Claim Missing Document
Check
Articles

THE USE OF AUDIO-VISUAL MEDIA IN SPEAKING ABILITY OF ENGLISH SPEAKING CLUB STUDENS AT STMIK ROYAL KISARAN Akmal Akmal
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 2 No. 1 (2019): February 2019
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v2i1.324

Abstract

Audio-visual media is a method to produce or deliver the materials by using mechanical and electronic machines to present audio-visual messages. Teaching through audio visual media is clearly characterized by the use of hardware during learning such as television, tape recorder, and wide visual projector. In this English speaking learning using video media, infocus, and laptop. The material is given in the form of overall English. The researcher presented several films about English and the English Speaking Club for Students students were very passionate and responded positively so that they were able to speak in English by communicating entirely in English. They are also more interactive in speaking English. The students’ speaking ability got the progress so significant and can improve their speaking skill in English.
URGENSI PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KORBAN TINDAK PIDANA KEJAHATAN TEKNOLOGI INFORMASI Ari Dermawan; Akmal Akmal
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 2 No. 2 (2019): August 2019
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v2i2.353

Abstract

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah pula menyebabkan hubungan dunia menjadi tanpa batas (borderless) dan menyebabkan perubahan sosial, ekonomi, dan budaya secara signifikan berlangsung demikian cepat. Teknologi Informasi saat ini menjadi pedang bermata dua karena selain memberikan kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan, kemajuan, dan peradaban manusia, sekaligus menjadi sarana efektif perbuatan melawan hukum. Perbuatan melawan hukum dengan berbagai modus yang menggunakan komputer dan jaringan komputer sebagai alat seperti prostitusi online, judi online, penipuan identitas, pornografi anak, pemerasan, peretasan, pencurian hak kekayaan intelektual dan masih banyak lagi kejahatan yang lain yang dapat merugikan baik secara materil maupun nonmateril bagi penggunanya dan dapat merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan maraknya tindak pidana kejahatan teknologi informasi tersebut, maka perlu diteliti mengenai Urgensi Perlindungan Hukum bagi Korban Tindak Pidana Kejahatan Teknologi Informasi. Spesifikasi penelitian merupakan penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif yaitu penelitian hukum mempergunakan sumber data sekunder Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji  urgensi  undang - undang  cybercriem dalam sistem hukum  di Indonesia. Untuk mengkaji  perlindungan hukum bagi korban tindak pidana kejahatan teknologi informasi dalam UU ITE. Dan untuk mengkaji  pengaturan Tindak Pidana Kejahatan Teknologi Informasi.
IMPROVING THE STUDENTS’ WRITING THROUGH TALKING STICK MODEL AT GRADE XI STUDENTS Akmal Akmal; Chitra Latiffani
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 4 No. 2 (2021): June 2021
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v4i2.549

Abstract

This study aimed to improve the result learn student during and to study process makes writing simple sentence through talking stick model. And students’ responses toward the use of talking stick model in learning English writing. This model is expected to overcome the problem that occurs in the field. The methodology of research is classroom action research (CAR). The object of the research is students’ SMK Negeri 1 Pulau Rakyat, class XI2, that amount of 30 students, academic year of 2019/2020. The classroom action research in planning, the researcher used first cycle and the second cycle. Afterwards enter cycle that first pursuant to sequence use some step that is planning, acting, observing, reflecting and the second cycle of the same steps with the first cycle. In analyzing the data the researcher used descriptive quantitative. The result of analysis assess at the first cycle showing result that the mean score 66.8, in addition, there were 6 students passed KKM in cycle I, after percent 20%. And  the second cycle showing result that mean score 86.0 in addition, there were 27 students passed KKM in cycle II, after percent 90%. In this research has KKM 75. The mentioned seen from efficacy indicator indicate that study process writing simple sentence through talking stick can mount result learn students, hence this research is expressed to succeed and discontinued at the second cycle, thereby can be expressed that improving the students’ writing simple sentence through talking model at grade XI students of SMK Negeri 1  Pulau Rakyat in academic year of 2019/2020, it is success
SEMIOTICS IN GOVERNOR’S DEBATING (SYSTEMIC FUNCTIONAL LINGUISTICS STUDY) Akmal Akmal; Zulkarnain Sirait
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 6 No. 2 (2023): June 2023
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v6i2.1303

