I Wayan Tika
Program Studi Teknik Pertanian Dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia.

Published : 48 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Strategi Pengendalian Pascapanen Mutu Tomat (Solanum lycopersicum) di Desa Angseri Kabupaten Tabanan Bali. Jun Marito Siahaan; I Gusti Ngurah Apriadi Aviantara; I Wayan Tika
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 8 No 2 (2020): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (705.192 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2020.v08.i02.p24

Abstract

Tingginya kerusakan tomat selama pascapanen merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi dalam memenuhi harapan konsumen. Pengendalian pascapanen merupakan kegiatan akhir yang harus dilakukan untuk dapat menjaga mutu tomat tetap dalam kondisi baik. Tujuan penelitian ini adalah mengindentifikasi kepentingan dan kepuasan konsumen yang menjadi atribut kunci serta menganalisis penyebab kemunduran mutu tomat dan menganalisis strategi yang tepat untuk mengendalikan mutu tomat. Kepentingan dan kepuasan konsumen akan mutu tomat dikonversikan dengan metode IPA (Importance Performance Analysis). Atribut mutu tersebut yaitu tampilan segar, kebersihan kulit buah, warna kulit buah, rasa manis dan asam, kadar air tomat, dan bebas dari rasa asing. Penurunan mutu tomat disebabkan oleh beberapa faktor berikut: (1) bahan baku yaitu: cara panen, perawatan setelah panen, teknir sortir, pengemasan, (2) manajemen yaitu: penerapan food safety management, (3) tenaga kerja yaitu: kurang skll, (4) lingkungan yaitu: bencana alam, iklim dan cuaca, (5) mesin dan metode yaitu: transportasi dan penyimpanan. Formulasi dan penentuan strategi prioritas dilakukan dengan pendekatan Strengths Weakness (SWOT) dan Opportunities Quantitative Strategies Planning Matrix (QSPM). Skor bobot matriks faktor internal yang diperoleh adalah 3,193 yang berarti berada pada posisi kuat sementara pada matriks faktor eksternal memperoleh skor adalah 3,125 yang berarti peluang belum diptimalkan dan ancaman masih belum dapat diatasi. Prioritas tertinggi yang dapat dipilih sebagai alternatif strategi adalah penambahan modal investasi juga mengendalikan penanganan budidaya dan pascapanen di optimalkan serta memproduksi tomat yang berkualitas dan juga memanfaatkan teknologi terbarukan dengan bobot sebesar 6,019. The high potential of damaged tomatoes during postharvest is one of the mostly faced problem in satisfying costumer expectation. Postharvest handling is the final step that required to maintain good quality of tomatoes. The purpose of this study to identify costumers need and satisfaction, analyze the cause of tomatoes quality deterioration and analyze the right strategies to control quality of tomatoes. The customers need and satisfaction converted using IPA (Importance Performance Analysis) method. The quality attributes as follow: fresh, clean, color, sweet and acid taste, moisture content, and no extraneous taste. The quality deterioration of tomatoes caused some of factors such as : (1) raw material: harvest method, postharvest handling, sorting method, packaging; (2) management system : food safety management application; (3) human resources : training and skills; (4) environment : natural disaster, climate and weather change; (5) equipment and method application : transportation and storage method. The formulation and strategies determination using Strengths Weakness Opportunities and Threats (SWOT) and Opportunities Quantitative Strategies Planning Matrix (QSPM) approaches. The final internal factor matrix is 3,193 which means on strong position and the final external factor matrix is 3,125 which means the opportunities are not fully optimized yet and the threats are not solved. The highest priorities that can be chosen as the alternative strategy are increasing investment assets while controlling cultivation development and optimized the postharvest practices to produce the best quality of tomatoes using renewable technology up to 6,019.
Analisis Persentase Kekurangan Air Irigasi pada Subak di DAS Ho Saat Musim Kemarau Florianus Walbat; I Wayan Tika; Ida Ayu Bintang Madrini
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 10 No 1 (2022): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2022.v10.i01.p04

