelompok eksperimen yang berarti pelatihan Komunikasi Interpersonal efektif dapat meningkatkan Self-Esteem siswa FOO Training Center X. Apabila self esteem siswa tinggi maka siswa dapat melakukan komunikasi interpersonal yang efektif dan melakukan tugas briefing sesuai dengan standar yang berlaku.
Hubungan Antara Tuntutan Kerja dan Burnout dengan Motivasi Kerja Sebagai Moderator Pada Karyawan Kalangan Generasi Z di DKI Jakarta Euvanggelia Tambuwan; Riana Sahrani
Journal on Education Vol 5 No 2 (2023): Journal on Education: Volume 5 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Departement of Mathematics Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joe.v5i2.1040

Abstract

Generation Z comes at a time when the internet and information technology are developing rapidly as an attraction that replaces traditional toys in the era of the generation before them. Gen Z, who is aged, has just stepped into work, has high work motivation, their high motivation is accompanied by high performance. . This study aims to determine the role of work demands on employee burnout, especially generation Z in DKI Jakarta, with work motivation as a moderator. This research measures burnout using the burnout assessment tool by de Beek et al., job demands using the Job Demands Scale by Bekker & Demerouti, and work motivation using the Herzberg scale. This study involved 271 respondents with 117 men and 154 women. This study used a quantitative approach, data collection was carried out using a purposive sampling technique for Gen Z in DKI Jakarta. Hypothesis testing using SPSS with the Multiple Regression Analysis (MRA) method, where the results of testing the three variables obtained a value of t = 4.561 and a sig. = 0.000 > 0.05. The results of this study indicate that there is a significant correlation and relationship between work demands and burnout, as well as work motivation which can act as a moderator in the relationship between work demands and burnout.
EFEKTIVITAS PELATIHAN KETANGGUHAN (HARDINESS) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BERPRESTASI AKADEMIK SISWA ATLET (Studi Pada Sekolah X di Tangerang) Winy Nila Wisudawati; RIANA SAHRANI; Rahmah Hastuti
Provitae: Jurnal Psikologi Pendidikan Vol. 10 No. 2 (2017): Provitae: Jurnal Psikologi Pendidikan
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/provitae.v10i2.1285

Abstract

Student athletes at School X showed low achievement motivation. It is shown from the achievements in the academic that is lower than the achievements in sports. Achievement motivation refers to behavior related to learning and progress in school. Personality is one of the factors that influence academic achievement. Hardiness is a personality characteristics to survive by making adjustments in the face of pressing conditions. Some previous studies found no relationship between hardiness and achievement motivation. This study aims to test the effectiveness of hardiness training to improve achievement motivation of student athletes at School X, Tangerang. The research design is pre-test post-test control group design. The number of participants were 10 students, specifically 5 students in the control group and 5 students in the experimental group. Participants are high school-level student athletes with age range 15 to 18 years. The format of intervention is 7 days hardiness training with 11 sessions. Measurements using Independent Sample T-Test and Paired Sample T-Test. Based on the comparison measurement of pre-test and post-test, the result is (a) there are differences in achievement motivation in control and experimental group in post-test, (t = -3.165, p < 0.05), (b) training of hardiness can increase achievement motivation in 5 participants experimental group, (t = -4.595, p < 0.05). Hardiness training effective to improve academic achievement motivation for student athletes at School X, Tangerang. Keywords: achievement motivation, hardiness training, student athletes. 
RASA SYUKUR, DUKUNGAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN GURU DI MASA PANDEMI Listia Qisthy; Riana Sahrani; Fransisca I. R. Dewi
Jurnal Psikologi Vol 16, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/psi.2023.v16i1.7543

Abstract

During the COVID-19 pandemic, many countries implemented health protocols and implemented lockdowns several times. This causes changes in learning activities, thus requiring special teaching methods. Teachers are required to be creative in conveying material through online (online) learning media. Likewise, teachers and students who initially studied face-to-face are now forced to study from home online. This can cause teachers to feel pressured. Gratitude and social support received (perceived social support) can help teachers overcome the problems they face. This study aims to determine the role of teacher gratitude and teacher perceived social support for teacher subjective well-being during a pandemic. This research was conducted using an electronic questionnaire aimed at 202 teachers who teach at secondary level schools with an age range of 20-46 years. The measurement tools used are the Gratitude Questionnaire Revised-Multidimensional Scale of Perceived Social Support (R-MSPSS), and the Teacher Subjective Well-Being Questionnaire (TSWQ). As a result of the study, gratitude has a significant role in the teacher’s subjective well variable, as well as perceived social support. The role of the PSS dimension in the TSWQ variable is only seen in the family dimension which has a positive and significant value. Perceived social support and gratitude have a positive and significant role in teacher subjective well-being. The higher the value of perceived social support and gratitude, the higher the subjective well-being.