I Wayan Tika
Program Studi Teknik Pertanian Dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia.

Published : 48 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Optimasi Pemenuhan Kebutuhan Air Irigasi Pada Budidaya Tanaman Pisang di PT. Nusantara Segar Abadi Jembrana-Bali I Gede Nantan Juliawan; I Wayan Tika; I Gusti Ketut Arya Arthawan
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 10 No 2 (2022): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2022.v10.i02.p03

Abstract

ABSTRAK Belum optimalnya ketersediaan air untuk mencukupi kebutuhan air irigasi tanaman pisang di PT. Nusantara Segar Abadi saat musim kemarau mengakibatkan produksi menjadi tidak maksimal. Hal ini diduga karena penggunaan daya pompa yang kurang memadai. Sehingga perlu adanya analisis terhadap besar daya pompa yang dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan air irigasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar kebutuhan daya pompa dan merancang jadwal penggunaannya untuk mencukupi kebutuhan air irigasi tanaman pisang. Perolehan data primer dilakukan dengan mengukur debit tersedia yang dihasilkan pompa. Data sekunder diperoleh dari BMKG Kabupaten Jembrana. Penelitian ini menggunakan prinsip neraca air, dari data yang telah terkumpul kemudian dianalisis untuk mencari besar daya pompa yang dibutuhkan saat kekurangan air. Hasil penelitian menunjukkan besar kebutuhan daya pompa untuk masing-masing periode budidaya tanaman pisang yaitu periode Januari-Pebruari sebesar 3,1 kW, Maret-April sebesar 5,0 kW, Mei-Juni Sebesar 11,0 kW, Juli-Agustus dan September-Oktober sebesar 16,5 kW, serta November-Desember sebesar 0 kW. Jadwal penggunaan pompa di PT. Nusantara Segar Abadi yaitu pada periode Januari-Pebruari membutuhkan satu unit pompa dengan lama operasi 0,8 jam, Maret-April membutuhkan satu unit pompa dengan lama waktu operasi 6,4 jam, Mei-Juni membutuhkan dua unit pompa dengan lama waktu operasi 8,7 jam, periode Juli-Agustus dan September-Oktober membutuhkan tiga unit pompa dengan lama waktu operasi 10,5 jam dan 10,2 jam, periode November-Desember tidak membutuhkan pompa ABSTRACT The water availability does not meet the water requirement of banana plants has been the main issue causing a non-optimal production. Presumably, it is due to the application of pump power. Therefore, it is necessary to analyze the amount of pump power needed to meet the irrigation water needs. The purposes of this study were to determine the pump power requirement and to design a pump application schedule to meet the irrigation water requirement of banana plants. Primary data is obtained by measuring the available discharge. Secondary data was obtained from BMKG Jembrana Regency. This study employed the principle of water balance. The collected data was then analyzed to determine the amount of power needed when the shortage of water occurred. The results showed that the pump power requirement for each banana cultivation period was 3.1 kW, March-April 5.0 kW, May-June 11.0 kW, July-August and September- October of 16.5 kW, and November-December of 0 kW. The Pump usage schedule at PT. Nusantara Segar Abadi in the January-February period requires one pump unit with an operating time of 0.8 hours, March-April requires one pump unit with an operating time of 6.4 hours, May-June requires two pump units with an operating time of 8, 7 hours, the period of July-August and September-October requires three pump units with an operating time of 10.5 hours and 10.2 hours, and the period November-December does not require a pump.
Analisis Dinamika Suhu pada Proses Pengomposan Jerami dicampur Kotoran Ayam dengan Perlakuan Kadar Air Kadek Ardhi Krisnawan; I Wayan Tika; I A. Bintang Madrini
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 6 No 1 (2018): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.862 KB)

