Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

PEMBERDAYAAN PEDAGANG DALAM PENINGKATAN PENERAPAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT UNTUK PENCEGAHAN PENYEBARAN COVID-19 DI PASAR PAYANGAN Luh Gede Pradnyawati; Dewa Ayu Putu Ratna Juwita; Ni Made Hegard Sukmawati; Putu Krisna Adwitya Sanjaya
JURNAL SEWAKA BHAKTI Vol 7 No 2 (2021): Sewaka Bhakti
Publisher : UNHI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Payangan Public Market is one of the largest traditional markets in Gianyar Regency, Bali Province with a total number of 450 traders. The minimum information obtained by traders about the spread of COVID-19 causes their lack of implementation in the implementation of PHBS. According to research results, PHBS is a strategy that can prevent the spread of COVID-19 in the community. Traders must continue to be encouraged to improve PHBS in an effort to prevent the spread of COVID-19. However, in reality, the implementation of PHBS is very minimal in the Payangan Public Market. In addition, the lack of ability of traders to purchase personal protective equipment or PPE such as masks, Face Shields and Hand Sanitizers. This is due to the scarcity of PPE and also their lack of finances, where currently the price of PPE has soared. From the problems faced, the solution that can be offered is the need for a knowledge transfer program about the spread of COVID-19 to find out its prevention with the target of adding knowledge to traders about COVID-19 prevention and increasing the implementation of PHBS. In addition, programs to support the implementation of PHBS include technology transfer and training on how to make PPE, namely Hand Sanitizer, Face Shield and masks. The result of this activity is that partner groups play an active role in every PKM activity with a 100% attendance percentage and 100% active participation. With this activity, there was an increase in the field of understanding about COVID-19 and an increase in the implementation of PHBS through bringing in experts and tutors (coaches) who have assisted traders in the introduction of the COVID-19 virus and the application of clean and healthy living behavior to prevent the spread of the COVID-19 virus. The partner group is also skilled in making PPE in preventing the spread of the COVID-19 virus, namely the manufacture of masks, Hand Sanitizer and Face Shield
PKM Pedagang Di Pasar Intaran Sanur Luh Gede Pradnyawati; Dewa Ayu Putu Ratna Juwita; Anny Eka Pratiwi; Putu Krisna Adwitya Sanjaya
Jurnal Aplikasi dan Inovasi Iptek Vol 3 No 2 (2022): Jurnal Aplikasi dan Inovasi Iptek No. 3 Vol. 2 April, 2022
Publisher : Denpasar Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52232/jasintek.v3i2.76

