Claim Missing Document
Check
Articles

PERBANDINGAN KADAR HEMOGLOBIN DARAH PADA PRIA PEROKOK DAN BUKAN PEROKOK Makawekes, Melkior T.; Kalangi, Sonny J. R.; Pasiak, Taufiq F.
eBiomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.1.2016.11250

Abstract

Abstract: Smoking habits have a bad effect for health, especially for respiratory organs. Various lung diseases arising from smoking include lung cancer and chronic obstructive pulmonary disease. In Indonesia, the prevalence of smokers is increasing not only men but also women. This study was performed to compare the levels of hemoglobin blood of smokers and nonsmokers in male students semester seventh of Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi. This study was an observational study. The population in this study is male students semester seventh of Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi period January 2012. The total sample is 60 students, consisting of 30 smokers students and 30 nonsmokers students. Based on research data, average values of blood hemoglobin that is 16.263 (mg / dl), with a standard deviation of 0.9320 (mg / dl), whereas in the study sample 30 male nonsmokers had an average value of blood hemoglobin that is 15.723 (mg / dl), with a standard deviation of 0.8207 (mg / dl). Results of this study concluded that statistically there is comparison blood hemoglobin levels in student semester seventh period 2012 Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi both smokers and non smokers.Keywords: hemoglobin, male smokers and nonsmokers.Abstrak: Kebiasaan merokok mempunyai dampak yang buruk terhadap kesehatan terutama pada organ pernafasan. Berbagai penyakit paru timbul akibat rokok antara lain kanker paru dan penyakit paru obstruktif kronik. Di Indonesia prevalensi perokok makin meningkat tidak saja laki-laki namun juga pada perempuan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbandingan kadar hemoglobin darah perokok dan bukan perokok pada mahasiswa pria Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi semester tujuh. Adapun penelitian ini adalah penelitian observasional. Populasi dalam penelitian ini seluruh mahasiswa pria semester 7 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado periode Januari 2012. Jumlah sampel 60 mahasiswa, yang terdiri dari 30 mahasiswa perokok dan 30 mahasiswa bukan perokok. Berdasarkan data hasil penelitian didapatkan nilai rata-rata hemoglobin darah yaitu 16,263 (mg/dl), dengan standar deviasi 0,9320 (mg/dl), sedangkan pada sampel penelitian 30 pria bukan perokok memiliki nilai rata-rata hemoglobin darah yaitu 15,723 (mg/dl), dengan standar deviasi 0,8207 (mg/dl). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa secara statistik ada perbandingan kadar hemoglobin darah mahasiswa semester tujuh tahun ajaran 2012 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado yang perokok dan bukan perokokKata kunci: kadar hemoglobin, pria perokok dan bukan perokok.
Gambaran struktur kulit hewan coba pada beberapa interval waktu postmortem Abeng, Kartika A.; Kalangi, Sonny J. R.; Wangko, Sunny
e-Biomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i1.10820