Abstract

Abstract: The research aims to identify the semiotics aspects in the Candidates Of North Sumatera Governor 2013 – 2018. The communications in the data convey people’s emotions, feelings, and messages through expressive actions. By analyzing the communication, the people are able to be easy to understand the communication by using the body moving in semiotics in daily communication and ease people to understand messages delivered primarily in front of the public and help the speakers deliver ideas or opinions to the audiences. The research was conducted through qualitative descriptive analysis. The research data was the public debate on TV One Channel of The Candidates Of North Sumatera Governor 2013 – 2018, and the source of data was www.youtube.com. The research data were five candidates of the governors in the general election 2013 in 240 minutes. Body movement expression can be found in all five candidates’ speeches with the highest number of gestures performed by Chairman Harahap. The research results were that Chairman Harahap has 21 gestures, Effendi Simbolon has 18 gestures, Gus Irawan Pasaribu has 16 gestures, Gatot Pujo Nugroho has 12 Amri Tambunan has only the body movement (semiotics). Keywords: semiotics; body movement; debating Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aspek semiotika pada Calon Gubernur Sumatera Utara 2013 – 2018. Komunikasi dalam data tersebut menyampaikan emosi, perasaan, dan pesan masyarakat melalui tindakan ekspresif. Dengan menganalisis komunikasi, masyarakat dapat dengan mudah memahami komunikasi dengan menggunakan gerak tubuh secara semiotika dalam komunikasi sehari-hari dan memudahkan masyarakat untuk memahami pesan yang disampaikan terutama di depan umum dan membantu pembicara menyampaikan ide atau pendapat kepada audiens. Penelitian dilakukan melalui analisis deskriptif kualitatif . Data penelitian ini adalah debat publik di Channel TV One Calon Gubernur Sumut 2013 – 2018, dan sumber datanya adalah www.youtube.com. Data penelitian adalah lima calon gubernur pada pemilihan umum tahun 2013 dalam waktu 240 menit. Ekspresi gerakan tubuh, dapat ditemukan pada kelima pidato kandidat dengan jumlah gestur terbanyak dilakukan oleh Ketua Harahap. Hasil penelitian adalah Ketua Harahap memiliki 21 gestur, Effendi Simbolon memiliki 18 gestur, Gus Irawan Pasaribu memiliki 16 gestur, Gatot Pujo Nugroho memiliki 12 Amri Tambunan hanya memiliki gerak tubuh (semiotika).
AN ANALYSIS OF ERRORS IN WRITING SENTENCES BY THE STUDENTS (MORPHOSYNTAX STUDY) Akmal Akmal; Zulkarnain Sirait
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 6 No. 3 (2023): October 2023
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v6i3.1479

Abstract

Penelitian ini fokus pada bahasa tulisan. Para peneliti menganalisis kesalahan mahasiswa Analisis Kesalahan adalah efek dari bahasa pertama selain bahasa pertamanya. Pelajar mungkin secara eksplisit atau implisit membandingkan bahasa pertamanya dan bahasa kedua dalam proses pembelajaran. Sedangkan analisisnya adalah Analisis Interferensi yang kepentingannya adalah interaksi antar bahasa yang bersentuhan dalam khasanah bahasa penuturnya. Analisis kesalahan difokuskan pada dua kategori, yaitu kesalahan Interlingual dan kesalahan Intralingual. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Peneliti melakukan wawancara setelah melakukan kesalahan penulisan bahasa. Mahasiswa belum benar-benar paham tentang struktur sehingga sering melakukan kesalahan dalam bahasa tulisan.
RAGAM BAHASA GURU DALAM INTERAKSI KELAS: STUDI KASUS PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI MAS BAHRUL ULUUM AL-KAMAL Zulkarnain Sirait; Akmal Akmal
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 6 No. 3 (2023): October 2023
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v6i3.3815

