Claim Missing Document
Check
Articles

Mekanisme Kinerja Otak yang Mengatur Fungsi Spiritual pada Pasien Penyakit Jantung di RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado dengan Menggunakan Applied Neuroscience for Spiritual Health Assessment (ANSHA) Rumani, Gabriella P. H.; Pasiak, Taufiq F; Kalangi, Sonny J. R.
eBiomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.8.1.2020.27648

Abstract

Abstract: The brain as an organ with complex connections produces cognitive functions associated with the prefrontal cortex and emotional processes in the limbic system. Brain involvement results in the manifestation of spiritual states. Research using SPECT by Amen divides five brain systems, including the prefrontal cortex, limbic system, basal ganglia, cingulate gyrus, and temporal lobe. Spirituality as a transcendent form of connection to the larger context is divided into four dimensions, there are meaning of life, spiritual experiences, positive emotions, and ritual. The Applied Neuroscience for Spiritual Health Assessment (ANSHA) instrument is an examination based on theoretical concepts of spirituality to determine the relationship of the spiritual dimension to the mechanism of the human brain. This study aims to determine the specific brain performance mechanisms that regulate spiritual functions with one-to-one, one-to-many, many-to-one, or unrelated relationships using ANSHA in heart disease patients who are hospitalized at RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. This type of research is descriptive correlative with analytic survey methods. Samples obtained were 17 patients. Spearman correlation test results showed a direct correlation (0.593) with sig. 0.012> α = 0.05 between cingulate gyrus and spiritual experiences. In conclusion, there is a moderate correlation on the mechanism of brain performance that regulates spiritual function in heart disease patients at Prof. RSUP Dr. R. D. Kandou that was measured using ANSHA.Keywords: brain performance, spirituality, ANSHA Abstrak: Otak sebagai organ dengan koneksi yang kompleks menghasilkan fungsi kognitif yang berasosiasi dengan korteks prefrontalis dan proses emosional pada sistem limbik. Keterlibatan otak menghasilkan perwujudan keadaan spiritual. Penelitian menggunakan SPECT oleh Amen membagi lima sistem otak, yaitu korteks prefrontalis, sistem limbik, ganglia basalis, girus singulatus, dan lobus temporalis. Spiritualitas sebagai bentuk transenden pada koneksi untuk konteks yang lebih besar terbagi atas empat dimensi, yaitu makna hidup, pengalaman spiritual, emosi positif, dan ritual. Instrumen Applied Neuroscience for Spiritual Health Assessment (ANSHA) merupakan alat ukur pemeriksaan berdasar pada konsep teoritis spiritualitas untuk mengetahui hubungan dimensi spiritual dengan kinerja otak manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mekanisme kinerja otak spesifik yang mengatur fungsi spiritual dengan hubungan one to one, one to many, many to one, atau tidak berhubungan menggunakan ANSHA pada pasien penyakit jantung yang dirawat inap di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian adalah deskriptif korelatif dengan metode survei analitik. Sampel yang didapatkan berjumlah 17 pasien. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan adanya korelasi searah (0,593) dengan  sig. 0,012 > α=0,05 antara girus singulatus dan pengalaman spiritual. Simpulan penelitian ini ialah terdapat korelasi sedang pada mekanisme kinerja otak yang mengatur fungsi spiritual pada pasien penyakit jantung di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou diukur menggunakan ANSHA. Kata kunci: kinerja otak, spiritualitas, ANSHA
Gambaran histologik usus halus pada hewan coba selama 24 jam postmortem Theodore, Victori J.; Wangko, Sunny; Kalangi, Sonny J.R.
e-Biomedik Vol 5, No 1 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v5i1.14804

