Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Penatalaksanaan Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) Tipe Kolesteatoma dengan Timpanomastoidektomi Dinding Runtuh dan Rekonstruksi Dinding Posterior Liang Telinga Yayan Akhyar; Rossy Rosalinda
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 1 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v1i1.15

Abstract

Pendahuluan: Otitis media supuratif kronis (OMSK) merupakan infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus menerus atau hilang timbul selama lebih dari 2 bulan. Tatalaksana bedah merupakan pilihan pada kasus-kasus OMSK tipe kolesteatoma. Dalam usaha mendapatkan kombinasi tindakan dengan paparan yang baik seperti pada mastoidektomi dinding runtuh dengan tetap memperservasi dinding posterior liang telinga seperti pada mastoidektomi dinding utuh, timpanomastoidektomi dinding runtuh dengan rekonstruksi dinding posterior liang telinga telah dikembangkan. Laporan kasus: Dilaporkan satu kasus anak perempuan 15 tahun dengan OMSK AS tipe kolesteatoma dengan destruksi dinding posterior liang telinga dan gangguan pendengaran. Kesimpulan: Tindakan timpano mastoidektomi dinding runtuh dengan rekonstruksi dinding posterior liang telinga selain memiliki keuntungan memaksimalkan eksplorasi jaringan patologis, juga dapat menjadi solusi untuk menciptakan dry ear, tidak memerlukan debridemaen rutin, dan lebih mudah dalam pemasangan alat bantu dengar bila dibutuhkan nantinya. Kata kunci: otitis media supuratif kronis tipe kolesteatoma, timpanomastoidektomi dinding runtuh, rekonstruksi dinding posterior liang telinga
Kolesteatom Kongenital dengan Komplikasi Abses Retroaurikula indriani, indriani; Edward, Yan; Rosalinda, Rossy
Jurnal Kesehatan Andalas Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v9i2.1311

Abstract

Kolesteatom kongenital dapat tumbuh di telinga tengah, apeks petrosus dari tulang temporal dan mastoid. Penyakit in biasanya ditemukan secara tidak sengaja saat melakukan tomografi komputer atau setelah ada komplikasi. Salah satu komplikasi yang sering terjadi adalah mastoiditis yang menyebabkan abses retroaurikula. Diagnosis kolesteatom kongenital ditegakkan apabila ditemukan kolesteatom tanpa perforasi membran timpani, riwayat otore maupun riwayat operasi telinga sebelumnya. Operasi adalah terapi mutlak pada kasus ini. Dilaporkan satu kasus kolesteatom kongenital dengan komplikasi abses retroaurikula pada seorang anak perempuan berusia 12 tahun. Pada pasien ini dilakukan tindakan timpanomastoidektomi dinding utuh, yang di follow up selama 3 bulan dengan hasil yang memuaskan. Abses retroaurikula merupakan salah satu komplikasi kolesteatom kongenital yang sering menjadi awal gejala adanya kolesteatom kongenital. Deteksi dini dan tatalaksana yang tepat akan memberikan hasil yang maksimal.Kata kunci: abses retroaurikula, kolesteatom kongenital, membran timpani utuh
UPAYA PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN COVID-19 MELALUI PEMBUATAN DAN PENDISTRIBUSIAN ALAT PELINDUNG DIRI PADA BERBAGAI PUSKESMAS DI KOTA PADANG Efrida Efrida; Fachzi Fitri; Sukri Rahman; Ade Asyari; Al Hafiz; Dolly Irfandy; Yan Edward; Novialdi Novialdi; Bestari Jaka Budiman; Effy Huriyati; Jacky Munilson; Nirza Warto; Rossy Rosalinda
BULETIN ILMIAH NAGARI MEMBANGUN Vol. 3 No. 3 (2020)
Publisher : LPPM (Institute for Research and Community Services) Universitas Andalas Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/bina.v3i3.241

