Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Rasio Prestasi Manajemen (RPM) Distribusi Air Irigasi pada Subak di DAS Ho Kori Ardy Rahayu; I Wayan Tika; Ida Bagus Putu Gunadnya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 2 (2023): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i02.p20

Abstract

Abstrak Irigasi didefinisikan sebagai sarana dalam memanfaatkan sumber daya air. Di Bali, pengelolaan irigasi dilakukan dengan membentuk organisasi bernama subak. Salah satu ciri subak adalah anggotanya memiliki satu sumber air yang sama dan mendapat pembagian air dari sumber tersebut secara adil. Pengaturan diperlukan dalam membagi dan mendistribusi air irigasi, agar jumlah air yang diberikan sesuai kebutuhan tanaman. Tingkat pemberian air irigasi masih belum sesuai di masing-masing subak, sehingga diperlukan evaluasi kinerja irigasi menggunakan analisis RPM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran nilai RPM dan strategi distribusi air irigasi pada subak. Analisis RPM dilakukan dengan mengukur debit tersedia, menggunakan pendekatan analisis data kuatitatif, dan dengan menghitung kebutuhan air irigasi menggunakan data rata-rata klimatologi 10 tahun terakhir periode 2012 – 2021 yang diperoleh dari BMKG Wilayah III Denpasar serta data hasil wawancara dengan pekaseh. Hasil analisis menunjukan kinerja irigasi katagori “baik” didominasi oleh subak pada DI Aya dengan sebaran nilai RPM 0,77 – 1,19; sedangkan katagori “sangat kurang” didominasi oleh subak pada DI Gadungan Lambuk dengan sebaran nilai RPM 0,00 – 0,36. Saat musim kemarau, semakin ke hilir menghasilkan kinerja jaringan irigasi “sangat kurang”. Supaya kinerja irigasi selalu dalam katagori “baik”, maka strategi distribusi air irigasi pada subak di DAS Ho dapat dilakukan dengan pergiliran pemberian air irigasi dan perbaikan jaringan irigasi yang bermasalah. Abstract Irrigation is defined as a means of utilizing water resources. In Bali, irrigation management in agriculture is carried out by forming an organization called Subak. One of the characteristics of subak is that its members have the same water source and receive a fair distribution of water from that source. Regulation is very necessary for dividing and distributing irrigation water so that the amount of water given to the land is in accordance with the needs needed by the plant. However, the level provision of water irrigation is still not appropriate for each subak. Thus, it is necessary to evaluate the performance of irrigation networks using MPR analysis. MPR analysis was carried out by measuring the available debit, using a qualitative data analysis approach, and by calculating irrigation water needed, using the average climatological data for the last ten years, from 2012 - 2021, obtain from BMKG Region III Denpasar and data from interview pekaseh. The results of the analysis show that irrigation performance with the good category is dominated by subak in DI Aya, with a distribution of MPR values of 0,77 – 1,19. Meanwhile, the very less category is dominated by subak in DI Gadungan Lambuk, with a distribution MPR values of 0,00 – 0,36. During the dry season, further downstream, the performance irrigation network is getting less and less. In order for irrigation performance to always be in a good category, the irrigation water distribution strategy for subtasks in DAS Ho can be carried out by rotating the distribution of irrigation water. If it doesn’t work, it is necessary to repair the problematic irrigation networks.
Analisis Rasio Prestasi Manajemen (RPM) pada Distribusi Air Irigasi Subak Gede Kedewatan I Made Bayu Suweta; I Wayan Tika; I Gusti Ngurah Apriadi Aviantara
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 2 (2023): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i02.p29