Abstract

Abstract: This study aimed to obtain the postmortem histological changes of the skin. This was an experimental-descriptive study using one pig as model. Samples were taken at several time intervals during 24 hours postmortem: 0 hour; 1 hour; 2 hours; 3 hours; 4 hours; 5 hours; 6 hours; 7 hours; 8 hours; 9 hours; 10 hours; 11 hours; 11 hours; 12 hours; and 24 hours. The results showed that histological changes of the skin began to occur in 4 hours postmortem in the form of epidermal congestion. In 5 hours postmortem Meissner corpuscles could not be identified anymore. In 7 hours postmortem most cells of epidermis showed karyolysis. In 8 hours postmortem Langerhans cells could not be identified anymore. In 9 hours postmortem structure epidermal cells can not be identified. In 24 hours postmortem, borders of the epidermis and dermis could not be identified. Conclusion: Postmortem changes in the histological structure of the skin were consecutively: epidermal congestion, Meissner corpuscles and Langerhans cells could not be identified, and karyolysis of epidermal cells. In 24 hours postmortem, most of the skin architecture was unidentified. It is expected that these postmortem histological changes of the skin could be applied in the medicolegal investigation especially for death cases of less than 24 hours postmortem, therefore, further studies are needed.Keywords: structure, skin, postmortemAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perubahan gambaran histologik kulit postmortem. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif eksperimental dengan babi sebagai hewan coba. Sampel jaringan kulit diambil pada interval waktu 0 jam; 1 jam; 2 jam; 3 jam; 4 jam; 5 jam; 6 jam; 7 jam; 8 jam; 9 jam; 10 jam; 11 jam; 12 jam; dan 24 jam postmortem. Hasil penelitian memperlihatkan perubahan struktur mulai tampak 4 jam postmortem berupa kongesti epidermis kulit. Pada 5 jam postmortem badan Meissner tidak dapat diidentifikasi lagi. Pada 7 jam postmortem sebagian sel-sel epidermis mulai kariolisis. Pada 8 jam postmortem sel Langerhans tidak dapat diidentifikasi lagi. Pada 9 jam postmortem struktur sel-sel epidermis tidak dapat diidentifikasi. Pada 24 jam postmortem batas epidermis dan dermis tidak dapat diidentifikasi. Simpulan: Perubahan struktur kulit postmortem yang dimulai pada 4 jam postmortem ialah sebagai berikut: kongesti epidermis, badan Meissner dan sel Langerhans tidak dapat diidentifikasi, dan kariolisis sel-sel epidermis. Pada 24 jam postmortem arsitektur kulit telah menjadi tidak tegas. Penelitian ini diharapkan dapat diaplikasikan untuk kepentingan medikolegal, terutama pada kematian ≤24 jam.Kata kunci: struktur histologik kulit, postmortem
HUBUNGAN ANTARA AKTIVITAS FISIK DENGAN LINGKAR PINGGANG PADA SISWA OBES SENTRAL Ra Pati Tiala, Maria Elisabeth Adeline; Tanudjaja, George N.; Kalangi, Sonny J. R.
e-Biomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i1.4581

Abstract

Abstract: Background. Obesity has become a worldwide problem. Obesity is caused by energy intake that is greater than energy expenditure. Physical activity is one of energy expenditure. Measuring waist circumference is a method that frequently done to determine obesity. Physical activity can reduce waist circumference regarding decreased body fat percentage especially in visceral fat. Objective. This research was aimed to know the relationship between physical activity and waist circumference in central obese students. Method. An observational method with cross sectional design research was done in November and December 2012 in Saint Ignatius Catholic High School Malalayang Manado. Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) is used in measuring physical activity. Waist circumference was measured with OneMed tape. The analysis used Spearman correlation test. Result. The waist circumferences of 61 respondents were in central obesity. The lowest value of Metabolic Energy Turnover (MET) was 900 MET-minutes/week and the highest was 2,900 MET-minutes/week. In 10 men respondents, the smallest waist circumference was 90.2 cm and the biggest was 110.5 cm. In 51 women respondents, the smallest waist circumference was 80.3 cm and the biggest was 99.0 cm. Conclusion. There was no significant relationship between physical activity and waist circumference (p=0,077). Keyword: physical activity, waist cifcumference, obesity, central obese.   Abstrak: Latar Belakang. Obesitas menjadi masalah di seluruh dunia. Obesitas disebabkan karena masukan energi melebihi penggunaan energi. Aktivitas fisik ialah salah satu penggunaan energi. Cara yang sering digunakan untuk menentukan obesitas yaitu dengan mengukur lingkar pinggang. Aktivitas fisik mampu menurunkan ukuran lingkar pinggang karena berkaitan dengan penurunan persentase lemak tubuh terutama lemak viseral. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dengan lingkar pinggang pada siswa obes sentral. Metode. Penelitian observasional dengan desain cross sectional dilaksanakan pada Bulan November sampai Desember 2012 di SMA Katolik Santo Ignatius Malalayang Manado. Pengukuran aktivitas fisik menggunakan kuesioner Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ). Lingkar pinggang diukur dengan pita ukur OneMed. Analisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil. Sebanyak 61 responden mempunyai lingkar pinggang dengan obes sentral. Nilai Metabolic Energy Turnover (MET) terendah ialah 900 MET-menit/minggu dan tertinggi ialah 2.900 MET-menit/minggu. Pada 10 responden laki-laki, lingkar pinggang paling kecil yaitu 90,2 cm dan paling besar 110,5 cm. Pada 51 responden perempuan, lingkar pinggang paling kecil ialah 80,3 cm dan paling besar ialah 99,0 cm. Simpulan. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan lingkar pinggang (p=0,077). Kata kunci: aktivitas fisik, lingkar pinggang, obesitas, obes sentral.
Hubungan kinerja otak dan spiritualitas manusia diukur dengan Indonesia Spiritual Health Assessment pada tokoh agama Islam di Kabupaten Bolaang Mongondow Pakaya, Putra; Pasiak, Taufiq F.; Kalangi, Sonny J.R.
e-Biomedik Vol 5, No 1 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v5i1.15889