Abstract

The Covid-19 case that has spread in Indonesia requires efforts from various parties to resolve it. The Faculty of Medicine, Andalas University, is also making efforts to prevent and control Covid-19. The purpose of this activity is to minimize the possibility of the rapid spread of Covid-19 and preventive efforts to keep the people around Pauh, Kuranji, and Air Cold healthy and protected from Covid-19. This activity was carried out in three health centers: Pauh Puskesmas, Kuranji Health Center, and Padang City Puskesmas Air Cold. The method used is KIE (Educational Information Communication) about the COVID-19 disease in publishing articles in the mass media and giving masks. The target of the activity is the community around Pauh, Kuranji, and Air Cold Padang City. The results of the activities obtained include producing PPE (Personal Protective Equipment) as many as 80 face shields, 400 masks, and 60 hazmat suits involving MSMEs (Micro, Small, and Medium Enterprises) and convection. Furthermore, this PPE is distributed to health centers in need, namely Pauh Puskesmas, Kuranji Health Center, and Puskesmas Air Cold Padang City. Furthermore, it is distributed to parties in need, namely the public and medical personnel. The Covid-19 prevention and control program is carried out to suppress and reduce the positive number of Covid-19 and protect medical personnel from providing top service to patients. Furthermore, making PPE that involves MSMEs and convection can help the community's economy, which has declined due to this pandemic.
Ototoksisitas akibat Penggunaan Cisplatin dan Pendekatan Otoprotektif untuk Pencegahannya Saputra, Rizki; Rosalinda, Rossy; Rahman , Sukri; Aliska , Gestina
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 2 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v2i1.36

Abstract

Latar Belakang: Peningkatan secara statistik angka harapan hidup pasien kanker setelah diterapi membuat pemantauan efek samping jangka panjang kemoterapi sangat dibutuhkan. Cisplatin menjadi agen kemoterapi pilihan pada kanker kepala dan leher karna sifatnya yang sangat poten. Bertentangan dengan manfaat terapiutik tersebut, pemakaian cisplatin memiliki potensi masalah ototksik yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Tujuan: Untuk mengetahui dan memahami mekanisme ototoksisitas akibat penggunaan cisplatin dan upaya otoprotektif. Tinjauan Pustaka: Sebagai agen kemoterapi, cisplatin memiliki beberapa efek samping salah satunya bersifat ototoksik. Mekanisme ototoksik akibat cisplatin dihubungkan dengan pembentukan radikal bebas yang menyebabkan apoptosis pada sel rambut luar koklea dan jaringan penunjang di organ Corti. Pasien yang menerima pengobatan cisplatin harus dilakukan evaluasi fungsi pendengaran secara berkala. Sampai saat ini belum ada obat-obatan yang menjadi pilihan utama dalam upaya preventif ototoksik akibat cisplatin. Penggunaan obat golongan seperti N-asetilsistein, sodium tiosulfat, vitamin E, amifostin membuka harapan untuk pengembangan terapi preventif ototoksik. Kesimpulan: Efek samping ototoksik yang ditimbulkan merupakan salah satu masalah yang harus ditatalaksana. Monitoring pendengaran dibutuhkan untuk mendeteksi pemasalahan ini. Beberapa agen otoprotektif seperti antioksidan dan kortikosteroid dapat menjadi pilihan tatalaksana dalam upaya preventif. Pemberian agen otoprotektif secara sistemik dan intratimpani memiliki kelebihan dan kekurangan dalam penggunaannya. Kata kunci: ototoksik, cisplatin, preventif, intratimpani
Intratympanic Corticosteroid Salvage for Pediatric Bilateral Sudden Sensorineural Hearing Loss Complicated by Methylprednisolone-Induced Hypertensive Urgency in an Obese Adolescent Jihan Mudrika Rahmi; Rossy Rosalinda
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 10 No. 3 (2026): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/bsm.v10i3.1531

