Articles
Ototoksisitas akibat Penggunaan Cisplatin dan Pendekatan Otoprotektif untuk Pencegahannya
Saputra, Rizki;
Rosalinda, Rossy;
Rahman , Sukri;
Aliska , Gestina
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 2 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jokli.v2i1.36
Latar Belakang: Peningkatan secara statistik angka harapan hidup pasien kanker setelah diterapi membuat pemantauan efek samping jangka panjang kemoterapi sangat dibutuhkan. Cisplatin menjadi agen kemoterapi pilihan pada kanker kepala dan leher karna sifatnya yang sangat poten. Bertentangan dengan manfaat terapiutik tersebut, pemakaian cisplatin memiliki potensi masalah ototksik yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Tujuan: Untuk mengetahui dan memahami mekanisme ototoksisitas akibat penggunaan cisplatin dan upaya otoprotektif. Tinjauan Pustaka: Sebagai agen kemoterapi, cisplatin memiliki beberapa efek samping salah satunya bersifat ototoksik. Mekanisme ototoksik akibat cisplatin dihubungkan dengan pembentukan radikal bebas yang menyebabkan apoptosis pada sel rambut luar koklea dan jaringan penunjang di organ Corti. Pasien yang menerima pengobatan cisplatin harus dilakukan evaluasi fungsi pendengaran secara berkala. Sampai saat ini belum ada obat-obatan yang menjadi pilihan utama dalam upaya preventif ototoksik akibat cisplatin. Penggunaan obat golongan seperti N-asetilsistein, sodium tiosulfat, vitamin E, amifostin membuka harapan untuk pengembangan terapi preventif ototoksik. Kesimpulan: Efek samping ototoksik yang ditimbulkan merupakan salah satu masalah yang harus ditatalaksana. Monitoring pendengaran dibutuhkan untuk mendeteksi pemasalahan ini. Beberapa agen otoprotektif seperti antioksidan dan kortikosteroid dapat menjadi pilihan tatalaksana dalam upaya preventif. Pemberian agen otoprotektif secara sistemik dan intratimpani memiliki kelebihan dan kekurangan dalam penggunaannya. Kata kunci: ototoksik, cisplatin, preventif, intratimpani
Diagnosis dan Tatalaksana Terbaru Presbikusis
Ghinasari, Meilia;
Rosalinda, Rossy
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jokli.v4i1.84
Latar Belakang: Presbikusis didefinisikan sebagai gangguan pendengaran sensorineural progresif yang terkait dengan penuaan. Beberapa studi menunjukkan bahwa kerentanan genetik, stres oksidatif dan peradangan kronik dalam sel rambut dapat memicu respons inflamasi, yang menyebabkan kerusakan pada sel rambut seiring bertambahnya usia. Tujuan: untuk lebih memahami diagnosis dan tatalaksana terbaru presbikusis. Tinjauan Pustaka: Presbikusis ditandai dengan gangguan pendengaran sensorineural yang progresif, bilateral dan simetris, dengan sebagian besar pasien mulai mengalami kehilangan pendengaran pada frekuensi tinggi. Individu dengan presbikusis sering mengalami “cocktail party effect”, disertai gejala seperti tinnitus, vertigo, ketidak-seimbangan dan jatuh. Diagnosis presbikusis ditegakkan dengan pada penurunan pendengaran di atas frekuensi 2000 Hz pada audiometri nada murni dan didapatkan abnormalitas pada audiometri tutur dan speech-in-noise test. Tatalaksana presbikusis mencakup alat bantu dengar, implan koklea, medikamentosa, terapi stem cell dan terapi gen. Kesimpulan: Kerentanan genetik, stres oksidatif dan peradangan kronik terlibat dalam perkembangan presbikusis. Diagnosis presbikusis ditegakkan dengan audiometri nada murni, audiometri tutur dan speech-in-noise test. Tatalaksana presbikusis meliputi rehabilitasi pendengaran, medikamentosa dan terapi gen.
