Sartika Juwita
Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Deteksi Kebuntingan Ternak Sapi : Aplikasi Test Strip Dairy Cow Pregnancy Colloidal Gold Test Strip Sartika Juwita; Mihrani .; Agusriady .; Aris Handono
Jurnal Sain Veteriner Vol 39, No 3 (2021): Desember
Publisher : Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan PB PDHI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsv.58084

Abstract

Deteksi kebuntingan dini pada ternak sapi sangat penting ditinjau dari segi ekonomi karena akan mempengaruhi pendapatan peternak. Deteksi kebuntingan dini sangat penting untuk memperpendek calving interval melalui peningkatan pengetahuan peternak untuk mengidentifikasi status reproduksi, sehingga dapat melakukan terapi dan mengawinkannya sesegera mungkin. Kegiatan penetapan ternak sapi bunting atau tidak bunting dilaksanakan dengan metode deteksi kebuntingan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui akurasi test strip dalam diagnosis kebuntingan pada ternak sapi. Test strip digunakan untuk mendeteksi kebuntingan 46 ekor ternak sapi Bali betina yang berasal dari peternakan rakyat.  Hasil menunjukkan bahwa test strip yang dilakukan pada 30 hari pasca inseminasi buatan menunjukkan sensitivitas 75% dan spesifisitas 90%. Test strip dapat digunakan untuk deteksi kebuntingan dini pada ternak sapi.
Identification of Anthrax in Endemic Areas in South Sulawesi Province Sartika Juwita; Purwanta Purwanta; Muflihanah Muflihanah; Titis Furi Djatmikowati
Jurnal Riset Veteriner Indonesia (Journal of The Indonesian Veterinary Research) VOLUME 2 NO. 2, JULY 2018
Publisher : Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jrvi.v2i2.4423

Abstract

Anthrax is a strategic and important disease because it is a zoonotic disease which caused death and difficult to eradicate because it produces spores. The aim of the study was to identify anthrax in endemic areas in South Sulawesi Province. Soil samples obtained from Gowa and Pinrang regency were examined by bacterial culture test and then positive results from bacterial culture followed by multiplex PCR. Based on the results of the isolation of 52 soil samples show 35 samples from Pinrang regency show all negative anthrax, while from 17 soil samples from Gowa regency show 2 positive samples of anthrax. Positive samples of anthrax were from Timbuseng village, Patallasang district, Gowa regency. The results continued with PCR technique using Bacillus anthracis colonies derived from positive soil samples. It showed the virulent strain of Bacillus anthracis. A virulent strain is indicated by a DNA fragment of a pXO1 plasmid encoding a toxin lethal factor (Lef) of 385 bp and a DNA fragment of a pXO2 plasmid encoding a capsule of anthrax (Cap) of 264 bp and also common bacterial markers of the Bacillus genome chromosome (Ba183) of 152 bp.
APLIKASI FORMULASI PAKAN KONSENTRAT UNTUK MENINGKATKAN BOBOT BADAN TERNAK SAPI BALI S. Juwita
Jurnal Agrisistem Vol 14 No 1 (2018): Jurnal Agrisistem
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Pembangunan Pertanian Gowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Formula pakan konsentrat dapat meningkatkan produktivitas sapi potong dan dapat menekan biaya pakan. Aplikasi inovasi formulasi pakan konsentrat berbasis pemanfaatan limbah pertanian dapat diubah menjadi produk daging bernilai dan berdaya jual tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian formulasi pakan konsentrat terhadap pertambahan bobot badan harian sapi Bali. 5 ekor ternak sapi betina diberikan pakan formulasi konsentrat sebesar 20% dari kebutuhan pakan sapi per hari per ekor dan pemberian hijauan dan air minum secara ad libitum. Formulasi pakan konsentrat tersusun atas dedak (50%), jagung giling (20%), tepung Ikan (10%), tongkol Jagung (19%), garam (0,5%) dan mineral (0,5%). Data dianalisis secara deskriptif. Hasil menunjukkan pertambahan bobot badan harian (PBBH) (kg/ekor/hari) pada setiap ternak sapi betina secara berurutan sebagai berikut : S7 = 1.6, S4 = 1.3, S5 = 1.2, S6 = 0,9 dan S3 = 0.6. Rata-rata pertambahan bobot badan harian ternak sapi Bali 1,12 kg/ekor.
Pendekatan One Health: Deteksi Gen blaZ dari Isolat Staphylococcus aureus Asal Peternakan Sapi Perah di Sulawesi Selatan Sartika Juwita; Agustin Indrawati; Retno Damajanti; Safika Safika; Ni Luh Putu Ika Mayasari; Edi Purwanto; Handayani Halik; Muh Ramadhan; Suhartila Suhartila
Jurnal Veteriner Vol 25 No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/jveteriner.2024.25.1.122

Abstract

Resistansi antibiotik merupakan masalah kesehatan penting di seluruh dunia yang berdampak pada kesehatan manusia dan hewan. Kehadiran gen resistan pada Isolat Staphylococcus aureus dapat berkontribusi pada pengembangan resistansi antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan gen blaZ yang berasal dari isolat S. aureus yang resistan terhadap antibiotik penisilin G dari wilayah peternakan sapi perah di Provinsi Sulawesi Selatan. Sampel penelitian diperoleh dari 20 lokasi peternakan sapi perah yang tersebar di Kabupaten Enrekang. Identifikasi S. aureus dilakukan dengan metode fenotipik dan genotipik. Isolat S. aureus yang resistan terhadap antibiotik penisilin G berasal dari manusia (n=6), ternak sapi perah (n=10), dan produk dangke (n=2) diperoleh dari hasil uji sensitivitas terhadap antibiotik penisilin G (10 U) dengan metode difusi cakram Kirby-Bauer. Deteksi gen blaZ menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR) konvensional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat yang berasal dari manusia, ternak sapi perah, dan produk dangke terdeteksi keberadaan gen blaZ masing-masing sebesar 100%. Gen blaZ yang terdapat pada isolat manusia, hewan, dan produk dangke berpotensi menyebar antar isolat dan berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan manusia.