Abstract

Abstract: Human brain contains about 100 billion cells that have complex functions as the central control of all activities. The brain is an organ in which the interaction of soul and body (mind body interaction) occurs and is very influential on human spirituality. Spirituality is built by four observable aspects, as follows: spiritual experience, positive emotion, meaning of life, and ritual. Health Law of the Republic of Indonesia Number 36 Year 2009 Chapter I Article 1 Paragraph 1 defines health by integrating the spiritual aspect as part of the definition of health. Indonesia Spiritual Health Assessment (ISHA) is a neuroscience-based test that includes human spirituality profile so it can find spirituality and its relation to brain performance. This study was aimed to determine the relationship of brain performance and human spirituality among Islamic religious leaders in Bolaang Mongondow. This was an observational study with a cross sectional design. There were 57 Islamic religious leaders as respondents. Data were retrieved by distributing questionnaires ISHA to the respondents. The statistical analysis showed that the correlation between temporal lobes and spiritual experience had an r value = 0.304 and p value = 0.022. Conclusion: There was a relationship between the performance of the brain and human spirituality in particular the relationship between the temporal lobe and spiritual experience among Islamic religious leaders in Bolaang MongondowKeywords: brain performance, spirituality Abstrak: Otak manusia berisi sekitar 100 miliar sel yang memiliki fungsi kompleks sebagai pusat pengendali seluruh aktivitas manusia. Otak merupakan organ tubuh dimana terjadinya interaksi ‘jiwa’ dan ‘badan’ (mind body interaction) yang sangat berpengaruh terhadap spiritualitas manusia. Spiritualitas dibangun oleh empat aspek yang dapat diamati yaitu pengalaman spiritual, emosi positif, makna hidup, dan ritual. Undang-Undang Kesehatan Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Bab I Pasal 1 ayat 1mendefinisikan kesehatan, yaitu dengan memasukkan aspek spiritual sebagai bagian dari batasan sehat. Indonesia Spiritual Health Assessment (ISHA) merupakan uji berbasis neurosains yang memuat tentang profil spiritualitas manusia sehingga dapat mengetahui spiritualitas dan kaitannya dengan kinerja otak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kinerja otak dengan spiritualitas manusia pada tokoh agama Islam di Kabupaten Bolaang Mongondow. Jenis penelitian ialah observasional dengan desain potong lintang. Terdapat 57 orang tokoh agama Islam di Kabupaten Bolaang Mongondow sebagai responden. Data diambil dengan cara membagikan kuisioner ISHA kepada responden. Hasil analisis statistik menunjukkan korelasi antara lobus temporalis dengan pengalaman spiritual (r=0,304; p=0,022). Simpulan: Pada tokoh agama Islam di Kabupaten Bolaang Mongondow terdapat hubungan antara kinerja otak dengan spiritualitas manusia khususnya hubungan one to one antara lobus temporalis dan pengalaman spiritual.Kata kunci: kinerja otak, spiritualitas
PERAN KOMPLEKS JUKSTAGLOMERULUS TERHADAP RESISTENSI PEMBULUH DARAH Toreh, Renny M.; Kalangi, Sonny J.R.; Wangko, Sunny
Jurnal Biomedik : JBM Vol 4, No 3 (2012): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.4.3.2012.1213

