Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

HUBUNGAN KEBIASAAN SARAPAN PAGI DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA MAHASISWA Lilis Banowati; Jongga Adiyaksa
Jurnal Kesehatan Vol 8, No 2 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.997 KB) | DOI: 10.38165/jk.v8i2.111

Abstract

Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat global di negara berkembang maupun negara maju dengan konsekuensi yang besar bagi kesehatan manusia serta pembangunan nasional dan ekonomi. Anemia pada remaja akibat  kurang gizi dapat berdampak buruk pada kesehatan, pertumbuhan, dan sistem imun. Penyebab utama anemia gizi ialah konsumsi zat besi yang tidak cukup, absorbsi zat besi yang rendah, dan pola makan yang sebagian besar terdiri dari nasi dan menu yang kurang beraneka ragam. Kebiasaan makan pagi termasuk dalam salah satu dari 13 pesan dasar gizi seimbang. Bagi mahasiswa/remaja, makan pagi dapat meningkatkan konsentrasi belajar dan memudahkan menyerap pelajaran yang akan meningkatkan prestasi belajar. Makan pagi juga sangat berperan terhadap pemenuhan gizi seimbang pada anak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan makan pagi dengan kejadian anemia pada mahasiswa program studi D III Gizi Cirebon Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya.Penelitian ini merupakan penelitian observational dengan menggunakan desain cross-sectional. Populasi pada penelitian ini adalah mahasiswa Prodi D III Gizi Cirebon Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya dengan jumlah 122 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan  teknik  random  sampling  yaitu   sejumlah  35 orang.Hasil penelitian  menunjukkan  bahwa dari 35 mahasiswa, 29 mahasiswa memiliki kebiasaan makan pagi 29 mahasiswa (83%) yang tidak anemia, jarang sarapan pagi yaitu 1 mahasiswa (2,8%) dan yang tidak pernah sarapan yaitu 5 mahasiswa. Nilai pValue dari uji Chi square yaitu 0,125 (P<0,05). Sehingga hasilnya yaitu ada hubungan kebiasaan sarapan pagi dengan kejadian anemia pada mahasiswaKata kunci: kebiasaan makan pagi, anemia, mahasiswa ABSTRACTAnemia is a global public health problem in both developing and developed countries with great consequences for human health as well as national and economic development. Anemia in adolescents due to malnutrition can adversely affect health, growth, and the immune system. The main causes of nutritional anemia are insufficient intake of iron, low iron absorption, and a diet consisting mostly of rice and a less varied menu. Breakfast habits are included in one of 13 basic messages of balanced nutrition. For students, breakfast can increase the concentration of learning and make it easier to absorb lessons that will improve learning achievement. Breakfast also greatly contribute to the fulfillment of balanced nutrition in children. The purpose of this study to determine the relationship between morning eating habits with the incidence of anemia in the students of study program D III Gizi Cirebon Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya.This research is an observational research using cross-sectional design. The population in this study is a student of Study Program D III Gizi Cirebon Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya with the number of 122 people. Sampling technique using random sampling technique that is a number of 35 people.The result of the research shows that from 35 students, 29 students have breakfast habit of 29 students (83%) who are not anemic, rarely breakfast that is 1 student (2.8%) and who never breakfast is 5 students. The pValue value of Chi square test is 0,125 (P <0,05). So the result is a relationship between breakfast habits with the incidence of anemia in studentsKeywords: breakfast habits, anemia, students
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PETUGAS PENJAMAH MAKANAN DENGAN PRAKTEK PENGELOLAAN MAKANAN Lilis Banowati; Euis Siti Kurniasari
Jurnal Kesehatan Vol 5, No 1 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38165/jk.v5i1.160

