Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Review Aktivitas Analgesik Kenanga (Cananga odorata) dan Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) dalam Usada Tenung Tanyalara I Gusti Agung Krisna Larashati; Anak Agung Gede Rai Yadnya Putra
Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi Vol. 1 (2022): Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi 2022
Publisher : Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/WSNF.2022.v01.i01.p09

Abstract

Pemanfaatan obat tradisional termasuk ke dalam kekayaan budaya Indonesia yang didasarkan pada pengetahuan dan kepercayaan berbagai etnis. Usada Tenung Tanyara merupakan naskah tulisan yang memuat sistem pengobatan enam golongan penyakit yakni demam, gangguan pernapasan, gangguan sistem pencernaan, nyeri tubuh, bengkak, dan gatal pada kulit. Usada Tenung Tanyalara memuat tanaman herbal yang digunakan untuk mengurangi rasa nyeri yakni Cananga odorata dan Curcuma xanthorrhiza. Nyeri merupakan rasa tidak nyaman yang berkaitan dengan adanya gangguan pada tubuh atau adanya kerusakan pada jaringan. Tujuan penulisan review artikel ini adalah mengetahui keselarasan efek farmakologi dan toksisitas tanaman terpilih dengan efek empiris yang terdapat dalam Usada Tenung Tanyalara sebagai analgesik serta batas keamanan dosis dalam penggunaannya melalui studi preklinik dan klinik. Artikel dibuat dengan melakukan studi literatur dari berbagai hasil penelitian yang dipublikasikan secara online di lingkup nasional dan internasional. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh informasi bahwa Cananga odorata dan Curcuma xanthorriza dapat mengurangi rasa nyeri melalui uji in vivo dan uji klinik dalam bentuk ekstrak maupun minyak atsiri. Aktivitas analgesik pada Cananga odorata diduga disebabkan oleh senyawa E)-β-caryophyllene yang dapat menginduksi penurunan COX-2 sehingga mengurangi rasa nyeri yang timbul. Pada Curcuma xanthorrhiza, aktivitas analgesik diduga berasal dari senyawa xanthorrhizol dengan mekanisme mereduksi COX-2 dan iNOS sehingga mengurangi produksi prostaglandin dan mengurangi timbulnya nyeri. Dosis toksik Cananga odorata dan Curcuma xanthorrhiza adalah > 5000 mg/kg BB sehingga dikategorikan tidak toksik. Berdasarkan studi literatur, disimpulkan bahwa terdapat kesesuaian efek farmakologis pada penggunaan empiris Usada Tenung Tanyalara dengan hasil uji ilmiah sebagai analgesik dan dianggap aman untuk digunakan.
Review: Aktivitas Antioksidan Buah Naga dengan Metode DPPH serta Potensinya Sebagai Tabir Surya Ni Made Udayani Dwi Yadnya; Anak Agung Gede Rai Yadnya Putra
Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi Vol. 1 (2022): Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi 2022
Publisher : Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/WSNF.2022.v01.i01.p43

Abstract

Antioksidan merupakan senyawa yang dapat melawan radikal bebas di dalam tubuh. Antioksidan membantu mencegah penyakit kronis dan degeneratif. Tujuan dari artikel review ini untuk mengumpulkan informasi tentang tanaman dengan aktivitas antioksidan yang berasal dari suku Cactaceae. Metode yang digunakan untuk menyusun artikel review ini adalah berupa literature review yang diperoleh melalui jurnal atau artikel nasional dan internasional. Dari hasil penelusuran didapatkan 8 penelitian menggunakan kulit sebagai sampel, 6 penelitian menggunakan pulp sebagai sampel, dan penelitian lainnya menggunakan buah, biji, dan daun sebagai sampel yang diukur aktivitas antioksidannya menggunakan metode DPPH. Studi aktivitas antioksidan terutama ditemukan pada spesies Hylocereus polyrhizus ditemukan dalam 8 studi dan Hylocereus undatus ditemukan dalam 5 studi, dan etanol adalah pelarut universal, sehingga pelarut utama yang digunakan adalah etanol. Buah naga diketahui memiliki sifat tabir surya, dan Hylocereus polyrhizuz, Hylocereus costaricensis, dan Hylocereus undatus telah ditemukan memiliki sifat tabir surya. Hal ini karena senyawa fenolik dalam buah berperan penting dalam melawan radikal bebas dan dapat melindungi Anda dari sinar UV pada kulit.
Review: Fitokimia dan Aktivitas Farmakologi dari Alga Kappaphycus alvareziiz Putu Siska Angelina Pramesti; Putu Oka Samirana; Anak Agung Gede Rai Yadnya Putra
Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi Vol. 3 (2024): Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi 2024
Publisher : Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/WSNF.2024.v03.p10