Abstract

Abstrak Rasio Prestasi Manajemen (RPM) dijabarkan sebagai hasil bagi antara debit yang diberikan dengan debit yang dibutuhkan di setiap lahan pertanian. Sistem subak di Bali didasari konsep sosio-teknis-religius dan ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung nilai RPM dan sebarannya serta mengetahui strategi distribusi air irigasi agar kinerja irigasi menjadi “cukup” hingga “baik” di Subak Gede Kedewatan Wilayah Kabupaten Gianyar. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan analisis kuantitatif melalui survey dan pengukuran langsung di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan persentase sebaran RPM kriteria “baik” sebanyak 5 subak (18,52%), “cukup” 4 subak (14,81%), “kurang” 9 subak (33,33%), dan “sangat kurang” 9 subak (33,33%). Nilai RPM subak di daerah hulu seluruhnya berada pada kriteria “sangat kurang” dengan nilai RPM 1, 85. Subak di daerah tengah seliruhnya berada dikriteria “kurang” dengan nilai RPM 1,45. Di hilir, subak yang berada di daerah ini memiliki kriteria yang “cukup” dan “baik” dengan sebaran nilai RPM 0,64 – 1,05. Subak yang mendapatkan air berlebih, kemudian sisa air irigasinya disalurkan menuju ke pangkung, yang akan menjadi sumber air utama untuk subak-subak natak tiyis (sadap tiris). Abstract The Management Performance Ratio (MPR) is a comparison between the water flowrate given and the water flowrate requirement for each agricultural land. The subak system in Bali is based on socio-technical-religious and economic concepts. This study aims to calculate the MPR value and its distribution as well as find out the irrigation water distribution strategy so that irrigation performance becomes "adequate" to "good" in Subak Gede Kedewatan, Gianyar Regency. This research was carried out using a quantitative analysis approach through surveys and direct measurements in the field. The result showed that percentage distribution of MPR criteria for "good" was 5 subaks (18.52%), "adequate" 4 subaks (14.81%), "poor" 9 subaks (33.33%), and "very poor" 9 subaks (33 ,33%). The MPR value of subak in the upstream area is entirely in the "very poor" criterion with an MPR value of 1.85. Followed by subak in the central region, all of them are in the "low" criterion with an MPR value of 1.45. In contrast to the downstream, the subaks in this area have the criteria of "adequate" and "good" with a distribution of RPM values ??of 0.64 - 1.05. Subaks that get excess water, then the rest of the irrigation water is channeled to the pangkung, which will be the main water source for subak natak tiyis (tapping taps).
Efisiensi Kinerja Traktor Singkal dan Traktor Rotari pada Pengolahan Tanah di Subak I Wayan Tika; Sumiyati Sumiyati; Ni Nyoman Sulastri; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; Mentari Kinasih
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 1 (2023): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i01.p02

Abstract

Abstrak Sebelum petani Subak mengenal traktor, pengolahan tanah dilakukan dengan menggunakan cangkul atau bajak singkal yang ditarik oleh ternak. Pengolahan tanah dengan traktor yang dilengkapi dengan komplemen bajak singkal atau bajak rotari tidak dapat dihindari terjadinya kasus tumpang tindih (overlap) hasil pengolahan, sehingga hasil tanah olahan menjadi tidak efisien. Tumpang tindihnya hasil pengolahan tersebut terlihat dari perbedaan hasil tanah yang diolah. Berdasarkan kondisi tersebut diperlukan kajian efisiensi pengolahan tanah pada Subak dengan menggunakan traktor singkal dan traktor rotari pada pengolahan tanah tahap pertama. Efisiensi kerja traktor diukur berdasarkan perbandingan antara kerja teoritis dan kerja riil. Kerja teoritis diukur berdasarkan lebar komplemen alat olah baik bajak singkal maupun rotary serta rata-rata kecepatan gerak maju traktor saat mengolah tanah. Kerja riil diukur berdasarkan hasil kerja secara nyata di lapangan yaitu luasan lahan yang berhasil diolah dalam rentang waktu tertentu. Data kerja riil juga dikonfirmasi berdasarkan hasil diskusi dengan beberapa operator traktor. Dari hasil analisis data diperoleh efisiensi kerja traktor singkal sebesar 77,3% dan traktor rotari 55,2%. Abstract Before Subak farmers were familiar with tractors, land preparation was carried out using hoes or single-handed plows pulled by cattle. Land preparation with a tractor equipped with a complementary or rotary plow cannot be avoided in cases of overlap of processing results so that the processed soil results become inefficient. The overlapping results of the processing can be seen from the differences in the results of the processed soil. Based on these conditions, it is necessary to study the efficiency of tillage in Subak using single-axle tractors and rotary tractors in the first stage of tillage. Tractor work efficiency is measured based on a comparison between theoretical work and real work. Theoretical work is measured based on the width of the complement of the tiller, both short and rotary plows, and the average speed of the tractor's advance when cultivating the land. Real work is measured based on real work results in the field, namely the area of ??land that has been successfully processed within a certain time span. Real work data was also confirmed based on the results of discussions with several tractor operators. From the results of the data analysis, it was obtained that the work efficiency of the short tractor was 77.3% and that of the rotary tractor was 55.2%.
Efisiensi Penggunaan Air Irigasi pada Saluran Sekunder di Daerah Irigasi Tungkub Mentari Kinasih; Ni Nyoman Sulastri; I Wayan Tika; Sumiyati Sumiyati; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; Made Darmayasa
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 2 (2023): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i02.p23