Abstract

ABSTRAK Kurangnya ketersediaan air irigasi yang disebabkan oleh debit air yang tidak mecukupi pada saat musim kemarau dan sifatnya tidak merata, dimana pada bagian hulu ketersediaan air cenderung berlebih dan di hilir cenderung kekurangan. Dengan adanya kondisi seperti itu maka perlu dilakukan penelitian mengenai kekurangan air irigasi pada saat musim kemarau agar dapat dilakukan pengelolaan air secara optimal pada DAS Ho. Penelitian dilakukan untuk mengetahui persentase kekurangan air irigasi yang ada pada setiap subak dan menentukan teknik pengelolaan air irigasi agar merata pada setiap bagian subak. Data primer diperoleh dengan metode wawancara, pengamatan, dan pengukuran sedangkan data sekunder diperoleh dari BMKG Wilayah III Denpasar. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis untuk mencari persentase kekurangan air irigasi yang terjadi pada saat musim kemarau dan untuk menentukan proporsi distribusi air irigasi. Hasil penelitian menunjukan persentase kekurangan air irigasi pada subak daerah hulu rata-rata sebesar -48,43%, pada subak daerah tengah rata-rata 21,99%, dan pada subak daerah hilir rata-rata sebesar 23,92% dan penentuan teknik proporsional pengelolaan air pada subak daerah hulu, tengah, hilir pada musim kemarau menggunakan Qt rekayasa pada Qt awal yaitu pada subak bagian hulu Qt awal sebesar 2,67 l/detik/ha direkayasa menjadi 1,73 l/detik/ha , pada subak bagian tangah dari Qt awal yaitu sebesar 1,32 l/detik/ha direkayasa menjadi 0,75 l/detik/ha, dan pada subak bagian hilir dari Qt awal 2,53 l/detik/ha direkayasa menjadi 3,21 l/detik/ha. ABSTRACT Irrigation water shortage is caused by insufficient water discharge during the dry season. The water is distributed unevenly; the upstream water tends to have a surplus water, whereas the downstream has the tendency of water deficit. Based on the situation, it is necessary to conduct research on the irrigation water shortage during the dry season, so that optimal water management can be achieved. The study was conducted to determine the percentage of irrigation water deficiency in each subak and determine irrigation water management techniques that ensuring the water distributed evenly to each subak. Primary data were obtained by interview, observation, and measurement methods, while secondary data were obtained from BMKG Region III Denpasar. The data obtained were analyzed to determine the percentage of irrigation water shortages that occurred during the dry season and to determine the proportion of irrigation water distribution. The results showed that the percentage of water shortage of irrigation water in the upstream subak was -48,43%, in the middle subak was 21,99%, and in the downstream subak 23,92%. The proportional water management techniques in the upstream subak, middle, downstream in the dry season using modified Qt, the upstream subak had the initial Qt of 2,67 l/sec/ha and the modified was 1,73 l/sec/ha, in the middle subak has the initial Qt of 1,32 l/sec/ha and the modified was 0,75 l/sec/ha, and in the downstream subak had initial Qt of 2,53 l/sec/ha and the modified one was 3,21 l/sec/ha.
Analisis Kebutuhan Air dan Finansial Tanaman Krisan (Chrysanthemum Sp.) dengan Metode Guludan dan Pot I Gede Ngurah Salpatira Widayana; I Wayan Tika; I Made Anom S. Wijaya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 7 No 1 (2019): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.913 KB) | DOI: 10.24843/JBETA.2019.v07.i01.p10

