Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Tinjauan Makna Keberadaan Pura Hyang Api di Desa Kelusa, Bali A.A. Bagus Wirawan; Fransiska Dewi Setiowati Sunaryo; A.A. Ayu Rai Wahyuni
Lembaran Sejarah Vol 15, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.59521

Abstract

This paper focuses on the structure and meaning of the existence of the Hyang Api Temple in Kelusa Village, Payangan District, Gianyar Regency, Bali Province. This temple is a place of worship (parahyangan) from Dewa Agni. From the structure, ritual form, and its function symbolizes the manifestation of Dewa Vishnu and Shiva. The problem raised in this paper is to find out how the structure of the Hyang Api Temple in Kelusa Village and what the meaning of ritual activities are carried out by Hindus in the Pura Hyang Api Village of Kelusa. Through this analysis it can show that there are indications of the existence of Kahyangan Tiga, Tri Murti. The Tri Murti concept in Bali can be seen in the form of a temple. The method used in this paper is the historical method, especially through the collection of historical facts, namely the collection of written data in the form of documents and monuments. Through this analysis, it is expected that the public can have a better understanding of the form and meaning of temples in Balinese society.
Kerukunan Antarumat Beragama di Kecamatan Denpasar Barat Kota Denpasar Tahun 2005-2021 Tania Dwi Andita Putri; I Wayan Tagel Eddy; Fransiska Dewi Setiowati Soenaryo
Pustaka : Jurnal Ilmu-Ilmu Budaya Vol 22 No 2 (2022)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/PJIIB.2022.v22.i02.p10

Abstract

This study discusses Inter-religious Harmony in West Denpasar District, Denpasar City, from 2005-2021. West Denpasar is a district with a multicultural society. The population of West Denpasar is the largest among other districts in Denpasar City. The total population of West Denpasar based on the 2020 population census is 188,131 people, includes the number of Hindus, Muslims, Christians, Catholics, Buddhists, and Confucians. The issue of religion is often considered a sensitive issue, therefore maintaining harmony in a multicultural society is not an easy matter. The purpose of this study is to determine the factors that occur inter-religious harmony. Main problem in this study: Why is inter-religious harmony occur in the people's social life in West Denpasar District? The theories used are rational choice, roles, and multiculturalism. This research is qualitative. The method used is the historical method with a comparative religious history approach. Data was collected through literature study, observation, interviews, and documentation. The factors that support the occurrence of interreligious harmony in West Denpasar District, namely menyama braya, the role of the Denpasar City Inter-Religious Harmony Forum, and religious leaders, and rational choices in preventing conflict.
Pengaruh Adanya Gojek Terhadap Pengemudinya di Kota Denpasar Tahun 2015-2020 Samuel Calvin Situmorang; Fransiska Dewi Setiowati Sunaryo; Anak Agung Inten Asmiriati
Journal Social and Humaniora Vol 23 No 1 (2023)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/PJIIB.2023.v23.i01.p11

Abstract

Adanya gojek sangat membantu dalam kehidupan perkotaan, selain mudah dijangkau, efisiensi waktu tunggu menjadi dasar yang membuat gojek begitu banyak peminat di Kota Denpasar. Gojek tidak hanya membantu dari segi penumpang, jika dilihat dari sisi pengemudi adanya gojek menciptakan lapangan kerja baru. Dalam penelitian ini, penulis mengkaji dampak yang ada semenjak gojek beroprasi di kota dari segi ekonomi dan sosial yang ditimbulkan dari sisi pengemudi. Penelitian ini banyak mengambil data melalui wawancara dengan para pengemudi. Dari hasil penelitian, adanya gojek memberi dampak kepada yang banyak 1. Secara ekonomi gojek bisa menjadi mata pencaharian karena jam kerja dan durasi bekerja yang fleksibel. Selain alasan jam kerja dan durasi bekerja yang dapat diatur sendiri, gojek juga memberi bonus-bonus atau insentif bagi pengemudi yang mampu menyelesaikan target orderan. 2. Memunculkan paguyuban atau komunitas antar sesama pengemudi yang bersifat kekeluargaan dan gotong royong. Berkat gojek, para pengemudi membuat komunitas untuk saling membantu yang bersifat kekeluargaan antar mitra pengemudi untuk saling membantu dalam pekerjaan. Tidak hanya berdampak ke para pengemudi saja, adanya gojek juga memberi dampak baik terhadap pariwisata di Kota Denpasar. Aksebilitas dan dapat menjangkau ke semua daerah di Kota Denpasar membuat pariwisata di denpasar menjadi berkembang berkat adanya gojek. Adanya gojek memberi dampak yang baik bukan hanya kepada mitranya saja tetapi juga pariwisata di Kota Denpasar.
Biografi Pendidik Djiwa Duarsa sebagai Refleksi Program Pertukaran Siswa SPGN Se-Jawa dan Bali 1980-an I Ketut Ardhana; I Nyoman Suparwa; Ida Ayu Gde Yadnyawati; Fransiska Dewi Setiowati Sunaryo
Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies) Vol 13 No 2 (2023): Volume 13 No 2 Oktober 2023
Publisher : Pusat Kajian Bali Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JKB.2023.v13.i02.p13

