Claim Missing Document
Check
Articles

PERAN ESTROGEN PADA REMODELING TULANG Sihombing, Iknes; Wangko, Sunny; Kalangi, Sonny J.R.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 4, No 3 (2012): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.4.3.2012.1210

Abstract

Abstract: Bone tissues experience continual regeneration of their extracellular components by overhauling the old components. This process is called bone remodeling, which involves several kinds of bone cells. The most important bone cells related to the bone remodeling are osteoblasts, osteocytes, and osteoclats. The bone remodeling is influenced by estrogen. This hormone inhibits bone resorption, resulting in slowing down the osteoporosis process. This antiresorptive effect can be provided also by the estrogen action on osteoblasts, which indirectly influences osteoclast activities. Estrogen has been proved to slow down the decrease of bone mass and fracture risks in women with osteoporosis. Hormone replacement therapy, aimed at replacing estrogen deficiency, consists of phytoestrogen and progesteron; besides that, calcium and vitamine D are needed, too. Keywords: estrogen, bone remodeling, osteoblast, osteocyte, osteoclast.     Abstrak: Tulang merupakan jaringan yang terus menerus melakukan regenerasi komponen-komponen ekstrasel dengan cara menghancurkan komponen tulang yang sudah tua dan menggantikannya dengan yang baru. Proses ini disebut remodeling tulang, yang melibatkan kerja sel-sel tulang tertentu. Sel-sel dalam tulang yang terutama berhubungan dengan pembentukan dan resorpsi tulang ialah osteoblas, osteosit, dan osteoklas. Remodeling tulang dipengaruhi oleh hormon estrogen. Hormon ini menekan resorpsi tulang sehingga dapat menghambat proses kerapuhan tulang. Efek antiresorptif tersebut dapat pula dihasilkan melalui kerjanya pada osteoblas, yang secara tidak langsung mempengaruhi aktivitas osteoklas. Estrogen terbukti dapat mengurangi laju penurunan massa tulang dan risiko fraktur pada wanita dengan osteoporosis. Terapi sulih hormon yang digunakan untuk mengganti defisisensi estrogen ialah fitoestrogen, progesteron, selain itu juga kalsium dan vitamin D. Kata kunci: estrogen, remodeling tulang, osteoblas, osteosit, osteoklas.
KHASIAT MADU PADA PENYEMBUHAN LUKA KULIT Kalangi, Sonny J R
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 4, No 3 (2012): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.4.3.2012.796

Abstract

Abstract: The topical application of honey on a wound is effective in controlling the wound healing process and results in clean granulation tissues in the wound base. Honey acts as a hyperosmolar medium and prevents microbial growth. Besides that, honey has a high viscosity that forms a physical barrier and cretaes a wet environmet which is very effective in accelerating wound healing. Nutrients in honey increase the supply of local substances that might be useful in reepithelization. In addition, honey contains a catalase enzyme that can influence wound healing.Keywords: honey, wound healingAbstrak: Pemberian madu topikal efektif dalam mengontrol dan menghasilkan dasar luka bergranulasi bersih. Madu bekerja terutama sebagai medium hiperosmolar dan mencegah pertumbuhan bakteri. Madu juga memiliki viskositas tinggi yang membentuk sawar fisik dan menciptakan lingkungan basah; sifat tersebut yang membantu dan mempercepat penyembuhan luka. Kandungan bahan makanan dari madu menambah pasokan bahan lokal yang mungkin membantu mempercepat reepitelisasi. Disamping itu, madu mengandung enzim katalase yang juga mempengaruhi proses penyembuhan luka.Kata kunci: madu, penyembuhan luka
PERAN MELANOKORTIN PADA MELANOSIT Mamoto, Natalia; Kalangi, Sonny; Karundeng, Ronny
Jurnal Biomedik : JBM Vol 1, No 1 (2009): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.1.1.2009.805