Abstract

Background: Bilateral sudden sensorineural hearing loss (SSNHL) is a rare otologic emergency, accounting for less than 5% of sudden deafness cases and occurring even less frequently in pediatric populations. Unlike unilateral cases, bilateral involvement strongly implicates systemic etiologies such as autoimmune inner ear disease (AIED). Systemic high-dose corticosteroids are the standard first-line therapy but pose significant risks of toxicity, including hypertensive crisis, particularly in adolescents with metabolic risk factors. Case presentation: We report the case of a 17-year-old male (BMI 29.0 kg/m²) presenting with acute, simultaneous bilateral hearing loss (Pure Tone Average [PTA]: Right 82.5 dB, Left 81.25 dB) and severe tinnitus (Tinnitus Handicap Index [THI]: 78). Initial management with high-dose intravenous methylprednisolone (500 mg/day) was complicated on Day 7 by hypertensive urgency (Blood Pressure 150/95 mmHg) and neurological symptoms, necessitating immediate cessation of systemic therapy. Diagnostic investigation was limited by resource availability; however, elevated inflammatory markers supported a presumptive immune-mediated etiology. A salvage protocol was initiated using four weekly cycles of intratympanic Triamcinolone Acetonide. Following therapy, the patient demonstrated slight audiological recovery (PTA stabilized at 65 dB bilaterally) but achieved complete resolution of tinnitus (THI: 0). Conclusion: This case highlights the critical role of intratympanic corticosteroids as a safe salvage modality when systemic therapy is contraindicated due to toxicity. The dissociation between modest audiometric gain and complete tinnitus resolution suggests successful mitigation of cochlear synaptopathy. The case underscores the necessity of cardiovascular monitoring and BMI-adjusted risk stratification in adolescents receiving high-dose steroids.
Intratympanic Corticosteroid Salvage for Pediatric Bilateral Sudden Sensorineural Hearing Loss Complicated by Methylprednisolone-Induced Hypertensive Urgency in an Obese Adolescent Jihan Mudrika Rahmi; Rossy Rosalinda
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 10 No. 3 (2026): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/bsm.v10i3.1531

Abstract

Background: Bilateral sudden sensorineural hearing loss (SSNHL) is a rare otologic emergency, accounting for less than 5% of sudden deafness cases and occurring even less frequently in pediatric populations. Unlike unilateral cases, bilateral involvement strongly implicates systemic etiologies such as autoimmune inner ear disease (AIED). Systemic high-dose corticosteroids are the standard first-line therapy but pose significant risks of toxicity, including hypertensive crisis, particularly in adolescents with metabolic risk factors. Case presentation: We report the case of a 17-year-old male (BMI 29.0 kg/m²) presenting with acute, simultaneous bilateral hearing loss (Pure Tone Average [PTA]: Right 82.5 dB, Left 81.25 dB) and severe tinnitus (Tinnitus Handicap Index [THI]: 78). Initial management with high-dose intravenous methylprednisolone (500 mg/day) was complicated on Day 7 by hypertensive urgency (Blood Pressure 150/95 mmHg) and neurological symptoms, necessitating immediate cessation of systemic therapy. Diagnostic investigation was limited by resource availability; however, elevated inflammatory markers supported a presumptive immune-mediated etiology. A salvage protocol was initiated using four weekly cycles of intratympanic Triamcinolone Acetonide. Following therapy, the patient demonstrated slight audiological recovery (PTA stabilized at 65 dB bilaterally) but achieved complete resolution of tinnitus (THI: 0). Conclusion: This case highlights the critical role of intratympanic corticosteroids as a safe salvage modality when systemic therapy is contraindicated due to toxicity. The dissociation between modest audiometric gain and complete tinnitus resolution suggests successful mitigation of cochlear synaptopathy. The case underscores the necessity of cardiovascular monitoring and BMI-adjusted risk stratification in adolescents receiving high-dose steroids.
Diagnosis dan Tatalaksana Terbaru Presbikusis Ghinasari, Meilia; Rosalinda, Rossy
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v4i1.84