Abstract

Pasar Intaran yang terletak di Kelurahan Sanur Kauh merupakan salah satu pasar tradisional terbesar di Kota Denpasar, Provinsi Bali dengan total jumlah pedagang 450 orang. Minimalnya informasi yang didapatkan oleh pedagang tentang penyebaran COVID-19 menyebabkan kurangnya penerapan mereka dalam pelaksanaan PHBS. Menurut hasil penelitian, PHBS merupakan starategi yang dapat mencegah penyebaran COVID-19 di masyarakat. Pedagang harus terus dihimbau untuk meningkatkan PHBS dalam upaya pencegahan penyebaran COVID-19. Namun penerapan PHBS ini sangat minimal penerapannya di Pasar Intaran. Selain masalah kesehatan, terdapat juga masalah ekonomi yaitu terkait dalam hal pemasaran produk dagangan, dimana pedagang belum mampu memasarkan dagangannya dengan baik ke sistem pasar. Selain itu pembukuan mereka dalam berdagang juga kurang baik karena pendidikan mereka yang rendah. Pada PKM ini kelompok mitra berperan aktif dalam setiap kegiatan dengan persentase kehadiran 100% dan partisipasi aktif 100%. Dengan kegiatan ini terjadi peningkatan pengetahuan mitra dalam bidang pemahaman tentang COVID-19 dan juga pencegahan penyebaran COVID-19 serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat untuk mencegah penyebaran virus COVID-19. Kelompok mitra sudah terampil dalam pembuatan APD dalam pencegahan penyebaran virus COVID-19. Selain itu, kelompok mitra sudah bisa memasarkan dagangannya dengan strategi digital marketing seperti di media sosial dan juga sudah bisa membuat pumbukuan yang baik
PEMBERDAYAAN PEDAGANG DALAM PENCEGAHAN PENYEBARAN COVID-19 DI PASAR INTARAN SANUR Luh Gede Pradnyawati; Dewa Ayu Putu Ratna Juwita; Made Indra Wijaya; Komang Triyani Kartinawati
JURNAL PENGABDIAN MANDIRI Vol. 1 No. 11: November 2022
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasar Intaran yang terletak di Kelurahan Sanur Kauh merupakan salah satu pasar tradisional terbesar di Kota Denpasar, Provinsi Bali dengan total jumlah pedagang 450 orang. Minimalnya informasi yang didapatkan oleh pedagang tentang penyebaran COVID-19 menyebabkan kurangnya penerapan mereka dalam pelaksanaan PHBS. Menurut hasil penelitian, PHBS merupakan starategi yang dapat mencegah penyebaran COVID-19 di masyarakat. Pedagang harus terus dihimbau untuk meningkatkan PHBS dalam upaya pencegahan penyebaran COVID-19. Namun penerapan PHBS ini sangat minimal penerapannya di Pasar Intaran. Selain masalah kesehatan, terdapat juga masalah ekonomi yaitu terkait dalam hal pemasaran produk dagangan, dimana pedagang belum mampu memasarkan dagangannya dengan baik ke sistem pasar. Selain itu pembukuan mereka dalam berdagang juga kurang baik karena pendidikan mereka yang rendah. Pada PKM ini kelompok mitra berperan aktif dalam setiap kegiatan dengan persentase kehadiran 100% dan partisipasi aktif 100%. Dengan kegiatan ini terjadi peningkatan pengetahuan mitra dalam bidang pemahaman tentang COVID-19 dan juga pencegahan penyebaran COVID-19 serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat untuk mencegah penyebaran virus COVID-19. Kelompok mitra sudah terampil dalam pembuatan APD dalam pencegahan penyebaran virus COVID-19. Selain itu, kelompok mitra sudah bisa memasarkan dagangannya dengan strategi digital marketing seperti di media sosial dan juga sudah bisa membuat pumbukuan yang baik.
DETERMINAN KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) RUBELLA DI DESA MUNDEH, SELEMADEG BARAT, TABANAN DAP Ratna Juwita; Luh Gede Pradnyawatim; Ni Made Hegard Sukmawati
Journal of Midwifery and Health Administration Research Vol 1 No 1 (2021): DESEMBER
Publisher : Lembaga Penelitian & Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu KesehatanBrebes

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.142 KB) | DOI: 10.5281/zenodo.8112173

Abstract

Background: Rubella is a contagious person to person viral infection and remains a fetal malformation on pregnancy as congenital rubella syndrome. Under the outbreaks-based rubella surveillance in West-Selemadeg Village, Tabanan Regency in 2019, we investigated the rubella outbreak determinants. Methods: This study investigated 29 suspected cases using major criteria (fever and rash) following with minor criteria criteria (conjunctivitis, malaise, rhinorea, loss appetite and cough) between Juli-September 2019 receiving active and passive surveillans. Altogether, 3 serum samples we received from 5 districts and 29 suspected cases from local health centres. Samples were tested for the measles and rubella IgM antibody. This study measures the determinants of outbreaks using case-control study follows by total population one control design for each sample. Data was analyzed using SPSS with 5% alpha. Results: The attack rate are 58.6% in 5-15yo age and 8.99% based on place (Auman Delod Seme district). The type of epidemiologic curve is propagated epidemic curve (person to person disease) with 11 days means of incubation periode. This outbreaks is associated to person to person close contact (OR 3,4:95%CI 1.009-10.318, p≤0.05 and history of rubella vaccination OR 0.482, 95%CI:0.165-1.409, p≤0.05 with all laboratorium samples positively detected for IgM of rubella viruses. Conclusions: Eradication of rubella is considered to be feasible and beneficial that we need to work toward elimination with a focus on strengthening ongoing immunization.
Risky sexual behavior and prevention of STIs in female merchants based on behavioral theory of health belief model: an exploratory study in Denpasar city, Bali Luh Gede Pradnyawati; Dewa Ayu Putu Ratna Juwita; Anny Eka Pratiwi; Ni Made Hegard Sukmawati
Journal of International Surgery and Clinical Medicine Vol. 2 No. 1 (2022): Available Online: June 2022
Publisher : Surgical Residency Program Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51559/jiscm.v2i1.25