Abstract

Abstract: Studies about histological changes in small intestine are still very limited. This study was aimed to obtain the histological changes of the small intestine in several time intervals during 24 hours postmortem. This was a descriptive observational study using domestic pig as model. Samples were obtained from the ileum section of the small intestine, taken at 0 hour, 1 hour, 2 hours, 3 hours, 4 hours, 5 hours, 6 hours, 7 hours, 8 hours, 9 hours, 12 hours, 14 hours, 16 hours, 18 hours, 20 hours, 22 hours, and 24 hours postmortem. The results showed that the earliest histological change was identified at 0 hours postmortem as congestion of the intestinal glands and formation of subepithelial cell spaces, followed by destruction of basal membranes of the glands at 3 hours postmortem, lysis of the glands at 16 hours postmortem. At 18-24 hours postmortem, almorst all intestinal glands could not be identified. Conclusion: The earliest histological change of small intestine was identified at 0 hours postmortem as congestion of the intestinal glands, followed by necrosis of the glands at 3 hours postmortem, and lysis of the glands at 16 hours postmortem.Keywords: small intestine, autolysis, histological changes, postmortem Abstrak: Studi mengenai perubahan gambaran histologik usus halus postmortem masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran histologik usus halus berdasarkan variasi waktu selama 24 jam postmortem. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan menggunakan babi domestik sebagai hewan coba. Sampel diambil dari bagian ileum usus halus pada interval waktu: 0 jam, 1 jam, 2 jam, 3 jam, 4 jam, 5 jam, 6 jam, 7 jam, 8 jam, 9 jam, 12 jam, 14 jam, 16 jam, 18 jam, 20 jam, 22 jam, dan 24 jam postmortem. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa perubahan histologik usus halus babi mulai teridentifikasi pada 0 jam postmortem berupa kongesti kelenjar intestinal, diikuti oleh kerusakan struktur membran basalis kelenjar pada 3 jam postmortem, dan lisis sel-sel kelenjar pada 16 jam postmortem. Pada 18-24 jam postmortem, hampir seluruh kelenjar intestinal tidak dapat diidentifikasi. Simpulan: Perubahan histologik awal dari usus halus dapat diidentifikasi pada 0 jam postmortem berupa kongesti kelenjar intestinal, diikuti oleh kerusakan struktur membran basalis 3 jam postmortem, dan lisis kelenjar pada 16 jam postmortem. Kata kunci: usus halus, autolisis, postmortem, waktupostmortem, perubahan histologik postmortem
PERAN GLUKOSAMIN PADA OSTEOARTRITIS Utami, Pratiwi; Kalangi, Sonny J.R.; Pasiak, Taufiq
Jurnal Biomedik : JBM Vol 4, No 3 (2012): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.4.3.2012.1202

Abstract

Abstract: Osteoarthritis is a degenerative disease and manifests itself as the most common type of arthritis affecting older people. This disease can cause significant pain and functional disability in the affected individuals. The therapy for osteoarthritis is easily available but the results are without certainty. Symptomatically therapeutic agents such as acetaminophen and NSAIDs are only beneficial for relieving the symptoms. Unfortunately, these agents can trigger severe side effects in some patients or may be contraindicated. Glucosamine has been evaluated in several studies as an agent to relieve pain, increase functional activity, and slow the progression of osteoarthritis, especially in the knees. Studies have reported some improvement in pain and disability in osteoarthritic patients related to the use of glucosamine. Based on the current evidence, a combination of glucosamine sulfate and chondroitin sulfate shows the greatest potential as a therapeutic intervention for patients who might risk side effects from other oral medications currently in vogue. However, research is still needed to explore the benefits of glucosamine or its combination forms in order to ensure safety for long-term use. Keywords: osteoarthritis, glucosamine, pain.     Abstrak: Osteoartritis merupakan penyakit degeneratif yang menyebabkan rasa nyeri dan cacat fungsional pada individu yang terkena dan umumnya mempengaruhi lanjut usia. Kemajuan dalam pengobatan osteoartritis relatif tersedia tetapi belum secara pasti untuk mengobatinya. Terapi andalan seperti asetaminofen dan obat NSAID hanya untuk mengobati gejala, tetapi dapat memicu efek samping yang parah pada pasien atau mungkin merupakan kontraindikasi. Beberapa studi mengemukakan glukosamin sebagai agen untuk menghilangkan rasa nyeri, meningkatkan aktivitas fungsional, dan memperlambat progresivitas osteoarthritis, terutama pada lutut. Juga telah dilaporkan perbaikan dalam rasa nyeri dan kecacatan yang terkait dengan penggunaan glukosamin baik sebagai agen tunggal maupun bentuk kombinasi glukosamin sulfat dengan kondroitin sulfat. Penggunaan produk kombinasi tersebut tampaknya memiliki potensi besar untuk pasien yang berisiko akibat efek samping terapi oral. Masih dibutuhkan penelitian lanjut mengenai manfaat dan kemanan glukosamin terutama pada pemakaian jangka panjang. Kata kunci: osteoartritis, glukosamin, nyeri.
POLA SERANGGA NEKROFAGUS PADA DEKOMPOSISI HEWAN COBA INDOORS DI KOTA MANADO Wangko, Sunny; Kristanto, Erwin G.; Kalangi, Sonny J. R.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 6, No 2 (2014): JURNAL BIOMEDIK : JBM Juli 2014
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.6.2.2014.5552

