Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Keterlibatan Warga Negara Muda dalam Gerakan Kewarganegaraan Ekologis untuk Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan Leha Silfiana; Samsuri Samsuri
Jurnal Studi Pemuda Vol 8, No 2 (2019): Pemuda, Risiko, dan Malapetaka Lingkungan Global
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.599 KB) | DOI: 10.22146/studipemudaugm.48180

Abstract

Young citizens have a strategic role in the movement to care for the environment. They are considered as guardian angels for the environment from the cruel economic development and development. Their involvement in the environmental movement will have a major impact on environmental sustainability. The ecological citizenship movement can be a bridge to bring young citizens to the success of environmentally sustainable development. The ecological citizenship movement is a social activity that focuses its activities on saving the environment from human selfish actions. The purpose of this study is to analyze the importance of the involvement of young citizens in the ecological citizenship movement to realize sustainable development with an environmental perspective. This research uses a literature study approach. Data sources were obtained from the results of reviews of journal articles or books related to ecological citizenship, sustainable development, and case studies on the involvement of young citizens in environmental management. This article consists of three discussions that fit the focus of this research. First, it outlines a description of the ecological citizenship movement. Second, it presents the results of an analysis of the forms of involvement of young citizens in the ecological citizenship movement from various case studies. Third, present the results of an analysis of the importance of the involvement of young citizens in environmentally sustainable development. Based on the results of the study it can be concluded that the involvement of young citizens in the ecological citizenship movement and sustainable development programs is very important, because they are the actors responsible for environmental sustainability and development in the future.
The use of controversial public issues with video and macromedia flash player media in civic education learning Hendra Hermawan; Samsuri Samsuri; Diah Putri Kurniawati; Vinni Sofyaningsih; Danang Prasetyo
Psychology, Evaluation, and Technology in Educational Research Vol. 1 No. 1 (2018)
Publisher : Research and Social Study Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33292/petier.v1i1.2

Abstract

The study aimed to find out the effect of controversial public issue learning models with video and Macromedia flash player media on students’ critical thinking skills in Civic Education subjects at SMA Negeri 1 Rancah. The particular research was a quasi-experimental research using pretest, posttest control group design. Data analysis techniques used independent t-test and one-way ANOVA test. The results showed that critical thinking skills on students taught using Controversial Public Issues model with video media had a significant effect on the critical thinking ability. This finding might be seen from the one-way ANOVA test results that the Fcount> Ftable (61.146> 3.13) or the p-value is lower than 0.05 (p = 0.000 <0.05) and the gain score. The experimental class 1 obtained a gain score of 0.49 in the category of "medium" effectiveness. The experimental class 2 obtained a gain score of 0.34 in the category of "medium" effectiveness. The control class obtained a gain score of 0.00 in the category of “low".
Pendekatan Kewarganegaraan Indonesia Toba Sastrawan Manik; Samsuri Samsuri
Jurnal Citizenship Virtues Vol. 1 No. 1 (2021): Nilai Pancasila dan Budaya Politik Bangsa
Publisher : LPPM STKIP Kusuma Negara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.568 KB) | DOI: 10.37640/jcv.v1i1.915

Abstract

Dalam diskursus kontemporer, aliran pendekatan kewarganegaraan terdiri atas Liberal, Republikan, dan Komunitarian. Tujuan dari kajian ini ialah untuk mengkaji dan menjelaskan pendekatan kewarganegaraan yang digunakan di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif menggunakan teknik pengumpulan data studi pustaka (library research). Sumber-sumber dalam penelitian ini ialah seperti buku, artikel hasil penelitian, dan dokumen-dokumen seperti UUD, Peraturan Pemerintah, dan Panduan-Panduan yang berkaitan dengan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Data diolah dan dianalisis secara indukatif. Hasil dari temuan kajian ini ialah Pendekatan Kewarganegaraan Indonesia berbeda dengan pendekatan kewarganegaraan kontemporer. Pendekatan Kewarganegaraan Indonesia ialah pendekatan Pancasila yang merupakan sintesa dari ketiga aliran kontemporer. Ruang-ruang individu dan publik dilindungi dan dikembangkan oleh negara. Lebih dari itu, budaya masyarakat atau kearifan yang turut membentuk kehidupan masyarakat dilindungi dan dikembangkan oleh negara sebagaimana termaktub dalam UUDNRI Tahun 1945
THE HUMAN RIGHTS AND CIVIC EDUCATION POLICY AFTER THE CONSTITUTION AMENDMENT IN INDONESIA Samsuri Samsuri
Millah: Journal of Religious Studies Vol. XII, No. 1, Agustus 2012 Islam dan Hak Asasi Manusia
Publisher : Program Studi Ilmu Agama Islam Program Magister, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/millah.vol12.iss1.art13