Abstract

Kadar air merupakan salah satu faktor penting dalam proses pengomposan jerami yang dicampur dengan kotoran ayam. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui dinamika suhu pada proses pengomposan bahan baku kompos dengan perlakuan kadar air 2) dan mengetahui kadar air campuran bahan baku kompos yang menghasilkan kualitas kompos terbaik. Penelitian ini menggunakan perlakuan kadar air dengan persentase: 30±2% (P1), 40±2% (P2), 50±2% (P3), 60±2% (P4), dan 70±2% (P5). Perbandingan komposisi jerami dan kotoran ayam yaitu 3:4. Parameter yang diukur selama proses pengomposan adalah suhu, pH, dan rendemen. Sedangkan parameter untuk kualitas kompos yaitu pH, kadar air akhir, kadar bahan organik, karbon, nitrogen, dan C/N rasio. Secara umum, suhu selama proses pengomposan untuk setiap perlakuan cenderung seragam dengan suhu maksimal berkisar antara 49,4 - 49,6oC, kecuali pada perlakuan P1 yang memiliki suhu maksimal 34,8oC. P4 dengan kadar air campuran bahan kompos 60±2% adalah perlakuan terbaik dengan C/N rasio 15,68 dan kualitas kompos yang dihasilkan sesuai kriteria SNI 19-7030-2004, yaitu memiliki warna cokelat kehitaman, tekstur remah, mempunyai bau seperti tanah, dengan kadar air akhir 35,55%, pH 7,2, serta kandungan bahan organik 56,50%. The moisture content is an important factor in composting process of rice straw with chicken manure. This research aimed to 1) determine the temperature dynamics in the composting process of compost raw materials with moisture content treatment 2) and to determine moisture content of raw compost material that produced the best compost quality. This research used moisture content treatment with percentage: 30±2% (P1), 40±2% (P2), 50±2% (P3), 60±2% (P4), dan 70±2% (P5). The composition of straw and chicken manure was 3:4. The parameters measured during the composting process were temperature, pH, and decreasing ratio. While the parameters for compost quality were pH, final moisture content, volatile solid, carbon, nitrogen, and C/N ratio. In general, the temperature dynamics for each treatment were uniform with a maximum temperature range from 49.4 – 49.6oC, except for treatment P1 which has a maximum temperature 34.8oC. P4 which has moisture content of compost materials 60 ± 2% was the best treatment with C/N ratio 15,68 and compost produced met to the compost quality based on SNI 19-7030-2004, which has a blackish brown color, crumb texture, has a smell like soil with final moisture content 35.55%, pH 7.2, and volatile solid 56.50%.
Analisis Pemakaian Air Irigasi Pada Budidaya Padi Beras Merah dengan Sistem Tanam Legowo Nyisip(Studi Kasus di Subak Sigaran) Komang Adi Dipayana; I Wayan Tika; Sumiyati Sumiyati