Abstract

Kappaphycus alvarezii merupakan salah satu alga merah yang termasuk ke dalam keluarga Solieriaceae. Kappaphycus alvarezii mayoritas dikembangkan di kawasan pesisir dan memiliki potensi ekonomi yang besar. Seiring berjalannya waktu, budidaya Kappaphycus alvarezii semakin terus meningkat karena mulai dikenal untuk kebutuhan industri makanan, farmasi, dan kosmetik. Kajian ini disusun dengan tujuan untuk merangkum senyawa fitokimia dan aktivitas farmakologi dari Kappaphycus alvarezii. Pencarian data diperoleh dari jurnal internasional dan nasional melalui database berbasis ilmiah yaitu Google Scholar, Science Direct, dan PubMed. Berdasarkan literatur yang telah dikumpulkan, sebanyak 13 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Hasilnya menunjukkan Kappaphycus alvarezii mengandung metabolit sekunder yaitu fenolik, flavonoid, alkaloid, terpenoid, dan sterol. Selain itu, isolat yang berhasil diisolasi dari tanaman ini salah satunya adalah fikoeritrin. Mayoritas hasil studi telah menunjukkan bahwa ekstrak maupun isolat aktif dari Kappaphycus alvarezii memiliki aktivitas farmakologi yang potensial seperti antioksidan, antibakteri, antiinflamasi, antikanker, antijamur, dan antidiabetes. Berbagai hasil studi tersebut menunjukkan potensi Kappaphycus alvarezii sebagai agen terapeutik sehingga berpotensi dikembangkan lebih lanjut dalam pengobatan alternatif dan komplementer.
Studi Bibliometrik: Aktivitas Antioksidan Daun Jambu Biji (Psidium guajava L.) sebagai Bahan Obat Herbal I Wayan Adith Yoga Saputra; Anak Agung Gede Rai Yadnya Putra
Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi Vol. 3 (2024): Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi 2024
Publisher : Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/WSNF.2024.v03.p12

Abstract

Jambu biji (Psidium guajava L.) merupakan salah satu tumbuhan etnik yang banyak tumbuh di lingkungan tropis khususnya Indonesia. Tumbuhan ini sering dimanfaatkan bagian buahnya sebagai bahan pangan hingga bahan pengobatan karena memiliki efek farmakologi yang beragam. Selain bagian buahnya, bagian daun dari tumbuhan ini juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat. Dalam kefarmasian, daun jambu biji dapat digunakan sebagai bahan obat herbal. Salah satu kandungan fitokimia yang terkandung pada daun jambu biji adalah antioksidan. Senyawa ini dapat digunakan untuk berbagai macam penyakit. Tujuan dari penelitian ini untuk melaporkan hasil investigasi terkait perkembangan penelitian yang membahas zat antioksidan daun jambu biji sebagai pengobatan herbal. Metode yang digunakan pada penelitian kali ini menggunakan studi bibliometrik dengan pengambilan database melalui elektronik Dimensions. Setelah data diunduh melalui Dimensions, didapatkan jurnal sebanyak 358 artikel selama rentang waktu 10 tahun dan disaring secara manual sehingga didapatkan 234 artikel. Selanjutnya data diolah dengan menggunakan Biblioshiny R. Hasil penelusuran melalui Biblioshiny R akan diperjelas melalui berbagai macam pengelompokkan. Manfaat yang diharapkan dari adanya penelitian ini adalah untuk meningkatkan kepercayaan dari pembaca terhadap kandungan antioksidan dari daun jambu biji sebagai bahan obat herbal.
Kandungan Fitokimia dan Aktivitas Farmakologi dari Ulva lactuca Ni Luh Linda Sukrawati; Putu Oka Samirana; Anak Agung Gede Rai Yadnya Putra
Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi Vol. 3 (2024): Prosiding Workshop dan Seminar Nasional Farmasi 2024
Publisher : Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/WSNF.2024.v03.p15

