Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Hubungan fungsi motorik dan derajat kekuatan otot dengan kejadian fatigue pasca stroke Putu Yogi Pramana; Cokorda Istri Dyah Sintarani Sintarani; Ida Ayu Sri Wijayanti Wijayanti; Anak Agung Raka Sudewi Sudewi
Intisari Sains Medis Vol. 13 No. 2 (2022): (In Press : 1 August 2022)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.081 KB) | DOI: 10.15562/ism.v13i2.1436

Abstract

Background: Fatigue is an experience in the form of fatigue that is often experienced by post-stroke patients. Pharmacological therapy used in the treatment of post-stroke fatigue has not been effective in treating fatigue. Several studies also mention the presence of impaired motor function and a decrease in the degree of strength in post-stroke patients, which causes patients to avoid physical activity, causing fatigue. The purpose of this study was to determine the relationship between motor function and the degree of muscle strength with post-stroke fatigue. Method: This analytic observational study with the Pearson correlation test was conducted using a questionnaire, examined and collected data from the register of outpatients at the Neurology Polyclinic of Dharma Yadnya General Hospital, Denpasar, from March to May 2022. Fatigue was assessed using a Fatigue Severity Scale questionnaire, and motor function was assessed using the Fatigue Severity Scale questionnaire. Pulg Meyer questionnaire. The significance level of the relationship was assessed by chi-square, and the strength of the relationship was assessed by the Pearson correlation test. Result: There were 82 sample subjects. 46 subjects (60%) experienced fatigue, and 36 (40%) subjects did not experience fatigue. With the Pearson correlation test, it was found that there was a significant relationship between motor function and the degree of muscle strength with post-stroke fatigue with a value of (r) 0.712 and (r) 0.527.Conclusion: There is a significant relationship between motor function and the degree of muscle strength with post-stroke fatigue.   Latar Belakang: Fatigue merupakan suatu pengalaman subjektif berupa perasaan kelelahan yang sering dialami oleh pada pasien pasca stroke. Terapi farmakologi yang digunakan dalam penanganan fatigue pasca stroke selama ini masih belum efektif dalam penanganan fatigue. Beberapa studi juga menyebutkan dengan adanya gangguan fungsi motorik dan penurunan derajat kekuatan otot pada pasien pasca stroke menyebabkan pasien cenderung menghindari aktivitas fisik sehingga menimbulkan terjadinya fatigue. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan dari fungsi motorik dan derajat kekuatan otot dengan fatigue pasca stroke. Metode: Studi observasional analitik dengan uji korelasi pearson ini dilakukan dengan menggunakan kuisioner, melakukan pemeriksaan dan mengumpulkan data dari register pasien yang dirawat jalan di Poli Saraf Rumah Sakit Umum Dharma Yadnya, Denpasar dari Maret hingga Mei 2022. Fatigue dinilai menggunakan kuisioner Fatigue Severity Scale dan fungsi motorik dinilai menggunakan kuisioner Pulg Meyer.Tingkat kemaknaan hubungan dinilai dengan chi-square dan kekuatan hubungan dinilai dengan uji korelasi Pearson. Hasil: terdapat 82 subjek sampel, didapatkan subjek yang mengalami fatigue sebesar 46 subjek (60%) dan 36 subjek (40%) tidak mengalami fatigue. Dengan uji korelasi pearson didapatkan adanya hubungan bermakna antara fungsi motorik dan derajat kekuatan otot dengan fatigue pasca stroke dengan nilai (r) 0,712 dan (r) 0,527. Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara fungsi motorik dan derajat kekuatan otot dengan fatigue pasca stroke.
Headache in healthcare workers related to personal protective equipment use in COVID-19 referral hospital Ida Ayu Sri Wijayanti; Ni Putu Ayu Putri Mahadewi; Putu Gede Sudira; Kumara Tini; Ni Made Susilawathi; I Made Oka Adnyana
Universa Medicina Vol. 42 No. 1 (2023)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2023.v42.52-60