Abstract

Bunga krisan (Chrysanthemum sp.) merupakan salah satu tanaman hias yang diproduksi sebagai bunga potong. Budidaya bunga krisan biasanya menggunakan metode di guludan, namun saat ini sudah berkembang budidaya krisan menggunakan metode pot. Berkembangnya dua metode budidaya mengakibatkan adanya perbedaan kebutuhan air tanaman dan finansial pada masing-masing metode. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk menganalisis kebutuhan air tanaman dan kelayakan finansial dari masing-masing metode. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) menentukan perbedaan tingkat kebutuhan air pada budidaya bunga krisan menggunakan metode guludan dan metode pot, dan (2) menganalisis kelayakan finansial budidaya tanaman krisan dengan kedua metode tersebut. Perlakuan penelitian ini adalah : Budidaya bunga krisan dengan metode guludan dan budidaya bunga krisan dengan metode pot. Pada masing-masing metode dianalisis kebutuhan air tanaman (ETc) dan kelayakan finansialnya. Analisis kelayakan finansial yang digunakan dalam penelitian ini adalah NPV, IRR dan BCR. Total kebutuhan air tanaman krisan dengan metode guludan dan pot masing-masing adalah 1056,72 ml/tanaman dan 866,64 ml/ tanaman, sedangkan rata-rata kebutuhan air harian masing-masing 19,57 ml/hari, dan 16,05 ml/hari. Hasil kelayakan finansial dari penelitian ini adalah NPV pada metode guludan sebanyak Rp. 5.687.537,35 lebih kecil dari metode pot yang bernilai Rp. 12.627.709,99. IRR dari metode guludan dengan persentase 15% lebih kecil dari metode pot yang persentasenya 18%. Analisis BCR dari metode guludan memperoleh hasil sebesar 1,51 yang mana lebih kecil dari metode pot yang memperoleh hasil sebesar 1,63. Walaupun kedua metode budidaya bunga krisan dikatakan layak, namun metode pot lebih menguntungakan dari pada metode guludan dari segi finansial. Chrysanthemum flower (Chrysanthemum sp.) are one of the ornamental plants produced as cut flowers. Chrysanthemum cultivation usually uses the bund method, but nowadays chrysanthemum cultivation has develoved using the pot method. The development of two methods of cultivation resulted in differences in the plant water requirements and financial in each methods. Therefore it is necessary to conduct research to analyze the plant water requirement and the financial feasibility of each method. The purpose of this research are to : (1) determine the difference of water requirement level on the cultivation of chrysanthemum flower using the method of bund and pot, and (2) analyze the finance feasibility on cultivation of chrysanthemum flower with both methods. The treatment of this research are : cultivation of chrysanthemum flower with bund method and cultivation of chrysanthemum flower with pot method. In each method analyzed plant water requirements (ETc) and financial feasibility. The analysis of financial feasibility used in this research is NPV, IRR and BCR. Total requirement of chrysanthemum flower water with bund and pot method are 1056,72 ml/plant and 866,64 ml/plant, while the average daily water requirement is 19,57 ml/day, and 16,05 ml/day. The financial feasibility result of this are NPV on bund method as much as Rp. 5.687.537,35 is smaller than the pot method which is worth Rp. 12.627.709,99. IRR from the bund method with percentage 15% smaller than pot method with the percentage of 18%. The BCR analysis of the bund method yields 1.51 which is smaller than the pot method which yields 1.63. although both methods of chrysanthemum flower cultivation are said to be feasible, but the pot method is more advantageous than the method of bunds in financial terms.
Efisiensi Penyaluran Air Pada Telabah Aya Dengan Konstruksi Lining Saluran dalam Sistem Irigasi Subak di Kabupaten Badung I Made Hendra Udayana AS; I Wayan Tika; I Gusti Ketut Arya Arthawan
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 10 No 2 (2022): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2022.v10.i02.p06