Abstract

Abstract: Studies of insect succession in indoor carcasses are still very rare reported. This study aimed to obtain the succession pattern of necrophagus insects in indoor carcass in Manado. One domestic pig was used as model, and killed with a cardiac puncture. The results showed that the duration of decomposition took 16 days to reach skeletonization. There were 3 orders found, as follows: Diptera, Coleoptera, and Hymenoptera, consisting of  8 families and 12 species. Albeit, insects that colonized in the carcasses were Chrysomya rufifacies, Chrysomya megacephala, Sarcophaga harpax, Hermetia illucens, Dermestes maculatus, and several species of Muscidae. Both species of Chrysomya and Sarcophaga harpax can be applied in PMI estimation at early stage of decomposition meanwhile Hermetia illucens and Dermestes maculatus at late stage of decompostion. To our knowledge, this is the first study of decomposition and insect succession indoors in a coastal area in Indonesia. Moreover, this is the first report of Sarcophaga harpax which is biomolecularly identified with mtDNA in Indonesia. Further studies are needed to support the database of forensic insects in Indonesia, especially in Manado. Keywords: decomposition, indoors, necrophagus insects, colonization     Abstrak: Studi mengenai suksesi serangga indoors masih sangat jarang dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pola serangga nekrofagus pada bangkai hewan coba indoors di Manado. Sebagai hewan coba digunakan satu ekor babi domestik yang dimatikan dengan tusukan pada jantung. Hasil penelitian memperlihatkan dekomposisi hewan coba indoors di kota Manado memerlukan 16 hari untuk mencapai skeletonization. Serangga yang berkunjung ke hewan coba tergolong dalam 3 ordo, yaitu: Diptera, Coleoptera, dan Hymenoptera, yang terdiri atas 8 famili dan 12 spesies. Serangga yang ditemukan berkolonisasi pada bangkai hewan coba ialah Chrysomya rufifacies, Chrysomya megacephala, Sarcophaga harpax, Hermetia illucens, Dermestes maculatus, dan beberapa spesies Muscidae. Kedua spesies Chrysomya dan Sarcophaga harpax dapat dimanfaatkan dalam perkiraan PMI pada dekomposisi awal, sedangkan Hermetia illucens dan Dermestes maculatus dapat dimanfaatkan pada dekomposisi lanjut. Penelitian mengenai dekomposisi dan suksesi serangga indoors ini merupakan yang pertama di daerah pesisir di Indonesia. Terdapatnya Sarcophaga harpax yang diidentifikasi secara biomolekular dengan mtDNA juga merupakan yang pertama kali dilaporkan di Indonesia. Studi lanjut dibutuhkan untuk menyokong database serangga forensik di Indonesia, khususnya Manado. Kata kunci: dekomposisi, indoors, serangga nekrofagus, kolonisasi
MEKANISME KERJA SEL LANGERHANS SEBAGAI SEL PENYAJI ANTIGEN Rahim, Octaviana I. S.; Wangko, Sunny; Kalangi, Sonny J.R.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 3, No 3 (2011): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.3.3.2011.870