Abstract

Introduction: Previous studies have shown the risky behavior that causes women’s vulnerability in markets to STI transmission is sexual intercourse with more than one partner. The present study reveals in depth risky sexual behavior and STI prevention among female merchants based on the behavioral theory of the Health Belief Model.  This study aims to determine the risky sexual behavior and prevention of STIs in female merchants based on the behavioral theory of health belief model. Methods: This study uses mix-methods (quantitative and qualitative methods). Using the quantitative method, this study first found a descriptive picture with a cross-sectional design. Then with the qualitative method, it extracted more in depth the experiences and social contexts experienced by the participants. The research sample was taken from 100 female merchants and in-depth interviews were conducted with 20 of those who had had sexual intercourse with an age range of 18-45 years in Denpasar City. Respondents were selected by purposive sampling. Results: Risky sexual behavior by most of the respondents is by having premarital sexual intercourse. Most of the respondents, which is 60%, in the market perceive such action would not risk getting an STI because of loyalty to their partner. In terms of the seriousness of STIs, they assume it is indeed a serious disease. Nevertheless, to prevent STIs, the respondents assure us that avoiding risky sexual behavior is not truly what matters. The respondents believe they can manage to afford not to engage in risky sexual behavior for the prevention of STIs. Conclusion: Most female merchants believe having risky sexual intercourse will not risk causing them to contract an STI. To overcome this, it is necessary to establish special programs to reduce the number of STIs in the community, especially in low-risk groups such as female merchants.
Peer Support Group dalam Peningkatan Resiliensi dan Self Esteem Penderita Skizofrenia Ratna Juwita
Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan Vol 1 No 1 (2022): juni
Publisher : Politeknik Kesehatan Kartini Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36049/genitri.v1i1.62

Abstract

Skizofrenia adalah salah satu penyakit gangguan jiwa kronik yang ditandai dengan gangguan pada kemampuan berpikir yang mempengaruhi pola perilaku dan self-esteem. Kemampuan berpikir dan pola perilaku penderita skizofrenia mengalami gangguan seperti munculnya halusinasi, delusi, serta gejala positif, maupun gejala negative yang akan mempengaruhi self-esteem. Self-esteem merupakan komponen esensial kesehatan jiwa dimana rendahnya komponen ini akan menimbulkan kepercayaan diri yang rendah, kecemasan, depresi, delusi, gejala psikosis, bahkan bunuh diri. Pengabdian masyarakat peer group resiliensi ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan self-esteem pada penderita skizofrenia untuk mencegah gejala komplikasi lainnya. Pemberdayaan masyarakat ini menggunakan metode pre-post test study untuk mengukur perbedaan self-esteem sebelum dan sesudah pelatihan dilakukan kepada sekelompok skizofrenia menggunakan instrument Rosenberg Self-esteem Scale. Populasi target pada pemberdayaan masyarakat ini adalah 11 orang penderita skizofrenia yang berusia 30-45 tahun yang minimal berlatar pendidikan SMA di Rumah berdaya Denpasar. Metode pre-post test dilakukan selama fase modul pelatihan 8 minggu. Aktivitas pengabdian ini berupa pemaparan materi, diskusi dan pelatihan. Pre test dilakukan sebelum pelatihan (T0) dan post test dilakukan pada akhir minggu ke delapan (T1). Semua partisipan berpartisipasi lengkap selama pelatihan. Hasil pre dan post tes menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nilai rerata resiliensi dan self-esteem yang signifikan sebelum dan sesudah terselesaikannya modul pelatihan. Hasil ini menunjukan bahwa pelatihan self-esteem sangat bermanfaat untuk meningkatkan resiliensi penderita skizofrenia.
Program Kemitraan Masyarakat Pencegahan Penyebaran Narkoba dan HID/AIDS pada Remaja di Desa Buahan Kaja, Kecamatan Payangan Luh Gede Pradnyawati; Dewa Ayu Putu Ratna Juwita; Made Indra Wijaya; Putu Nita Cahyawati; Pande Ayu Naya Kasih Permatananda
Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan Vol 1 No 2 (2022): Desember
Publisher : Politeknik Kesehatan Kartini Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36049/genitri.v1i2.82