Abstract

Abstract: As the main structural component of the renin-angiotensin-aldosterone system (RAAS), the juxtaglomerular complex plays a very important role in the regulation of vascular resistance. The synthesis and release of renin into the circulation occurs due to the decrease of blood pressure, loss of body fluid, and a decrease of sodium intake. Renin converts angiotensinogen into angiotensin I, which is further converted by the angiotensin converting enzyme (ACE) into angiotensin II. This angiotensin II causes vasoconstriction of blood vessels, resulting in an increase of vascular resistance and blood pressure. The ACE inhibitors and the angiotensin receptor blockers (ARBs) do not inhibit the RAAS completely since they cause an increase of renin activity. The renin blockers are more effective in inhibiting RAAS activity; therefore, these renin blockers can be applied as antihypertensive agents with fewer side effects. The RAAS activity can be inhibited by a decrease of renin synthesis in the juxtaglomerular complex by blocking the signals in the juxtaglomerular complex that stimulate renin synthesis, and by blocking the gap junctions in the juxtaglomerular complex. Keywords: juxtaglomerular complex, vascular resistance, RAAS.   Abstrak: Kompleks jukstaglomerulus sebagai komponen struktural utama sistem renin angiotensin berperan penting dalam pengaturan resistensi pembuluh darah. Sintesis dan pelepasan renin ke sirkulasi terjadi karena tekanan darah yang rendah, kehilangan cairan tubuh, dan kurangnya intake natrium. Renin akan memecah angiotensinogen menjadi angiotesin I yang kemudian secara cepat dikonversi oleh enzim pengonversi angiotensin  menjadi angiotensin II. Angiotensin II menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah sehingga meningkatkan resistensi pembuluh darah yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah. ACEinhibitor dan ARB kurang sempurna dalam menghambat kerja SRAA oleh karena keduanya memutuskan rantai mekanisme timbal balik sehingga meningkatkan aktifitas renin. Penghambat renin lebih efektif digunakan untuk menghambat aktifitas SRAA sehingga penghambat renin dapat digunakan sebagai obat anti-hipertensi dan memiliki efek samping yang rendah. Metode penghambatan SRAA yang juga dapat dikembangkan ialah penghambatan sintesis renin dalam kompleks jukstaglomerulus dengan cara menekan sinyal-sinyal dalam kompleks jukstaglomerulus yang merangsang sintesis renin dan menghambat fungsi taut kedap yang terdapat dalam kompleks jukstaglomerulus. Kata kunci: kompleks juksta glomerulus, resistensi vaskular, SRAA.
PENENTUAN DERAJAT LUKA DALAM VISUM ET REPERTUM PADA KASUS LUKA BAKAR Kristanto, Erwin G.; Kalangi, Sonny J. R.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 5, No 3 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.5.3.2013.4346

Abstract

Kebutuhan masyarakat atas berbagai dokumen medikolegal kian meningkat seiring peningkatan kesadaran masyarakat atas hak hukumnya. Setiap dokter, dalam berbagai tingkat pelayanan kesehatan, diwajibkan mampu untuk memberikan pelayanan forensik dan medikolegal, khususnya visum et repertum. Visum et repertum yang dibuat seorang dokter harus dapat membantu penegakan hukum melalui kesimpulan yang sesuai dengan ilmu kedokteran dan kebutuhan penegakan hukum. Pada kasus dugaan penganiayaan yang mengakibatkan korban menderita luka bakar, maka amat penting bagi para penegak hukum untuk memperoleh pendapat ilmiah dokter mengenai derajat keparahan atau derajat luka dari korban tersebut. Pendapat ilmiah mengenai derajat luka ini akan membantu aparat penegak hukum dalam menentukan beratnya hukuman yang diancamkan pada pelaku. Kesimpulan dokter akan membawa dampak besar bagi pihak-pihak yang terlibat dalam tindak pidana tersebut, sehingga pengambilan kesimpulan yang tepat amatlah penting.
Gambaran Mikrokopik Serebelum pada Hewan Coba Postmortem Nangoy, Belinda V.; Kalangi, Sonny J. R.; Pasiak, Taufiq F.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 11, No 1 (2019): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.11.1.2019.23205