Abstract

Artikel ini memaparkan perkembangan pendidikan kewarganegaraan di Indonesia pasca-1998. Sejak Presiden Soeharto mengundurkan diri pada Mei 1998, Indonesia memasuki era baru yang dikenal sebagai "era reformasi." Era ini menunjukkan hasil pemberdayaan demokrasi ke dalam bentuk kebijakan kebebasan pers, desentralisasi, dan hak asasi manusia. Sebagaimana diketahui bahwa demokratisasi di Indonesia memiliki makna penting untuk kajian hak asasi manusia dan pendidikan kewarganegaraan pasca amandemen UUD 1945. Pengaturan pendidikan kewarganegaraan dalam kebijakan pendidikan nasional dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu dari tiga mata pelajaran pokok mulai dari pendidikan anak usia dini hingga pendidikan tinggi. Hak asasi manusia dikembangkan sebagai salah satu tema dalam kurikulum pendidikan kewarganegaraan. Pengajaran dan pembelajaran hak asasi, manusia dalam pendidikan kewarganegaraan memiliki banyak masalah di tiap jenjang sekolah. Bias terhadap masalah-masalah hak asasi manusia, kompetensi guru, dan kondisi lokal adalah beberapa persoalan yang sedang dihadapi pendidikan kewarganegaraan di Indonesia, meskipun amandemen UUD 1945 secara eksplisit mengakui hak asasi manusia sebagai fondasi peradaban bangsa yang demokratis.
TRANSFORMING ISLAMIC VALUES INTO CIVIC EDUCATION Samsuri Samsuri
Millah: Journal of Religious Studies Vol. IX, No. 2, Februari 2010 Menggugat Pendidikan Nirketeladanan
Publisher : Program Studi Ilmu Agama Islam Program Magister, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/millah.vol9.iss2.art5

Abstract

Artikel ini menyajikan kajian pendahuluan tentang penafsiran Islam sebagai sebuah system nilai yang diperlukan dalam pengkajian Pendidikan Kewarganegaraan di perguruan tinggi Islam Indonesia. Dalam kajian ini, contoh inspirasi Islam dalam Pendidikan Kewarganegaraan di perguruan tinggi Islam mengambil kasus di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sebagai pelopor pengembangan Pendidikan Kewarganegaraan di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Dalam artikel ini, penulis menelusuri kerangka pembaharuan pemikiran Islam tentang gagasan-gagasan demokrasi, hak asasi manusia, dan masyarakat madani (civil society) yang juga turut mempengaruhi pengembangan Pendidikan Kewarganegaraan di kedua institusi yang dikaji. Dari kajian dokumentasi berupa buku bahan ajar Pendidikan Kewarganegaraan di kedua institusi tersebut, transformasi nilai-nilai ke-Islam-an ke dalam Pendidikan Kewarganegaraan memiliki sumbangan penting tentang pemaknaan upaya membentuk warga negara yang baik dengan identitas Islam.
Yahudi Dalam Zionisme Dan Israel Samsuri Samsuri
Millah: Journal of Religious Studies Vol. III, No. 2, Januari 2004 Spiritualitas Islam
Publisher : Program Studi Ilmu Agama Islam Program Magister, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper traces the Judaism teachings as basic of  Jewish movements. The Judaism has two meaning as its identity. Firstly, Judaism is a religion. Secondly, it is an ethnic or nation. According to Jacob Neusner, Judaism is a  religion that Scripture’s account of  Israel as holy people whose life encompasses the experience o f  exile and return. In this paper, author tries to explore three streams of  the Jewish religion movements— i.e. Reformers, Conservatives, and Orthodox- which influenced the Jewish emancipation’s Europe in l 9th century until Holocaust tragedy on the Second World War. Zionism has risen as a respond to political crisis which fallen to emancipate the Jewish people from the oppressed as long as diaspora period in Europe. Its  purpose created the homeland for  Israel when Jewish people returned from Diaspora.
Terorisme Agama? Samsuri Samsuri
Millah: Journal of Religious Studies Vol. II, No. 2, Januari 2003 Agama Sumber Kekerasan?
Publisher : Program Studi Ilmu Agama Islam Program Magister, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/millah.vol2.iss2.art12