Abstract

Penyebaran narkoba di kalangan remaja Indonesia masih merupakan sesuatu masalah yang bersifat kompleks. Dalam kurun waktu satu dekade terakhir permasalahan ini menjadi marak. Terbukti dengan bertambahnya jumlah penyalahguna atau pecandu narkoba secara signifikan pada remaja. Selain masalah penyebaran narkoba pada remaja, terdapat juga permasalahan penyebaran infeksi HIV/AIDS. Data BKKBN menunjukkan kurang lebih 50% dari pengidap AIDS di Indonesia adalah kelompok umur remaja. Pada masa remaja sering kali timbul rasa ingin mencoba-coba. Penyebab penyebaran narkoba dan HIV/AIDS pada remaja di Provinsi Bali tidak bisa terkendali lagi termasuk di Desa Buahan Kaja, Kecamatan Payangan. Kurangnya pengetahuan dan informasi di kalangan remaja di desa menjadi faktor utama mudahnya penyebaran ini. Mitra pada pengabdian ini adalah kader remaja yaitu para remaja yang tergabung dalam suatu wadah sekeha teruna-teruni di Desa Buahan Kaja. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah dengan melakukan sosialisasi dengan mitra, focus group discussion (FGD), penyuluhan dan pelatihan tentang pencegahan narkoba dan HIV/AIDS pada kader remaja. Hasil dari pengabdian ini adalah semua kelompok mitra telah mampu merumuskan kegiatan “peer” pencegahan narkoba dan HIV/AIDS di Desa Buahan Kaja. Focus Group Discussion (FGD) telah mampu merumuskan permasalahan yang ada di masyarakat menyangkut masih kurangnya pengetahuan para kader remaja mengenai pencegahan penyebaran narkoba dan HIV/AIDS. Saran yang dapat kami berikan dalam kegiatan pengabdian ini adalah agar kelompok mitra dapat menjadi ujung tombak perekrutan mitra lainnya sebagai partner dalam melakukan kegiatan “peer” pencegahan penyebaran narkoba dan HIV/AIDS di Desa Buahan Kaja, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar.
PKM Pemberdayaan Pekerja Seks Perempuan dalam Penanggulangan Kanker Serviks di Kecamatan Kuta Luh Gede Pradnyawati; Dewa Ayu Putu Ratna Juwita; Made Indra Wijaya; Komang Triyani Kartinawati
Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan Vol 2 No 2 (2023): Desember
Publisher : Politeknik Kesehatan Kartini Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36049/genitri.v2i2.164

Abstract

Salah satu penyakit yang dapat menganggu kesehatan organ reproduksi wanita adalah Kanker Serviks yang merupakan kanker yang paling sering menyerang wanita di seluruh dunia. Bali adalah tujuan para traveler yang rentan terhadap penyebaran dan penularan penyakit yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi. Kejadian Kanker Serviks di Provinsi Bali adalah sebesar 2,3 per 1000 penduduk. Kanker Serviks ini dapat dicegah dengan cara meningkatkan perilaku hidup sehat dengan cara cerdik serta mengurangi faktor risiko terjadinya kanker tersebut. Dari wawancara yang dilakukan kepada mitra, didapatkan permasalahan bahwa minimalnya pengetahuan mitra PSP (Pekerja Seks Perempuan) mengenai kesehatan reproduksi khususnya pencegahan Kanker Serviks. Mereka tidak mengetahui hal-hal yang berbahaya dari Kanker Serviks, faktor risiko, cara penularannya serta cara pencegahannya. Dengan terjadinya pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung sejak 3 tahun lalu, membuat terjadinya penurunan pemasukan dari pelanggan yang berdampak pada perekonomian mereka. Sehingga mereka membutuhkan penghasilan tambahan selain dari memuaskan pelanggan. Dari permasalahan yang dihadapi, maka solusi yang dapat ditawarkan adalah melaksanakan focus group discussion mengenai pencegahan Kanker Serviks dengan melibatkan mitra. Dari kegiatan ini telah meningkatkan pemahaman PSP serta orang-orang di sekitar lokalisasi mengenai pentingnya penanggulangan Kanker Serviks. Peningkatan skill PSP melalui pelatihan bagi mitra dalam pembuatan APD seperti masker, handsanitizer, face shield. Pelatihan ini dilakukan untuk membantu PSP dalam mencari pemasukan tambahan selain bekerja di lokalisasi sehingga permasalahan perekonomian mereka terbantu di masa pandemi Covid-19.
Pemberdayaan Keluarga dalam Pencegahan Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Payangan, Gianyar Anny Eka Pratiwi; Dewa Ayu Putu Ratna Juwita
JPPM (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat) VOL. 8 NOMOR 2 JULI 2024 JPPM (Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/jppm.v8i2.14507