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 5 No 1 (2017): maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.085 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pemakaian air irigasi pada budidaya padi beras merah dengan sistem tanam legowo nyisip dan membandingkan produktivitas pada setiap perlakuan. Penelitian ini terdiri dari lima perlakuan, yaitu: K0 (konvensional, sesuai kebiasaan petani setempat), K1 (sistem tanam legowo 4:1), K2 (sistem tanam legowo 4:1 nyisip), K3 (sistem tanam legowo 6:1), K4 (sistem tanam legowo 6:1 nyisip). Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah: kebutuhan air irigasi, efisiensi penggunaan air irigasi, jumlah anakan berbuah, panjang malai, jumlah biji padi per malai, berat gabah per rumpun, persentase gabah isi basis jumlah, persentase gabah isi basis berat, berat 1000 butir gabah isi dan hasil produksi tanaman padi. Hasil penelitian menunjukan perbedaan sistem budidaya sesuai perlakuan tidak berpengaruh terhadap kebutuhan air irigasi tiap perlakuan dan efisiensi relatif. Pada produktivitas K0 menghasilkan 5.4 ton/ha, K1 menghasilkan 7.8 ton/ha, K2 menghasilkan 7.2 ton/ha, K3 menghasilkan 7.7 ton/ha, dan K4 menghasilkan 6.5 ton/ha. This researce is conducted to compare the usage of irrigation water to the cultivation red rice plants by using planting sytem of legowo nyisip and compare productivity on every action. This research was consist of five treatments, they were : K0 (the treatment which appropriated to local farmers custom), K1 (planting system of legowo 4:1), K2 (planting sytem of legowo 4:1 nyisip), K3 (planting sytem of legowo 6:1), K4 (planting system of legowo 6:1 nyisip). Parameters that observed in this research are: the requirement of irrigation water, the efficiency of irrigation water using ,the number of plants produce grains, the stalks length, the weight of rice in a clump, percentage pure rice , the percentage of rice based on its amount, the percentage of rice based on its weight , the weight of 1000 grains and the result rice plants production. The research results show significant differences with cultivation technique between the treatments is no influence to the requirement of irrigation water and efficiency relative in every treatments. To productivity KO produced 5.4 ton/ha, K1 produced 7.8 ton/ha, K2 produced 7:2 ton/ha, K3 produced 7:7 ton/ha, and K4 produced 6:5 ton/ha.
Hubungan antara Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dengan Keluhan Petani akibat Pestisida (Studi Kasus di Subak Sri Gumana,Desa Rejasa,Kabupaten Tabanan) I Made Galih Suwimantara; I Nyoman Sucipta; I Wayan Tika
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 10 No 1 (2022): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2022.v10.i01.p19

