Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Kepribadian Dark Triad dan Perilaku Antisosial pada Pelaku Tindak Kriminal Andiyani Yanuari; Naomi Soetikno; Riana Sahrani
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 1 No. 2 (2021): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v1i2.17930

Abstract

Kepribadian dark triad merupakan gambaran subklinis yang digunakan untuk mengungkapkan sisi gelap kepribadian manusia. Ketiga trait ini terdiri dari: (a) Machiavellianism yang berkaitan dengan strategi manipulatif; (b) narcissism yang berkaitan dengan kebutuhan akan grandiosity dan egosentrisme; dan (c) psychopathy yang berkaitan dengan perilaku impulsif dan tidak berperasaan. Kepribadian dark triad yang dimiliki, dapat mendorong individu melakukan perilaku antisosial, salah satunya adalah tindak kriminal. Tujuan penelitian adalah untuk melihat peran kepribadian dark triad terhadap perilaku antisosial pada pelaku kriminal. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan teknik purposive sampling. Partisipan dalam penelitian ini sebanyak 160 pelaku kriminal yang sedang dalam masa penahanan di Polres dan Polsek wilayah Jakarta dan Tangerang. Alat ukur yang digunakan adalah The Short Dark triad (SD3) dan Subtype of Antisocial Behavior (STAB). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepribadian dark triad secara positif dan signifikan mempengaruhi perilaku antisosial (r2=0.074, p<0.05).  
EFEKTIVITAS PSIKOTERAPI POSITIF KELOMPOK DALAM MENURUNKAN SELF-STIGMA PADA PENGIDAP GAGAP DI INDONESIA Louis S. Vigar; Riana Sahrani
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v6i1.11908.2022

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah intervensi Psikoterapi Kelompok Positif berpengaruh terhadap penurunan self-stigma pada penderita gagap di Indonesia. Self-stigma adalah suatu kepercayaan seseorang terhadap pandangan atau stigma negatif yang beredar di masyarakat.  Proses pembentukan self-stigma dapat terjadi melalui stereotipe ataupun diskriminasi terhadap kekurangan diri secara langsung atau tidak langsung. Sementara itu, Psikoterapi Positif adalah suatu pendekatan terapi psikologis yang berfokus kepada aktualisasi kekuatan positif di dalam diri, dengan tujuan untuk mengurangi gejala negatif psikologis. Pada penelitian ini, metode yang digunakan adalah kuasi-eksperimental dengan desain nonrandomized pretest-posttest control group. Jumlah partisipan adalah 5 orang pada masing-masing kelompok eksperimen dan kontrol. Partisipan pada penelitian ini diambil dengan menggunakan teknik pengambilan purposive sampling. Metode analisis data yang digunakan adalah mann-whitney u test terhadap gain score yang didapatkan dari selisih antara pretest-posttest. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara selisih penurunan self-stigma pada kelompok eksperimen setelah diberikan intervensi Psikoterapi Positif Kelompok dengan nilai asymp. sig. (2-tailed) yaitu sebesar .036 (p < 0.05). Jadi, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Psikoterapi Positif Kelompok memiliki pengaruh terhadap penurunan self-stigma pada pengidap gagap di Indonesia.
KESEPIAN DAN KEBIJAKSANAAN PADA REMAJA PEREMPUAN YANG MENGALAMI KEKERASAN SIBER Riana Sahrani; Fransisca Iriani Roesmala Dewi; Wiwin Charolina Putri Basel
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 04 (2025): Volume 10 No. 04 Desember 2025 In Published
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i04.36942

Abstract

Cyber violence is one of the emerging threats in the digital era. It occurs more frequently among adolescent girls compared to boys. The impacts of cyber violence not only involve psychological disorders such as stress and depression but also increase the sense of loneliness among victims. On the other hand, wisdom is often regarded as a protective factor that can reduce loneliness. This study aims to examine the relationship between loneliness and wisdom among adolescent girls who are victims of cyber violence. A quantitative approach was employed, involving 200 adolescent girls aged 17–24 years. The participants were active social media users who had experienced cyber violence. The research instruments included the UCLA Loneliness Scale, the Brief Self-Assessed Kebijaksanaan Scale, and the Experiencing Cyber-Violence Scale. Data analysis was conducted using Pearson correlation and linear regression tests. The results revealed no significant relationship between wisdom and loneliness. Furthermore, wisdom showed no significant differences based on age, levels of loneliness, or duration of social media usage. These findings emphasize that loneliness among cyber violence victims is more influenced by other factors, such as social support and coping strategies, rather than internal characteristics like wisdom. This study also recommends cyber wisdom education as a preventive measure.
Hubungan Regulasi Emosi dengan Self-Disclosure pada Emerging Adulthood Pengguna TikTok di Jabodetabek Sysari Fitri Yanti; Riana Sahrani
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 04 (2025): Volume 10 No. 04 Desember 2025 In Published
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i04.37503

Abstract

The rise of social media platforms, particularly TikTok, has contributed to increasing self-disclosure among individuals in emerging adulthood. Self-disclosure in digital public spaces is often influenced by one’s ability to regulate emotions. This study aims to examine the relationship between emotion regulation and self-disclosure among emerging adults who use TikTok in the Jabodetabek area. This research employed a quantitative approach with a survey method. A total of 305 participants aged 18–25 years, all active TikTok users who frequently upload videos, were recruited for the study. The Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) was used to measure emotion regulation, while a self-disclosure scale adapted for social media contexts was utilized. Data analysis was conducted using Spearman’s correlation due to non-normal data distribution.The results show a significant negative relationship between emotion regulation and self-disclosure (rₛ = –0.152, p = 0.008). This indicates that individuals with higher emotion regulation tend to engage less in self-disclosure on TikTok. These findings suggest that emerging adults who are better at managing their emotions are more cautious about sharing personal information on social media. This study contributes to a deeper understanding of the psychological processes influencing social media behavior among emerging adults.
GAMBARAN PERMA PADA LANSIA YANG MELAKSANAKAN KEGIATAN HORTIKULTURA Victoria Alexandra Aureli Prasetyo; Riana Sahrani
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 10 No. 04 (2024): Volume 10 No. 04 Desember 2024 In Press
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v10i04.4835

Abstract

This study aims to explore how horticultural activities can enhance the psychological well-being of the elderly through the PERMA model (Positive Emotion, Engagement, Relationships, Meaning, and Accomplishment) developed by Martin Seligman. Using a qualitative method with a phenomenological approach, the study investigates the subjective experiences of elderly individuals who have been actively engaged in horticultural activities for at least six months. The findings reveal that horticultural activities provide benefits across the five dimensions of PERMA. Elderly participants reported increased positive emotions from the satisfaction of nurturing plants, full engagement in activities that induce flow experiences, strengthened social relationships through interactions with gardening communities, a sense of meaning in life through contributing to the environment, and personal accomplishments derived from caring for plants. Factors such as social support, the intensity of involvement, and the physical condition of the elderly significantly influence the effectiveness of horticultural activities. This research offers new insights into the importance of horticulture as an activity-based intervention to enhance the well-being of the elderly. Additionally, the results are expected to serve as a reference for developing community programs and policies that support the involvement of elderly individuals in meaningful activities.