Abstract

Latar Belakang: Presbikusis didefinisikan sebagai gangguan pendengaran sensorineural progresif yang terkait dengan penuaan. Beberapa studi menunjukkan bahwa kerentanan genetik, stres oksidatif dan peradangan kronik dalam sel rambut dapat memicu respons inflamasi, yang menyebabkan kerusakan pada sel rambut seiring bertambahnya usia. Tujuan: untuk lebih memahami diagnosis dan tatalaksana terbaru presbikusis. Tinjauan Pustaka: Presbikusis ditandai dengan gangguan pendengaran sensorineural yang progresif, bilateral dan simetris, dengan sebagian besar pasien mulai mengalami kehilangan pendengaran pada frekuensi tinggi. Individu dengan presbikusis sering mengalami “cocktail party effect”, disertai gejala seperti tinnitus, vertigo, ketidak-seimbangan dan jatuh. Diagnosis presbikusis ditegakkan dengan pada penurunan pendengaran di atas frekuensi 2000 Hz pada audiometri nada murni dan didapatkan abnormalitas pada audiometri tutur dan speech-in-noise test. Tatalaksana presbikusis mencakup alat bantu dengar, implan koklea, medikamentosa, terapi stem cell dan terapi gen. Kesimpulan: Kerentanan genetik, stres oksidatif dan peradangan kronik terlibat dalam perkembangan presbikusis. Diagnosis presbikusis ditegakkan dengan audiometri nada murni, audiometri tutur dan speech-in-noise test. Tatalaksana presbikusis meliputi rehabilitasi pendengaran, medikamentosa dan terapi gen.
Tatalaksana Paresis Nervus Fasialis akibat Fraktur Temporal Khalisha, Auzy Yoana; Rosalinda, Rossy; Handayani, Tuti
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v4i1.85

Abstract

Latar Belakang: Fraktur tulang temporal merupakan salah satu cedera kepala yang sering terjadi akibat trauma tumpul berenergi tinggi. Salah satu komplikasi yang dapat terjadi adalah paresis nervus fasialis, yang berdampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien. Diagnosis ditegakkan dengan adanya riwayat trauma kepala disertai paresis nervus fasialis satu sisi, penurunan pendengaran dan tampak adanya garis fraktur pada High-Resolution Computed Tomography (HRCT) scan temporal. Laporan kasus: Dilaporkan seorang perempuan 43 tahun dengan keluhan wajah sisi kiri mencong sejak 1 bulan pasca kecelakaan lalu lintas. Pemeriksaan menunjukkan hemotimpanum, paresis nervus fasialis perifer sinistra House-Brackmann V, gangguan pendengaran konduktif, dan hasil HRCT menunjukkan fraktur longitudinal tulang temporal kiri melibatkan dinding kanalis fasialis. Pasien ditatalaksana dengan pemasangan pipa grommet dan injeksi kortikosteroid intratimpani, terapi medikamentosa berupa obat neurotropik dan tetes mata, serta fisioterapi wajah. Perbaikan klinis terjadi bertahap hingga House-Brackmann III dalam 2 bulan pasca tindakan. Kesimpulan: Penatalaksanaan paresis nervus fasialis akibat fraktur tulang temporal memerlukan pendekatan multidisiplin. Deteksi dini, evaluasi menyeluruh, dan tatalaksana yang tepat dapat meningkatkan prognosis, memperbaiki fungsi nervus fasialis, dan mencegah kecacatan jangka panjang.
Tatalaksana Tuli Mendadak pada Anak Dona, Rafika; Rosalinda, Rossy
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v4i1.86

