Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Evaluasi Low Pressure Decomposer (LPD) di Unit Purifikasi Urea Plant Terhadap Q Loss, Middle Temperature dan Feed Temperature Susmanto, Prahady; Fatullah, Muhammad Ilham; Jimmy Aldian Maulana; Mareta Dwi Saharany; Riski Yona
Journal of Chemical Process Engineering Vol. 9 No. 1 (2024): Journal of Chemical Process Engineering
Publisher : Fakultas Teknologi Industri - Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/jcpe.v9i1.726

Abstract

Proses pembuatan pupuk urea membutuhkan bahan baku dasar NH3 dan CO2 dengan melewati proses sintesa, purifikasi, recovery, dan kristalisasi. Alat utama yang terdapat pada proses purifikasi terdiri dari high pressure decomposer, low pressure decomposer, dan gas separator. Low pressure cecomposer (LPD) merupakan serangkaian peralatan yang berfungsi untuk memisahkan urea dari komponen berupa ammonium carbamate, excess ammonia, air dan biuret tersisa. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja alat low pressure decomposer berdasarkan efisiensi panas. Adapun data yang digunakan yaitu data aktual LPD dari urea plant sebanyak 4 data. Metode penelitian menggunakan metode analisis neraca massa dan neraca panas yang dilanjutkan dengan perhitungan nilai efisiensi LPD terhadap pengaruh Qloss, middle temperature, dan feed temperature. Hasil perhitungan menunjukkan Qloss rata-rata sebesar 1032679,935 kJ, middle temperature rata-rata sebesar 124,17oC dan feed temperature rata-rata sebesar 128,07oC serta nilai efisiensi panas secara aktual pada LPD plant rata-rata sebesar 96,13%.
PEMBUATAN HIDROGEL BERBASIS POLIVINIL ALKOHOL (PVA)/KARBOKSIMETIL SELULOSA (CMC)/MINYAK ASIRI SERAI MENGGUNAKAN METODE CHEMICAL CROSSLINKED Tuti Indah Sari; Prahady Susmanto; Muhammad Hatta Dahlan; Natasya Islami Kamega; Amalia Pratiwi
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 13, No 1 (2024)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jip.v13i1.24482

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membuat hidrogel pembalut luka berbasis polivinil alkohol (PVA)/karboksimetil selulosa (CMC)/minyak asiri serai dengan asam sitrat sebagai agen pengikat silang (crosslink agent). Penambahan minyak asiri serai dilakukan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap hidrogel. Penggunaan asam sitrat sebagai crosslink agent untuk meningkatkan sifat mekanik hidrogel yang dihasilkan. Formulasi hidrogel yang digunakan adalah PVA 10% (v/v) dan CMC 6% (v/v) dengan variasi jumlah minyak asiri serai dan asam sitrat. Hidrogel dikarakterisasi dengan fourier transform infrared (FTIR) dan scanning electron microscope (SEM) serta dianalisis dengan uji kuat tarik, daya serap air (swelling), dan aktivitas antibakteri. Pengujian kemampuan antibakteri dilakukan pada bakteri Staphylococcus aureus. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan jumlah asam sitrat mengakibatkan nilai tensile strength yang semakin tinggi dan elongation at break yang menurun. Peningkatan minyak asiri serai menyebabkan penurunan nilai tensile strength dan elongation at break. Persentase swelling menurun dengan peningkatan jumlah minyak asiri serai dan asam sitrat. Hidrogel pembalut luka menunjukkan potensi yang baik ditandai dengan kemampuan antibakteri yang tinggi, yaitu dengan diameter zona bening rata-rata tertinggi sebesar 11,39 mm. Hasil tertinggi terdapat pada hidrogel dengan minyak asiri sebanyak 0,4 mL dan asam sitrat 2 % yang menunjukkan semakin banyak jumlah minyak asiri serai dan asam yang ditambahkan, semakin baik sifat antibakteri pada hidrogel.
PEMBUATAN SUPERABSORBEN DARI AKRILAMIDA DAN SELULOSA SERAT DAUN MAHKOTA NANAS DENGAN INISIATOR AMONIUM PERSULFAT Prahady Susmanto; Yandriani Yandriani; Putri Midelin; Sarah Khoirunnisa; Stevany Vanesya Syeva Maharani; Elfa Armelia
JURNAL INTEGRASI PROSES Vol 12, No 2 (2023)
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/jip.v12i2.21788

Abstract

Polimer superabsorben merupakan suatu material dengan kemampuan absorpsi yang tinggi, dihasilkan dari polimer sintetik seperti akrilamida. Penggunaan polimer sintetik memiliki dampak yang tidak baik terhadap lingkungan karena sulit terdegradasi. Upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan mengganti sebagian polimer sintetik dengan polimer alam dalam proses pembuatannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan selulosa serat daun mahkota nanas dan inisiator amonium persulfat terhadap kapasitas absorpsi dan rasio swelling biopolimer superabsorben. Pembuatan polimer superabsorben dilakukan dengan memvariasikan konsentrasi selulosa daun mahkota nanas, yakni dengan variasi 0, 5, 10, dan 15%. Variasi inisiator ammonium persulfate (APS) yaitu 0,4; 0,5; 0,6; dan 0,7 g dengan penambahan monomer akrilamida sebanyak 20 g. Analisis gugus fungsi dengan uji fourier transform infrared (FTIR) menunjukan adanya gugus fungsi seperti -OH, C-O dan C=C pada selulosa daun mahkota nanas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa polimer superabsorben yang diproduksi dengan variasi 10% selulosa dan penambahan inisiator sebanyak 0,6 g menunjukkan karakteristik terbaik. Polimer ini memiliki kemampuan mengembang (swelling) tertinggi pada air, larutan urea 5%, dan NaCl 0,15 M, yakni masing-masing sebesar 665,7; 7,609; dan 7,125 g/g.
Simulasi Dan Optimalisasi Ammonia Converter Terhadap Peningkatan Persen Mol Amonia Produk Pada Ammonia Plant Susmanto, Prahady; Saharany, Mareta Dwi; Yona, Riski
Journal of Chemical Process Engineering Vol. 8 No. 2 (2023): Journal of Chemical Process Engineering
Publisher : Fakultas Teknologi Industri - Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/jcpe.v8i2.644

