Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

KORO BENGUK (Mucuna pruriens) SEBAGAI MEDIA ALTERNATIF PERTUMBUHAN BAKTERI PENGGANTI NUTRIENT AGAR Listiyani, Indah Lia; Hayati, Defi Nurul; Amanah, Rahayu Nur; Iswara, Arya
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 10th University Research Colloquium 2019: Bidang Teknik dan Rekayasa
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mahalnya biaya media kultur bakteri menimbulkan kendalapenyediaan bahan di laboratorium pendidikan dengan fasilitaskurang memadai. Sumber protein yang baik untuk memenuhikebutuhan nutrisi media kultur bakteri dan mudah ditemui di sekitarprovinsi Jawa umumnya biji kacang-kacangan salah satunya yaitukoro benguk (Mucuna Pruriens). Penelitian ini dilakukan untukmengetahui potensi biji koro benguk sebagai media alternatif kulturbakteri. Bakteri uji yang digunakan adalah Bacillus sp, Klebsiellapneumonia, Escherichia coli, Staphylococcus sp. Parameter yangdiamati adalah koloni bakteri yang tumbuh pada media kultur.Seluruh bakteri uji tumbuh pada media koro benguk dengan baiktetapi lambat dan kurang subur dibanding pada media Nutrient Agar.Berdasarkan data dengan hasiL Pertumbuhan bakteri pada duamedia uji tidak berbeda secara signifikan dengan nilai probabilitassebesar 0.391 (nilai P>0.05) sehingga koro benguk berpotensisebagai media alternatif kultur bakteri yang murah dan baik dalammikrobiologi.
PERBEDAAN KUALITAS PEWARNAAN HE PADA JARINGAN USUS BESAR TIKUS YANG DIFIKSASI MENGGUNAKAN GULA MOLASSES DENGAN NBF 10% Saleh, Hasniar Fuzran A; Ariyadi, Tulus; Iswara, Arya; Nurbaiti, Nurbaiti
InaBHS (Indonesian Journal of Biomedicine and Health Science) Vol 4 No 1 (2025): Indonesian Journal of Biomedicine and Health Science
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/inabhs.v4i1.10869

Abstract

Fiksasi jaringan merupakan tahap penting dalam pembuatan preparat histologi untuk mempertahankan struktur seluler dan morfologi jaringan. Neutral Buffer Formalin (NBF) 10% umum digunakan sebagai fiksatif, namun memiliki risiko toksisitas dan dampak lingkungan negatif. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kualitas pewarnaan Hematoksilin Eosin (HE) pada jaringan usus besar tikus wistar yang difiksasi menggunakan gula molasses konsentrasi 30% dan NBF 10%. Penelitian dilakukan secara eksperimental laboratorium dengan dua kelompok perlakuan. Penilaian kualitas pewarnaan dilakukan secara mikroskopis terhadap inti sel dan sitoplasma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan yang difiksasi dengan NBF 10% memberikan kualitas pewarnaan HE yang lebih baik, dengan skor rata-rata 18,00 (kategori baik), dibandingkan gula molasses 30% yang memperoleh skor rata-rata 14,18 (kategori kurang baik). Kesimpulan, NBF 10% masih menjadi fiksatif yang lebih unggul dibandingkan gula molasses 30% dalam mempertahankan kualitas pewarnaan HE pada jaringan usus besar tikus. Namun, gula molasses tetap memiliki potensi sebagai alternatif fiksatif yang lebih ramah lingkungan, meskipun kualitasnya masih perlu ditingkatkan. Kata kunci: Fiksasi Jaringan, Gula Molasses, NBF 10%, Pewarnaan HE, Usus Besar Tikus, Histopatologi
DESAIN PRIMER DAN PEMURNIAN GANDA UNTUK DETEKSI PCR GEN 16S rRNA PADA ESCHERICHIA COLI Putra, Deivan; Iswara, Arya; Hanifah, Qolaima; Natasya, Diffa; Putri, Agistha
Jurnal Wiyata Penelitian Sains dan Kesehatan Vol 12 No 2 (2025)
Publisher : LP2M IIK (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Ilmu Kesehatan) Bhakti Wiy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56710/wiyata.v12i2.1007

Abstract

Latar Belakang: Deteksi dan identifikasi Escherichia coli yang akurat sangat penting dalam penelitian mikrobiologi dan diagnostik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan memvalidasi primer spesifik untuk gen 16S rRNA pada Escherichia coli menggunakan NCBI Primer Blast serta mengevaluasi efektivitas pemurnian ganda. Metode: Primer Pair 2 (Forward:5’-CCTTAGGGCCTCTTGCCATC-3’,Reverse:5’-GAGCGTCAGTCTTCGTCCAG-3’) dipilih berdasarkan panjang oligonukleotida, Tm, kandungan GC, posisi target, dimer ujung 3’, dan self-complementarity. Pemurnian ganda diterapkan untuk memperoleh DNA berkualitas tinggi guna memastikan amplifikasi PCR yang optimal. Hasil: PCR menghasilkan produk 553 bp yang dikonfirmasi dengan elektroforesis gel agarosa 2%. Pseudomonas aeruginosa sebagai kontrol tidak menunjukkan amplifikasi, mengonfirmasi spesifisitas Primer Pair 2. Kesimpulan: Primer Pair 2 efektif untuk amplifikasi spesifik gen 16S rRNA Escherichia coli, sehingga direkomendasikan untuk meningkatkan spesifisitas dan akurasi deteksi dalam penelitian selanjutnya.
Phenol–Chloroform DNA Extraction for DNA Amplification from Personal Items Ernanto, Aditya Rahman; Khasanah, Dinda Amaliyatul; Aldirahayu, Yunita; Setiyaningrum, Rizki; Iswara, Arya
Makara Journal of Science Vol. 30, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examined the feasibility of extracting DNA from various personal items using the phenol–chloroform–isoamyl alcohol (PCIA) method. A towel, collared shirt, toothbrush, shower puff, comb, hair tie, and buccal swabs were analyzed. The quality of the DNA extraction, along with DNA concentration, purity, and suitability for multiplex PCR amplification, were evaluated. The shower puff exhibited the highest DNA concentration (68.35 ng/µL), whereas the collared shirt yielded the lowest (26.43 ng/µL). All samples exhibited good DNA purity (A260 nm/A280 nm ranging from 1.827 to 1.985), emphasizing the potential of this method for forensic analysis. Factors influencing DNA concentration included material composition, surface area, and exposure to bodily fluids. The results highlight the importance of understanding material-specific characteristics to optimize DNA extraction protocols. Buccal swabs served as reliable controls, suggesting their potential use in personal item DNA extraction studies. The successful extraction of DNA from personal items holds promise for enhancing the scope of DNA analysis in criminal investigations. The PCIA method is useful for DNA extraction from personal items and may serve as an alternative when standard methods cannot be used.