Abstract

Penyelenggaraan makanan bermutu di rumah sakit tidak terlepas dari tenaga penjamah, tenaga penjamah adalah seorang tenaga yang menjamah makanan dan terlibat langsung dalam menyiapkan, mengolah, mengangkut maupun menyajikan makanan. Berdasarkan wawancara terhadap 10 pegawai mengatakan bahwa 65% kurang memahami tentang penyelenggaraan makanan yang baik dan benar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap petugas penjamah makanan dengan praktek pengelolaan makanan di Instalasi Gizi RSUD Cideres Kabupaten Majalengka Tahun 2014. Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif korelatif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 15 tenaga penjamah makanan dengan menggunakan total sampling. Data diperoleh menggunakan wawancara dan angket. Analisis statistika menggunakan ujichi-square. Hasil penelitian karakteristik petugas penjamah makanan didapatkan usia ≥ 30 tahun sebanyak 86,7%. Pendidikan penjamah makanan sebanyak 73,3% SMU. Masa kerja penjamah makanan ≥ 10 tahun sebanyak  8 (53,3%). Pengetahuan penjamah makanan, 53,3% mempunyai pengetahuan baik, 66,7% mempunyai sikap positif, pelaksanaan pengelolaan makanan di Instalasi Gizi RSUD Cideres tahun 2014 yaitu 73,3% sesuai standar, terdapat hubungan antara pengetahuan dengan praktek pelaksanaan pengelolaan makanan p value 0,026 dan terdapat hubungan antara sikap dengan praktek pelaksanaan pengelolaan makanan di Instalasi Gizi  RSUD Cideres Kabupaten Majalengka Tahun 2014,  p value 0,004.Kata kunci :  Pengetahuan, Sikap, Pengelolaan makanan. ABSTRACTImplementation of quality food in the hospital can not be separated from the power handlers, handlers power is a power that touches food and directly involved in preparing, processing, transporting and serving food. Based on interviews with 10 employees say that 65 % lack of understanding about the operation of the food is good and right. The purpose of this study was to determine the relationship of knowledge and attitude of personnel management practices of food handlers in food in hospitals Nutrition Installation Cideres Majalengka 2014.This type of research is descriptive correlative study using cross- sectional approach (cross-sectional). The total sample of 15 workers total food handlers by using sampling. Data obtained using interviews and questionnaires and then analyzed statistically using the chi-square test. The results of the study characteristics of the officer seen food handlers aged ≥ 30 years as much as 86.7 %. Education of food handlers as much as 73.3 % of high school. Food handlers working life ≥ 10 years as many as 8 (53.3 %). Knowledge of food handlers, 53.3 % had good knowledge, 66.7 % had a positive attitude, food management implementation in hospitals Nutrition Installation Cideres 2014 is 73.3 % according to the standard, there is a relationship between knowledge management practice implementation of food p value 0.026 and there is a relationship between attitudes to food management practices implementation in hospitals Nutrition Installation Cideres Majalengka 2014, p value 0.004.Keywords    : Knowledge , Attitudes , Management of food.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PRAKTEK PELAKSANAAN INISIASI MENYUSU DINI Nurani Nurani; Lilis Banowati
Jurnal Kesehatan Vol 5, No 2 (2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38165/jk.v5i2.175