Abstract

Abstrak Penggunaan pestisida tidak sesuai aturan dapat mengakibatkan dampak negatif baik bagi lingkungan maupun kesehatan manusia. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui terdapat atau tidaknya hubungan antara penggunaan APD dengan keluhan petani akibat pestisida di Subak Sri Gumana, Desa Rejasa, Kabupaten Tabanan. Sampel pada penelitian ini menggunakan 30 orang (16%) dari jumlah total yaitu 189 orang petani Subak Sri Gumana. Instrumen penelitian menggunakan kuisioner skala likert yang didalamnya memberi pilihan jawaban kepada responden. Berdasarkan hasil yang didapat melalui uji chi-square diketahui nilai p-value yaitu 0.002 (p <0.05), sehingga dikatakan terdapat hubungan antara penggunaan APD dengan keluhan petani akibat pestisida di Subak Sri Gumana, Desa Rejasa, Kabupaten Tabanan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara penggunaan APD dengan keluhan petani akibat pestisida di Subak Sri Gumana, Desa Rejasa, Kabupaten Tabanan. Keluhan yang muncul disebabkan karena dalam pemakaian pestisida, perhatian petani yang masih kurang dalam penggunaan APD dan cenderung mengabaikan dampak negatif dari pestisida. Abstract The usage of pesticides that do not by following the rules can give a negative impact on human health and the environment. This study aims to determine a relationship between usage of Personal Protective Equipment (PPE) with farmer complaints due to pesticides in Subak Sri Gumana, Rejasa Village, Tabanan Regency. This study used samples amount 30 people (16%) from 189 farmers in Subak Sri Gumana. The instrument used the questionnaire Likert scale which provides choices for respondents to answer. Based on the result of chi-square test, the p-value is 0.002 (p <0.05), so there was a relationship between usage of Personal Protective Equipment (PPE) with farmer complaints due to pesticides in Subak Sri Gumana, Rejasa Village, Tabanan Regency. The conclusion is found a relationship between the usage of personal protective equipment (PPE) with farmers complaints due to pesticides in Subak Sri Gumana, Rejasa Village, Tabanan Regency. These complaints arise because farmers haven’t used Personal Protective Equipment (PPE) and ignore the dangers of using pesticides.
Studi Kasus Tentang Pengolahan Tanah Dengan Bajak Singkal Dan Rotary Terhadap Sifat Fisik Tanah Pada Budidaya Tanaman Padi Sawah Ade Purba Yuda; I Wayan Tika; I G. N.Apriadi Aviantara
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 5 No 1 (2017): maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.983 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan beberapa sifat fisik tanah yang diolah dengan bajak yang berbeda. Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi: tekstur, porositas tanah, berat jenis, berat volume, dan produktivitas. Luas masing-masing demplot adalah 20-40 are. Hasil penelitian menunjukkan pada perlakuan bajak singkal dan bajak rotary pada tekstur memiliki kelas tekstur yang sama yaitu lempung liat berdebu. Perlakuan menggunakan bajak singkal memiliki nilai porositas tanah lebih tinggi dari bajak rotary pada setiap fasenya, perlakuan menggunakan bajak rotary memiliki berat jenis lebih tinggi dari bajak singkal pada setiap fasenya Untuk berat volume pada perlakuan bajak singkal memiliki nilai lebih tinggi dari bajak rotary pada setiap fasenya, Untuk produktivitas pada perlakuan bajak singkal memiliki hasil yang lebih tinggi dari bajak rotary yaitu pada beras merah 6,9 ton/ha, padi cigeulis 7,8 ton/ha,dan 8,8 ton/ha untuk padi ketan sedangkan untuk perlakuan bajak rotary pada beras merah 6,6 ton/ha, cigeulis 6 ton/ha,dan ketan 6,8 ton/ha. This study was conducted to compare some soil physical properties in two different rotary. The variables measured in this study are: texture, soil porosity, density, volume weight, and productivity. The results showed that the treatment using ordinary plow and rotary plow texture hisher the same texture class silty clay loam. The treatment using the rotary plow has a porosity namely than rotary plow. The width of each sampling area is 20- 40 are. The mass volume on ordinary plow was higher than the rotary plow. The productivity of ordinary plow treatment has higher than rotary plow. The productivity of the ordinary plow treatment were 6,9 ton/ha, 7,8 ton/ha and 8,8 ton/ha for red rice, cigeulis variety and qluti nous rice respectively. The productivity of the rotary plow treatment were 6,6, 6 and 6,8 ton/ha for red rice, cigeulis variety and qluti nous rice.
Kajian Jarak Legowo Terhadap Iklim Mikro pada Budidaya Padi Sistem Jajar Legowo I Putu Hendra; S - Sumiyati; I Wayan Tika
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 2 No 1 (2014): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.998 KB)