Abstract

BackgroundStudies show that wearing personal protective equipment (PPE) for long periods of time can lead to discomfort such as headaches, which could affect the performance of healthcare workers. The aim of this study was to determine the prevalence and risk factors of headaches related to PPE in healthcare workers at a COVID-19 referral hospital. MethodsA cross-sectional study was conducted involving 174 healthcare workers in a COVID-19 referral hospital in Bali. We conducted interviews using a questionnaire that consisted of three main parts: characteristics of the subjects, PPE usage, and PPE-associated headaches. A multiple logistic regression was used to analyze the data. ResultsThe analysis results showed that the PPE-associated headaches had a prevalence of 63.8% and were gradual in onset, pressure-like in quality (46%), and mild in intensity (80.1%). PPE level III-associated headache was the most common type. The majority of the participants had headaches up to 6 hours after using the protective gear, but improving within 15-30 minutes of removal and/or after pharmacotherapy. A Chi-squared analysis showed a statistically significant association between duration of PPE use, working units, and PPE levels (p<0.05). A logistic regression analysis found a significant relationship between PPE level and headache occurrence (OR=4.826;95%CI: 2.433-9.572; p<0.001). ConclusionThe frequency of PPE-associated headache was high and the PPE level was a risk factor of headache among healthcare workers. Better strategies are needed to reduce the duration of PPE exposure so that the work performance and quality of life of healthcare workers are not significantly affected.
Characteristics and Prevalence of Headaches in Using Devices During Online Learning in Medical Students at Udayana University Dewi, Ni Putu Mira Kardila; Wijayanti, Ida Ayu Sri; Budiarsa, I Gusti Ngurah Ketut; Adnyana, I Made Oka
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 12 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i12.P18

Abstract

ABSTRAK Nyeri kepala primer banyak dialami oleh mahasiswa kedokteran, salah satunya disebabkan oleh pembelajaran daring selama pandemi Covid-19, sehingga perlu untuk mencari tahu karakteristiknya. Maka dari itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui karakteristik dan prevalensi tipe nyeri kepala primer pada penggunaan gawai selama belajar daring. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan studi potong lintang, dilakukan pada bulan Januari-Agustus 2021. Total sampel 86 responden mahasiswa kedokteran Universitas Udayana angkatan 2018, 2019, 2020 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi menggunakan non-probability sampling. Jenis gawai yang paling banyak digunakan adalah komputer atau laptop sebanyak 68 responden (79%). Konten yang paling banyak dibuka selama belajar daring adalah media sosial sebanyak 57 responden (57%). Durasi menggunakan gawai selama belajar daring terbanyak yaitu 5-7 jam sebanyak 42 responden (48.8%). Aktivitas fisik yang dilakukan dalam seminggu terbanyak adalah <2x selama >15 menit sebanyak 34 responden (39.5%). Posisi leher saat menatap layar gawai terbanyak dengan kemiringan 15o yaitu 44 responden (51.2%). Keluhan mata dialami oleh 50 responden (58.1%). Tipe nyeri kepala primer terbanyak adalah TTH sebanyak 52 responden (60.5%). Karakteristik nyeri kepala primer dalam penggunaan gadget berdasarkan prevalensinya diperoleh jenis gawai terbanyak yang digunakan adalah komputer atau laptop. Media sosial merupakan konten terbanyak yang dibuka, dengan durasi penggunakan gawai selama belajar daring 5-7 jam. Aktivitas fisik yang dilakukan dalam seminggu terbanyak <2x selama >15 menit. Posisi leher saat menatap layar gawai dengan kemiringan 15o dan lebih banyak responden mengalami keluhan mata. Tipe nyeri kepala primer terbanyak adalah TTH. Kata kunci : Nyeri Kepala, Gawai, Daring
The Association Between Length Of Use Of Smartphone With Tension Type Headache Incident In Faculty Of Medicine Students Of Udayana University Rismayanti, Ni Putu; Samatra, Dewa Putu Gde Purwa; Wijayanti, Ida Ayu Sri; Widyastuti, Ketut
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 12 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i12.P16