Abstract

ABSTRAK Efisiensi penyaluran menjadi dasar dalam penyaluran air irigasi pada sistem irigasi subak. Kondisi efisiesnsi penyaluran pada telabah aya dipengaruhi oleh kondisi fisik saluran, khususnya bergantung pada jenis lining saluran yang digunakan. lining saluran yang diterapkan di subak Kabupaten Badung menjadi bukti bahwa pengaplikasian lining banyak berpengaruh dalam penyaluran irigasi. Dibutuhkan informasi tentang besarnya efisiensi penyaluran pada jenis lining yang diterapkan pada telabah sebagai nilai acuan dasar dalam kegiatan pembagian air irigasi kedepannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei kuantitatif dengan pengamatan lining dan pengukuran langsung variabel debit pada telabah aya. Pengamatan lining yang dilakukan berdasarkan 30 objek telabah aya dengan lining saluran yang ada di subak Kabupaten Badung. Pengukuran kecepatan aliran dilakukan dengan instrumen pelampung dan ukuran penampang aliran diukur dengan rollmeter. Pengukuran variabel debit dilakukan di hulu dan hilir telabah aya untuk mendapatkan besarnya debit awal dan debit akhir sebagai dasar dalam penentuan efisiensi penyaluran. Jenis lining saluran yang digunakan pada telabah aya di Kabupaten Badung adalah tipe batu sebanyak 77% dan beton l-shape sebanyak 23%. Nilai efisiensi penyaluran untuk telabah aya dengan lining batu sebesar 75,20% dan tipe beton l-shape sebesar 93,07%. Perbedaan nilai efisiensi ini disebabkan karena keadaan kondisi lining saluran pada masing-masing telabah aya. ABSTRACT The efficiency of distribution becomes the basis in the distribution of irrigation water in subak irrigation systems. The condition of the distribution efficiency in telabah aya is influenced by the physical condition of the canal, particularly depending on the type of lining canal used. The application of lining canals in Subak, Badung Regency is proof that it has a lot of influence in irrigation distribution. The information on the distribution efficiency is required for the lining of telabah as a basic reference value in irrigation water distribution. The method used in this study is quantitative surveys and lining observations, and direct measurements of debit variables in telabah aya. Lining observations are based on 30 objects with lining canals in Badung regency. The flow speed measurement was carried out using buoy instruments. The size of the flow cross-section was measured with a roll meter. Measurement of water discharge was performed upstream and downstream of telabah aya to get the amount of initial discharge and final discharge as a basis for determining the efficiency of distribution. The lining canal used in telabah aya in Badung Regency is 77% types of stone and l-shape concrete as much as 23%. The value of distribution efficiency for telabah aya with stone lining by 75.20% and l-shape concrete type by 93.07%. This difference in efficiency value is due to the lining canal conditions in each telabah aya.
Analisis Efisiensi Penggunaan Air Irigasi pada Subak Agung Yeh Sungi I Putu Sukertayasa; I Wayan Tika; I Made Anom S Wijaya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 5 No 1 (2017): maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (983.734 KB)

Abstract

Subak Agung Yeh Sungi merupakan kumpulan dari semua Subak Gede yang memanfaatkan aliran air Tukad Yeh Sungi untuk keperluan irigasi dari hulu sampai hilir. Titik hulu dari Tukad Yeh Sungi ini berada di Desa Apuan, Kecamatan Baturiti dan untuk daerah hilirnya berada di wilayah, Desa Beraban, Kecamatan Kediri. Luas Subak Agung Yeh Sungi ini yaitu 3.661 ha dan terdiri dari sembilan Subak Gede yaitu Subak Gede Bunyuh, Cangi, Tinjak Menjangan, Tungkub, Pama Palian, Mundeh, Baru Kedokan, Gadon I, dan Gadon II. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah: mengetahui efisiensi penggunaan air irigasi pada Subak Agung Yeh Sungi dan merancang pendistribusian air irigasi pada Subak Agung Yeh Sungi agar memenuhi konsep proporsional. Dari analisis efisiensi penggunaan yang dilakukan dapat diketahui efisiensi penggunaan air irigasi pada Subak Agung Yeh Sungi di hulu yaitu 73,80%, tengah 84,15% dan di hilir 94,21%. Rata-rata efisiensi penggunaan pada masing-masing daerah irigasi sebesar 84.05%. Subak Agung Yeh Sungi is an association of all the Subak Gede that use water flow of Tukad Yeh Sungi for irrigation purposes from upstream to downstream. The upstream point of Tukad Yeh Sungi was the village of Apuan, Baturiti District and for the downstream areas are in the region Beraban village, district of Kediri. The area of Subak Agung Yeh Sungi is 3,661 ha, consisting of nine Subak Gede, such as Subak Gede Bunyuh, Cangi, Tinjak Menjangan, Tungkub, Pama Palian, Mundeh, Baru Kedokan, Gadon I, and Gadon II. The purpose of this research was to determine the efficiency of water use irrigation in Subak Agung Yeh Sungi and to designe the distribution of water irrigation in Subak Yeh Agung Sungi to fulfill the concept of proportional. Based on analysis, the efficiency of water Subak Agung Yeh Sungi was 73.80% in the upstream, 84.15% in the middle and 94.21% in the downstream. The average of water use efficiency in each irrigated area was 84.05%.
Efisiensi Kinerja Combine Harvester pada Pemanenan Padi Varietas Unggul (Studi Kasus di Desa Polongaan Sulawesi Barat) I Kadek Murjana; I Wayan Tika; I Gusti Ngurah Apriadi Aviantara
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 10 No 2 (2022): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2022.v10.i02.p20