Abstract

Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dapat mengurangi angka kematian bayi baru lahir. Kabupaten Cirebon belum ada data laporan mengenai IMD, namun cakupan ASI Eksklusifnya 40,57%, survey awal 40% bidan yang melakukan IMD, masih jauh dari target 80%, IMD merupakan tolak ukur keberhasilan ASI Eksklusif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Praktek Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini oleh Bidan Di Puskesmas PONED Kabupaten Cirebon 2014. Jenis penelitian adalah kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bidan di Puskesmas PONED Kabupaten Cirebon berjumlah 533 orang. Jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 80 orang bidan  yang diambil secara proportional random sampling. Instrument yang digunakan adalah kuesioner, metode pengumpulan data dengan teknik wawancara. Data dianalisis secara statistic menggunakan uji chi square dan uji T Independent.Hasil penelitian univariat menunjukkan bidan yang melakukan IMD sebesar 72,5%, umur termuda bidan 22 tahun dan tertua 49 tahun, bidan yang  berpendidikan D3 sebesar 95%, bidan berpengetahuan baik sebesar 82,5%, lama bidan bekerja yang terbaru 1 tahun dan terlama adalah 28 tahun, berstatus kawin sebesar 66,3%, bersikap positiksklusif Kf sebesar 93,8%, bidan yang pernah mengikuti pelatihan sebesar 96,3%  dan bidan yang melakukan supervisi sebesar 42,5%. Hasil analisis bivariat menunjukkan umur responden (ρ value = 0,000) , lama bekerja (ρ value =0,000 ) dan supervisi (ρ value = 0,024) ada hubungan yang bermakna dengan praktek pelaksanaan IMD oleh bidan di Puskesmas PONED Kabupaten Cirebon tahun 2014.Kata kunci : Inisiasi Menyusu Dini (IMD), Bidan. ABSTRACTEarly Initiation of Breastfeeding ( IMD ) can reduce the mortality rate of newborns. Cirebon has been no report data on IMD, however coverage 40.57 % exclusive breastfeeding , early survey 40 % of midwives who perform the IMD , still far from the target of 80 % , the IMD is a measure of the success of exclusive breastfeeding .  This study aims to determine the Factors Associated with Early Initiation of Breastfeeding Practices Implementation by the midwife at the health center Cirebon 2014. This type of research is quantitative cross-sectional design. The population in this study were all midwives in health centers Cirebon numbered 533 people. The sample in this study amounted to 80 people midwives who were taken by proportional random sampling. Instrument used was a questionnaire , the method of data collection by interview . Data were analyzed statistically using the chi square test and Independent t test .Results of univariate study showed respondents midwife who did the IMD of 72.5 %, a midwife 22 years of age the youngest and oldest 49 years old, educated midwives D3 by 95 % , good knowledge of 82.5 %, the old midwife latest work 1 years and the longest was 28 years, 66.3 % are married by, being positive at 93.8 %, attended training by 96.3 % and midwives supervised by 42.5 %. The results of the bivariate analysis showed age midwife ( ρ value = 0.000 ) , longer working ( ρ value = 0.000 ) and supervision (ρvalue = 0.024 ) there was a significant association with the practice of execution by the midwife at the health center IMD Cirebon 2014.Keywords : Early Initiation of Breastfeeding ( IMD ), Midwives .
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KUALITAS AIR MINUM SECARA BAKTERIOLOGIS PADA DEPOT AIR MINUM Iis Rosyiah; Lilis Banowati
Jurnal Kesehatan Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.089 KB) | DOI: 10.38165/jk.v8i1.96

Abstract

Air merupakan kebutuhan vital bagi manusia, pengadaan air minum harus memenuhi persyaratan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Air minum aman bagi kesehatan apabila memenuhi persyaratan secara fisika, bakteriologis, kimia, dan radioaktif. Air merupakan media penyebar berbagai macam penyakit. Depot air minum merupakan salah satu pengolah air minum dimaksudkan untuk memperbaiki kualitas air sehingga aman dan tidak membahayakan bagi kesehatan masyarakat yang menggunakannya, saat ini yang murah dan mudah diperoleh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara lokasi kegiatan depot air minum, bangunan depot air minum, sumber air baku depot air minum, alat produksi depot air minum terhadap kualitas air minum secara bakteriologis di Kabupaten Majalengka tahun 2017. Jenis  penelitian  ini  adalah  survey dengan  pendekatan  cross sectional. Subyek penelitian ini adalah seluruh Depot air minum di willayah Kabupaten Majalengka. Jumlah sampel sebanyak 60 depot air minum yang diambil secara proportional random sampling. Data diperoleh dengan wawancara dan observasi menggunakan ceklis pemeriksaan depot air minum dan dianalisis secara statistik  menggunakan Uji Chi square pada tingkat kemaknaan 5% (0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokasi kegiatan depot air minum 56,7% memenuhi syarat, bangunan depot air minum 90 % memenuhi syarat, sumber air baku pada umumnya menggunakan PDAM dan alat produksi depot air minum memenuhi syarat 33%. Hasil uji statistik didapatkan bahwa lokasi kegiatan (p = 0,019) dan alat produksi (p = 0,000) mempunyai hubungan yang bermakna dengan kualitas air secara bakteriologis pada depot air minum di Kabupaten Majalengka tahun 2017.Kata Kunci : Lokasi kegiatan, Bangunan, Sumber Air Baku, Alat Produksi, dan Kualitas Air Minum Secara Bakteriologis  ABSTRACTWater is vital for human needs, provision of drinking water must meet the requirements that are already set by the Government. Safe drinking water for health if it meets the requirements in physics, chemistry, and be bacteriologically radioactive. Water is the medium range of spreaders of the disease. Depot is one of the drinking water processing is intended to improve the quality of the water so it is safe and does not harm to the health of the community that use it, the moment is cheap and easy to obtain. The purpose of this research is to know the relation between the location of the activity depot, depot building drinking water, raw water sources drinking water depot, depot drinking water production tools to the quality of drinking water in be bacteriologically in Kabupaten Majalengka in 2017. Type of this research is a survey with cross sectional approach. The subject of this research is the entire drinking water Depot in Kabupaten Majalengka Area. The number of samples as many as 60 depot drinking water taken in proportional random sampling. The data obtained by interviewing and observations using the depot drinking water inspection checklist and statistically analyzed using Chi square Test on the level of significance of 5% (0.05). The results showed that the location of the depot drinking water activities 56.7% qualified, building depot drinking water 90% qualified, raw water sources in General using TAPS and tool production of qualified drinking water depot 33%. The results of statistical tests is obtained that the location of activity (p = 0.019) and production (p = 0.000) have a meaningful relationship with water quality in drinking water be bacteriologically at depot in Kabupaten Majalengka in 2017.Keywords : location, activities, buildings, Raw water source, means of production, and the quality of drinking water In be bacteriologically
STUDI KASUS TENTANG HUBUNGAN STATUS BIDAN PRAKTEK SWASTA DENGAN PELAYANAN ANTENATAL CARE DI WILAYAH PUSKESMAS BUMIJAWA KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016 Baeti Rizki; Lilis Banowati
Jurnal Kesehatan Vol 7, No 2 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38165/jk.v7i2.130

