Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Pemberdayaan PKK dan Ibu Hamil Tentang Kehamilan Risiko Tinggi di Desa Bukian, Kecamatan Payangan Ratna Juwita Dewa Ayu Putu; Luh Gede Pradnyawati; Anny Eka Pratiwi; Ni Made Hegard Sukmawati
Warmadewa Minesterium Medical Journal Vol. 3 No. 1 (2024): Januari 2024
Publisher : Warmadewa University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmmj.3.1.2024.67-73

Abstract

Kehamilan risiko tinggi merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi pada kehamilan dan persalinan yang berkontribusi terhadap peningkatan angka kematian ibu. Kehamilan berisiko tinggi adalah suatu kondisi dalam kehamilan, dimana ibu hamil berada dalam keadaan yang dapat memperburuk kondisinya sendiri maupun janin yang dikandungnya akibat proses kehamilan. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu hamil terhadap kehamilan berisiko untuk menurunkan komplikasi selama kehamilan dan persalinan. Desa Bukian merupakan desa di kawasan Kecamatan Payangan Desa Bukian memiliki kegiatan aktif di bidang kesehatan yang dinaungi oleh Puskesmas dengan memberdayakan ibu-ibu PKK sebagai kader. Berdasarkan data Puskesmas, jumlah ibu hamil saat ini sebanyak 43 ibu hamil yang belum pernah mendapat pemaparan lengkap tentang proses kehamilan dan risiko pada kehamilan. Ibu hamil tersebut sebagian besar berada pada trimester satu yang merupakan fase terpenting untuk melakukan skrining dan diagnosis awal jika terdapat gejala patologis pada ibu hamil. Berdasarkan diskusi dengan PKK disepakati penting untuk melakukan edukasi pada ibu hamil untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap mereka terhadap kehamilan risiko tinggi sehingga dapat meningkatkan kesiapsiagaan mereka, terutama keluarga dalam melakukan antenatal care sebagai penentu keputusan. Kegiatan ini dihadiri oleh 11 PKK dan 11 ibu hamil yang berdiskusi tentang fase kehamilan, gejala dan tanda patologis, bagaimana cara mengambil keputusan dalam setiap risiko kehamilan serta manajemen stress pada kehamilan. Didapatkan hasil bahwa lebih dari 80% peserta mengalami peningkatan pengetahuan dan sikap terhadap risiko kehamilan sebelum dan sesudah dilakukan diskusi dan penyuluhan. Kegiatan ini diharapkan dapat membantu ibu PKK menjadi kader dalam menyebarkan pengetahuan dan konseling risiko-risiko pada kehamilan yang patut diwaspadai.
Pemberdayaan Kader PKK dalam Pengolahan Tanaman Toga di Desa Celuk Suka Astini Dewa Ayu Agung Alit; Luh Gde Evayanti; Dewa Ayu Putu Ratna Juwita; Sagung Putri Permana Lestari Murdhana Putere; I Wayan Sudiarta; Komang Trisna Sumadewi
Warmadewa Minesterium Medical Journal Vol. 3 No. 1 (2024): Januari 2024
Publisher : Warmadewa University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmmj.3.1.2024.33-38

Abstract

Processing of toga plants or traditional medicinal plants is an important part of human cultural heritage. Toga plants are rich in active compounds that have pharmacological effects and health benefits. Interest in the use of the toga plant as an alternative treatment is increasing. Toga plant processing involves various stages, from planting to extracting active compounds, with the important role of technology and innovation. The importance of the toga plant processing industry involves economic aspects, biodiversity conservation, and preservation of cultural traditions. The development of this industry requires a holistic approach involving various parties, from farmers to consumers, to ensure sustainability and welfare of the communities involved in this process. The partners in this service are the PKK Cadres of Celuk Sukawati Gianyar Village, totaling 8 people and coordinated by the PKK Cadre Chair. There are problems that have been identified by partners, namely economic and health problems. The economic problem is the decreasing economic capacity of partners, while the health problem is the lack of cadre skills regarding the use of family medicinal plants in health. The solution for partners to these two problems is to provide education regarding the use of toga plants and training regarding processing of toga plants. Partners are given tools and materials to assist partners in processing toga plants. Outcomes include increasing the knowledge of ≥ 80% of partner members regarding the use of toga plants and ≥ 80% of partner members receiving training in processing toga plants to increase family income.
Pemberdayaan Pedagang Makanan dalam Upaya Pencegahan Foodborne Dissease di Pasar Wisata Kuliner Payangan Ratna Juwita Dewa Ayu Putu
Warmadewa Minesterium Medical Journal Vol. 3 No. 2 (2024): May 2024
Publisher : Warmadewa University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wmmj.3.2.2024.126-131