Abstract

Abstrak Distribusi air irigasi yang baik akan menghasilkan produksi yang baik dan diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Efisiensi sebagai faktor yang sangat penting dalam skema irigasi karena menentukan kinerja jaringan irigasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan efisiensi penggunaan air irigasi di DI Tungkub pada saluran sekunder. Penelitian ini mengambil data debit langsung di 11 titik di saluran sekunder. Data iklim diperolah dari NASA POWER dan BMKG Wilayah III Denpasar. Data curah hujan dari 3 stasiun hujan (tibubeneng, kapal, dan mengwi gede). Luas areal sawah yang diamati adalah seluas 416 Ha (Hulu), 349 Ha (Tengah), dan 164 Ha (Hilir). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Zona A memiliki tingkat efisiensi penggunaan tertinggi sebesar 68% terjadi di Mei I dan terendah 14,1% di Maret I. Zona B memiliki efisiensi penggunaan tertinggi sebesar 100% (terjadi di periode April I, April II, Juni II, dan Juli I) dan terendah 0% pada periode Mei I dan Mei II. Zona C memiliki efisiensi penggunaan tertinggi sebesar 100% terjadi pada Juni I dan Juni II, sedangkan efisiensi penggunaan yang terendah terjadi di Maret I sebesar 35%. Abstract Good distribution of irrigation water will produce abundant harvests. It will improve the welfare of farmers. The efficiency of water utilization is important in irrigation schemes because it determines the performance of the irrigation network. This research aims to obtain the efficiency of irrigation water in DI Tungkub in secondary channels. This research took direct debit data at 11 points in the secondary channel. Climate data was obtained from NASA POWER and BMKG Region III Denpasar. Rainfall data was obtained from 3 rain stations (Tibubeneng, Kapal, and Mengwi Gede). The area of ??rice fields observed was 416 Ha (Upstream), 349 Ha (Central), and 164 Ha (Downstream). The research results show that Zone A has the highest usage efficiency level of 68% which occurred in May I and the lowest 14.1% in March I. Zone B has the highest usage efficiency of 100% (occurring in the periods April I, April II, June II, and July I), and the lowest was 0% in the May I and May II periods. Zone C had the highest usage efficiency of 100% which occurred in June I and June II, while the lowest usage efficiency occurred in March I at 35%.
Analisis Kinerja Distribusi Air Irigasi pada Temuku di Subak I Wayan Tika; Mentari Kinasih; Ni Nyoman Sulastri; Sumiyati Sumiyati; Ida Ayu Gede Bintang Madrini
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 11 No 2 (2023): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2023.v11.i02.p27