Abstract

Banyak faktor yang mempengaruhi terpenuhinya cakupan K4, diantaranya kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan serta kualitas tenaga kesehatan. Berdasarkan data dari Ikatan Bidan Indonesia cabang Kabupaten Tegal, bahwa jumlah bidan yang telah mempunyai izin praktik di wilayah Kabupaten Tegal adalah 513 bidan, sedangkan yang sudah bersertifikat sebagai bidan delima sebanyak 105  orang bidan. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan status bidan praktek swasta dengan pelayanan antenatal care di wilayah puskesmas Bumijawa Kabupaten Tegal tahun 2016. Jenis penelitian adalah survei analitik, desain penelitian yang digunakan observasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini bidan yang membuka praktik mandiri di wilayah Puskesmas Bumijawa sejumlah 24 bidan. Teknik sampelnya menggunakan metode total sample yaitu 24 responden. Karakteristik bidan yang bekerja di wilayah Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal bahwa rata-rata umur responden 36,29 tahun, sebagian besar responden berpendidikan D-III (91,7%), sebagian besar lama mengabdi responden 5-10 tahun (54,2%). Status bidan sebagian besar dengan status bidan praktek swasta bukan delima (58,3%). Pelayanan Antenatal Care sebagian besar bermutu (58,3%). Ada hubungan yang signifikan antara status bidan praktek swasta dengan pelayanan antenatal care di wilayah kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal tahun 2016 (X2 hitung 5,531 dan p value=0,024). Hal ini berarti bahwa bidan dengan status bidan delima lebih profesional dalam pelayanan ANC dibandingkan dengan bidan praktek swasta yang bukan delima, dengan menjadi bidan delima secara tidak langsung fasilitas pelayanan akan tersedia, sehingga akan meningkatkan  mutu pelayanan.Diharapkan bidan praktek swasta yang belum delima agar dapat mengikuti program bidan delima, sehingga dalam melakukan pelayanan ANC sesuai dengan standar pelayanan, serta dengan memasang famplet acuan pelayanan ANC sesuai dengan petunjuk dari Departemen Kesehatan.Kata Kunci  : Status bidan, antenatal care  ABSTRACTMany factors affect the fulfillment of K4 coverage, including public awareness about the importance of prenatal care and the quality of health workers. Based on data from the Indonesian Midwives Association branch Tegal regency, that the number of midwives who already have a license in the district of Tegal is 513 midwives, while that has been certified as a midwife pomegranate were 105 midwives. The aim of research to determine the relationship status private midwife with antenatal care in the health centers Bumijawa Tegal 2016.This type of research is an analytical survey, design research used observational with cross sectional approach. The population in this study independent midwife who practices in the area at Puskesmas Bumijawa some 24 midwives. Mechanical sample using a method that is on the total sample of 24 respondents.Characteristics of midwives who work in the District of Tegal Bumijawa that the average age of 36.29 years old respondents, the majority of respondents educated D-III (91.7%), the majority of respondents serve 5-10 years old (54.2%) , Status midwives mostly with private midwife status instead of pomegranate (58.3%). Antenatal Care qualified majority (58.3%). There was a significant correlation between the status of private midwives with antenatal care in districts of Bumijawa Tegal 2016 (X2 count 5.531 and p value=0.019). This means that the midwife with midwife status pomegranate professionals in ANC compared with private midwife is not a pomegranate, with a midwife indirectly pomegranate service facilities will be available, so that will increase the quality of care.Expected private midwives who have to follow our pomegranate midwife program, so that in conducting ANC in accordance with service standards, and by installing a reference pamphlet ANC in accordance with the instructions of the Ministry of Health.Keywords   : Status midwife, antenatal care
HUBUNGAN KOMUNIKASI ORANG TUA DENGAN KEMANDIRIAN PADA ANAK USIA PRA SEKOLAH DALAM PERSONAL HYGIENE Lilis Banowati; Lin Herlina
Jurnal Kesehatan Vol 6, No 2 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38165/jk.v6i2.153