Abstract

Abstract: Melanocyte, an important component of the skin pigmentation system, has the ability to produce and distribute melanin. This skin pigmentation system consists of melanocytes, melanosomes, tyrosinase enzymes, and the melanogenesis process. The biochemical process of the skin pigmentation (melanogenesis) is very complex, and produces eumelanin and pheomelanin pigments, both are tyrosine derivates. Melanocortins are found in the forms of a-MSH, b-MSH, g-MSH, and ACTH. Melanocortins play some important roles in certain physiologic responses of human beings, such as: the skin pigmentation, adrenal function, sexual function, analgesia, temperature controle, cardiovascular controle, inflammatory process, energy homeostasis, endocrine secretion, diet-intake controle, and autonomic function.  In general, the responses are proceeded by binding of melanocortins to their receptors. Key words: melanocyte, melanin, melanocortin, melanogenesis.     Abstrak: Melanosit merupakan komponen penting dalam sistem pigmentasi kulit melalui kemampuannya dalam menghasilkan dan mendistribusikan melanin. Sistem pigmentasi kulit melibatkan melanosit, melanosom, melanin, enzim tirosinase dan proses melanogenesis. Proses biokimia pigmentasi kulit (melanogenesis) bersifat sangat kompleks. Proses melanogenesis ini menghasilkan pigmen eumelanin dan feomelanin. Baik eumelanin maupun feomelanin keduanya adalah derivat tirosin melalui beberapa tahapan. Melanokortin terdiri atas a-MSH, b-MSH, g-MSH dan ACTH. Melanokortin terlibat dalam pengaturan respon fisiologi manusia, yaitu pigmentasi kulit, fungsi adrenal, fungsi seksual, analgesia, kontrol temperatur, kontrol kardiovaskuler, inflamasi, homeostasis energi, sekresi endokrin, mengontrol asupan makanan, dan fungsi otonom. Secara umum respon ini diawali dengan pengikatan melanokortin dengan reseptornya. Kata kunci: melanosit, melanin, melanokortin, melanogenesis.
JARINGAN LEMAK PUTIH DAN JARINGAN LEMAK COKLAT Aspek histofisiologi Karundeng, Ronny; Wangko, Sunny; Kalangi, Sonny J. R.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 6, No 3 (2014): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.6.3.2014.6328

Abstract

Abstract: There are two types of adipose tissues, white adipose tissue and brown adipose tissue. White adipose tissue is distributed in subcutaneous tissues meanwhile brown adipose tissue is located in certain parts of the body, neck and interscapulaar regions, in fetus and infants. Cells of adipose tissue are named adipocytes. The adipocyte of white adipose tissue contains one lipid locus (unilocular), meanwhile the adipocyte of brown adipose tissue contains many small lipid inclusions (multilocular). In adults, all adipose tissues show similar histological features-unilocular. Albeit, in certain conditions, adipocytes of brown adipose tissues can reverse to their former features, multilocular. Each type of these adipose tissue has its own characteristic in hitological and functional aspects.Keywords: white adipose tissue, brown adipose tissue, histological characteristics, functionAbstrak: Terdapat dua jenis jaringan lemak yaitu jaringan lemak putih dan jaringan lemak coklat. Jaringan lemak putih tersebar pada jaringan subkutan sedangkan jaringan lemak coklat banyak terdapat di daerah leher dan interskapular pada fetus dan bayi. Sel jaringan lemak disebut adiposit. Pada usia dewasa, semua jaringan lemak terlihat sebagai lemak unilokuler tetapi pada kondisi tertentu jaringan lemak coklat dapat kembali ke struktur semula, yaitu multilokular. Kedua jenis jaringan lemak memiliki kekhususan sendiri baik dari aspek histologik maupun fungsional.Kata kunci: jaringan lemak putih, jaringan lemak coklat, gambaran histologik, fungsi
Gambaran Makroskopik dan Mikroskopik Organ Tiroid pada Hewan Coba Postmortem Tangkelangi, Dwi P. A.; Kalangi, Sonny J. R.; Angmalisang, Elvin C.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 11, No 3 (2019): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.11.3.2019.26876