Abstract

Abstrak Gangguan distribusi air juga kadang-kadang disebabkan oleh adanya sampah dan faktor pemias (penyusutan debit) serta mengabaikan aliran numbak (aliran lurus) dan ngerirun (aliran berbelok). Dengan pemahaman seperti itu maka petani (krama subak) yang lahannya terletak di hilir cendrung mendapatkan kuota air yang kurang dari seharusnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja manajemen distribusi air irigasi sesuai nilai dan kriteria RPM pada subak tradisional dan subak semi teknis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kuantitaif yang menjelaskan peristiwa berdasarkan nilai RPM dari 30 bangunan bagi (temuku) pada subak di Kabupaten Gianyar. Hasil penelitian menunjukkan 30% memiliki kinerja distribusi air irigasi yang sangat kurang, 30% dengan kriteria kinerja kurang, 13% dengan kriteria kinerja cukup, dan 27% dengan kriteria kinerja baik. Dari hasil tersebut juga dapat diperoleh dimensi baru dari bangunan bagi pada subak dengan pendekatan formula proporsional yang melibatkan variabel luasan subak yang diberikan air irigasi, luasan subak di hilir, serta koefisien gangguan aliran air sekitar 1,05 sampai 1,1. Abstract Disturbances in water distribution are also sometimes caused by the presence of rubbish and biasing factors (decreased discharge) also ignoring the flow of numbak (straight flow) and ngerirun (curved flow). With this understanding, farmers (krama subak) whose land is located downstream tend to get less water quota than they should. This research aims to determine the performance of irrigation water distribution management according to RPM values ??and criteria in traditional subak and semi-technical Subak. This research uses a descriptive-quantitative method that explains events based on the RPM values ??of 30 buildings for (temuku) in Subak in Gianyar Regency. The research results showed that 30% had very poor irrigation water distribution performance, 30% had poor performance criteria, 13% had sufficient performance criteria, and 27% had good performance criteria. From these results, it is also possible to obtain a new dimension of the subak building using a proportional formula approach involving variables of the area of ??the subak provided with irrigation water, the area of ??the subak downstream, as well as a water flow disturbance coefficient of around 1.05 to 1.1.
Increasing Physical Soil Quality by Using Rice Straw Biomass Sumiyati Sumiyati; I Wayan Tika; Ni Nyoman Sulastri; Mentari Kinasih
Jurnal Teknik Pertanian Lampung (Journal of Agricultural Engineering) Vol 13, No 4 (2024): December 2024
Publisher : The University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtep-l.v13i4.1006-1012

Abstract

Paddy straw as an agricultural waste can be returned to the soil to increase the organic matter content. This study aims to determine the optimum inoculant treatment of rice paddy straw on soil quality. The straw handling was carried out by spreading the straw on paddy fields and sprayed with four inoculant treatments (0, 3, 6, 9, and 12 L/ha). The incubation process was carried out for 21 days and incorporated in the soil through plowing. Each treatment was repeated three times so that the total treatment was 15 units. The variables observed in each treatment were soil quality. The soil quality parameters observed were particle density, bulk density, porosity, field capacity and pH. ANOVA statistical analysis which was continued by the Tukey HSD Post Hoc Test to determine the effect of treatment on soil quality. The results showed that the inoculant treatments showed a significant difference (p-value=0.05) in soil volume, density, and porosity. P4 gave the optimum results which are statistically not significantly different from P3. P4 shows the physical properties of the soil which consist of the soil bulk density of 0.61 g/cm3; particle density 1.74 g/cm3; porosity was 64.91%, and pH 6.68. The utilization of straw biomass as source of organic material contributes to zero waste rice cultivation. Keywords: Effective microorganisms, Rice straw, Soil density, Soil pH, Soil porosity. 
Peningkatan Efisiensi Penggunaan Air Irigasi dengan Aplikasi Jadual Tanam Secara “Nyorog” pada Subak I Wayan Tika; I. A. Bintang Madrini; Sumiyati .
Jurnal Ilmiah Teknologi Pertanian Agrotechno Vol. 4 No. 1 (2019): April
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana Gedung GA, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana Jl. Raya Bukit Jimbaran, Jimbaran, Kuta Selatan, Bali Telp/Fax: (0361) 701801