Abstract

Abstract: Langerhans cell is a kind of dendritic cells that function as an antigen precenting cell. These cells are mostly found in the skin. Some studies suggested that these cells were originated from bone marrow. Langerhans cells can not be identified by using routine fixation or usual histology coloration, but by using a electron microscope or a histochemical analysis. Birbeck granules are special organelles which exist only in Langerhans cells. The important surface receptors of Langerhans cells belong to class II MHC , FcER, some integrins and adhesins. The mechanism of Langerhans cell is clearly seen in sensitisation phase of allergic contact dermatitis. In this case, these cells catch and process antigens of class II MHC so it can be presented to cell T. Besides processing antigens done by class II MHC, Langerhans cells have CD1 receptors that other dendritic cell don't have. CD1 molecule presents antigen in lipid form and exogen and endogen glikolipid. Key words: Langerhans cell, dendritic cell, antigen presenting cells.     Abstrak: Sel Langerhans merupakan salah satu jenis sel dendritik yang berfungsi sebagai sel penyaji antigen. Sel ini terbanyak ditemukan di kulit. Beberapa penelitian mengemukakan bahwa sel Langerhans berasal dari sumsum tulang. Sel Langerhans tidak dapat diidentifikasi dengan menggunakan fiksasi rutin atau pewarnaan histologi biasa, tapi harus dengan mikroskop elektron atau analisis histokimia. Granula Birbeck ialah organel khas yang hanya terdapat di sel Langerhans. Reseptor permukaan penting yang terdapat pada sel Langerhans yaitu MHC kelas II, FceR dan beberapa integrin serta adhesin.  Mekanisme kerja sel Langerhans terlihat jelas pada fase sensitisasi dermatitis kontak alergi yaitu dengan menangkap antigen dan memrosesnya dengan MHC kelas II sehingga dapat disajikan kepada sel T. Selain pemrosesan antigen dilakukan oleh MHC kelas II, sel Langerhans memiliki reseptor CD1 yang tidak dimiliki oleh jenis sel dendritik lainnya. Molekul CD1 menyajikan antigen dalam bentuk lipid dan glikolipid baik yang eksogen maupun endogen. Kata kunci: sel Langerhans, sel dendritik, sel penyaji.
Karakteristik Gambaran Histologis Paru-Paru Pasien COVID-19 Gaghaube, Andre M.; Kaseke, Martha M.; Kalangi, Sonny J. R.
e-Biomedik Vol 9, No 1 (2021): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v9i1.31896