Abstract

Abstract: After death, there will be cellular changes that cause definite signs of death. These changes could be used to determine the time of death. This study was aimed to determine the microscopic changes of the cerebellum during 1 hour to 24 hours postmortem. This was a descriptive study. Four domestic pigs of more than 90 kg were used as animal models. After being killed, we made slices in the pig heads to expose and observe cerebellar microscopic changes in several time intervals, as follows: 90 minutes, 2 hours, 3 hours, 4 hours, 5 hours, 6 hours, 7 hours, 8 hours, 9 hours, 10 hours, 11 hours, 12 hours, 13 hours, 14 hours, 15 hours, 16 hours, 17 hours, 18 hours, 19 hours, 20 hours, 21 hours, 22 hours, 23 hours, and 24 hours postmortem. The results showed that the cerebellum became progressively pale and softened at 8 hours postmortem. Congestion in all tissues occured at 2 hours postmortem, however 69.2% of the Purkinje cells still had normal nuclei. At 7 hours postmortem, Purkinje cells began to enlarge associated with karyorrhexis, and at 21 hours postmortem most of the cells shrank. Albeit, at 24 hours postmortem the cerebellar layers could still be identified and some Purkinje cells with normal morphology could be found. Conclusion: Microscopic changes could be identified at 2 hours postmortem in the form of congestion of the cerebellar layers. Purkinje cells underwent karyorrhexis at 7 hours postmortem and shrank at 21 hours postmortem.Keywords: Purkinje cells, cerebellar layers, postmortemAbstrak: Setelah kematian, terjadi perubahan pada sel-sel yang menimbulkan tanda-tanda pasti kematian. Perubahan-perubahan yang terjadi dapat membantu menentukan saat kematian dalam suatu kasus hukum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan mikroskopik serebelum selama interval waktu 1 jam hingga 24 jam postmortem. Jenis penelitian ialah deskriptif. pada hewan coba babi dengan rerata berat lebih dari 90 kg. Setelah hewan coba dimatikan, dibuat irisan di bagian kepala untuk menampakkan serebelum dan mengamati perubahan mikroskopiknya pada rentang waktu 90 menit, 2 jam, 3 jam, 4 jam, 5 jam, 6 jam, 7 jam, 8 jam, 9 jam, 10 jam, 11 jam, 12 jam, 13 jam, 14 jam, 15 jam, 16 jam, 17 jam, 18 jam, 19 jam, 20 jam, 21 jam, 22 jam, 23 jam, dan 24 jam postmortem. Hasil penelitian mendapatkan serebelum tampak pucat dan melunak secara progresif pada 8 jam postmortem. Kongesti di semua jaringan mulai terjadi pada 2 jam postmortem dan ditemukan 69,2% sel Purkinje berinti yang masih normal. Sel Purkinje mulai membesar dan inti mengalami karioreksis pada 7 jam postmortem tetapi pada 21 jam postmortem sel-sel tersebut tampak menyusut. Meskipun demikian hingga 24 jam postmortem struktur lapisan serebelum masih dapat diidentifikasi dan sel Purkinje dengan morfologi normal masih ditemukan. Simpulan: Perubahan mikroskopik serebelum sudah dapat diidentifikasi pada 2 jam postmortem yaitu berupa kongesti lapisan serebelum. Sel Purkinje mengalami karioreksis pada 7 jam postmortem dan menyusut pada 21 jam postmortem.Kata kunci: sel Purkinje, lapisan serebelum, postmortem
EFEK APOMORFIN SUBLINGUAL PADA EREKSI PENIS Salossa, Kaleb D.S.; Kalangi, Sonny J.R.; Adam, Ghazaly
Jurnal Biomedik : JBM Vol 4, No 3 (2012): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.4.3.2012.1209

Abstract

Abstract: Erectile dysfunction is the disability of a male to maintain consistant or repeated penile erections sufficiently for successful sexual intercourse. Many efforts have been done to handle this condition, so far. The psychosocial therapy and several medications inter alia: testosterone, yohimbine, trazadone, direct intracavernosus injection of alprostadil, penile implantation, and  sildenafil citrate, are not always suitable for the patients’ needs, especiallly those who suffer from cardiovascular diseases. Therefore, a new erectogenic agent has been introduced, the sublingual apomorphine. This apomorphine has a dopamine-like molecule that acts on the dopamine receptors in the paraventricular nucleus (PVN) of the central nervous system to increase the penile erection due to sexual stimulation (erotic imagination, audiovisual, or tactile). The sublingual apomorphine has been proved effective in overcoming the erectile dysfunction, especially the mild and moderate forms. Keywords: penile erection, sublingual apomorphin.     Abstrak: Telah banyak upaya dilakukan untuk mengatasi disfungsi ereksi yang merupakan ketidakmampuan seorang laki-laki secara konsisten atau berulang untuk mencapai dan mempertahankan ereksi penis yang cukup untuk melakukan hubungan seksual. Terapi psikososial dan pengobatan yang pernah diajukan seperti pemberian hormon testosteron, yohimbin, trazadon, injeksi langsung alprostadil intrakavernosa, implantasi penis serta sildenafil sitrat tidaklah selalu sesuai dengan kebutuhan penderita, khususnya penderita disfungsi ereksi dengan penyakit kardiovaskuler. Para ahli berusaha melakukan terobosan baru salah satunya adalah apomorfin sublingual yang merupakan agen erektogenik baru. Apomorfin adalah suatu molekul mirip dopamin yang bekerja pada reseptor dopamin pada paraventricular nucleus (PVN) di sistem saraf pusat untuk meningkatkan rangsangan erektil saat stimulasi seksual (imaginasi erotik, audiovisual dan perabaan) terjadi. Apomorfin sublingual terbukti efektif untuk mengatasi disfungsi ereksi, terutama disfungsi ereksi ringan dan sedang. Kata kunci: ereksi penis, apomorfin sublingual.
GAMBARAN HISTOLOGIK HEPAR HEWAN COBA POSTMORTEM Pualilin, Novia K.; Wangko, Sunny; Kalangi, Sonny J. R.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 6, No 2 (2014): JURNAL BIOMEDIK : JBM Juli 2014
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.6.2.2014.5550