Abstract

In recent years, the Freedom to Learn and Freedom Campus (MBKM) initiative have been vigorously implemented. These include activities such as internships and student exchanges. While the Freedom to Learn program must be welcomed, it is important to note that some forms of this program are not entirely new, as student exchanges have been conducted at the high school level before. This article outlines the Student Exchange Program (PPS) through the biographical account of a legendary educator from Bali, Wayan Djiwa Duarsa, who founded and led State Teacher Education School (SPGN) Denpasar for 27 years (1959-1986). Data was collected through interviews, focused group discussions, and document studies. The analysis results indicate that in the early 1980s, Djiwa Duarsa pioneered the Student Exchange Program across Java and Bali, aiming to broaden the understanding of the archipelagic values among students and instill a sense of nationalism. In addition to the monumental PPS program, Djiwa Duarsa's biography also depicts the history of SPGN in Bali and its achievements at the national level. This article is expected to contribute to providing an initial study on the history of teacher education in Bali, which is useful for improving the quality of education for the progress of the nation.
Eksistensi seni Bali dalam komunitas multikultural di Kampung Bali Bekasi, Kota Bekasi, Jawa Barat, Tahun 1986-2023 Muhammad Yusuf Habibi; Ida Ayu Wirasmini Sidemen; Fransiska Dewi Setiowati Sunaryo
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 5 (2025): MEI 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji eksistensi seni dan budaya Bali dalam komunitas multikultural di Kampung Bali Bekasi, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada rentang waktu 1986 hingga 2023. Komunitas ini menarik untuk diteliti karena meskipun secara kuantitatif warga Bali bukan kelompok dominan, mereka berhasil mempertahankan identitas budayanya secara aktif melalui ekspresi seni seperti tari, musik gamelan, seni pahat, serta arsitektur dan kuliner khas Bali. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab tiga pertanyaan utama: pertama, mengapa eksistensi seni Bali tetap bertahan di Kampung Bali Bekasi; kedua, bagaimana strategi yang digunakan untuk menjaga eksistensi tersebut; dan ketiga, apa dampak sosial budaya dan ekonomi dari keberadaan seni Bali di wilayah tersebut. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dengan tokoh masyarakat, dan studi dokumentasi. Analisis dilakukan dengan pendekatan teoritik yang menggabungkan penjelasan dan kausalitas sejarah serta teori adaptasi budaya untuk melihat proses pelestarian dan interaksi sosial antar kelompok etnis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelestarian seni Bali dilakukan melalui pendidikan seni informal, sanggar tari, pertunjukan budaya, serta kerja sama dengan pemerintah dan komunitas lokal. Eksistensi ini memberikan dampak positif dalam memperkuat identitas budaya, menciptakan harmoni sosial, dan membuka peluang ekonomi melalui pariwisata budaya. Penelitian ini menegaskan bahwa pelestarian seni tradisional dalam masyarakat multikultural dapat menjadi sarana efektif membangun integrasi dan solidaritas sosial.
Becoming a Global Village: The History of Globalization in Bali Fransiska Dewi Setiowati Sunaryo; I Ketut Ardhana
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 35 No. 1 (2025): History of Education
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v35i1.23715

Abstract

Abstract: Bali, currently known as one of the world's tourist destinations, has long historical roots. However, Bali is slowly experiencing changes, namely on the one hand trying to adopt and adapt various existing changes, but on the other hand trying to maintain these customs and traditions so that their cultural roots are not eroded. The purpose of this article is to analyze what continues and what changes occur as a result of external influences. The research method used is a qualitative method with a historical approach, expected to provide a better understanding of how Bali, which was once closed to outside cultures, is now seen as an open fortress. Document sources and in-depth interviews were used to dig up information about the history of globalization in Bali. The conclusion in this research reveals that the arrival of Dutch colonial influence, which initiated the development of tourism in Bali during the colonial period, impacted customs and traditions on the one hand. On the other hand, Balinese people began to recognize various artistic influences and art-making techniques as they were introduced later. Ubud and Kuta in Bali have turned into a global village, which on the one hand is very strong with traditional roots, but is very adaptive to Western influences. Abstrak: Bali yang saat ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata dunia memiliki akar sejarah yang panjang. Namun demikian, Bali secara perlahan mengalami perubahan, yaitu di satu sisi berusaha mengadopsi dan mengadaptasi berbagai perubahan yang ada, namun di sisi lain berusaha mempertahankan adat dan tradisi tersebut agar akar budayanya tidak terkikis. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menganalisis apa saja yang tetap dipertahankan dan perubahan apa saja yang terjadi akibat pengaruh dari luar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan historis yang diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana Bali yang dulunya tertutup terhadap budaya luar, kini dipandang sebagai benteng yang terbuka. Sumber-sumber dokumen serta wawancara mendalam digunakan untuk menggali informasi mengenai sejarah globalisasi di Bali. Kesimpulan dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa kedatangan pengaruh kolonial Belanda yang mengawali perkembangan pariwisata di Bali pada masa kolonial berdampak pada adat istiadat di satu sisi, dan di sisi lain, masyarakat Bali mulai mengenal berbagai pengaruh artistik dan teknik pembuatan karya seni yang diperkenalkan kemudian. Ubud dan Kuta di Bali telah berubah menjadi sebuah desa global yang di satu sisi sangat kental dengan akar tradisi namun sangat adaptif terhadap pengaruh Barat.