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JITPA.2019.v04.i01.p05

Abstract

Salah satu program penting dalam intensifikasi budidaya padi adalah pengelolaan air irigasi yang efisien. Pada subak di Bali pelaksanaan jadual tanam biasanya dilakukan secara serenpak sehingga terjadi puncak kebutuhan air yang tinggi. Akibatnya sangat berisiko terhadap kekurangan atau kelebihan air irigasai pada subak tersebut. Kondisi demikian menyebabkan efisiensi penggunaan air irigasi pada subak menjadi rendah. Salah satu solusi untuk meingkatkan efisiensi penggunaan air irigasi tersebut adalah dengan melakukan jadual tanam tidak serenpak yang pada subak dikenal dengan istilah nyorog. Dengan demikian perlu dikaji besarnya peningkatan efisiensi penggunaan air irigasi jika jadual tanam dilakukan secara nyorog Berdasarkan data yang telah dikompilasi diperoleh efisiensi penggunaan air irigasi yang dilakukan saat ini sebesar 76,52%. Saat ini pada obyek penelitian jadual tanam dibagi menjadi dua kelompok dengan beda jadual tanam antar kelompok tersebut sekitar satu bulan, dengan awal jadual tanam mulai Pebruari I. Jika dilakukan jadual tanam secara serempak pada Pebruari II diperoleh efisiensi penggunaan air irigasi sebesar 69,05%. Jika jadual tanam dilakukan secara nyorog dengan membagi subak menjadi empat kelompok dan setiap kelompok perbedaan jadual tanam sekitar setengah bulan serta awal jadual tanam pada Bulan Pebruari I maka diperoleh efisiensi penggunaan air irigasinya 86,52%. Dengan demikian jadual tanam secara nyorog dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air irigasi dari 69,05% menjadi 86,52%.
Evaluasi Konduktivitas Listrik Tanah dan Kaitannya dengan Ph, Nitrogen Total, Karbon Total dan Bahan Organik di Lahan Sawah: Evaluation of Soil Electrical Conductivity and Its Relationship with pH, Total Nitrogen, Total Carbon, and Organic Matter in Rice Field Land Imanuel Raymond Dikmar Koyoh; Sumiyati; I Putu Gede Budisanjaya; Ni Nyoman Sulastri; I Wayan Tika; I Putu Agus Arnadi; Rizki Maftukhah
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/j.beta.2025.v13.i02.p07

Abstract

ABSTRAK Ketidakseimbangan unsur hara dan kualitas tanah yang kurang optimal merupakan permasalahan umum di lahan pertanian, namun pemantauan unsur hara memerlukan analisis laboratorium. Tujuan penelitian adalah memperoleh hubungan untuk mengestimasi pH tanah, kandungan nitrogen total, karbon total dan bahan organik tanah berdasarkan konduktivitas listrik tanah, serta mengevaluasi potensi penggunaan konduktivitas listrik tanah sebagai indikator estimasi parameter-parameter tersebut. Penelitian menggunakan machine learning berbasis Python dengan algoritma regresi linear, di mana 70% data digunakan untuk membuat persamaan pendugaan dan 30% untuk validasi kinerja model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konduktivitas Listrik (EC) dapat digunakan untuk memprediksi nilai pH dengan persamaan pH = 0,3107 EC - 1,2 (nilai R² = 0,9707), untuk memprediksi nilai karbon total dengan persamaan TC = 0,3525 EC - 0,1 dan untuk memprediksi nilai bahan organik, dengan persamaan BOT = 0,2045 EC - 0,1 dengan nilai R² = 0,9126. Namun, nilai EC dinyatakan lemah untuk memprediksi nitrogen total dengan nilai R² = -0,0030. Validasi kinerja model menunjukkan nilai kesalahan yang sangat kecil pada persamaan untuk memprediksi pH berdasarkan nilai EC yaitu MSE = 0,0006; MAE = 0,0164), serta pada persamaan untuk memprediksi karbon total dan bahan organik tanah berdasarkan nilai EC diperoleh masing-masing nilai MSE = 0,0017 dan MAE = 0,0357). Namun nilai EC kurang efektif untuk memprediksi nilai nitrogen total karena hasil validasi kinerja model menunjukkan nilai MSE = 0,0195 dan MAE = 0,1190. Hasil ini menunjukkan bahwa konduktivitas listrik tanah dapat digunakan sebagai indikator yang baik untuk mengestimasi pH tanah, karbon total, dan bahan organik tanah.   ABSTRACT The imbalance of soil nutrients and suboptimal soil quality are common issues in agricultural land; however, monitoring soil nutrients typically requires laboratory analysis. This study aims to establish relationships for estimating soil pH, total nitrogen content, total carbon, and soil organic matter based on soil electrical conductivity (EC), as well as to evaluate the potential use of EC as an indicator for estimating these parameters. The research employed a machine learning approach using Python with a linear regression algorithm, where 70% of the data was used to develop estimation equations and the remaining 30% for model performance validation. The results indicate that EC can be used to predict pH with the equation pH = 0.3107 EC - 1.2 (R² = 0.9707), total carbon with the equation TC = 0.3525 EC - 0.1, and soil organic matter with the equation BOT = 0.2045 EC - 0.1 (R² = 0.9126). However, EC was found to be a weak predictor for total nitrogen, as indicated by an R² value of -0.0030. Model validation results showed very low error values for the pH prediction equation (MSE = 0.0006; MAE = 0.0164), as well as for the equations predicting total carbon and organic matter (MSE = 0.0017 and MAE = 0.0357, respectively). In contrast, EC was less effective in predicting total nitrogen, as reflected in higher error values (MSE = 0.0195; MAE = 0.1190). These findings suggest that soil electrical conductivity can serve as a reliable indicator for estimating soil pH, total carbon, and organic matter content.
Rancang Bangun Pintu Intake Irigasi Berbasis Mikrokontroler dan IoT (Internet of Things) Pada Kondisi Pengolahan Tanah di Subak Oktoberlin Sahat Marulitua Silalahi; I Putu Gede Budisanjaya; I Wayan Tika
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 14 No 1 (2026): Inpress
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/jbeta.2026.v14.i01.p19