Tatalaksana Paresis Nervus Fasialis akibat Fraktur Temporal
Khalisha, Auzy Yoana;
Rosalinda, Rossy; Handayani, Tuti
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jokli.v4i1.85
Latar Belakang: Fraktur tulang temporal merupakan salah satu cedera kepala yang sering terjadi akibat trauma tumpul berenergi tinggi. Salah satu komplikasi yang dapat terjadi adalah paresis nervus fasialis, yang berdampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien. Diagnosis ditegakkan dengan adanya riwayat trauma kepala disertai paresis nervus fasialis satu sisi, penurunan pendengaran dan tampak adanya garis fraktur pada High-Resolution Computed Tomography (HRCT) scan temporal. Laporan kasus: Dilaporkan seorang perempuan 43 tahun dengan keluhan wajah sisi kiri mencong sejak 1 bulan pasca kecelakaan lalu lintas. Pemeriksaan menunjukkan hemotimpanum, paresis nervus fasialis perifer sinistra House-Brackmann V, gangguan pendengaran konduktif, dan hasil HRCT menunjukkan fraktur longitudinal tulang temporal kiri melibatkan dinding kanalis fasialis. Pasien ditatalaksana dengan pemasangan pipa grommet dan injeksi kortikosteroid intratimpani, terapi medikamentosa berupa obat neurotropik dan tetes mata, serta fisioterapi wajah. Perbaikan klinis terjadi bertahap hingga House-Brackmann III dalam 2 bulan pasca tindakan. Kesimpulan: Penatalaksanaan paresis nervus fasialis akibat fraktur tulang temporal memerlukan pendekatan multidisiplin. Deteksi dini, evaluasi menyeluruh, dan tatalaksana yang tepat dapat meningkatkan prognosis, memperbaiki fungsi nervus fasialis, dan mencegah kecacatan jangka panjang.
Tatalaksana Tuli Mendadak pada Anak
Dona, Rafika;
Rosalinda, Rossy
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jokli.v4i1.86
Latar Belakang: Tuli mendadak merupakan kondisi kehilangan pendengaran secara tiba-tiba dengan minimal ambang dengar 30 dB pada 3 frekuensi yang berdekatan pada audiometri nada murni terjadi kurang dari 72 jam yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen dan penurunan kualitas hidup secara signifikan. Insidensinya jarang pada anak, etiologi dan patogenesis tuli mendadak pada anak terbanyak adalah idiopatik, infeksi virus dan kelainan anatomi telinga dalam. Pemberian terapi kortikosteroid saat ini menjadi pilihan terapi utama untuk kasus tuli mendadak termasuk pada anak. Laporan Kasus: Seorang anak laki-laki berusia 15 tahun dengan keluhan penurunan pendengaran mendadak pada telinga kanan sejak 11 hari sebelum masuk rumah sakit. Pasien memiliki kebiasaan merokok. Dari pemeriksaan audiometri nada murni didapatkan hasil gangguan pendengaran tipe campuran derajat berat pada telinga kanan. Terapi awal dengan kortikosteroid sistemik dilanjutkan dengan injeksi intratimpani empat siklus dan terjadi perbaikan pendengaran yang signifikan. Kesimpulan: Tuli mendadak pada anak jarang terjadi, penyebab tuli mendadak pada anak terbanyak adalah idiopatik, infeksi virus dan kelainan anatomi. Penatalaksanaan tuli mendadak dengan terapi kortikosteroid sistemik dan injeksi intratimpani sebagai salvage therapy pada anak menunjukkan hasil klinis yang baik terutama bila diberikan dalam periode awal onset.