Abstract

Abstract: The usage of postmortem histological changes of the liver in the medicolegal investigation is still very limited. This study aimed to obtain the histological changes of the liver postmortem. This was an experimental-descriptive study using one pig as model. Samples were taken from its liver after 0 minute; 15 minutes; 30 minutes; 45 minutes; 60 minutes; 12 hours; and 24 hours postmortem. The results showed that the first postmortem histological changes of the pig liver were observed 30 minutes postmortem. These changes were congestion of the liver parenchym and sinusoidal dilatation, which became more distinct after 45 and 60 minutes. At 12 hours postmortem, the hexagonal forms of lobuli could still be identified, however, most central veins and vessels in the portal areas could not be identified. At 24 hours  postmortem, liver lobuli and all the vessels could not be identified. Conclusion: The earliest histological changes, parenchym congestion and sinusoiodal dilatation, occured 30 minutes postmortem. At 12 hours postmortem, most ot the vessels could not be identified. Morover, at 24 hours postmortem, all liver structures could not be identified anymore. It is expected that these postmortem histological changes of the liver colud be applied in medicolegal investigation especially ≤24 hours postmortem. Keywords: postmortem interval, liver, postmortem.     Abstrak: Perubahan gambaran histologik hepar postmortem yang dijadikan dasar dalam penentuan lama kematian masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran histologik hepar postmortem. Penelitian ini bersifat deskriptif eksperimental dengan menggunakan babi sebagai hewan coba. Sampel jaringan hepar diambil pada interval waktu 0 menit; 15 menit; 30 menit; 45 menit; 60 menit; 12 jam; dan 24 jam postmortem. Hasil penelitian memperlihatkan perubahan histologik hepar babi mulai teridentifikasi pada 30 menit postmortem berupa kongesti parenkim hepar disertai dilatasi sinusoid. Pada 45 menit dan 60 menit postmortem, perubahan-perubahan di atas makin nyata dan meluas. Pada 12 jam postmortem, bentuk lobuli heksagonal masih dapat diidentifikasi tetapi sebagian besar vena sentralis dan pembuluh-pembuluh dalam area portal tidak dapat diidentifikasi lagi. Pada 24 jam postmortem, lobuli hepar, vena sentralis serta pembuluh-pembuluh dalam area portal tidak dapat diidentifikasi lagi. Simpulan: Perubahan gambaran histologik hepar babi mulai tampak pada 30 menit postmortem ditandai kongesti parenkim hepar disertai dilatasi sinusoid. Pada 12 jam postmortem, sebagian besar pembuluh-pembuluh tidak dapat diidentifikasi lagi. Pada 24 jam postmortem seluruh struktur hepar tidak dapat diidentifikasi lagi. Penelitian ini diharapkan dapat diaplikasikan untuk kepentingan medikolegal, terutama pada kematian ≤24 jam. Kata kunci: lama kematian, hepar, postmortem.
KHASIAT ALOE VERA DAN MADU TOPIKAL PADA RE-EPITELISASI DAN PEMBENTUKAN JARINGAN GRANULASI LUKA EKSISI KULIT TELINGA KELINCI Kalangi, Sonny J. R.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 5, No 3 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.5.3.2013.4338