Abstract

Pemberantasan sarang nyamuk di Desa Payangan ditemukan minimya kesadaran keluarga dampingan dalam melakukan PHBS untuk mencegah terjadinya kasus DBD. Metode yang dilakukan dalam kegiatan adalah penyuluhan dan pemberdayaan masyarakat dengan topik pemberantasan jentik nyamuk di lingkungan rumah dan edukasi PHBS. Sasaran kegiatan adalah 11 keluarga dampingan mahasiswa dalam blok Community Oriented Medical Education. Monitoring dan evaluasi dilakukan selama 1 bulan untuk memantau peningkatan pengetahuan dan sikap keluarga dampingan. Promosi kesehatan dilakukan melalui edukasi tentang pencegahan demam berdarah dengue serta perilaku cuci tangan yang dipraktekkan secara langsung oleh keluarga. Tujuan kegiatan ini adalah peningkatan pengetahuan keluarga upaya pencegahan pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M dan edukasi PHBS cuci tangan pakai sabun. Kegiatan penyuluhan dan pemberdayaan ini dilakukan pada 11 keluarga dengan memberikan pengetahuan tentang pencegahan perkembangbiakan nyamuk dbd, dan metode pemberantasan jentik nyamuk di rumah tangga. Kegiatan monitoring dan evaluasi dilakukan dengan melaksanakan monitoring jentik nyamuk di wilayah Kecamatan Payangan. Hasil kegiatan dapat disimpulkan bahwa adanya peningkatan pemahaman keluarga dalam melakukan pemberantasan jentik nyamuk, peningkatan pemahaman keluarga tentang PHBS, serta monitoring jentik telah dilakukan secara berkala minimal satu minggu sekali.
PEER SUPPORT GROUP DALAM MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP PENDERITA SKIZOFRENIA Ratna Juwita Dewa Ayu Putu
JURNAL MEDIKA USADA Vol 5 No 2 (2022): Jurnal Medika Usada
Publisher : STIKES ADVAITA MEDIKA TABANAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54107/medikausada.v5i2.140

Abstract

Peer support group therapy has been emphasis as a comprehensive method for improving the quality of life (QoL) in schizophrenia. WHO recommendation of these rehabilitative care collaborating with curative, promotif and their supporting system to achieve the goal of quality of life on fisic, psychis, social, and environtment. This was a pre-post test study in one group schizophrenia in Rumah Berdaya, Denpasar. This group was intervented with peer support group module for 3 months by the medical doctor. The QoL was assessed with the WHOQOL-BREF and analyzed using compare mean t-test. A total fourty schizophrenia which are fully cooperative completed the modules. Most of them is over 41 years old (57.14%), high educated 70.73%, single (82.93%), living with their core family (92.68%) and 23.44 ± 6.384 years old in onset. The mean scored of QoL was 70.57 (good QoL) ranged betwen 51.75-95.25 before the modules and 75.024 (good QoL) ranged between 47,00-100. This study showed that there was a significant difference of QoL before and after the modules completed (p0.00). This study proved that peer support group intervention in schizophrenia was significantly increased the mean of QoL score.