Abstract

This study was conducted to determine the legowo distance studies in rice farming systems legowo row. This study is also expected to get the optimal distance legowo on legowo row planting system to improve the productivity of rice in Subak system. This research is divided into 5 treatment, the treatment in accordance with local farmers distance of 28 cm ; legowo 6:1 with wide legowo 1.25 x 28 cm ; legowo 6:1 with wide legowo 1.50x28 cm ; legowo 6:1 with wide legowo 1.75 x 28 cm ; legowo 6:1 with wide legowo 2 x 28 cm. This study was repeated 3 times. Parameters observed in this study ware : microclimate include: ambient temperature. The results suggest the application of legowo 6:1 cropping systems with a wide range legewo difference in each treatment shown to affect the relative humidity.
Pengaruh Penggunaan Beberapa Jenis Mulsa terhadap Sifat Fisik Tanah dan Laju Pertumbuhan Tanaman Tomat (Lycopersicum Esculentum L) I Kadek Dwi Adi Saputra; I Wayan Tika; Ni Luh Yulianti
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 9 No 1 (2021): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2021.v09.i01.p01

Abstract

ABSTRAK Pengolahan tanah secara intensif tanpa memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhinya antara lain kurangnya unsur hara, pemupukan yang tidak berimbang dapat menurunkan kualitas sifat fisik tanah. Oleh karena itu dibutuhkan pengolahan tanah agar sesuai dengan syarat tumbuh tanaman tomat. Penggunaan berbagai jenis mulsa pada tanaman tomat diharapkan mampu menciptakan iklim mikro yang sesuai bagi tanaman, memperbaiki sifat fisik tanah antara lain bahan organik tanah, permeabilitas, porositas tanah dan laju pertumbuhan, melancarkan pendauran hara dalam sistem tanah, air, tanaman dan memperbaiki ketersediaan hara bagi tanaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan sifat fisik tanah akibat penggunaan jenis mulsa sejalan dengan usia tanaman tomat dan mengetahui pengaruh penggunaan jenis mulsa terhadap laju pertumbuhan tanaman tomat. Penelitian ini dilakukan dengan rancangan acak lengkap dengan perlakuan tanpa mulsa, mulsa plastik perak, mulsa plastik hitam, mulsa plastik UV transparan, dan mulsa jerami padi. Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali sehingga terdapat 15 plot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air tanah 2 MST 13-35%, 4MST 20-42%, 6MST 23-44%, 8MST 27-51%, 10MST 26-53%, 12MST 32-63%. Rata-rata bahan organik tanah 1,16% dengan kategori rendah. Rata-rata permeabilitas tanah 4,13 cm/jam dengan kategori lambat sampai sedang. Perlakuan tanpa mulsa berpengaruh nyata pada porositas tanah dengan nilai rata-rata 48% pada kelas kurang baik. Rata-rata nilai jumlah daun pada perlakuan mulsa plastik perak 122.89 helai dan pada perlakuan jerami padi 124.83 helai. Nilai berat kering tanaman tomat pada perlakuan mulsa jerami padi 205.87 gram dan pada perlakuan mulsa plastik UV transparan 118.33 gram. ABSTRACT Soil processing intensively without paying attention to factors that affect it such as the lack of nutrients, unbalance fertilization decreases the physical quality of the soil. Therefore, soil processing is necessary to the growing condition of the tomato plants. The use of various types of mulch on tomato plants is expected to create a microclimate that suitable for plants, improve soil physical properties including soil organic matter, permeability, soil porosity, and growth rate, reinforce nutrient cycling in the soil, water, plant system and improve nutrient availability for plants. The aims of the research are to determine the changes in soil physical properties due to the use of mulch types in line with the age of tomato plants and determine the effect of the use of mulch types on the rate of growth of tomato plants. This research is conducted with a completely randomized design with treatment without mulch, silver plastic mulch, black plastic mulch, transparent UV plastic mulch, and rice straw mulch. Each handling 15 times. The results show that the groundwater content of 2 MST was 13-35%, 4MST 20-42%, 6MST 23-44%, 8MST 27-51%, 10MST 26-53%, 12MST 32-63%. Average soil organic matter 1.16% with low category. The average permeability of land is 4.13 cm/hour in the slow to moderate category. Treatment without mulch significantly affected the soil porosity with an average value of 48% in the less grade. The average value of the number of leaves in the silver plastic mulch treatment 122.89 strands and 124.83 strands of rice straw. The dry weight value of tomato plants in the treatment of rice straw mulch 205.87 grams and in the treatment of transparent UV plastic mulch 118.33 grams.
Analisis Rasio Prestasi Manajemen Irigasi pada Distribusi Air di Subak Kabupaten Tabanan Yuda Arnanda; I Wayan Tika; Ida Ayu Luh Gede Bintang Madrini
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 8 No 2 (2020): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (782.515 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2020.v08.i02.p13

