Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Human Trafficking : Lingkar Kemiskinan pada Perempuan dan Anak di Manado Anggelina Kepadamu Pinamangun; Darmawan Edi Winoto; Aksilas Dasfordate
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2220

Abstract

Penelitian ini mengkaji mengapa perempuan dan anak menjadi sasaran utama human trafficking di Manado serta faktor penyebab dan dampaknya, akibat lingkar kemiskinan struktural. Tujuan utamanya adalah menganalisis faktor sosial, ekonomi, dan budaya yang menyebabkan kerentanan mereka terhadap eksploitasi. Sasaran penelitian mencakup tinjauan historis-multidisipliner untuk memahami dinamika sejak era kolonial hingga modern, guna merekomendasikan strategi pencegahan yang efektif. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian menerapkan metode historis berdasarkan langkah Gottschalk, meliputi heuristik untuk pencarian sumber, kritik sejarah internal-eksternal guna verifikasi keaslian, interpretasi multidisipliner dari perspektif sosiologi, ekonomi, dan gender, serta historiografi untuk menyusun narasi koheren. Data dikumpul melalui library research dari literatur, laporan pemerintah, dan dokumen relevan, dianalisis secara sistematis untuk menghubungkan konteks historis dengan isu kontemporer.Analisis mengungkap bahwa human trafficking di Manado berakar dari praktik kolonial seperti kerja rodi dan jugun ianfu kemudian menjadi bentuk modern melalui perekrutan digital, didorong kemiskinan struktural, posisi geografis strategis (Bandara Sam Ratulangi dan Pelabuhan Bitung),serta budaya merantau Minahasa yang dieksploitasi pelaku. Perempuan dan anak paling rentan, mengalami dampak berupa trauma fisik-psikologis, hilang hak pendidikan, stigma sosial,dan siklus kemiskinan yang berkelanjutan.Temuan ini menegaskan bahwa human trafficking di Manado adalah fenomena interdisipliner yang memperburuk ketidakadilan gender dan ekonomi, memerlukan pendekatan holistik untuk pemutusan siklus. Dengan mengintegrasikan pelajaran historis, penelitian merekomendasikan penguatan pengawasan perbatasan, pemberdayaan ekonomi perempuan, dan edukasi anti-trafficking berbasis komunitas, guna melindungi hak asasi manusia dan membangun masyarakat Manado yang lebih adil serta berkelanjutan.
Pemanfaatan Sumber Daya Pesisir terhadap Kehidupan Ekonomi Masyarakat di Teluk Amurang Injilia Klarisa Kawet; Aksilas Dasfordate; Darmawan Edi Winoto
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2295

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan sumber daya pesisir terhadap kehidupan ekonomi masyarakat di Teluk Amurang, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi dinamika perekonomian masyarakat pesisir. Wilayah pesisir Teluk Amurang memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, seperti perikanan tangkap, budidaya laut, serta sumber daya non-hayati yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode pengumpulan data yang meliputi wawancara mendalam dengan nelayan, pelaku usaha pengolahan hasil laut, dan tokoh masyarakat, serta observasi langsung di lapangan dan studi dokumentasi terhadap data instansi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan sumber daya pesisir, khususnya melalui kegiatan perikanan tangkap, pengolahan hasil laut, dan perdagangan hasil perikanan, memberikan kontribusi ekonomi yang cukup signifikan bagi masyarakat sekitar. Aktivitas tersebut menjadi sumber utama pendapatan dan lapangan kerja bagi sebagian besar penduduk pesisir. Namun demikian, keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain keterbatasan teknologi penangkapan dan pengolahan, akses yang minim terhadap modal usaha, kurangnya infrastruktur pendukung, serta menurunnya kualitas lingkungan akibat eksploitasi berlebihan dan pencemaran. Selain faktor-faktor ekonomi, aspek sosial dan budaya juga berpengaruh terhadap pola pemanfaatan sumber daya pesisir. Nilai-nilai tradisional, sistem gotong royong, serta pola kepemimpinan lokal memainkan peran penting dalam mengatur distribusi hasil dan menjaga keseimbangan sosial di masyarakat. Dengan demikian, peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir di Teluk Amurang memerlukan strategi pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan, dukungan kebijakan pemerintah, serta penguatan kapasitas masyarakat dalam mengoptimalkan potensi pesisir secara berkeadilan dan ramah lingkungan.
Dinamika Pelabuhan Tradisional dan Pengaruhnya terhadap Aktivitas Nelayan Tangkap di Belang (Minahasa Tenggara) Nurul Triyarti Halusa; Aksilas Dasfordate; Darmawan Edi winoto
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.2313

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai perkembangan Pelabuhan di Belang Minahasa Tenggara,  sebagai tempat mata pencaharian khususnya Masyarakat pesisir, dan bagaimana melihat dampak dari Pelabuhan atau dermaga Belang dari segi sosial dan budaya dengan menggunakan Metode Sejarah. Menurut Marc Bloch.  Empat tahap yang dilakukan dalam metode ini yakni: pertama: perumusan masalah penelitian, kedua: melakukan observasi historis melalui sumber sejarah, ketiga: melakukan analisis atau pengkajian data -dan keempat: melakukan pencarian (analisis) sebab-akibat dari masalah. Hasil penelitian mengambarkan keberadaan Pelabuhan Belang memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan masyarakat pesisir, terutama dalam peningkatan aktivitas ekonomi, perubahan pola mata pencaharian, serta terbentuknya interaksi sosial yang lebih intens dengan masyarakat luar daerah. Di sisi lain, perkembangan pelabuhan juga membawa perubahan sosial dan budaya, seperti pergeseran nilai-nilai tradisional, pola kerja, serta dinamika kehidupan masyarakat pesisir. Dengan demikian, Pelabuhan Belang tidak hanya berperan sebagai sarana transportasi dan distribusi hasil laut, tetapi juga sebagai faktor penting dalam proses perubahan sosial dan budaya masyarakat pesisir di Minahasa Tenggara.
Aktualisasi Habonaron Do Bona Dalam Kepemimpinan Di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Di Panribuan Anggreni Purba; Almen Ramaino; Darmawan Ddi Winoto; Aksilas Dasfordate
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 2: Februari 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v5i2.13200

Abstract

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana motto Habonaron Do Bona muncul dan bagaimana nilai-nilai budayanya diterapkan dalam kepemimpinan di Gereja Kristen Protestan Simalungun Panribuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pendekatan historis,yang mengumpulkan data melalui dokumentasi, obsevasi, dan wawancara. Lokasi penelitian difokuskan pada GKPS Panribuan, yang merupakan bagian dari komunitas Simalungun, di mana nilai-nilai habonaron do bona diimplementasikan dalam setiap aspek kepemimpinan gereja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai habonaron do bona dalam kepemimpinan di GKPS Panribuan terlihat melalui sikap dan perilaku para pemimpin gereja, termasuk Sintua, Syamas, Pendeta, dan Penginjil. Mereka menunjukkan sikap-sikap seperti kejujuran, kerendahan hati, disiplin, dan tanggung jawab, yang semuanya berakar dari filisofi Habonaron Bo Bona. Penelitian ini menegaskan bahwa kepemimpinan di GKPS Panribuan tidak hanya berfokus pada aspek spiritual, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai budaya Simalungun, menciptakan lingkungan yang harmonis dan saling menghargai di antara jemaat. Penerapan nilai-nilai ini dalam konteks gereja menunjukkan bahwa budaya dan agama dapat erjalan beriringan, menciptakan masyarakat yang sejahtera dan adil.