Abstract

Kemandirian merupakan tugas perkembangan anak usia pra sekolah harus sudah terbentuk. Banyak faktor yang mempengaruhi hal ini. Salah satunya adalah pola asuh, dimana faktor komunikasi orang tua sebagai salah satu yang berperan terbentuknya kemandirian pada anak. Kemampuan melakukan personal hygiene secara mandiri  adalah menunjukkan bahwa anak telah berkembang dengan baik secara fisik dan psikososial. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui adanya hubungan komunikasi  orangtua dengan kemandirian anak usia pra sekolah dalam personal hygiene. Jenis penelitian adalah deskriptif analitik yang menggunakan pendekatan Cross Sectional. Sampel sebanyak 36 orang tua yang memiliki anak usia pra sekolah di TK An Nuur Desa Babakanlosari Kec. Pabedilan Kab. Cirebon  yang diambil secara total sampling. Pengumpulan data menggunakan kuisioner, dan uji hipotesis dengan Chi Square, tingkat  kepercayaan 95%. Hasil penelitian didapatkan  orang tua dengan komunikasi yang baik 26 responden (72,2%) dan yang kurang baik 10 respoden (27,8%), orang tua yang anak usia pra sekolah mandiri dalam personal  hygiene 23 responden (63,9%) dan belum mandiri 13 responden (26,1%), dan uji hipotesis menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara komunikasi orangtua dengan kemandirian anak usia pra sekolah dalam personal hygiene (Pvalue = 0.018).Kata Kunci : komunikasi orangtua, kemandirian anak usia prasekolah, personal hygiene ABSTRACTSelf-reliance is the task of the development of pre-school age children must have been formed . Many factors influence this. One of them is parenting, where parents communication factor as one of the instrumental formation of independence in children. Ability to perform personal hygiene independently is demonstrated that the child has grown both physically and psychosocial . Therefore, this study aims to determine the existence of a communication link parents with pre-school age child's independence in personal hygiene. This type of research is descriptive analytic cross sectional approach . A sample of 36 parents of preschool children in kindergarten An Nuur Babakanlosari Village district. Pabedilan Kab . Cirebon taken by total sampling. Collecting data using questionnaires, and hypothesis testing with Chi Square, the 95% confidence level. The results showed parents with good communication 26 respondents (72.2%) and unfavorable 10 respondents (27.8 %), parents of pre-school age children in personal hygiene independently 23 respondents (63.9%) and dependent 13 respondents (26.1 %), and hypothesis test showed no significant relationship between parental communication with the independence of pre-school age children in personal hygiene (p value = 0.018)Keywords : parent communication , independence preschoolers , personal hygiene
HUBUNGAN KARAKTERISTIK PENGEMUDI DENGAN PERILAKU PENGGUNAAN SAFETY BELT Yuli Astari; Lilis Banowati
Jurnal Kesehatan Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.591 KB) | DOI: 10.38165/jk.v7i1.118