Abstract

Abstract: Severe acute respiratory syndrome coronavirus (SARS-COV-2) is an infectious disease caused by coronavirus. Coronavirus (COVID-19) first attacks the upper respiratory system such as the nose, mouth, throat even the lungs and can trigger symptoms of fever and cough (pneumonia) resulting in changes in lung organ tissue during histological examination. This study aimed to determine the characteristics of the histological picture of the lungs of COVID-19 patients. This research uses a literature review research method. Based on 12 research reports analyzed in this research, the most common characteristic of histological features found in 12 research report journals is the finding of a diffuse alveolar damage pattern. Diffuse alveolar damage is a condition of acute lung injury which is accompanied by an acute phase with edema, a hyaline membrane, and inflammation followed by an organizing phase, where there is hyperplasia of type II pneumocytes, there is also fibrin or intra-alveolar protein. In conclusion, the characteristics of the histological features of the lungs most commonly found in COVID-19 patients are the findings of a diffuse alveolar damage pattern, which is a condition of acute lung injury and an acute phase with edema, hyaline membrane, and inflammation followed by an organizing phase, namely there is hyperplasia of type II pneumocytes, there is also fibrin or intra-alveolar proteinKeywords: lung histology, COVID-19.  Abstrak: Severe acute respiratory syndrome coronavirus (SARS-COV-2) adalah sebuah penyakit menular yang disebabkan oleh coronavirus. Coronavirus (COVID-19) pertama kali menyerang sistem pernapasan bagian atas seperti hidung, mulut, tenggorokan bahkan sampai ke paru – paru dan dapat memicu gejala demam dan batuk (pneumonia) sehingga terjadi perubahan jaringan organ paru – paru  pada saat dilakukan pemeriksaan histologi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakteristik gambaran histologis paru – paru pasien COVID-19. Penelitian ini menggunakan metode penelitian literature review. Berdasarkan 12 laporan penelitian yang di analisis pada penelitian ini, karakteristik gambaran histologis yang paling umum ditemukan pada 12 jurnal laporan penelitian yaitu terdapat temuan pola diffuse alveolar damage. Diffuse alveolar damage merupakan kondisi cedera paru akut atau acute lung injury yang disertai dengan fase akut dengan adanya edema, terdapat membran hialin, dan inflamasi di ikuti dengan fase pengorganisasian yaitu terdapat hiperplasia pneumosit tipe II, juga terdapat fibrin atau protein intra-alveolar. Sebagai simpulan, karakteristik gambaran histologis paru – paru yang paling umum ditemukan pada pasien COVID-19 adalah temuan pola diffuse alveolar damage yang merupakan kondisi cedera paru akut atau acute lung injury serta fase akut dengan adanya edema, terdapat membran hialin, dan inflamasi di ikuti dengan fase pengorganisasian yaitu terdapat hiperplasia pneumosit tipe II, juga terdapat fibrin atau protein intra-alveolarKata Kunci: histologi paru, COVID-19
Manfaat Olesan Madu Pada Penyembuhan Luka Kulit Lomban, Arantsa; Kalangi, Sonny J. R.; Pasiak, Taufiq F.
e-Biomedik Vol 8, No 2 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v8i2.31902

Abstract

Abstract: The use of honey in wound care has been used since ancient times. Honey has been shown to have antibacterial properties, as well as low pH levels making environmental conditions unfavorable for bacterial growth. Clinical observations from human trials report that honey helps granulation tissue formation, increases epithelialization, and reduces inflammation which affects the acceleration of wound healing. The aims of this study is to determine the effect of honey toward wound healing. This study is in the form of a literature review. Literature is taken from one database, namely PubMed. The keywords used are honey and wound healing. After being selected by inclusion and exclusion criteria, ten literature will be reviewed. Honey gave good results and affected the healing of skin wounds, including several types of honey that were studied in experimental animals and in experimental people. In conclusion, honey has an effect on healing skin wounds.Key words: Honey, wound healing  Abstrak: Penggunaan madu dalam perawatan luka telah digunakan sejak saat zaman kuno. Madu telah terbukti memiliki sifat antibakteri, juga kadar pH rendah membuat kondisi lingkungan yang tidak mendukung untuk pertumbuhan bakteri. Pengamatan klinis dari uji coba pada manusia melaporkan bahwa madu membantu pembentukan jaringan granulasi, meningkatkan epitelisasi, dan mengurangi peradangan yang mempengaruhi percepatan penyembuhan luka. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh madu terhadap penyembuhan luka. Penelitian ini dalam bentuk literature review. Literatur diambil dari satu database yaitu PubMed. Kata kunci yang digunakan yaitu honey and wound healing. Setelah diseleksi dengan kriteria inklusi dan eksklusi didapatkan sepuluh literatur yang akan direview. Madu memberikan hasil yang baik dan berpengaruh terhadap penyembuhan luka kulit, di antaranya ada beberapa jenis madu yang diteliti pada hewan percobaan maupun pada orang coba. Sebagai simpulan, madu mempunyai pengaruh terhadap penyembuhan luka kulit.Kata kunci: Madu, penyembuhan luka
PENGARUH TERAPI DIET PISANG AMBON (MUSA PARADISIACA VAR. SAPIENTUM LINN) TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA KLIEN HIPERTENSI DI KOTA BITUNG Tangkilisan, Lizel R.; Kalangi, Sonny; Masi, Gresty
JURNAL KEPERAWATAN Vol 1, No 1 (1): E-Jurnal Keperawatan
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jkp.v1i1.2197