Abstract

Abstrak Permasalahan tentang hygiene dan sanitasi makanan selalu menjadi permasalahan kesehatan tertinggi bagi wisatawan. Salah satu permasalahan kesehatan yang menjadi kasus tertinggi pada klinik wisata adalah food borne disease yaitu diare. Pasar Payangan merupakan tempat umum di Kecamatan Payangan yang ramai dikunjungi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa klinik 24 jam di daerah tersebut, didapatkan data bahwa kasus yang paling sering ditangani adalah penyakit diare yang terjadi setelah menyantap makanan lokal. Berdasarkan hasil diskusi bersama pedagang, pedagang tidak mengetahui bahwa ada kecenderungan wisatawan mengalami diare setelah menyantap makanan yang dijual di Pasar Payangan. Pedagang mengatakan bahwa belum pernah lagi dilakukan penyuluhan tentang kebersihan makanan di Pasar dan penting untuk dilakukan edukasi kepada para pedagang kuliner tentang pengelolaan makanan yang baik dan penyakit yang bisa ditimbulkan. Intervensi dilakukan dengan memanfaatkan kelompok pedagang makanan sebagai tenaga promosi dan edukatif tentang hygiene dan sanitasi makanan. Kegiatan dilakukan melalui metode penyuluhan dan diskusi dua arah yang diawali dengan pre test dan diakhiri dengan post test. Kegiatan dilakukan untuk mengukur seberapa besar pengaruh program yang dijalankan terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku mereka tentang sanitasi makanan. Kegiatan juga diawali dengan pre test dan diakhiri dengan post test. Pelatihan diikuti oleh 22 pedagang dengan rentang usia 30-60 tahun. Didapatkan hasil bahwa lebih dari 80% pedagang mengalami peningkatan pengetahuan tentang sanitasi dan proses pengelolaan makanan. Kegiatan ini diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan untuk menurunkan prevalensi kejadian penyakita bersumber dari makanan kepada wisatawan yang berkunjung ke Pasar Payangan. Kata kunci: Pasar Payangan, sanitasi, diare Abstract [Empowering Food Traders to Prevent Foodbore Dissease at Payangan Culinary Tourism Market] Issues regarding food hygiene and sanitation have always been the highest health problem for tourists. One of the health problems is food borne dissease, namely diarrhea. Payangan market is a public place in Payangan district which is busy with tourists, both domestic and foreign. Based on interviews with several 24-hour clinics in the area, data was obtained that the most frequently treated cases were diarrheal disseases that occured after eating local food. Based on the results of discussions with traders, they did not know that there was a tendency for tourist to experience diarrhea after eating food sold at Payangan Market. Traiders said that there had never been any education about food hygiene in the market and it was important to educate culinary traders about good food management and the dissease that could be caused. The intervention was carried out by utilizing groups of food traders as promotional and educational personnel about food hygiene and sanitation. Activaties are carried out through a two-way counseling and discussion methode that begins with a pre-test and ends with post test. Activities were carried out to measure how much influence the program had on their knowledge. The training was attended by 22 traders with an age range of 30-60 years. The resutl showed that more than 80% of traders experienced increased knowledge about sanitation and food management processes. It is hoped that this activity can be carried out in asustainable manner to reduce the prevalence of food-borne illness among tourists visiting Payangan Market. Keywords: Pasar Payangan, sanitation, diarrhea