Abstract

Abstrak Waktu panen padi yang hampir bersamaan pada areal sawah yang luas dan ketersediaan tenaga kerja yang sedikit karenanya diperlukan alat bantu mekanis untuk menggantikannya, alat mekanis yang digunakan salah satunya mesin pemanen padi Combine Harvester. Mesin pemanen padi Combine Harvester tipe ridding merek Kubota DC 70 adalah mesin pertanian yang berfungsi untuk memanen padi melalui tahapan mengait, mengarahkan, memotong, merontokkan dan membersihkan gabah yang dilakukan secara terpadu dalam satu kali proses. Tujuan dari penelitian ini mengetahui efisiensi kinerja dan kebutuhan mesin Combine Harvester yang diperlukan pada pemanenan padi. Penelitian ini terdiri dari tiga tahapan utama, yaitu persiapan mesin dan lahan, pengujian performansi mesin dan analisis data. Parameter yang diamati adalah lebar komplemen pemanen, kecepatan gerak maju Combine Harvester, luas lahan yang dipanen, waktu pemanenan, kapasitas kinerja teoritis, kapasitas kinerja aktual, efisiensi kinerja dan kebutuhan Combine Harvester. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan kerja Combine Harvester 1,35 m/detik. Kapasitas kinerja aktual sebesar 0,574 ha/jam atau 57,4 are/ jam. Kapasitas kinerja teoritis sebesar 0,921 ha/jam atau 92,1 are/jam. Efisiensi kinerja Combine Harvester 61,6%. Kebutuhan Combine Harvester sebanyak 2 unit untuk pemanenan padi di Desa polongaan. Abstract The rice harvest time is almost the same in a large rice field area and the availability of a small amount of labor is therefore required mechanical tools to replace it, one of the machine tools used is the Combine Harvester rice harvester machine. Rice harvester Combine Harvester ridding type Kubota DC 70 brand is an agricultural machine that functions to harvest rice through the stages of hooking, directing, cutting, threshing, and cleaning the grain which is carried out in an integrated manner in one process. The purpose of this study is to determine the efficiency of performance and the needs of the Combine Harvester machine needed for harvesting rice. This research consists of three main stages, namely machine and land preparation, machine performance testing, and data analysis. The parameters observed were the width of the complement of the harvester, the speed of advance of the Combine Harvester, the area of land harvested, the time of harvesting, the theoretical performance capacity, the actual performance capacity, the performance efficiency, and the needs of the Combine Harvester. The results showed that the working speed of the Combine Harvester was 1.35 m/sec. The actual performance capacity is 0.574 ha/hour or 57.4 are/hour. The theoretical performance capacity is 0.921 ha/hour or 92.1 are/hour. Combine Harvester's performance efficiency at 61.6%. The need for a Combine Harvester is 2 units for harvesting rice in the village of pods.
Modifikasi Mesin Pencetak Pakan Budidaya Lele Berbentuk Pellet dengan Kebutuhan Daya Rendah Yudha Kristyanto Leksono; Yohanes - Setiyo; I Wayan Tika
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 2 No 1 (2014): Maret
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.602 KB)