Korelasi Perubahan Kadar Enzim Superoxide Dismutase dan Ambang Dengar pada Penderita Tumor Ganas Kepala Leher yang Mendapat Kemoterapi Cisplatin
Yoanita, Rini;
Rosalinda, Rossy;
Rahman, Sukri;
Aliska, Gestina;
Yetti, Husna
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jokli.v4i1.92
Latar Belakang: Cisplatin dapat digunakan sebagai terapi tunggal atau kombinasi untuk induksi atau terapi neoadjuvan pada tumor ganas kepala leher, memiliki berbagai toksisitas yang membatasi dosis dan bersifat kumulatif, bahwa stria vaskularis merupakan awal cedera yang diinduksi oleh Cisplatin. Cisplatin meningkatkan pembentukan reactive oxygen species (ROS) di koklea. Superoksida diubah menjadi hidrogen peroksida baik secara spontan maupun melalui superoxide dismutase (SOD). Tujuan penelitian untuk mengetahui korelasi antara perubahan konsentrasi enzim antioksidan SOD dan perubahan ambang dengar penderita kemoterapi dengan Cisplatin pada tumor ganas kepala leher. Metode: Penelitian ini menggunakan pretest-posttest one group design pada penderita tumor ganas kepala leher yang mendapat kemoterapi cisplatin dengan dosis 75 mg/m2. Sebelum dilakukan kemoterapi dilakukan pemeriksaan audiometri nada murni dan pengambilan sampel darah sebagai data awal. Dua minggu sesudah kemoterapi, dilakukan pemeriksaan audiometri nada murni dan pengambilan sampel darah kembali. Data dianalisis secara statistik dengan program komputer dan dinyatakan bermakna jika p<0,05. Hasil: Pada penelitian ini didapatkan peningkatan kadar SOD sesudah diberikan kemoterapi cisplatin dengan signifikansi p<0,05. Terdapat peningkatan nilai ambang dengar hantaran tulang pada frekuensi 250, 500, dan 8000 Hz sesudah kemoterapi dengan signifikansi p<0,05. Terdapat korelasi lemah antara kadar SOD dan ambang dengar hantaran tulang pada frekuensi 250, 2000, dan 4000 Hz, dan korelasi sedang pada frekuensi 500, 1000, dan 8000 Hz. Kesimpulan: Pemeriksaan kadar SOD berkorelasi lemah dan sedang terhadap ambang dengar penderita tumor ganas kepala leher yang mendapat kemoterapi cisplatin. Pemeriksaan kadar SOD dapat dijadikan prediktor untuk menilai kondisi stres oksidatif pada kejadian ototoksik sebagai pertimbangan pemberian antioksidan.
Papiloma Sel Skuamosa pada Kanalis Akustikus Eksterna: Kasus Jarang
Syafefi, Charla;
Rosalinda, Rossy;
Musyarifah, Zulda
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jokli.v4i1.94
Latar Belakang: Papiloma sel skuamosa pada kanalis akustikus eksterna adalah tumor jinak yang jarang terjadi. Papiloma sel skuamosa disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV) dan umumnya terjadi tanpa gejala. Diagnosis yang tepat dan akurat dibutuhkan untuk mendapatkan hasil terapi yang memuaskan. Penatalaksanaan yang menjadi pilihan adalah dengan eksisi komplit tumor. Terapi ini dipilih untuk mencegah kekambuhan dari papiloma sel skuamosa. Laporan Kasus: Seorang laki-laki berusia 67 tahun datang dengan keluhan terdapat benjolan di telinga kanan. Benjolan baru disadari saat melakukan pemeriksaan kesehatan berkala. Keluhan disertai dengan rasa penuh pada telinga. Tidak ada keluhan lain seperti telinga berair, penurunan pendengaran ataupun nyeri pada telinga. Pasien didiagnosis dengan tumor pada liang telinga kanan dan dilakukan biopsi sebelum tindakan operasi dengan hasil papiloma sel skuamosa. Pasien ditatalaksana dengan tindakan eksisi bedah komplit dalam anestesi umum. Setelah 2 bulan operasi tidak ada kekambuhan pada pasien. Pasien dipantau berkala untuk menilai terjadinya rekurensi. Kesimpulan: Papiloma sel skuamosa pada kanalis akustikus eksterna adalah kasus yang jarang terjadi. Tindakan eksisi bedah diperlukan untuk tatalaksana dan pemantauan berkala untuk mencegah terjadinya rekurensi.