Abstract

Dalam perkembangan teknologi mobil sangat berperan penting bagi kehidupan manusia mobil dilengkapi  dengan perangkat  keamanan yaitu safety belt. Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu penyebab kematian terbesar di Indonesia.  Polda  Metro  Jaya menindak  sekitar  235 pengendara  yang  tidak menggunakan safety belt dan di Bandung pelanggaran mengenai  penggunaan  safety belt  ± 400 pelanggaran. Data kecelakaan dari Ditjen Perhubungan Darat tahun 2009 total korban kecelakaan pada tahun 2011 mencapai 176.763 orang, dengan rincian  31.185 meninggal dunia, 36.767 luka berat dan 108.811 menderita luka ringan. Menurut studi yang dilakukan oleh Institut Analisis CEESAR, mengatakan jumlah pengemudi truk yang meninggal dan terluka dalam kecelakaan lalu lintas dapat dikurangi 40% jika mereka semua menggunakan safety belt. UU No 14 tahun 1992 tentang kewajiban menggunakan safety belt, pelanggaran ini dapat dikenakan pidana kurungan 1 bulan atau denda Rp1000.000. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan karakteristik pengemudi dengan perilaku penggunaan safety belt di PT Cipta Hasil Sugiarto Cirebon tahun 2015. Penelitian ini menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner. Rancangan penelitian ini adalah desain cross sectional, dengan populasi seluruh pengemudi di PT Cipta Hasil Sugiarto Cirebon sebanyak 70 responden dan pengambilan sampel menggunakan metode total populasi. Data dianalisis secara statistik menggunakan uji chi square pada tingkat kemaknaan 5% (0,05).Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan antara umur dengan perilaku penggunaan safety belt (Pvalue = 0,000), tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan perilaku penggunan safety belt (Pvalue = 0,647), ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku penggunan safety belt (Pvalue = 0,000), tidak ada hubungan antara sikap dengan perilaku penggunan safety belt (Pvalue = 0,621) dan ada hubungan antara masa kerja dengan perilaku penggunan safety belt (Pvalue = 0,000).Kata Kunci :   Karakteristik pengemudi,  perilaku penggunaan safety belt.  ABSTRACTIn the development of automobile technology is very important for human life cars are equipped with safety devices that safety belt. Traffic accidents are one of the biggest causes of death in Indonesia, the Jakarta Police crack down on about 235 riders who do not use the safety belt and in Bandung violations regarding the use of safety belt ± 400 violations. Accident data from the Directorate General of Land Transportation of 2009 total accident victims in 2011 reached 176 763 people, with details of 31 185 dead, 36 767 serious injuries and 108 811 suffered minor injuries. According to studies conducted by the Institute of Analysis CEESAR, said the number of truck drivers killed and injured in traffic accidents can be reduced by 40% if they are all using a safety belt. Law No. 14 of 1992 on the obligation to use safety belt, this offense is liable to imprisonment for one month or a fine Rp1000.000. The purpose of this study was to determine the relationship with the behavioral characteristics of the driver's safety belt use in PT Cipta Hasil Sugiarto Cirebon 2015. This study uses a questionnaire research instruments. The study design was cross-sectional design, with the entire population of the driver in the PT Cipta Hasil Sugiarto Cirebon many as 70 respondents and sampling using the method of the total population. Data were statistically analyzed using chi square test at 5% significance level (0.05).The results showed no relationship between age and the behavior of the use of safety belt (pvalue = 0.000), there was no correlation between level of education and the behavior of the use of safety belt (pvalue = 0.647), there is a relationship between knowledge and behavior of the use of safety belt (pvalue = 0.000) , there is no relationship between attitude and behavior of the use of safety belt (pvalue = 0.621) and there is a relationship between the period of employment with the behavior of the use of safety belt (pvalue = 0.000).Keywords: Driver characteristics, safety belt usage behavior.
HUBUNGAN PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN TINGKAT KEPADATAN LALAT DI TEMPAT PENAMPUNGAN SEMENTARA (TPS) Iin Kristanti; Lilis Banowati; Cucu Herawati; Thohir Thohir; Ira Faridasari
Jurnal Kesehatan Vol 12, No 1 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38165/jk.v12i1.230