Abstract

Nyeri kepala tipe tegang merupakan nyeri kepala primer yang paling sering ditemui di masyarakat. Saat ini ponsel pintar telah menghadirkan berbagai macam fitur canggih yang dapat diakses melalui internet. Penggunaan ponsel pintar yang terlalu lama dapat menimbulkan dampak yang merugikan pada kesehatan manusia salah satunya adalah nyeri kepala tipe tegang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama penggunaan ponsel pintar dengan kejadian nyeri kepala tipe tegangpada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan cross sectional study (studi potong-lintang). Teknik yang digunakan adalah non-probability sampling yaitu consecutive sampling dengan minimal 83 subjek yang didapatkan sejumlah 127 mahasiswa dari angkatan 2018 dan 2019. Peneliti menggunakan data primer yang diperoleh dari pengisian google formulir secara daring. Penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang mengalami nyeri kepala tipe tegang sebanyak 73 orang (57,5%) sedangkan 54 orang (42,5%) tidak mengalami nyeri kepala tipe tegang. Penggunaan ponsel pintar kategori lama (>3 jam sehari) sebanyak 118 orang (92,9%) dan 9 orang (7,1%) dalam kategori tidak lama (?3 jam dalam sehari). Pada uji fisher ditemukan nilai p = 0,168 (p>0,05). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara lama penggunaan ponsel pintar dengan kejadian nyeri kepala tipe tegang.
Karakteristik Nyeri Kepala Tipe Tegang pada Perawat di Rumah Sakit Universitas Udayana Savitri, Ni Putu Sista Ijya; Wijayanti, Ida Ayu Sri; Widyastuti, Ketut; Indrayani, Ida Ayu Sri
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 8 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i08.P12

Abstract

Background: Headache is the most common complaint experienced by people in the world with the highest prevalence spesifically tension-type headache. Nurses are one of the professions with the risk of experiencing tension-type headache that can affect performance, costs, and work results. The purpose of this study was to determine the prevalence and characteristics of tension-type headache among nurses who work in the hospital. Method: This research is a cross-sectional descriptive study with consequtive sampling technique involving 89 nurses at Udayana University Hospital using primary data obtained from questionnaires (google form) and then analyzed by using SPSS 26. Results: The results showed that the prevalence of tension-type headache in nurses was 46.1%. Based on the most common characteristic in nurses, spesifically within the age of 26-35 years about 80.5%, female gender about 65.9%, obesity category about 39%, no stress category about 95.1%, sleep duration > 6 hours about 58.5%, shift nurses about 92.7%, nurses in inpatient room about 70,7%, and below 3 years duration of work about 80.5%. Conclusion: The prevalence of tension-type headache in nurses is 46.1% with the most characteristics at the age of 26-35 years (early adulthood), female gender, dominated by obesity category, no stress category, sleep duration > 6 hours, dominant in shift nurses, mostly in inpatient room nurses and below 3 years duration of work. Keywords: Tension-type headache, characteristics, nurse
DAMPAK NYERI KEPALA PRIMER PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA MENGGUNAKAN HEADACHE IMPACT TEST-6 VERSI INDONESIA Apriyanti, Ni Putu Winda; Indrayani, Ida Ayu Sri; Samatra, Dewa Putu Gde Purwa; Wijayanti, Ida Ayu Sri
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 3 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i03.P15

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Nyeri kepala primer adalah nyeri kepala tanpa gangguan struktural di kepala dan tidak diakibatkan oleh penyakit lainnya. Mahasiswa Fakultas Kedokteran memiliki risiko mengalami nyeri kepala primer karena nyeri kepala dapat berdampak pada kehidupan sehari-hari. Penilaian dampak nyeri kepala dapat dilakukan dengan menggunakan headache impact test-6 versi Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dampak nyeri kepala primer pada mahasiswa PSSKPD Fakultas Kedokteran Universitas Udayana angkatan 2018 dan 2019 menggunakan headache impact test-6 versi Indonesia. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan rancangan penelitian cross-sectional yang melibatkan subjek sebanyak 167 mahasiswa PSSKPD Fakultas Kedokteran Universitas Udayana angkatan 2018 dan 2019 dengan menggunakan data primer yang diperoleh dari kuesioner melalui google form lalu dianalisis menggunakan aplikasi SPPS. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 167 orang yang mengalami nyeri kepala primer. Simpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa nyeri kepala primer memberikan dampak pada kehidupan mahasiswa PSSKPD Fakultas Kedokteran Universitas Udayana angkatan 2018 dan 2019 yaitu sebanyak 35,9% berdampak tertentu, 18% berdampak substansial, dan 23,4% berdampak parah pada kehidupan sehari-hari. Kata Kunci: Nyeri kepala primer, dampak nyeri kepala, headache impact test-6.
PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR DAN KUALITAS HIDUP MAHASISWA PSSKPD FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA DENGAN DAN TANPA NYERI KEPALA TIPE TEGANG EPISODIK Setiawan, Okky Yani; Widyadharma, I Putu Eka; Wijayanti, Ida Ayu Sri; Widyastuti, Ketut
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 1 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i01.P06