Abstract

Abstract: Macroscopic and microscopic changes of thyroid that occur after death can be used in determining the time of death. This study was aimed to obtain the macroscopic and microscopic changes of thyroid gland in an animal model during 24 hours postmortem. This was a descriptive and observational study. We used 5 male pigs aged 4-5 months and weighing more than 100 kg as animal model. The macroscopic changes were identified after 3 hours postmortem, as follows: darkened color, mushy consistency, dry surface, and decreased weight and size of the organ. At 7 hours postmortem, the surface texture became very wrinkled; however, up to 24 hours postmortem, there was no bad odor of the thyroid glands. The initial microscopic change was identified at 2 hours postmortem as degenerated follicles. At 24 hours postmortem, most follicles did not contain colloid anymore. In conclusion, the initial macroscopic change was observed at 3 hours postmortem meanwhile the microscopic change was identified at 3 hours postmortem as degenerated follicles that progressed until 24 hours postmortem, albeit, some follicles still could be identified at 24 hours postmortem.Keywords: thyroid gland, postmortem Abstrak: Perubahan organ tiroid secara makroskopik dan mikroskopik dapat dimanfaatkan dalam penentuan waktu kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan makroskopik dan mikroskopik organ tiroid hewan coba babi selama 24 jam postmortem. Jenis penelitian ialah deskriptif-observasional. Hewan coba yang digunakan ialah 5 ekor babi jantan, usia 4-5 bulan dan berat badan lebih dari 100 kg. Hasil penelitian makroskopik teridentifikasi sejak 3 jam postmortem. Warna organ tiroid menjadi lebih gelap, konsistensi bagian dalam lunak, permukaan kering, serta berat dan ukuran organ berkurang. Pada 7 jam postmortem, tekstur permukaan organ menjadi sangat keriput. Pada 11 jam postmortem hingga 24 jam postmortem warna organ menjadi merah kehitaman. Hingga 24 jam postmortem, tidak ditemukan bau busuk pada organ tiroid. Hasil penelitian mikroskopik awal terlihat sejak 2 jam postmortem dengan ditemukannya degenerasi folikel yang terus berlangsung hingga pada 24 jam postmortem hampir seluruh folikel tidak berisi koloid. Simpulan penelitian ini ialah perubahan makroskopik awal terlihat pada 3 jam postmortem sedangkan perubahan mikroskopik telah teridentifikasi sejak 2 jam postmortem yaitu degenerasi folikel yang terus berlangsung namun sebagian folikel tiroid masih dapat diidentifikasi pada 24 jam postmortem.Kata kunci: organ tiroid, postmortem
UKURAN LEBAR PANGGUL MAHASISWI KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI DENGAN TINGGI BADAN DIBAWAH 150 CM Simin, Nindi A.; Kalangi, Sonny J.R.; Wongkar, Djon
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 4, No 3 (2012): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.4.3.2012.1221

Abstract

Abstract: The female hip has a wider lower part which plays an important role in pregnancy and labour. The WHO (1999) reported that there were 180-200 million pregnancies per year with 585,000 deaths of pregnant women due to complications, inter alia a narrow hip. Females with heights of less than 150 cm have to be suspect of having narrow hips. This study aimed to find out whether female students in the Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi Manado with heights of less than 150 cm were suspected of having narrow hips. This was a descriptive study. Samples were 60 female students with distantia spinosum less than 24-26 cm and distantia tuberosum less than 10.5 cm. The results showed that there were 25 students with heights of 147.0-148.9 cm. The smallest distantia spinosum was 15.3 cm while the smallest distantia tuberosum was 8.3 cm. Conclusion: All female students with heights of less than 150 cm had distantia spinosum less than normal, but most of them still had normal distantia tuberosum. Keywords: female students, height, distantia spinosum, distantia tuberosum.  Abstrak: Bentuk panggul wanita mempunyai bagian bawah yang lebih luas untuk keperluan kehamilan dan persalinan. Dari data WHO 1999 terdapat 180-200 juta kehamilan setiap tahunnya dan 585 ribu kematian wanita hamil berkaitan dengan komplikasi salah satunya ialah panggul sempit. Wanita dengan tinggi badan kurang dari 150 cm dapat dicurigai adanya kesempitan panggul. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado dengan tinggi badan kurang dari 150 cm dapat dicurigai adanya kesempitan panggul. Penelitian ini merupakan studi deskriptif. Sampel didapatkan dari 60 subjek yang memenuhi kriteria dengan tinggi badan yang kurang dari 150 cm, ukuran distansia spinarum kurang dari 24-26 cm dan distansia tuberum kurang dari 10,5 cm. Penelitian ini menunjukkan bahwa tinggi badan terbanyak yaitu 147,0-148,9 cm berjumlah 25 subjek, ukuran distansia spinarum terkecil 15,3 cm dan distansia tuberum terkecil yaitu 8,3 cm. Simpulan: Karakteristik distansia spinarum 100% wanita dengan tinggi badan kurang dari 150 cm mempunyai ukuran panggul yang kurang dari normal dan distansia tuberum didapatkan sebagian besar wanita dengan tinggi badan kurang dari 150 cm mempunyai ukuran distansia tuberum yang normal. Kata kunci: mahasiswi, tinggi badan, distansia spinarum, distansia tuberum.
PERAN KELENJAR SEBASEA PADA ALOPESIA ANDROGENIK Fahruddin, Rahma M; Kalangi, Sonny J R; Pasiak, Taufiq F
Jurnal Biomedik : JBM Vol 4, No 3 (2012): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.4.3.2012.793