Abstract

Sampah yang mengalami penimbunan dapat dimanfaatkan oleh lalat sebagai sarang dalam proses perkembangbiakan penyakit. Kepadatan lalat di TPS Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon masih tinggi sehingga memerlukan pengelolaan sampah yang baik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengelolaan sampah dengan tingkat kepadatan lalat.Jenis penelitian yaitu kuantitaif dengan desain penelitian cross sectional. Metode pengumpulan data dengan wawancara dan instrumen penelitian menggunakan Fly grill dan dibantu dengan kuesioner. Populasi dalam penelitian ini yaitu 25 orang pengelola sampah dengan sampel penelitian total sampling. Analisis data menggunakan uji chi-square.Hasil penelitian ada hubungan antara pemilahan sampah p=0,006, ada hubungan pengumpulan sampah p=0,013, dan ada hubungan antara pengangkutan sampah p=0,033 dengan tingkat kepadatan lalat di TPS Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon. Sebaiknya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) memberi pelatihan kepada petugas TPS agar dapat menjalankan program dalam bidang pengelolaan sampah di TPS dengan baik dan memberi himbauan serta wawasan kepada masyarakat sekitar TPS tentang pengelolaan sampah yang baik.Kata kunci: Pengelolaan sampah, kepadatan lalat, tempat penampungan sementara  AbstractHoarded garbage can be used by flies as a nest in the process of disease breeding. The density of flies in the TPS Sumber District Cirebon Regency is still high, so it requires good waste management. The purpose of this study is to determinant the relationship between waste management and fly density.This type of research is quantitative with cross sectional research design. Methods of data collection by interview and research instruments using a fly grill and assisted by a questionnaire. The population in this study were 25 waste managers with a total sampling sample. Data analysis used the chi-square test.The results of the study there was a relationship between waste sorting p = 0.006, there was a relationship between waste collection p = 0.013, and there was a relationship between waste transportation p = 0.033 and the density level of flies in the TPS Sumber District Cirebon Regency It is better if the Environmental Agency (DLH) provides training for TPS officers so that they can run programs in the field of waste management at TPS properly and provide advice and insight to the community around the TPS about good waste management.Keywords: waste Management, Fly Density, Temporary shelter
HUBUNGAN TINGKAT STRESS DENGAN GANGGUAN KUALITAS TIDUR PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR YANG SEDANG SKRIPSI Asiah Asiah; Chyntia Gusti Ayu; Supriatin Supriatin; Lin Herlina; Suzana Indragiri; Lilis Banowati
Jurnal Kesehatan Vol 13, No 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38165/jk.v13i2.269