Abstract

Irigasi merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan pertanian,yang termasuk pada sistem tradisional Subak di Bali. Namun, pengelolaan air pada Subak masih didominasi metode manual yang kurang efisien dan berpotensi menyebabkan ketidakseimbangan distribusi air. Penelitian ini bertujuan merancang bangun pintu intake irigasi berbasis mikrokontroler ESP32 dan Internet of Things (IoT) guna meningkatkan efisiensi pengelolaan air, khususnya pada tahap pengolahan tanah. Sistem dirancang menggunakan sensor ultrasonik HC-SR04 untuk memantau ketinggian air, motor stepper NEMA 17 sebagai aktuator, serta aplikasi Blynk sebagai antarmuka kontrol manual maupun otomatis. Hasil pengujian menunjukkan sensor mampu membaca ketinggian air dengan rata-rata akurasi 98,77% dan tingkat kesalahan 1,23%. Pintu irigasi dapat beroperasi secara otomatis sesuai ketinggian air maupun manual melalui aplikasi Blynk tanpa keterlambatan signifikan. Penerapan sistem ini diharapkan dapat mengurangi beban kerja petani ,meningkatkan presisi distribusi air, serta menunjukkan potensi integrasi teknologi IoT dalam mendukung sistem irigasi tradisional menuju konsep pertanian cerdas (smart farming) yang berkelanjutan.
Efisiensi Penggunaan Air Irigasi Pada Tingkat Subak, Tempekan, dan Petakan Teresia Dimu; I Wayan Tika; I Made Supartha Utama; Sumiyati Sumiyati; Ni Nyoman Sulastri
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 14 No 1 (2026): Inpress
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/jbeta.2026.v14.i01.p17