Intratympanic Corticosteroid Salvage for Pediatric Bilateral Sudden Sensorineural Hearing Loss Complicated by Methylprednisolone-Induced Hypertensive Urgency in an Obese Adolescent
Jihan Mudrika Rahmi;
Rossy Rosalinda
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 10 No. 3 (2026): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37275/bsm.v10i3.1531
Background: Bilateral sudden sensorineural hearing loss (SSNHL) is a rare otologic emergency, accounting for less than 5% of sudden deafness cases and occurring even less frequently in pediatric populations. Unlike unilateral cases, bilateral involvement strongly implicates systemic etiologies such as autoimmune inner ear disease (AIED). Systemic high-dose corticosteroids are the standard first-line therapy but pose significant risks of toxicity, including hypertensive crisis, particularly in adolescents with metabolic risk factors. Case presentation: We report the case of a 17-year-old male (BMI 29.0 kg/m²) presenting with acute, simultaneous bilateral hearing loss (Pure Tone Average [PTA]: Right 82.5 dB, Left 81.25 dB) and severe tinnitus (Tinnitus Handicap Index [THI]: 78). Initial management with high-dose intravenous methylprednisolone (500 mg/day) was complicated on Day 7 by hypertensive urgency (Blood Pressure 150/95 mmHg) and neurological symptoms, necessitating immediate cessation of systemic therapy. Diagnostic investigation was limited by resource availability; however, elevated inflammatory markers supported a presumptive immune-mediated etiology. A salvage protocol was initiated using four weekly cycles of intratympanic Triamcinolone Acetonide. Following therapy, the patient demonstrated slight audiological recovery (PTA stabilized at 65 dB bilaterally) but achieved complete resolution of tinnitus (THI: 0). Conclusion: This case highlights the critical role of intratympanic corticosteroids as a safe salvage modality when systemic therapy is contraindicated due to toxicity. The dissociation between modest audiometric gain and complete tinnitus resolution suggests successful mitigation of cochlear synaptopathy. The case underscores the necessity of cardiovascular monitoring and BMI-adjusted risk stratification in adolescents receiving high-dose steroids.
Intratympanic Corticosteroid Salvage for Pediatric Bilateral Sudden Sensorineural Hearing Loss Complicated by Methylprednisolone-Induced Hypertensive Urgency in an Obese Adolescent
Jihan Mudrika Rahmi;
Rossy Rosalinda
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 10 No. 3 (2026): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37275/bsm.v10i3.1531
Background: Bilateral sudden sensorineural hearing loss (SSNHL) is a rare otologic emergency, accounting for less than 5% of sudden deafness cases and occurring even less frequently in pediatric populations. Unlike unilateral cases, bilateral involvement strongly implicates systemic etiologies such as autoimmune inner ear disease (AIED). Systemic high-dose corticosteroids are the standard first-line therapy but pose significant risks of toxicity, including hypertensive crisis, particularly in adolescents with metabolic risk factors. Case presentation: We report the case of a 17-year-old male (BMI 29.0 kg/m²) presenting with acute, simultaneous bilateral hearing loss (Pure Tone Average [PTA]: Right 82.5 dB, Left 81.25 dB) and severe tinnitus (Tinnitus Handicap Index [THI]: 78). Initial management with high-dose intravenous methylprednisolone (500 mg/day) was complicated on Day 7 by hypertensive urgency (Blood Pressure 150/95 mmHg) and neurological symptoms, necessitating immediate cessation of systemic therapy. Diagnostic investigation was limited by resource availability; however, elevated inflammatory markers supported a presumptive immune-mediated etiology. A salvage protocol was initiated using four weekly cycles of intratympanic Triamcinolone Acetonide. Following therapy, the patient demonstrated slight audiological recovery (PTA stabilized at 65 dB bilaterally) but achieved complete resolution of tinnitus (THI: 0). Conclusion: This case highlights the critical role of intratympanic corticosteroids as a safe salvage modality when systemic therapy is contraindicated due to toxicity. The dissociation between modest audiometric gain and complete tinnitus resolution suggests successful mitigation of cochlear synaptopathy. The case underscores the necessity of cardiovascular monitoring and BMI-adjusted risk stratification in adolescents receiving high-dose steroids.