Abstract

Sistem subak adalah merupakan salah satu bentuk sistem irigasi yang mampu mengakomodasikan dinamika sistem sosio-teknis masyarakat setempat. Air irigasi dikelola dengan prinsip-prinsip keadilan, keterbukaan, harmoni dan kebersamaan, melalui suatu organisasi yang fleksibel yang sesuai dengan kepentingan masyarakat. Sistem irigasi erat kaitannya tentang pendistribusian air irigasi pada subak yang berdasarkan luas lahan. Salah satu aspek yang akan dinilai dalam sistem irigasi adalah Rasio Prestasi Manajemen (RPM) irigasi Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui klasifikasi RPM di suatu subak dengan pemberian skor pada masing-masing klasifikasi RPM. Perolehan data sekunder dilakukan dengan metode survey, pengamatan secara langsung dan pengukuran. Data yang telah dikumpulkan selanjutnya akan dianalisis menggunakan metode Rasio Prestasi Manajemen (RPM) Irigasi. RPM irigasi setiap subak dinilai dengan menggunakan empat rentang nilai yaitu Baik bila 0.75 < RPM <1.25, Cukup bila 0.60 < RPM < 0.75 atau 1.25 < RPM < 1.40, Kurang 0.40 < RPM< 0.60 atau 1.40 <RPM<1.60 dan Sangat kurang bila RPM < 0.40 atau RPM >1.60 Hasil metode analisis rasio prestasi manajemen irigasi pada distribusi air di subak diperoleh RPM daerah hulu yaitu Pama Palian, Aya I dan Aya II memiliki RPM yang Baik yaitu rata-rata 100%. Ketersediaan air yang begitu melimpah karena subak daerah hulu, subak yang pertama kali mengambil air di daerah irigasi. Dan yang paling penting adalah sistim pengaturan pemberian air yang sudah optimal. Untuk subak daerah tengah RPM sedikit berbeda dengan di daerah hulu. Rata-rata RPM daerah irigasi tengah yang mempunyai kreteria Cukup yaitu sebesar 15,5% sedangkan Baik 84,5%. Untuk daerah irigasi tengah yang memiliki kriteria RPM cukup dengan nilai 15,5% disebabkan oleh pendistribusian air tidak seoptimal seperti daerah irigasi hulu. Untuk Subak daerah irigasi hilir rata-rata RPM secara keseluruhan yaitu 100% baik, ini disebabkan karena pembagian pendistribusian air daerah irigasi hilir sudah optimal sesuai dengan luas lahan. Subak system is one form of irrigation system that is able to accommodate the dynamics of the socio-technical system of the local community. Irrigation water is managed with the principles of justice, openness, harmony and togetherness, through a flexible organization that is in accordance with the interests of the community. Irrigation systems are closely related to the distribution of irrigation water in subaks based on land area. One aspect that will be assessed in an irrigation system is the Irrigation Management Achievement Ratio (RPM). The purpose of this study is to determine the RPM classification in a subak by scoring in each RPM classification. Secondary data acquisition is done by survey method, direct observation and measurement. The collected data will then be analyzed using the Irrigation Management Achievement Ratio (RPM) method. Irrigation RPM for each subak is assessed using four ranges of values, namely Good if 0.75 <RPM <1.25, Enough if 0.60 <RPM <0.75 or 1.25 <RPM <1.40, Less 0.40 <RPM <0.60 or 1.40 <RPM <1.60 and Very less if RPM <0.40 or RPM> 1.60 The results of the analysis method of irrigation management achievement ratio in the distribution of water in the subak obtained by the upstream area RPM namely Pama Palian, Aya I and Aya II have a good RPM that is an average of 100%. The availability of water is so abundant due to the upstream subak, the first subak to take water in an irrigation area. And the most important thing is the optimal water supply management system. For the subak area the RPM is slightly different from the upstream area. The average RPM of the central irrigation area that has sufficient criteria is 15.5% while 84.5% is good. For the central irrigation area which has sufficient RPM criteria with a value of 15.5% caused by the distribution of water is not as optimal as the upstream irrigation area. For Subak downstream irrigation areas the overall average RPM is 100% good, this is because the distribution of downstream irrigation water distribution is optimal according to the area of ??land.
Pemberian Kudapan (Makanan Ringan) Pada Petani Daun Bawang Prei Untuk Menurunkan Kelelahan dan Beban Kerja Saat Bekerja di Kebun Stephanie Ulyta Bena Sagala; I Nyoman Sucipta; I Wayan Tika
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 10 No 1 (2022): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2022.v10.i01.p15

