Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Evaluasi Efektivitas Aplikasi Kompos Trichoderma reesei (Isolat TZ31DU1) Sebagai Agen Hayati dalam Menekan Serangan Penyakit Penting pada Tanaman Jagung Sainong, Darliawan Saprin; Iswati, Rida; Nurdin, Nurdin; Solihin, Angry Pratama; Purnomo, Sutrisno Hadi; Pulogu, Siska Irhamnawati
AGROSCRIPT: Journal of Applied Agricultural Sciences Vol 7 No 1 (2025): June
Publisher : Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/agroscript.v7i1.2244

Abstract

Salah satu faktor rendahnya produktivitas jagung di Provinsi Gorontalo adalah serangan berbagai penyakit tanaman. Selama ini, pengendalian penyakit masih banyak bergantung pada penggunaan pestisida kimia, yang berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Sebagai upaya alternatif, pemanfaatan kompos Trichoderma reesei dapat digunakan sebagai agen pengendali hayati penyakit tanaman. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh aplikasi kompos Trichoderma reesei terhadap jenis, kejadian, dan intensitas serangan penyakit pada tanaman jagung. Penelitian dilakukan melalui pengamatan visual gejala penyakit, identifikasi mikroskopis patogen, serta analisis kejadian dan intensitas penyakit selama 12 minggu setelah tanam (MST). Empat jenis penyakit di pertanaman jagung yaitu karat daun (Puccinia sorghi), bulai (Peronosclerospora maydis), hawar daun (Helminthosporium maydis), dan bercak daun (Curvularia sp.). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi kompos Trichoderma reesei isolat TZ31DU1 secara konsisten mampu menekan kejadian dan intensitas keempat penyakit tersebut dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Tidak ditemukan gejala karat daun pada perlakuan TZ31DU1, sedangkan intensitas tertinggi bercak daun pada kontrol mencapai 63,33% dan hanya 46,66% pada TZ31DU1. Hal ini menunjukkan efektivitas kompos Trichoderma reesei dalam menghambat perkembangan patogen. Temuan ini menegaskan bahwa kompos Trichoderma reesei memiliki potensi tinggi sebagai agen hayati dalam sistem budidaya jagung ramah lingkungan dan berkelanjutan.
PEMANFAATAN LIMBAH PERTANIAN SEBAGAI MEDIA PERBANYAKAN Trichoderma brevicompactum UNTUK MENDUKUNG PERTUMBUHAN TANAMAN CABAI DALAM CEKAMAN BIOTIK Lamatenggo, Rezka; Isami, Delvirawati; Iswati, Rida; Pulogu, Siska Irhamnawati
Prosiding Seminar Nasional Mini Riset Mahasiswa Vol 4, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penurunan produktivitas cabai di Provinsi Gorontalo dalam beberapa tahun terakhir dipengaruhi oleh serangan penyakit layu Fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum, patogen tular tanah yang dapat menurunkan hasil hingga 50%. Pengendalian penyakit ini umumnya masih mengandalkan fungisida sintetis yang berisiko menimbulkan resistensi patogen dan dampak lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi potensi limbah pertanian, yaitu ekstrak kulit kopi dan kulit singkong, sebagai media perbanyakan Trichoderma brevicompactum serta efektivitasnya sebagai pemacu pertumbuhan dan pelindung benih cabai terhadap infeksi F. oxysporum. Penelitian disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tujuh perlakuan dan tiga ulangan, mencakup kontrol, infeksi patogen, perlakuan fungisida, serta biopestisida berbasis ekstrak limbah pertanian.Hasil penelitian menunjukkan bahwa F. oxysporum menurunkan daya berkecambah dan indeks vigor secara signifikan, dengan nilai terendah pada perlakuan P1 (30% dan 0%). Sebaliknya, perlakuan fungisida (P2) dan biopestisida T. brevicompactum (P3–P6) mampu mempertahankan daya berkecambah tinggi (93,33–96,67%). Indeks vigor tertinggi setelah kontrol ditunjukkan oleh perlakuan ekstrak kulit singkong + F. oxysporum (P6) sebesar 93,33%, mengindikasikan adanya sinergi antara T. brevicompactum dan senyawa bioaktif kulit singkong dalam menekan patogen. Secara keseluruhan, ekstrak limbah pertanian terutama kulit singkong berpotensi sebagai media perbanyakan T. brevicompactum sekaligus sebagai biopestisida hayati ramah lingkungan untuk meningkatkan viabilitas benih cabai dan mendukung pertanian berkelanjutan.
Soil chemical Fertility for maize in Tibawa, Gorontalo, Indonesia Ferawati Bano; Zulzain Ilahude; Nurmi; Rida Iswati; Laode Muhamad Irsan
International Journal of Technology and Education Research Vol. 4 No. 01 (2026): January- March, International Journal of Technology and Education Research (IJ
Publisher : International journal of technology and education research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63922/ijeter.v4i01.3042

Abstract

This study evaluated the chemical status of soils under maize (Zea mays L.) cultivation in Tibawa Subdistrict, Gorontalo Regency, Indonesia, to identify fertility constraints and inform site-specific management. A field survey was conducted in May 2025 at three villages (Isimu Utara, Datahu, and Iloponu). At each site, ten subsamples from the 0–20 cm plough layer were composited and analysed for soil pH (H2O and KCl), organic carbon, total nitrogen (Kjeldahl), available phosphorus (Bray I), exchangeable potassium (NH4OAc), and cation exchange capacity (CEC). Results indicated slightly acidic to neutral soils (pH 6.3 - 6.9) with moderate CEC (16.72 - 22.32 cmol(+)/kg). Organic carbon ranged from low to moderate (1.42 - 2.51%). Available P was consistently moderate (12.04–14.72 ppm), whereas exchangeable K was low across all sites (0.19 - 0.24 cmol(+)/kg). Total N varied from low in Isimu Utara (0.13%) to moderate in Datahu and Iloponu (0.24 - 0.26%). The primary limitations for maize production were low K availability and, locally, low N and organic matter. Management should prioritize organic amendments, balanced NPK fertilization based on soil testing, and periodic liming where acidification trends emerge. These findings provide a baseline for future monitoring of soil quality and developing recommendations to sustain maize yields while reducing nutrient losses under intensive management in Tibawa.