Abstract

Abstract: The prevalence of hypertension in Indonesia has reached 31,7% and most cases are not detected yet. Hypertension is a main cause of heart disease, renal failure, and stroke. One of the non pharmacotherapy that can lower the blood pressure is Ambon banana. The purpose of this research was to analyze the effects of Ambon banana dietary therapy on lowering the blood pressure in clients with hypertension in Bitung City. This research used one group pre test- post test design. The sampling technique that used was non probability sampling type of purposive sampling. The total number of sample was 22 respondents who were selected based on inclusion and exclusion criteria. Result of paired t test at the systolic blood pressure before and after given the therapy showed p value 0,000. Result of paired t test at the diastolic blood pressure before and after given the therapy showed p value 0,000. These results explain that there are significant effects of Ambon banana dietary therapy to lower the systolic and diastolic blood pressure in clients with hypertension. Banana can lower the hypertension because it contains high potassium that works similar to antihypertensive drugs in human body. It can be concluded that Ambon banana dietary therapy (Musa Paradisiaca var Sapientum Linn) can lower the blood pressure in clients with hypertension in Bitung City. In further day, people should measure their blood pressure routinely, live with healthy lifestyle, and they can eat banana to prevent and control their blood pressure. Keywords: Ambon Banana, Musa Paradisiaca var Sapientum Linn, Blood Pressure, Hypertension Abstrak: Prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 31,7 % dan sebagian besar kasus hipertensi di masyarakat belum terdeteksi. Hipertensi merupakan penyebab utama penyakit jantung, gagal ginjal, dan stroke. Salah satu terapi non farmakologi yang dapat menurunkan tekanan darah ialah pisang ambon. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh terapi diet pisang ambon (Musa Paradisiaca var. Sapientum Linn) dalam menurunkan tekanan darah pada klien hipertensi. Jenis penelitian yang digunakan ialah one group pre test-post test. Pendekatan sampel yang dipakai adalah sampling non probabilitas dengan metode purposive sampling. Banyaknya sampel yang digunakan ialah 22 orang yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil uji t berpasangan data tekanan darah sistolik sebelum dan sesudah diberikan terapi menunjukkan p value 0,000. Hasil uji t berpasangan tekanan darah diastolik sebelum dan sesudah diberikan terapi menunjukkan p value 0,000. Hal ini berarti secara signifikan terapi diet pisang ambon menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada klien hipertensi. Pisang dapat menurunkan tekanan darah karena mengandung kalium tinggi yang bekerja mirip obat antihipertensi di dalam tubuh manusia. Dapat disimpulkan bahwa terapi diet pisang ambon (Musa Paradisiaca var. Sapientum Linn) dapat menurunkan tekanan darah pada klien hipertensi di Kota Bitung. Di hari selanjutnya, masyarakat sebaiknya mengukur tekanan darah secara rutin, hidup dengan pola hidup sehat, dan mereka dapat mengonsumsi pisang untuk mencegah maupun mengontrol tekanan darah mereka. Kata Kunci: Pisang Ambon, Musa Paradisiaca var. Sapientum Linn, Tekanan Darah, Hipertensi
HUBUNGAN LINGKUNGAN SOSIAL DENGAN KEBIASAAN MINUM MINUMAN KERAS PADA REMAJA DI DESA ATEP SATU KECAMATAN LANGOWAN SELATAN KABUPATEN MINAHASA Taroreh, Wulan E.; Kalangi, Sonny; Masi, Gresty
JURNAL KEPERAWATAN Vol 1, No 1 (1): E-Jurnal Keperawatan
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jkp.v1i1.2252