Abstract

Abstract: There are still conflicting opinions about the benefits of aloe vera and honey in accelerating wound re-epithelialization. This study aimed to compare the efficacy of the topical application of honey, aloe vera, and normal saline solution on re-epithelialization and granulation tissue formation on skin wound healing. Six white rabbits were used for evaluation. Four full-thickness excisional wounds were made on the interior surface of each ear with a 6-mm tissue punch. The forty-eight wounds were treated either with aloe vera, honey, or normal saline, or left untreated (as control group). On day 7 after treatment, the wound tissues were processed for histological examination. Histological cross sections, stained with hematoxylin-eosin, were used for a quantitative evaluation of re-epithelialization and granulation tissue formation. Re-epithelialization was evaluated by measuring the distance of epithelial gaps. Granulation tissue formation was followed-up by measuring the height of the granulation tissue, the distance of granulation tissue gaps, the total lateral-medial distance of granulation tissue, and by calculating the value of granulation tissue volume. The values of the acceleration rate of the re-epithelialization were found to be statistically significant (P < 0.05): topical aloe vera (P = 0.003) and honey (P = 0.004). Except for the height of the granulation tissue (P = 0.054), all other values of the tissues showed results which were significantly different. The acceleration of the formation of the granulation tissue found in the tissue treated with aloe vera and honey generated in the medio-lateral direction toward to the center of the wound. Conclusion: The re-epithelialization processes and the formation of the granulation tissue in the full-thickness wounds performed on the rabbit ears were significantly increased by the topical treatment of aloe vera or honey. The treatment with aloe vera on those healing processes had the same effectiveness as that of honey. Keywords: aloe vera, honey, re-epithelialization, granulation tissue formation     Abstrak: Aloe vera dan madu dianggap dapat mempercepat re-epitelisasi luka sekalipun masih terdapat beberapa perbedaan pendapat. Penelitian ini bertujuan membandingkan khasiat aloe vera, madu, dan larutan garam fisiologis yang diberikan secara topikal dalam re-epitelisasi dan pembentukan jaringan granulasi pada proses penyembuhan luka eksisi kulit telinga kelinci. Sebanyak 6 ekor kelinci putih jantan dipakai sebagai sampel. Pada telinga kelinci dibuat luka eksisi sedalam tebal kulit berbentuk bundar dengan diameter 6 mm. Setiap telinga dibuat empat buah luka pada permukaan dalam telinga. Luka kemudian mendapat perlakuan pemberian aplikasi topikal larutan NaCl 0,9%, madu, dan aloe vera, serta kontrol yang tidak diobati. Tujuh hari kemudian dilakukan biopsi pada sediaan luka. Jaringan diproses menjadi sediaan histologik dan dipulas dengan hematoksilin eosin untuk penilaian secara kuantitatif terhadap proses re-epitelisasi dan pembentukan jaringan granulasi. Re-epitelisasi dinilai dengan cara mengukur jarak celah epitel. Pembentukan jaringan granulasi dinilai dengan cara mengukur tinggi jaringan granulasi, jarak celah granulasi, total jarak lateral-medial (lebar) jaringan granulasi, serta perhitungan besar volume jaringan granulasi. Ditemukan percepatan re-epitelisasi yang bermakna secara statistik (P < 0,05) pada olesan dengan aloe vera (P = 0,003) dan madu (P = 0,004). Pada pembentukan jaringan granulasi kecuali tinggi jaringan granulasi yang tidak berbeda bermakna (P = 0,054) semuanya menunjukkan hasil yang berbeda bermakna secara statistik. Percepatan pembentukan jaringan granulasi yang ditemukan pada olesan aloe vera dan madu berupa proses pembentukan jaringan granulasi dengan arah lateral-medial menuju pusat luka. Simpulan: Re-epitelisasi dan pembentukan jaringan granulasi luka eksisi full-thickness pada telinga kelinci secara bermakna meningkat oleh pemberian aloe vera dan madu secara topikal; juga pemberian aloe vera sama efektifnya dengan madu dalam re-epitelisasi dan pembentukan jaringan granulasi. Kata kunci: aloe vera, madu, re-epitelisasi, pembentukan jaringan granulasi.