Peran Audiometri Tutur pada Otitis Media Supuratif Kronis
Amany, Esmaralda Nurul;
Rosalinda, Rossy;
Munilson, Jacky;
Edward, Yan
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 1 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jokli.v1i1.8
Latar Belakang: Otitis media supuratif kronis adalah infeksi pada telinga tengah berkepanjangan yang ditandai dengan adanya sekret telinga dan perforasi membran timpani yang menetap dengan masalah utama yaitu gangguan pendengaran. Gangguan pendengaran akibat otitis media supuratif kronis dapat mengganggu perkembangan bahasa, kemampuan komunikasi dan menurunkan kualitas hidup. Pemeriksaan audiometri nada murni merupakan pemeriksaan pendengaran yang rutin dilakukan, tetapi dengan audiometri tutur dapat menilai kemampuan komunikasi pada pasien otitis media supuratif kronis. Tujuan : Mengetahui dan memahami peran pemeriksaan audiometri tutur pada pada pasien otitis media supuratif kronis. Tinjauan Pustaka: Pasien dengan otitis media supuratif kronis biasanya memiliki gambaran audiogram gangguan pendengaran konduktif, namun bisa juga terjadi gangguan pendengaran sensorineural. Audiometri tutur berguna untuk menilai kemampuan komunikasi dan memungkinkan penilaian aspek konduksi dan sensoris pada organ pendengaran serta memberikan gambaran fungsi pendengaran sentral. Pada pasien otitis media supuratif kronis dapat ditemukan gangguan pemahaman percakapan yang tidak dapat digambarkan oleh pemeriksaan audiometri nada murni. Kesimpulan : Otitis media supuratif kronis dapat menyebabkan gangguan pendengaran yang mempengaruhi aktivitas sehari-hari dan kualitas hidup seseorang. Pemeriksaan audiometri tutur penting dilakukan pada pasien otitis media supuratif kronis karena dapat mengevaluasi pendengaran dengan menilai kemampuan komunikasi, menilai prognosis terapi, dan rehabilitasi setelah dilakukan tindakan operatif. Kata kunci : Audiometri nada murni, audiometri tutur, otitis media supuratif kronis
Diagnosis dan Penatalaksanaan Penyakit Meniere
Akbar, Opi;
Rosalinda, Rossy
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 1 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/jokli.v1i1.13
ABSTRACT Background: Meniere's disease is the third leading cause of vertigo after Benign Paroxysmal Positional Vertigo and vestibular neuritis. Meniere's disease is also known as endolymphatic hydrops. Acute symptoms of Meniere's disease are characterized by triad of vertigo, tinnitus and hearing loss. This disease is a challenge for ENT specialist in making a diagnosis and determining the right and optimal management. Objective: Provides knowledge about the diagnosis and management of Meniere's disease, so that it can be handled appropriately. Literature Review: Meniere's disease is an inner ear disorder characterized by spontaneous vertigo attacks, fluctuating low-tone sensorineural hearing loss, aural fullness and tinnitus. The most consistent finding and still being used as the basic mechanism of Meniere's disease to date is the discovery of endolymphatic hydrops. Diagnostic tests to diagnose Meniere's disease include audiometry, glycerol test, caloric test and electrocochleography. Meniere's disease can significantly affect quality of life and generally managed with dietary modifications such as a low-salt diet, medical therapy such as diuretics and surgery such as intratimpani injection and endolymphatic sac surgery. Conclusion: Meniere's disease is characterized by a triad of vertigo symptoms, low-tone sensorineural hearing loss and tinnitus. Making the diagnosis requires a detailed history with a complete audiology and vestibular examination. The management of Meniere's disease consists of dietary modifications, medical therapy and surgery. Keywords: meniere’s disease, endolymphatic hydrops, diuretics, intratimpani injection, endolymphatic sac surgery