Abstract

Ulva lactuca adalah salah satu alga laut yang termasuk ke dalam genus Ulva dan keluarga Ulvaceae. Ulva lactuca memiliki komposisi kimia bernilai ekonomis tinggi yang dapat membuka peluang pemanfaatan dalam aplikasi kosmetik, farmasi, kimia, makanan, dan energi. Artikel ulasan ini bertujuan untuk memeriksa profil fitokimia dan aktivitas farmakologi dari Ulva lactuca. Pencarian data diperoleh dari jurnal internasional dan nasional melalui website dan database berbasis ilmiah yaitu PubMed dan Google Scholar. Berdasarkan literatur yang telah dikumpulkan, terdapat sebanyak 7 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Hasilnya menunjukkan Ulva lactuca memiliki berbagai metabolit sekunder meliputi alkaloid, terpenoid, steroid, saponin, dan flavonoid. Beberapa senyawa seperti asam sinapik, naringin, rutin, dan quercetin diisolasi dari rumput laut ini. Aktivitas farmakologi dari Ulva lactuca yang paling umum ditemukan dalam literatur adalah antioksidan, antibakteri, antijamur, anticancer, dan antidiabetes. Meskipun alga laut ini menawarkan sumber yang menjanjikan dalam dunia farmakologi dan fitokimia, namun perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi potensi Ulva lactuca sebagai produk alami yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Mengingat bahwa penelitian terkait kandungan fitokimia dan aktivitas farmakologi Ulva lactuca masih sangat terbatas.
Green Extraction of Corn Silk Flavonoids Using NADES-UAE: Optimizing Conditions for Agricultural Waste Valorization Anak Agung Sagung Intan Kwanira Gayatri; Anak Agung Gede Rai Yadnya Putra; Putu Oka Samirana
Biology, Medicine, & Natural Product Chemistry Vol 14, No 2 (2025)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & Society for Indonesian Biodiversity

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/biomedich.2025.142.1039-1045

Abstract

Corn silk (of Zea mays L.) is an agricultural waste that has not been optimally utilized, even though it is known to contain flavonoid compounds with various pharmacological activities, such as antioxidant, anti-inflammatory, and antidiabetic effects. The flavonoid compounds in corn silk have the potential to be developed as natural raw materials for applications in the pharmaceutical and cosmetic fields. However, the extraction process for these active compounds often still uses organic solvents like methanol, which are toxic, flammable, and have negative impacts on health and the environment. Therefore, this study aimed to optimize the Ultrasound Assisted Extraction (UAE) method using a more environmentally friendly alternative solvent, namely Natural Deep Eutectic Solvent (NADES). The study was conducted in two main stages: selection of the best NADES composition and molar ratio from combinations of choline chloride with urea, glycerol, lactic acid, and malic acid; and optimization of UAE parameters including ultrasonic power, time, and temperature using the Response Surface Methodology (RSM) with the Box-Behnken Design (BBD) model. The determination of total flavonoid content was performed using the colorimetric method with AlCl? reagent and quercetin standard, and the measurements were taken using a UV-Vis spectrophotometer. The results showed that the NADES combination of choline chloride:urea (1:2) with the addition of 30% aquades produced the highest flavonoid content compared to 80% methanol solvent. The optimal conditions for UAE extraction were obtained at 100 % ultrasonic power, 30 minutes of extraction time, and a temperature of 70°C, resulting in a total flavonoid content yield of 96.02 ± 0.48 mgQE/g of corn silk powder. This study concluded that the combination of NADES and UAE method can significantly enhance the extraction yield of total flavonoids while also providing a more sustainable and environmentally friendly solution for the utilization of agricultural waste, such as corn silk.