Abstract

Ammonia converter merupakan reaktor berkatalis yang berfungsi untuk mereaksikan gas nitrogen dan gas hidrogen menjadi amonia. Kinerja yang dihasilkan dari ammonia converter sangat berpengaruh terhadap produktivitas dan efisiensi pabrik ammonia. Hal tersebut dapat diketahui dari peningkatan produksi ammonia yang diperoleh dari ammonia converter. Untuk mendapatkan konversi amonia yang tinggi, maka perlu dilakukan proses optimalisasi ammonia converter dengan penambahan cooler dan heat exchanger. Simulasi dan optimalisasi dilakukan dengan menggunakan simulator Aspen HYSYS versi 10. Data yang digunakan untuk simulasi adalah data operasi ammonia converter berupa data desain dan data aktual. Hasil simulasi menunjukkan bahwa persen mol NH3 yang didapat sebelum optimalisasi dari data desain yaitu sebesar 17,02%, sedangkan persen mol NH3 rata-rata yang didapat pada data aktual yaitu 15,973%. Setelah optimalisasi, persen mol NH3 yang didapat dari data desain yaitu sebesar 19,02%, persen NH3 rata-rata yang didapat pada data aktual yaitu 17,738%. Dapat disimpulkan bahwa pengaruh penambahan cooler pada ammonia converter yaitu meningkatkan persen ammonia outlet dengan menurunkan dan menjaga temperatur outlet bed converter. Pengaruh heat exchanger bertujuan menaikkan temperatur gas sebelum bereaksi di bed-2B dengan memanfaatkan panas gas outlet bed-2B. Akibatnya, temperatur gas outlet ammonia converter akan memiliki temperatur yang tidak terlalu tinggi menuju ke proses selanjunya yaitu proses pendinginan.
Evaluation of Section Shift Converter (HTS and LTS) Catalyst Performance Based on CO Conversion Value, Pressure Drop, and ATE Susmanto, Prahady; Yolanda, Alya Putri; Puspitasari, Riska; Anggraini, Dwi
Reka Buana : Jurnal Ilmiah Teknik Sipil dan Teknik Kimia Vol 10, No 1 (2025): EDISI MARET 2025
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rekabuana.v10i1.6401

Abstract

The shift converter process uses Copper-promoted iron (HTS) and Copper/Zinc (LTS) catalysts to convert syngas into hydrogen through the water-gas shift reaction. Catalytic performance evaluation was conducted by analyzing parameters such as Approach Temperature Equilibrium (ATE), pressure drop, and CO conversion. The findings indicate that in the HTS unit, CO conversion ranged from 69% to 75%, with a significant decline to 69% in the fifth data set due to reduced catalyst activity. Key contributing factors to this decrease include catalyst deactivation caused by sintering and poisoning. Within the LTS unit, CO conversion reached a peak value of 94.08% following the catalyst replacement in January 2024. This observed pressure drop also significantly affected catalyst efficiency, as increased pressure drop reduced the contact time between reactant gases and the catalyst, decreasing optimal CO conversion efficiency. ATE analysis showed that the reaction did not always reach the expected thermodynamic equilibrium, particularly in the HTS unit, where ATE values exceeding design specifications indicated inefficient reaction performance. Catalyst efficiency in the shift converter is significantly influenced by catalyst lifespan, pressure drop, and various operational factors, thus requiring routine catalyst replacement to maintain optimal reactor performance.
Analysis of the Influence of Center tube on Cyclone Preheater Efficiency in Production Units in the Cement Industry Susmanto, Prahady; Viola Yuliantika; Sryatin Arya
Journal of Chemical Process Engineering Vol. 10 No. 1 (2025): Journal of Chemical Process Engineering
Publisher : Fakultas Teknologi Industri - Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/jcpe.v10i1.1586

Abstract

Cyclone Suspension preheater is an important part of the kiln unit which aims to separate materials and hot gases. The Suspension preheater consists of two strings, namely strings A and B and consists of 4 stages with stage 4 and stage 3 of string B not having a center tube. The efficiency calculation is carried out to determine the ability of the cyclone to separate material and gas and compare the efficiency of the cyclone which has a center tube with a cyclone without a center tube. The efficiency calculation is calculated using the Bohnet calculation. The efficiency calculation was obtained at stage 1 string A of 92.15%, stage 1 string B of 92.16%, stage 2 string A of 87.71%, stage 2 string B of 87.627%, stage 3 string A of 81.987%, stage 3 string B of 78.008%, stage 4 string A of 72.877%, and stage 4 string B of 73.459%. There was a decrease of 4% from stage 3 string A to stage 3 string B. A reduction in efficiency was observed in cyclones without a center tube. The gas flow in the cyclone is more regular with the presence of a center tube and has a longer residency time compared to a cyclone without a center tube. Acyclone without a center tube has a chaotic flow and turbulence can increase so that the separation between particles and gas is inefficient. The presence of a center tube effectively improves both separation efficiency and gas flow stability in the cyclone.