Abstract

Istilah "teror", "teroris", "terorisme" menjadi khazanah kata yang sangat populer dan bermakna mengerikan setelah terjadi serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat, yang menyerang simbol-simbol kapitalisme dunia (Menara Kembara World Trade Center, New York) dan arogansi militer (Gedung Pentagon) Amerika Serikat. Di Indonesia, istilah terorisme "menyalip" serangkaian aksi kekerasan dalam bagian drama politik nasional yang makin carut marut semenjak reformasi politik bergulir, setelah terjadi ledakan bom dahsyat di Legian, Bali, pada 11 September 2002, yang menewaskan korban dari berbagai bangsa. Persoalannya, kedua contoh aksi kekerasan tersebut dinisbahkan kepada terorisme agama, disebabkan pelaku kekerasan itu dianggap memilih agama sebagai motivasi untuk melakukan kejahatannya. Apalagi kedua peristiwa itu dikaitkan sebagai memiliki hubungan antara organisasi Al-Qaeda dan Jemaah Islamiyah di Asia Tenggara, dan kebetulan kedua-duanya sama-sama mengusung bendera Islam dalam aksi kekerasannya. Bagaimana mungkin agama yang sedemikian rupa mengajarkan perdamaian, kasih sayang, dan keselamatan, dapat menjadi sarana dan tujuan tindakan kekerasan. Buku Mark Juergensmeyer dalam edisi bahas Indonesia yang dibahas ini, berupaya memahami apa yang disebut terorisme agama.
Penanaman Nilai Nasionalisme dalam Pendidikan Karakter di Sekolah Melalui Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter Cucu Sutrisno; Samsuri Samsuri
EDUKATIF : JURNAL ILMU PENDIDIKAN Vol 5, No 3 (2023): June
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/edukatif.v5i3.4981

Abstract

Penelitian ini bertujuan menjelaskan konsepsi penanaman nilai nasionalisme dalam pendidikan karakter di sekolah melalui Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter. Penelitian ini menggunakan metode analisis konten yang bersifat inferensial berupa proses mendeskripsikan, mengklasifikasi, memaknai dan menyimpulkan penanaman nilai nasionalisme dalam pendidikan karakter di sekolah melalui Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Sumber data yang digunakan adalah dokumen berupa peraturaj perundang-undangan dan modul terkait Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter. Hasil penelitan ini menujukan bahwa kemunculan Gerakan PPK memiliki nuansa politik yang kental karena bermuara dari adanya Program Nawacita dan Gerakan Nasioanl Revolusi Mental. Konsepsi pendidikan karakter melalui Gerakan PPK berupaya mengoptimalisasi setiap aspek dalam pendidikan karakter di sekolah yang mengarah pada penciptaan pendidikan karakter dengan pendekatan komprehensif. Pemaknaan dan interpretasi nilai karakter nasionalsime dalam konsepsi Gerakan PPK perlu di revitalisasi agar lebih komprehensif dan sesuai dengan tantangan zaman di era kontemporer. Sehingga optimalisasi pendidikan karakter melalui Gerakan PPK masih harus lebih dioptimalkan lagi.
Penanaman Nilai Nasionalisme Dalam Pendidikan Karakter Di Indonesia Melalui Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter Cucu Sutrisno; Samsuri Samsuri
Jurnal Pancasila dan Bela Negara Vol 4, No 2 (2024): September
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jpbn.v4i2.9635

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap penanaman nilai nasionalisme dalam pendidikan karakter di indonesia penanaman nilai nasionalisme dalam pendidikan karakter di indonesia. Penelitian ini menggunakan metode analisis konten yang bersifat inferensial berupa proses mendeskripsikan, mengklasifikasi, memaknai dan menyimpulkan relevansi pendidika karakter di Idnonesia sebagai pendidikan nasionalisme. Sumber data yang digunakan untuk analisis konten yakni: 1) Dokumen resmi yang memuat mengenai desain Pendidikan karakter dalam Gerakan PPK sejak tahun 2017-2021 berupa peraturan perundang-undangan serta pedoman implementasi Gerakan PPK. Hasil penelitan ini menujukan bahwa pendidikan karakter di Indonesia mengacu pada konsepsi pendidikan karakter dalam Gerakan PPK. Nilai nasionalisme adalah salah satu nilai utama (prioritas) dalam pendidikan karakter. Namun pemaknaannya masih bersifat usang dan kurang sesuai dengan pemaknaan yang ideal. Perlu ada pemaknaan ulang nasionalisme yang digunakan dalam pendidikan karakter tersebut agar dapat mencapai substansi nasionalisme yang mencakup keadilan sosial, kemerdekaan, kesejahteraan, demokrasi dan prestasi bukan hanya sebatas kecintaan dan kebanggaan disertai kerelaan berkorban (patriotisme) tanpa pamrih bagi bangsa dan negara.