Abstract

Abstract: In the scalp there are about 100,000 hair shafts, made of dead keratinized tissues and hair follicles. Each hair follicle has a three-phase growth cycle: anagen, catagen, and telogen. Due to these, human hair grows discontinuously, with phases of growth followed by phases of rest, and does not fall simultanously, called mosaic growth pattern. Androgenic alopecia is the most common cause of hair loss and thinning in humans, which affects men and women. The sebaceous gland has an important role in the occurrence of androgenic alopecia. Recent advances in studies of hair growth show that selective and high safety drugs are needed in the management of androgenic alopecia. Substances that can be used are as follows: growth stimulators, DHT inhibitors, anti-inflammatory, anti-androgen, and super oxide dismuse substances.Key words: hair, hair folicle, androgenic alopecia, sebacceous gland.Abstrak: Pada kulit kepala terdapat sekitar 100.000 batang rambut yang terbuat dari jaringan tanduk mati dan folikel tempat tumbuh rambut. Setiap folikel rambut memiliki tiga tahap periode pertumbuhan, yaitu anagen, katagen, dan telogen. Adanya ketiga tahap ini menyebabkan pertumbuhan rambut „mozaik‟ dimana rambut tidak memanjang sekaligus dan rontok secara bersamaan. Alopesia androgenik merupakan penyebab paling umum kehilangan dan menipisnya rambut baik pada laki-laki maupun perempuan. Kelenjar sebasea berperan penting pada proses terjadinya alopesia androgenik. Dengan kemajuan terbaru dalam studi pertumbuhan rambut, pemilihan obat yang selektif dan aman menjadi pemecahan masalah utama bagi alopesia androgenik. Obat-obat yang dapat digunakan yaitu growth stimulator, DHT inhibitor, anti-inflamasi, anti-androgen, dan super oxide dismuse.Kata kunci: rambut, folilkel rambut, alopesia androgenik, kelenjar sebasea.
PERAN ENTOMOLOGI FORENSIK DALAM PERKIRAAN SAAT KEMATIAN DAN OLAH TEMPAT KEJADIAN PERKARA SISI MEDIS (INTRODUKSI ENTOMOLOGI MEDIK) Kristanto, Erwin; Wangko, Sunny; Kalangi, Sonny; Mallo, Johannis
Jurnal Biomedik : JBM Vol 1, No 1 (2009): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.1.1.2009.809

Abstract

Abstract: Scrutinized and devoted efforts are needed to unveil mysteries of forensic cases. A variety of methods may be needed, methods that are accountable in court. During the flow of time, some evidence, especially human tissues will degrade and eventually vanish. Albeit, to forensic entomologists, the degradation of human remains will bring other new evidence which is scientifically accountable in court. Just as in life, after death the tissues of humans are still attractive to a variety of insects. Different insects are attracted at different stages of decomposition of the body. These insects follow certain set patterns of development in or on the body. Identification of the types of insects present, and their stages of development, in conjunction with the knowledge of the rates of their development, can be used to determine approximately how long a body has been dead. In addition, this identification might indicate whether a body has been moved from one area to another. Key words: forensic cases, methods, insects.     Abstrak: Dibutuhkan dedikasi dan ketelitian dalam mengungkap berbagai misteri di balik kasus-kasus forensik. Berbagai metode akan amat dibutuhkan dalam menjawab berbagai pertanyaan terkait kasus-kasus tersebut, dan sudah menjadi keharusan bahwa bukti atau kesaksian ahli ini dapat dipertanggungjawabkan. Dengan berjalannya waktu, beberapa barang bukti, terutama jaringan tubuh manusia akan mengalami proses degradasi dan akhirnya hilang. Namun demikian, bagi seorang ahli entomologi forensik, kerusakan dan hilangnya jaringan tubuh tadi dapat membawa bukti-bukti baru. Bukti yang tentunya dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah di pengadilan. Seperti saat hidup, jaringan tubuh manusia setelah kematian tetap menarik bagi berbagai jenis serangga. Jenis serangga yang berbeda akan tertarik pada tahap yang berbeda pula dari tahapan-tahapan pembusukan jaringan tubuh manusia. Serangga-serangga ini mengikuti suatu pola perkembangan. Terkait dengan pengetahuan mengenai pertumbuhan dan perkembangan mereka, hal ini dapat digunakan untuk membuat suatu perkiraan berapa lama tubuh tadi telah mati. Sebagai tambahan, identifikasi hal di atas juga akan dapat mengindikasikan apakah mayat telah dipindahkan dari satu area ke area yang lain. Kata kunci: kasus forensik, metode, serangga.
TINJAUAN HISTOLOGIK TULANG RAWAN Kalangi, Sonny J. R.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 6, No 3 (2014): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.6.3.2014.6329