Abstract

Distribusi air pada tingkat subak, tempekan dan petakan yang tidak  merata dan tidak sesuai sehingga menyebabkan tidak efisiennya penggunaan air. Tujuan penelitian dilakukan untuk mengetahui efisiensi penggunaan air irigasi pada tingkat subak, tempekan dan petakan sawah. Lokasi penelitian berada di Subak Suala, Subak Sigaran, dan Subak Jegu, yang termasuk dalam wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Tukad Yeh Ho, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis kuantitatif dengan mengumpulkan data primer dan data sekunder. Data primer meliputi hasil ketersediaan air irigasi melalui pengukuran debit air di subak, tempekan dan sawah irigasi. Data sekunder diperoleh dari Nasa Power, BMKG Meteorologi I Gusti Ngurah Rai, dan Pekaseh. Hasil penelitian menunjukkan efisiensi penggunaan air irigasi memiliki standar 65% ke atas di Subak Suala, Sigaran, dan Jegu tergolong agak kurang pada semua tingkatan. Pada tingkat subak, Subak Suala mencapai 36,37%, Sigaran 33,41%, dan Jegu 47,67%. Di tingkat tempekan, Subak Suala mencatat Tempekan 1 26,99% dan Tempekan 2 26,07%, Subak Sigaran Tempekan 1 20,13% dan Tempekan 2 17,24%, serta Subak Jegu Tempekan 1 18,73% dan Tempekan 2 17,29%. Pada tingkat petakan, Subak Suala menunjukkan Petakan 1 11,93%, Petakan 2 16,92%, Petakan 3 12,59%; Subak Sigaran Petakan 1 17,74%, Petakan 2 11,86%, Petakan 3 6,09%; dan Subak Jegu Petakan 1 15,22%, Petakan 2 16,20%, Petakan 3 19,43%.
Co-Authors Ade Purba Yuda Ade Purbayuda Manik Adevia Candra Debora Lydia Frida Tangkuman Dian Dwi Cahyo Pangestu Dian Dwi Cahyo Pangestu Fiqri Muhamad Hakim Firnando Desnanta Tarigan Florianus Walbat Gusti Bagus Alit Budi Artawan Gusti Bagus Alit Budi Artawan I Gede Berliyantha Tikawa I Gede Nantan Juliawan I Gede Ngurah Salpatira Widayana I Gede Ngurah Salpatira Widayana I Gusti Ketut Arya Arthawan I Gusti Ngurah Apriadi Aviantara I Gusti Ngurah Apriadi Aviantara I Kadek Aditya Pranata I Kadek Andrie Prasetya I Kadek Arya Santika I Kadek Arya Santika I Kadek Dwi Adi Saputra I Kadek Murjana I Ketut Merta Atmaja I Ketut Satria Rahadi I Ketut Satria Rahadi I Ketut Suada I Made Andi Purnama Wijaya I Made Andi Purnama Wijaya I Made Anom S Wijaya I Made Anom S. Wijaya I Made Anom Sutrisna Wijaya I Made Bayu Suweta I Made Galih Suwimantara I Made Hendra Udayana AS I Made Marta Supriawan I Made Purnadiyasa I Made Supartha Utama I MADE SUPARTHA UTAMA I Made Surya Adnyana Putra I Made Surya Adnyana Putra I Made Wirawan Suputra I Muna Bhaskara I Muna Bhaskara I Nyoman Sucipta I Nyoman Sucipta I Putu Agus Arnadi I Putu Agus Arnadi I Putu Agus Sumi Antara I Putu Agus Sumi Antara I Putu Gede Budisanjaya I Putu Gede Budisanjaya I Putu Hendra I Putu Sanjaya I Putu Sukertayasa I Putu Sukertayasa I Wayan Adiguna I Wayan Aditya Putra Pratama I. A. G. Bintang Madrini I.B. Putu Gunadnya Ida Ayu Rina Pratiwi Pudja Ida Bagus Putu Gunadnya Ida Bagus Putu Gunadnya Imanuel Raymond Dikmar Koyoh Jessica Heidy Tiku Semaraputri Jun Marito Siahaan Kadek Ardhi Krisnawan Kadek Arista Pradika Komang Adi Dipayana Kori Ardy Rahayu Made Darmayasa Made Darmayasa Maftukhah, Rizki Mentari Kinasih Mentari Kinasih Mentari Kinasih Muhamad Khoiru Zaki Ngadisih Ni Kadek Sumiasih Ni Luh Yulianti Ni Made Ayu Adi Suartiani Ni Made Dwi Tunjung Febriyanti Ni Nyoman Sulastri Ni Nyoman Sulastri Ni Putu Amelia Panida Dewi Nyoman Sucipta Oktoberlin Sahat Marulitua Silalahi Pande Ketut Diah Kencana Sonia Saqinah Stephanie Ulyta Bena Sagala Sumiyanti Madrini Sumiyati Sumiyati Sumiyati Sumiyati Sumiyati Sumiyati Sumiyati Sumiyati Sumiyati Sumiyati Teresia Dimu Vivi Alviyanti Yohanes Setiyo Yuda Arnanda Yudha Kristyanto Leksono