Abstract

Latar Belakang: Tuli mendadak merupakan kondisi kehilangan pendengaran secara tiba-tiba dengan minimal ambang dengar 30 dB pada 3 frekuensi yang berdekatan pada audiometri nada murni terjadi kurang dari 72 jam yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen dan penurunan kualitas hidup secara signifikan. Insidensinya jarang pada anak, etiologi dan patogenesis tuli mendadak pada anak terbanyak adalah idiopatik, infeksi virus dan kelainan anatomi telinga dalam. Pemberian terapi kortikosteroid saat ini menjadi pilihan terapi utama untuk kasus tuli mendadak termasuk pada anak. Laporan Kasus: Seorang anak laki-laki berusia 15 tahun dengan keluhan penurunan pendengaran mendadak pada telinga kanan sejak 11 hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien memiliki kebiasaan merokok. Dari pemeriksaan audiometri nada murni didapatkan hasil gangguan pendengaran tipe campuran derajat berat pada telinga kanan. Terapi awal dengan kortikosteroid sistemik dilanjutkan dengan injeksi intratimpani empat siklus dan terjadi perbaikan pendengaran yang signifikan. Kesimpulan: Tuli mendadak pada anak jarang terjadi, penyebab tuli mendadak pada anak terbanyak adalah idiopatik, infeksi virus dan kelainan anatomi. Penatalaksanaan tuli mendadak dengan terapi kortikosteroid sistemik dan injeksi intratimpani sebagai salvage therapy pada anak  menunjukkan hasil klinis yang baik terutama bila diberikan dalam periode awal onset.
Korelasi Perubahan Kadar Enzim Superoxide Dismutase dan Ambang Dengar pada Penderita Tumor Ganas Kepala Leher yang Mendapat Kemoterapi Cisplatin Yoanita, Rini; Rosalinda, Rossy; Rahman, Sukri; Aliska, Gestina; Yetti, Husna
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v4i1.92

Abstract

Latar Belakang: Cisplatin dapat digunakan sebagai terapi tunggal atau kombinasi untuk induksi atau terapi neoadjuvan pada tumor ganas kepala leher, memiliki berbagai toksisitas yang membatasi dosis dan bersifat kumulatif, bahwa stria vaskularis merupakan awal cedera yang diinduksi oleh Cisplatin. Cisplatin meningkatkan pembentukan reactive oxygen species (ROS) di koklea. Superoksida diubah menjadi hidrogen peroksida baik secara spontan maupun melalui superoxide dismutase (SOD). Tujuan penelitian untuk mengetahui korelasi antara perubahan konsentrasi enzim antioksidan SOD dan perubahan ambang dengar penderita kemoterapi dengan Cisplatin pada tumor ganas kepala leher. Metode: Penelitian ini menggunakan pretest-posttest one group design pada penderita tumor ganas kepala leher yang mendapat kemoterapi cisplatin dengan dosis 75 mg/m2. Sebelum dilakukan kemoterapi dilakukan pemeriksaan audiometri nada murni dan pengambilan sampel darah sebagai data awal. Dua minggu sesudah kemoterapi, dilakukan pemeriksaan audiometri nada murni dan pengambilan sampel darah kembali. Data dianalisis secara statistik dengan program komputer dan dinyatakan bermakna jika p<0,05. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan peningkatan kadar SOD sesudah diberikan kemoterapi cisplatin dengan signifikansi p<0,05. Terdapat peningkatan nilai ambang dengar hantaran tulang pada frekuensi 250, 500, dan 8000 Hz sesudah kemoterapi dengan signifikansi p<0,05. Terdapat korelasi lemah antara kadar SOD dan ambang dengar hantaran tulang pada frekuensi 250, 2000, dan 4000 Hz, dan korelasi sedang pada frekuensi 500, 1000, dan 8000 Hz. Kesimpulan: Pemeriksaan kadar SOD berkorelasi lemah dan sedang terhadap ambang dengar penderita tumor ganas kepala leher yang mendapat kemoterapi cisplatin. Pemeriksaan kadar SOD dapat dijadikan prediktor untuk menilai kondisi stres oksidatif pada kejadian ototoksik sebagai pertimbangan pemberian antioksidan.