Abstract

The aim of this study were to modify the machines with a small power requirements for printing fish feed pellets and to test the performance of the machine. The modified engine was a machine design by Giyarto result , modifications was on the power requirements . Stages of modification were calculate the strength of each major component of the engine , and followed by selecting the machine components . The main components of the machine are : V-belt, pulley, cylinder, cutting knife, pressing pellets and an electric motor. Engine performance testing conducted with 7 kg of dough pellets and the test was repeated 5 times. Parameters measured in this study were: machine capacity, efficiency and quality of the work machine. The results showed that the pellet-making machine modified increased in performance. The machine indicated the performance efficiency of an average 87.53 %
Efek Penambahan Kotoran Sapi terhadap Kualitas Kompos pada Pengomposan Batang Pisang I Kadek Aditya Pranata; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; I Wayan Tika
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 10 No 1 (2022): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2022.v10.i01.p09

Abstract

ABSTRAK Pengomposan merupakan salah satu alternatif untuk meningkatan kegunaan dan nilai tambah dari limbah bahan organik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan kotoran sapi terhadap kualitas kompos. Pada proses pengomposan limbah batang pisang untuk menentukan komposisi campuran bahan yang terbaik dari penggunaan batang pisang dan kotoran sapi yang menghasilkan kualitas kompos sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) 19-7030-20014. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah batang pisang dan kotoran sapi dengan perbandingan berat batang pisang dengan kotoran sapi yaitu: K1 (1:1), K2 (2:1), K3 (3:1), K.BP (hanya batang pisang). Proses pengomposan pada penelitian ini menggunakan Biokomposter Tahiron New Garden Bag 2. Pada proses pengomposan suhu diamati setiap hari, sedangkan kadar air C-organik, Nitrogen, rasio C/N dan pH diamati setiap 14 hari sekali. Suhu pada perlakuan K1, K2, K3dan K.BP yaitu masing-masing mencapai 43,6oC, 44,3 oC, 43,6 oC dan 38,6 oC. Parameter suhu, pH, dan kadar air tidak menunjukkan perbedaan secara signifikan antar perlakuan sedangkan rasio C/N pada pebandingan KBP dengan K1 (1:1), K2 (2:1), dan K3 (3:1) menunjukkan perbedaan. Perlakuan K2 menunjukkan komposisi campuran terbaik yang ditunjukkan oleh suhu pengomposan mendekati termofilik yaitu 44,3oC. Rasio C/N dari semua perlakuan belum memenuhi SNI 19/7030/2004, sedangkan pH, kadar air, bahan organik memenuhi standar tersebut. ABSTRACT Composting is an alternative means to increase the usefulness and added value of organic waste. The purpose of this study was to determine the effect of adding cow dung and banana stem. This study expected to obtain the best composition of the mixture of ingredients from the use of banana stalks and cow dung according to the Indonesian National Standard (SNI) 19-7030-20014. The materials used in this study were banana stalks and cow dung with a ratio of banana stalks to cow dung, namely: K1 (1: 1), K2 (2: 1), K3 (3: 1), K.BP (only banana stalks). ). The composting process in this study used Biocomposter Tahiron New Garden Bag 2. In the composting process, the temperature was observed every day, while the moisture content of C-organic, nitrogen, C / N ratio, and pH were observed once every 14 days. The temperatures in the K1, K2, K3, and K.BP treatments were respectively 43.6 oC, 44.3 oC, 43.6 oC, and 38.6 oC. Temperature, pH, and moisture content parameters did not show significant differences between treatments, while the C / N ratio in the comparison between KBP and K1 (1: 1), K2 (2: 1), and K3 (3: 1) showed differences. K2 treatment showed the best mixture composition with the composting temperature approaching thermophilic, namely 44.3oC. The C / N ratio of all treatments did not meet SNI 19/7030/2004, while pH, moisture content, the organic matter within the range as regulated in the standard.
Desain Bangunan Bagi Numbak dan Ngerirun pada Sistem Distribusi Air Irigasi Subak Berdasarkan Konsep Pemias Ni Kadek Sumiasih; i Wayan Tika; Putu Gede Budisanjaya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 4 No 2 (2016): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.846 KB)