Abstract

Prestasi belajar adalah suatu penguasaan atau keterampilan dan dikembangkan oleh mata pelajaran, biasanya dilihat dalam hasil tes atau nilai. Selain itu, terdapat faktor internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap prestasi belajar seorang mahasiswa. Seorang mahasiswa tentunya tidak terlepas dari permasalahan yang terjadi dalam kehidupan. Permasalahan tersebut juga memiliki dampak pada kualitas hidup. Seseorang yang memiliki pandangan psikologis, kesejahteraan emosional, kesehatan fisik, dan kesehatan mental yang baik, dikatakan memiliki kualitas hidup yang positif. Terjadinya penurunan prestasi belajar dan gangguan kualitas hidup mahasiswa disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya gangguan kesehatan fisik seperti nyeri kepala. Nyeri kepala merupakan keluhan yang umum terjadi pada hampir semua orang. Ada tiga kategori utama nyeri kepala, salah satunya nyeri kepala primer, dengan salah satu klasifikasinya yaitu nyeri kepala tipe tegang yang memiliki prevalensi tertinggi. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan prestasi belajar dan kualitas hidup dengan kejadian nyeri kepala tipe tegang episodik infrekuen di kalangan mahasiswa dan mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Penelitian dilakukan dengan metode analitik menggunakan studi potong lintang. Data diperoleh menggunakan kuesioner nyeri kepala, prestasi belajar, dan SF-36, dibagikan secara daring dengan 100 responden. Data dianalisis menggunakan IBM SPSS Statistics 25. Berdasarkan analisis, didapatkan hasil p>0,05, yang tidak signifikan pada prestasi belajar dan p<0,05, yang signifikan pada kualitas hidup dengan kejadian nyeri kepala. Disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan rerata yang bermakna pada prestasi belajar namun signifikan pada kualitas hidup terhadap kejadian ada atau tidaknya nyeri kepala tipe tegang episodik infrekuen pada mahasiswa.
PROPORTION AND CHARACTERISTIC OF MYOGENIC LOW BACK PAIN IN UNDERGRADUATE MEDICAL STUDENTS OF UDAYANA UNIVERSITY CLASS OF 2020 Candra, Alamanda; Widyadharma, I Putu Eka; Tini, Kumara; Wijayanti, Ida Ayu Sri
E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 2 (2024): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2024.V13.i02.P12

Abstract

Myogenic low back pain is one type of low back pain that is common but often undiagnosed. Medical students are packed with lecture and study activities so they are more at risk of experiencing low back pain. This study is to determine the proportion, characteristics of sufferers and characteristics of myogenic low back pain in medical students at Udayana University class of 2020. This study is a descriptive cross-sectional study with a sample size of 90 people who meet the inclusion criteria. Sampling using consecutive sampling method. Data collection by filling out an online questionnaire via Google Form and checking the presence of MPS through palpation by a neurology resident. Data analysis was performed using SPSS version 25. The proportion of myogenic low back pain sufferers in medical student class of 2020, Udayana University was 26.7%. The characteristics of the majority of sufferers were 20 years old (41.7%), female (70.8%), normal BMI (91.7%), occasional exercise (62.5%), sitting duration ?4 hours (95.8%), and hunched sitting position (75%). The characteristics of myogenic low back pain were mostly acute (62.5%), pain was felt gradually (62.5%), and the pain scale was mild (54.2%). Respondents mostly chose non-pharmacological therapy by lying down or stretching (95.8%). Out of the 90 respondents who were included in the inclusion criteria in this study, there were 24 (26.7%) respondents who experienced myogenic low back pain with different characteristics from previous studies. Further research with a larger population and causal relationship studies needs to be done to find out the exact cause of myogenic low back pain and how to avoid it.
SYSTEMATIC REVIEW : HASIL LUARAN KLINIS TERHADAP TATALAKSANA MENINGITIS TUBERKULOSIS DI ASIA Hartadi, Putu Ardy; Budiarsa, I Gusti Ngurah Ketut; Meidiary, A. A. A.; Wijayanti, Ida Ayu Sri
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 2 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i02.P14