Abstract

Kebutuhan tidur pada remaja dan orang dewasa usia 18-40 tahun menurut dokter untuk hidup sehat membutuhkan waktu tidur 7 - 8 jam setiap hari. Dampak stres dalam menyusun skripsi adalah keadaan saat mahasiswa merasakan gangguan tidur, kesulitan tidur, tidur tidak tenang, kesulitan menahan tidur, sering terbangun di pertengahan malam, dan sering terbangun di awal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat stress dengan gangguan kualitas tidur pada mahasiswa tingkat akhir yang sedang skripsi. Jenis penelitian menggunakan cross sectional non-eksperimental. Populasi sebanyak 31 responden, menggunakan total sampling. Instrumen Depression Anxiety Stres (DASS) untuk tingkat kecemasan dan gangguan kualitas tidur menggunakan Pittsburgh Sleep Qualilty Index (PSQI). Analisis bivariat menggunakan uji statistic Chi-Square.  Hasil penelitian diperoleh 58,1% responden kategori stres sangat berat, dan 45,1% responden mengalami kualitas tidur sedang. Ada hubungan antara tingkat stress dengan gangguan kualitas tidur (p value 0,032). Hasil penelitian ini dapat dijadikan tambahan materi pengajaran pada mata kuliah keperawatan jiwa terkait pendalaman teori stress dan pengenalan terapi yang dapat menurunkan tingkat stress yang dapat dipraktikan kepada mahasiswa khususnya tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi. Kata Kunci: Tingkat Stres; Gangguan Tidur; Mahasiswa Tingkat Akhir AbstractAccording to doctors, the need for sleep in adolescents and adults aged 18-40 years for a healthy life requires 7-8 hours of sleep every day. Studies show that teens who are sleep deprived are more prone to depression, are unfocused and have poor school grades. The impact of stress in writing a thesis is a condition when students feel sleep disturbances, have difficulty sleeping, sleep restlessly, have difficulty holding sleep, often wake up in the middle of the night, and often wake up early. The purpose of this study was to determine the relationship between stress levels and sleep quality disorders in final year nursing students who are preparing a thesis. This kind of research uses a non-experimental cross sectional. The population as many as 31 respondents. The sample uses sampling resume. Anxiety level instrument using Depression Anxiety Stress (DASS) and sleep quality disorders using the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Bivariate analysis using Chi-Square statistical test. The results obtained 58.1% of respondents with very severe stress category, and 45.1% of respondents experienced moderate sleep quality. There is a relationship between stress levels and sleep quality disorders (p value 0,032). The results of this research can be used as additional teaching materials in mental nursing courses related to deepening stress theory and introduction therapy that can reduce the level of stress that can be practice to students, especially the final year who are compiling a thesis. Keywords: Stress Levels; Sleep Disorders; Final Year Students.
PENERAPAN KEBIJAKAN KAWASAN BEBAS PASUNG DENGAN GANGGUAN JIWA BERAT PADA MASYARAKAT Iin Kristanti; Cucu Herawati; Lilis Banowati; Sri Rizki; Laili Nurjannah; Dewi Mutiah; Nuniek Tri Wahyuni
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan (JIRAH) Vol 2, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak:Desa Kaliwedi merupakan wilayah yang letaknya berbatasan langsung dengan di Kabupaten Indramayu dan mempunyai penduduk usia muda. Penerapan Kawasan Bebas Pasung di Puskesmas Kaliwedi belum sepenuhnya efektif di kerenakan masih terdapat hambatan sumber daya. Sumber daya tersebut adalah sumber daya manusia, Sepenuhnya masyarakat masih belum memiliki kesadaran dan menerapkan tidakan pasung pada orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) berat. Tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku terhadap penerapan kawasan bebas pasung. Metode yang dilaksanakan adalah penyuluhan dan edukasi pada masyarakat, keluarga orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) berat, pemberian obat dan pendampingan keluarga ODGJ berat. Hasil kegiatan penyuluhan dan edukasi pendampingan  keluarga ODGJ  berat dilaksanakan pada 05 – 22 Oktober 2022 di Balai Desa Kaliwedi, dihadiri perangkat desa , tokoh masyarakat,  kader desa dan  masyarakat umum. materi yang dipaparkan berasal dari tujuan kegiatan pengabdian pada masyarakat yaitu penerapan kawasan bebas pasung.Kata Kunci: Pasung, Kesehatan Mental, Konseling Abstract:Klaipeda Village is an area that is directly adjacent to Indramayu Regency and has a young population. The implementation of the Pasung-Free Area at the Kaliwedi Health Center has not been fully effective because there are still resource constraints. These resources are human resources. In full, the community still does not have awareness and applies shackling practices to people with severe mental disorders (ODGJ). The purpose of this activity is to increase knowledge and behavior towards the application of shackle-free areas. The method implemented is counseling and education to the community, families of people with severe mental disorders (ODGJ), administering medication and assisting families with severe ODGJ. The results of counseling and educational activities for assisting the ODGJ family were carried out on 05-22 October 2022 at the Kaliwedi Village Hall, attended by village officials, community leaders, village cadres and the general public. the material presented comes from the purpose of community service activities, namely the application of a shackle-free area.Keywords: Shackle, Mental Health, Counseling