Abstract

Abstract: Habits of drink alcohol in teenagers is a very often phenomenon in Indonesia. Manty factors which  cause them to spend their spare time drink alcohol. Lots of risks and problems will wait for them who should have controlled by their parents society. Number of teenagers drink alcohol is increasing and if it’s allowed, it can hamper their personality and far more development of Indonesi. Because teenagers is the future generation and asset who will continue and fill the development of Indonesia. This research held in Atep one village of South Langowan Minahasa. Purpose to know the relationship between social environment and family environment with drinking habits inteens. Type of research was analytical observational, with Cross Sectional design. Samples in this research were all teenagers live in Atep one village based from inclusion criteria. Sampling method was  total sampling, used Chi Square test with help of SPSS version 16.00 at significance 95% (α<0,05). Result got were respondents based from interaction at good category were 41 person (75,9%) and bad were 13 person (24,1%), based from family control in good category were 45 person (83,3%) and bad were 9 person (16,7%), based from use of alcoholic drink there were 44 person (81,5%) and not drinker were 10 person (18,5%). Conclusion there was significant relation between interaction and use of alcoholic drink with resul of p = 0,001<0,05, and there is not relationship between parents or family control and use of alcoholic drink with p = 0,667 > 0,05. Keyword: Alcohol, Teenagers interaction, Parents control Abstrak: Kebiasaan minum minuman keras di kalangan remaja merupakan fenomena yang sering sekali terjadi di Indonesia. Banyak faktor-faktor yang menyebabkan mereka menghabiskan waktu luangnya untuk minum minuman keras. Semakin banyaknya remaja yang minum minuman keras apabila dibiarkan tentunya akan menghambat kepribadian seseorang dan yang lebih jauh lagi perkembangan bangsa Indonesia. Karena kalangan remaja merupakan generasi penerus bangsa dan aset bangsa yang akan melanjutkan dan mengisi pembangunan bangsa Indonesia. Penelitian ini di desa Atep satu Kecamatan Langowan Selatan Kabupaten Minahasa. Tujuan  untuk mengetahui hubungan lingkungan pegaulan dan lingkungan keluarga dengan kebiasaan minum minuman pada remaja. Jenis penelitian ini observasional analitik, dengan rancangan Cross Sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah semua remaja yang tinggal di Desa Atep satu yang memenuhi kriteria inklusi. Teknik pengambilan sampel yaitu dengan Total Sampling, menggunakan uji statistik Chi Square dengan bantuan SPSS versi 16.00 pada tingkat kemaknaan 95% (α<0,05). Hasil Penelitian didapati bahwa distribusi responden menurut pergaulan dalam kategori baik yaitu 41 orang (75,9%), dan buruk 13 orang (24,1%), dan kontrol di lingkungan keluarga kategori baik sebanyak 45 orang (83,3%) dan buruk 9 orang (16,7%), kemudian responden untuk penggunaan minuman keras kategori peminum 44 orang (81,5%) dan bukan peminum 10 orang (18,5%). Kesimpulan yang dapat diambil yaitu terdapat hubungan bermakna antara lingkungan pergaulan dengan penggunaan minuman keras dengan hasil yang diperoleh nilai p= 0,001 < 0,05 dan tidak terdapat hubungan antara kontrol orang tua/keluarga dengan penggunaan minuman keras dengan nilai p = 0,667 > 0,05. Kata kunci: minuman keras, pergaulan remaja, kontrol orang tua
HISTOFISIOLOGI KULIT Kalangi, Sonny J. R.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 5, No 3 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.5.3.2013.4344

Abstract

”Tidak ada mantel ajaib yang dapat dibandingkan dengan kulit dalam berbagai perannya berupa kedap air, penghangat, tabir surya, pelindung, pendingin, sensitif terhadap rasa raba, suhu, dan nyeri, tahan dipakai dan dapat memperbaiki diri sendiri.” Prof. R.D. Lockhart Ahli anatomi terkenal berkebangsaan Skotlandia (Author of Anatomy of the Human Body)   Kulit beserta turunannya, meliputi rambut, kuku, kelenjar sebasea, kelenjar keringat, dan kelenjar mamma disebut juga integumen. Fungsi spesifik kulit terutama tergantung sifat epidermis. Epitel pada epidermis ini merupakan pembungkus utuh seluruh permukaan tubuh dan ada kekhususan setempat bagi terbentuknya turunan kulit, yaitu rambut, kuku, dan kelenjar-kelenjar.