Abstract

Pendahuluan: Meningitis Tuberkulosis adalah manifestasi infeksi Mycobacterium tuberculosis yang paling berbahaya dan merupakan keadaan kegawatdaruratan medis. Sebagian besar pasien biasanya akan mengalami defisit neurologis sehingga dengan tatalaksana yang tepat dapat meminimalkan morbiditas dan mortalitas pada pasien dengan Meningitis Tuberkulosis. Adapun tujuan dari systematic review ini adalah untuk mengetahui hasil luaran klinis terhadap tatalaksana Meningitis Tuberkulosis di Asia. Metode: Metode penulisan dalam artikel ini adalah systematic review, dimana literatur yang digunakan adalah studi yang tervalidasi selama bulan Januari 2015 sampai Oktober 2020, pencarian literatur dalam systematic review ini menggunakan tiga database yaitu Pubmed, Science Direct, dan ProQuest. Pencarian artikel atau jurnal menggunakan kata kunci: “Tuberculous Meningitis” and “Treatment” and “Clinical Outcome”. Sebanyak 1.143 artikel yang sesuai selanjutnya dilakukan eksklusi dari judul, abstrak, populasi, intervensi, dan outcome, sehingga diperoleh 12 artikel studi yang memenuhi kriteria. Selanjutnya dilakukan penilaian kualitas metodologi dari setiap artikel menggunakan The Joanna Briggs Institute (JBI) Critical Appraisal. Hasil: Penatalaksanaan dari Meningitis Tuberkulosis harus mencakup pendekatan secara holistik yang menghubungkan pemberian regimen terapi pada fase intensif, fase lanjutan, dan pemberian kortikosteroid. Studi berbasis bukti menunjukkan bahwa pemberian regimen HRZE/S minimal selama 6 bulan dilaporkan efektif sebagai terapi Meningitis Tuberkulosis. Pasien remaja dan dewasa dengan Meningitis Tuberkulosis memiliki prognosis atau hasil luaran klinis yang buruk. Selain itu, hasil pengumpulan data dari beberapa studi menunjukkan bahwa hasil pengobatan berhubungan dengan nilai BMRC dan koinfeksi HIV. Kesimpulan: Berdasarkan dari studi ini bahwa jenis pemberian terapi anti tuberkulosis menunjukkan penurunan angka mortalitas minimal selama 6 bulan. Kata kunci: Meningitis Tuberkulosis, Tatalaksana, Hasil Luaran Klinis.
IMPACT OF LISTENING TO MUSIC ON THE PAIN INTENSITY OF TENSION TYPE HEADACHE IN PSSKPD STUDENTS FACULTY OF MEDICINE UDAYANA UNIVERSITY YEAR 2019-2020 Ramayanti, Ni Putu Nadia; Budiarsa, I Gusti Ngurah Ketut; Adnyana, I Made Oka; Wijayanti, Ida Ayu Sri; Indrayani, Ida Ayu Sri
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 8 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i08.P15

Abstract

ABSTRAK Tension Type Headache (TTH) merupakan kejadian yang paling sering terjadi di kalangan mahasiswa kedokteran (64,7%). Terapi musik secara reseptif (mendengarkan musik) dikatakan dapat menurunkan skor nyeri pada pasien dengan nyeri kronis. Sebuah penelitian mendapatkan korelasi yang signifikan antara penerapan terapi musik dengan pengurangan intensitas nyeri dan keparahan pada TTH serta migrain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak mendengarkan musik terhadap intensitas nyeri TTH pada mahasiswa PSSKPD Fakultas Kedokteran Universitas Udayana angkatan 2019-2020. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik menggunakan metode cross sectional yang diikuti oleh 119 mahasiswa PSSKPD angkatan 2019-2020. Pengumpulan data diambil secara online dengan mengisi kuesioner berdasarkan kriteria diagnosis menurut International Headache Society (2018) dan kuesioner berdasarkan kriteria terapi musik yang telah divalidasi. Dari total 119 mahasiswa ditemukan 65 mahasiswa dengan TTH dan mendengarkan musik setelah menerapkan kriteria inklusi. Hasil uji chi-square menunjukan tidak terdapat dampak (p>0,05) mendengarkan musik terhadap intensitas nyeri Tension Type Headache. Hal ini dapat dipengaruhi beberapa faktor lain seperti tipe musik, durasi mendengarkan musik, genre musik, dan faktor lainnya. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menganalisis mengenai karakteristik musik sebagai manajemen nyeri. Kata Kunci: Intensitas nyeri TTH, Mendengarkan musik, Mahasiswa kedokteran