Abstract

Abstract: This study aims to examine the varieties of language used by Indonesian language teachers in classroom interactions at MAS Bahrul Uluum Al-Kamal, Asahan Regency. It investigates the forms, pragmatic functions, and contextual factors influencing the teacher's language choices. The research employed a descriptive qualitative approach with a case study design. Data were collected through participatory observation, audio-video recordings, in-depth interviews, and document analysis. Data analysis followed Miles and Huberman’s interactive model, consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that teachers employed three primary language varieties: formal, consultative, and casual. Formal language was dominant in delivering lessons and explaining linguistic rules, while consultative and casual varieties emerged during discussions and classroom management. Code-switching and code-mixing phenomena were also identified, involving shifts between Indonesian, regional languages (Melayu and Javanese), and Arabic, especially in religious or culturally significant expressions. These shifts were found to be strategic rather than arbitrary, aimed at enhancing meaning, emotional engagement, and cultural relevance. In terms of pragmatic functions, the teacher’s utterances reflected six functions based on Halliday’s taxonomy: representational, heuristic, interactional, personal, instrumental, and imaginative. Factors influencing language choices included students’ ethnic backgrounds, instructional objectives, cultural-religious context, and the teacher's teaching experience. The use of consultative and casual registers positively impacted student participation and comfort, although it raised concerns regarding the imitation of informal styles in formal academic writing. To address this, a reflective strategy—such as formal language recapitulation at the end of lessons—is recommended. Overall, the study highlights that teacher language variety is not merely a linguistic variation but a pedagogical medium laden with social, cultural, and educational implications, playing a crucial role in shaping students' literacy habits and classroom atmosphere. Keywords: Language Variety; Code-Switching; Classroom Interaction Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ragam bahasa yang digunakan guru Bahasa Indonesia dalam interaksi kelas di MAS Bahrul Uluum Al-Kamal, Kabupaten Asahan, dengan menelaah bentuk, fungsi pragmatis, serta faktor-faktor yang memengaruhi pemilihannya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, rekaman audio-video, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Analisis dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menggunakan tiga ragam bahasa utama, yaitu ragam resmi, konsultatif, dan santai. Ragam resmi dominan dalam pengantar dan penjelasan materi, sedangkan ragam konsultatif dan santai muncul dalam diskusi serta pengelolaan suasana kelas. Fenomena alih kode dan campur kode juga ditemukan dalam bentuk peralihan antara Bahasa Indonesia, bahasa daerah (Melayu dan Jawa), serta bahasa Arab. Penggunaan variasi ini bersifat strategis untuk memperjelas makna, membangun kedekatan afektif, serta menyesuaikan konteks kultural religius pesantren. Dari segi fungsi pragmatis, tuturan guru mencakup enam fungsi menurut klasifikasi Halliday: representasional, heuristik, interaksional, personal, instrumental, dan imajinatif. Faktor-faktor penentu dalam pemilihan ragam meliputi latar etnis siswa, tujuan instruksional, budaya lokal, serta pengalaman mengajar guru. Penggunaan ragam konsultatif dan santai terbukti meningkatkan partisipasi dan kenyamanan siswa, namun menimbulkan risiko imitasi gaya informal dalam konteks akademik formal. Oleh karena itu, disarankan strategi reflektif seperti rekapitulasi dengan ragam baku di akhir sesi pembelajaran. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ragam bahasa guru dalam kelas adalah sarana pedagogik yang tidak hanya mencerminkan variasi linguistik, tetapi juga mengonstruksi dinamika sosial, budaya, dan pembentukan habitus literasi siswa. Kata kunci: Ragam Bahasa; Alih Kode; Interaksi Kelas