Abstract

Divider structure (tembuku) numbak and ngerirun is one of structure that used as divider in Subak water irrigation. Diversion of flow in the tembuku ngerirun was causing reduction that influenced by the difference speed and makes the difference rate of flow with tembuku numbak. The purposes of this research were: (1) to determine the level of the pemias coefficient on tembuku numbak and ngerirun, and (2) to calculate the dimensions of the tembuku numbak and ngerirun that review by pemias aspects. The real rate of flow analysed by measuring the width and height of water on the tembuku and the must rate of flow calculated by using the ratio of irrigated land area. The real rate of flow and the must rate of flow were used to determine pemias coefficients and pemias coefficients used to determine the must width of the threshold design of tembuku. Based on analysis, the average pemias coefficient was 0.095 or a value of pemias reduction was 0.095. Correlation of height of water and pemias coefficient was very high with R2 was 0.942. RMSE of width threshold value was 38.86%. The must width of the threshold at Subak is obtained by dividing the real width threshold with (1- pemias coefficients). After socialized to some pekaseh, they were mostly agree if there pemias coefficients that can be used to give pelampias on tembuku ngerirun.
Efektivitas Sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat (Studi Kasus: Desa Sanur Kaja Kota Denpasar) Ni Putu Amelia Panida Dewi; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; I Wayan Tika
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 9 No 2 (2021): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/JBETA.2021.v09.i02.p15

Abstract

ABSTRAK Desa Sanur Kaja memiliki satu depo pengelolaan sampah khusus untuk menangani sampah yang dihasilkan oleh masyarakat desa yang bernama Depo Cemara. Berdasarkan penelitian sebelumnya diketahui bahwa kegiatan yang berjalan di Depo Cemara menjadi kurang efisien karena tidak semua masyarakat desa memilah dan menerapkan prinsip 3R (reduce, reuse, dan recycle) dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sejauh mana efektivitas sistem pengelolaan sampah yang sudah dilakukan oleh masyarakat Desa Sanur Kaja dengan membandingkan jumlah sampah yang dikelola oleh rumah tangga dengan prinsip 3R dengan jumlah sampah yang terbuang sehingga diperoleh persentase reduksi sampah. Pengumpulan data diperoleh dengan menyebar kuesioner kepada responden yang ditentukan dengan teknik purposive sampling. Data yang diperoleh kemudian dihitung dengan analisis kesetimbangan massa sampah lalu dianalisis lebih lanjut dengan metode analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian terhadap 96 rumah tangga menunjukkan bahwa pengelolaan sampah berbasis masyarakat memiliki efektivitas yang rendah karena reduksi sampah yang terjadi hanya 22,5 persen dalam satu hari dan responden yang melakukan pemilahan sampah rumah tangga sebanyak 44 persen. Masyarakat menyatakan setuju terhadap rencana penerapan prinsip 3R dalam pengelolaan sampah rumah tangga serta menganggap penting ditambahkannya fasilitas-fasilitas pendukung pengelolaan sampah. ABSTRACT Sanur Kaja Village has a special waste management facility for processing waste produced by the village community, namely Depo Cemara. Based on previous research, it is known that activities that are running at Depo Cemara are less efficient because not all village communities sort waste and apply the 3R (reduce, reuse, and recycle) principle in household waste management. This study aims to identify the effectiveness of the waste management system that has been implemented by the people of Sanur Kaja Village by comparing the amount of waste managed by households with the 3R principle with the amount of waste wasted in order to obtain a percentage of waste reduction. Data collection was obtained by distributing questionnaires to respondents who were determined by purposive sampling technique. The data obtained were then calculated by analyzing the mass balance of waste and then further analyzed using descriptive statistical analysis methods. The results of research on 96 households show that community-based waste management is still not effective because the percentage of waste reduction that occurs in one day only 22,5 percent and respondents who sort household waste are 44 percent. The community agreed to the plan to implement the 3R principle in household waste management and considered it important to add supporting facilities for waste management.