Abstract

ABSTRAK Kelelahan dan beban kerja yang tinggi dapat menyebabkan berkurangnya energi dalam diri manusia sehingga pekerjaan tidak dapat diselesaikan dengan baik. Jumlah kalori yang tidak memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh akan menyebabkan menurunnya batas kapasitas fisik seseorang. Salah satu solusi untuk menjaga agar jumlah kalori tersedia mencukupi kebutuhan metabolisme adalah dengan pengaturan jadwal makanan pokok dan kudapan pada saat bekerja. Salah satu bentuk penjadwalan tersebut adalah kudapan pada jam 10.00 pagi dengan kandungan zat kalori 10% kebutuhan kalori setiap hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pemberian kudapan (makanan ringan) dapat menurunkan kelelahan dan beban kerja petani daun bawang prei. Jenis kudapan (makanan ringan) yang akan diberikan pada penelitian ini adalah satu botol air mineral 600 ml dengan 0 kkal, satu buah kue getas 110 kkal, satu buah martabak mini 100 kkal, dan satu buah kue lapis 118 kkal. Jenis penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Unit yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 30 unit dengan menggunakan teknik Purposive Sampling. Data kelelahan didapatkan secara subjektif yaitu dengan cara mengisi kuisioner kelelahan Fatigue Severity Scale untuk mengetahui tingkat perasaan kelelahan yang dialami oleh unit sedangkan untuk data beban kerja didapatkan dengan penghitungan denyut nadi (sebelum bekerja dan selesai bekerja) dan mengisi kuisioner beban kerja NASA-TLX. Dalam penelitian ini digunakan analisis data dengan uji validitas, uji reabilitas, uji normalitas Kolmogorov-Smirnov, dan uji statistic Paired Sample T-Test. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada penurunan kelelahan sebesar 24% dan penurunan beban kerja sebesar 7% pemberian kudapan (makanan ringan) pada petani daun bawang prei, tetapi tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara jumlah denyut nadi yang tidak diberikan kudapan (makanan ringan) dengan jumlah denyut nadi yang diberikan kudapan (makanan ringan). Sehingga, dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa para petani daun bawang prei di Bukit Catu merupakan pekerja yang tidak memiliki beban kerja yang tinggi tetapi petani merasakan kelelahan yang cukup tinggi. ABSTRACT Fatigue and a high workload cause a decrease in energy in humans so that work cannot be completed properly. The number of calories that do not meet the body's metabolic needs will cause a decrease in a person's physical capacity. One solution to keep the number of calories available to meet the basic needs of metabolism is to schedule meals and snacks at work. One of the scheduling is a snack at 10.00 am with a calorie content of 10% of daily calorie needs. This study aims to determine whether the provision of snacks can reduce fatigue and workload of leek farmers. The snacks that will be given in this study are one bottle of 600 ml mineral water with 0 kcal, one 110 kcal kue getas, one 100 kcal martabak mini, and one 118 kcal kue lapis. This type of research uses descriptive quantitative methods. The units used in this study found 30 units using the purposive sampling technique. Subjective fatigue data was obtained by filling out the Fatigue Severity Scale questionnaire to determine the level of fatigue experienced by the unit while the workload data was obtained by calculating the pulse (before work and completion) of work and filling out the NASA-TLX workload questionnaire. This study used data analysis with validity test, reliability test, normality test Kolmogorov-Smirnov, and statistical test Paired Sample T-Test. The results show that there is a decrease in fatigue by 24% and a decrease in workload by 7% by giving snacks to leek farmers, but there is no significant difference between the number of pulses that are not given snacks and the number of pulses given the snack. So, from the results, it says that leek farmers in Bukit Catu are workers who do not have a high workload but farmers experience high fatigue.
Penghematan Air Irigasi Saat Olah Tanah dengan Tanaman Sela pada Subak I Wayan Tika; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; Sumiyati Sumiyati; Ni Nyoman Sulastri
Jurnal Ilmiah Teknologi Pertanian Agrotechno Vol 5 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JITPA.2020.v05.i02.p07

Abstract

One of the significant programs in paddy rice cultivation is the management of irrigation water efficiently and effectively. Commonly, the planting schedule for the subak system in Bali is performed simultaneously, which leads to the highest peak of irrigation water demand. The high demand for water causes a high risk of water shortage, especially during soil tillage. One of the solutions to save irrigation water is to use the intercropping farming method. This method allows farmers to cultivate more than a single crop in a given field area (Monoculture). Based on recent field observation, approximately 10% of the rice paddy field was chili pepper field as a second crop for the intercropping farming method. The result shows by using the intercropping farming method; the water-saving was not significant, which is less than 7 %. It is important to note that the data was collected during the chili pepper growing season from July to August. Additionally, during that time, the soil tillage period was quite long, which was 50 days.