Abstract

Abstract: Cartilage belongs to the suppportive tissue which is relatively dense. In an adult, this tissue is only found in two areas: extraskeletal cartilage and joints. During chondrogenesis in an embryo, messenchymal cells round up, retract their extensions, multiply rapidly, and form cellular condensation, cartilage formation area. The development of this ares occurs in two mechanisms: interstitial growth and apppositional growth. Injured cartilage will be repaired by the perichondrium. Its cells tend to fill spaces or deffects meanwhile chondrogenic cells of the perichondrium will undergone proliferation and differentiation to become chondroblast which produces new matrix.Keywords: cartilage, types of cartilageAbstrak: Tulang rawan merupakan jaringan ikat penahan berat yang relatif padat, tetapi tidak sekuat tulang. Dalam kehidupan pasca lahir, jaringan ini hanya ditemukan pada dua jenis tempat sesudah tidak tumbuh lagi, yaitu pada sejumlah bangunan tulang rawan ekstra-skeletal yang terdapat dalam tubuh dan pada persendian. Pada tempat pembentukan tulang rawan embrio, sel-sel mesenkim menyusutkan cabang-cabangnya dan mengumpul dalam agregasi padat yang dikenal sebagai pusat kondrifikasi. Pertumbuhan dalam perluasan pusat kondrifikasi terjadi melalui dua mekanisme berbeda, yaitu: pertumbuhan interstitial dan pertumbuhan aposisional. Cedera tulang rawan akibat trauma akan diperbaiki oleh perikondrium. Sel-sel perikondrium cenderung untuk mengisi kekosongan atau defek, sedangkan sel-sel kondrogenik dalam perikondrium akan berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi kondroblas yang menghasilkan matriks baru.Kata kunci: kartilago, jenis kartilago
GAMBARAN HISTOLOGIK GASTER PADA HEWAN COBA SELAMA 24 JAM POSTMORTEM Lilingan, Megi; Kalangi, Sonny J.R.; Wangko, Sunny
eBiomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.1.2016.12146

Abstract

Abstract: Studies about postmortem histological changes in stomach is still very limited. This study aimed to obtain histological changes of stomach in several time intervals during 24 hours postmortem. This is a descriptive study using pig as model. Samples of fundus tissue taken in several time intervals in postmortem were as follows: 0 hour, 1 hour, 2 hours, 3 hours, 4 hours, 5 hours, 6 hours, 7 hours, 8 hours, 9 hours, 12 hours, 14 hours, 16 hours, 18 hours, 20 hours, 22 hours, and 24 hours. The results showed that the earliest histological change was identified at 2 hours postmortem as fundic gland cell congestion. At 7 hours postmortem the contours of some fundic glands and borders of their cells were not distinct anymore, meanwhile their nuclei were dispersed among the remnants of fundic glands. At 18-24 hours postmortem, almost all fundic glands could not be indetified. Conclusion: The earliest histological change of stomach was identified at 2 hours postmortem as fundic gland cell congestion, followed by necrosis of fundic gland cells since 7 hours postmortem.Keywords: postmortem histological changes, fundic glands, postmortem interval Abstrak: Studi mengenai perubahan gambaran histologik gaster postmortem masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran histologik gaster berdasarkan variasi waktu selama 24 jam postmortem. Jenis penelitian ini deskriptif dengan menggunakan babi sebagai hewan coba. Sampel jaringan fundus diambil pada interval waktu 0 jam; 1 jam; 2 jam; 3 jam; 4 jam; 5 jam; 6 jam; 7 jam; 8 jam; 9 jam; 12 jam; 14 jam; 16 jam; 18 jam; 20 jam; 22 jam; 24 jam postmortem. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa perubahan histologik gaster babi mulai teridentifikasi pada 2 jam postmortem sebagai kongesti kelenjar fundus. Pada 7 jam postmortem bentuk dari beberapa kelenjar fundus dan batas-batas sel tidak jelas, sementara itu inti sel mulai terpisah di antara sisa-sisa kelenjar fundus. Pada 18-24 jam postmortem, umumnya kelenjar fundus sudah tidak bisa diindentifikasi. Simpulan: Perubahan histologik awal dari gaster dapat diidentifikasi pada 2 jam postmortem dengan gambaran kongesti kelenjar fundus, diikuti oleh nekrosis kelenjar fundus sejak 7 jam postmortem. Kata kunci: perubahan histologik postmortem, kelenjar fundus, waktu postmortem.